Rafael Adinata, adalah aktor terkenal yang terjerat skandal memalukan dengan aktris pendatang baru.
Rafael terpaksa menikah dengan wanita biasa demi menyelamatkan reputasinya. Gita Larasati, seorang editor buku yang hidupnya sederhana. Dengan terpaksa menerima tawaran Rafael pernikahan kontrak dengan sang aktor demi melunasi hutang keluarga.
Sebuah pernikahan dimulai, tanpa cinta hanya sebatas hitam diatas putih.
Mampukah Rafael dan Gita menjalani pernikahan kontrak mereka yang penuh liku-liku? berpisah setelah masa kontrak habis, atau justru saling jatuh cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARSYILA qirani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 : Cemburu
Setelah mendapat pesan dari Arjusena, Gita memblokir nomer Arjusena yang baru sekali lagi. Ia melempar asal ponselnya. Perutnya bergemuruh. " CKk " Gita berdecak perutnya lapar. Tapi ia tidak ingin keluar ada "jin dasim datang" sebutan Gita untuk Rachel.
Gita membuka pintunya perlahan, masih ada ketiga orang itu rupanya di ruang tengah. Gita memutuskan untuk tidak peduli dan melewatinya. Namun sudut mata Gita sesekali melirik interaksi Rachel dan Rafael.
" Kamu mau pulang sekarang?" Tanya Rafael pada Rachel.
"Iya, nih mau pesen taxi online." Jawab Rachel sambil melihat ponselnya.
"Gak usah, aku anterin aja ini Uda hampir tengah malam lagian cari taxi online jam segini susah." Rachel mengangguk setuju lalu memasukkan ponselnya ke tas.
Namun ketika Rafael berdiri. Andra menginterupsi "Rachel pulang bareng gue aja." Kata Andra, ia beranjak lalu mengambil kunci mobil.
"Ayo chel," Rachel mengikuti Andra.
"Aku pulang dulu ya, kamu langsung istirahat jaga kesehatan." Rachel mengelus dada Rafael. Gita lagi-lagi mengamati interaksi keduanya.
"Iya, kamu juga."jawab Rafael terdengar lembut. Gita mencebik, ia menuangkan air panas yang sudah mendidih kedalam mienya.
"Ingat besok aku jemput jam 9 harus sudah siap." Andra bersuara. Lalu hilang di balik pintu.
Setelah pintu tertutup, Gita menawarkan mie untuk Rafael. Namun Rafael menolak dan langsung pergi ke kamar. "Oke." Gita menaikkan alisnya. Ia mulai menikmati mienya sambil nonton survival kesukaannya.
***
Lampu kristal di ballroom hotel mewah itu memantulkan cahaya keemasan. Alunan musik klasik mengalun lembut mengiri para tamu yang datang dengan pakaian elegan.
Malam itu adalah perayaan pernikahan emas kedua orang tua Rafael.
Semua keluarga besar hadir, relasi bisnis, selebriti termasuk juga keluarga Gita.
Gita berdiri disamping Rafael dengan gaun panjang warna emerald yang sederhana namun anggun. Rambutnya digerai lembut membuat wajahnya terlihat semakin cantik.
Banyak mata diam-diam memperhatikannya. Termasuk Rafael. Pria ibu beberapa kali melirik istrinya tanpa sadar.
Gita menggandeng erat tangan Rafael. Sesekali tertawa saat ada hal yang lucu. Beberapa orang tersenyum senang melihat interaksi mereka, tapi tidak semuanya menykainya.
Disudut ballroom berdiri perempuan dengan gaun merah menyala menyolok, berharap menjadi perhatian semua orang. Rachel melipat tangan dudanya sambil tersenyum tipis yang dipaksakan.
"Rachel." Seorang teman menghampiri.
"Kamu datang sendiri?"
"Iya, biasalah belum ada yang nemenin." Jawab Rachel namun matanya masih tertuju pada Rafael.
Rafael tersenyum pada Gita, senyuman lembut dan tulus. Dan Rachel membencinya.
Acara semakin ramai ketika MC mulai meminta keluarga inti untuk naik ke panggung untuk sesi pemotongan kue. Rafael berdiri otomatis lalu menoleh ke arah Gita. Gita mengangguk lalu beranjak dari kursi. Tidak lupa Rafael mengajak mertua dan adik iparnya.
Semua orang bertepuk tangan ketika orang tua Rafael saling menyuapi potongan kue kecil sambil tertawa malu-malu.
Suasana hangat, bahkan ada beberapa orang yang merekam dengan ponsel. Gita tersenyum lembut. Cukup membuat laki-laki berambut rapi itu terpana. Ia memegang gelas wine cukup erat hingga kuku jarinya sedikit memutih. Arjusena juga ada di pesta itu sebagai tamu.
Setelah keluarga inti turun, Arjusena berjalan ke arah papa Rafael.
"Selamat ulang tahun om Tante." Arjusena memberi salam kepada papa dan mama Rafael.
"Sena?" Tanya papa Rafael. Arjusena mengangguk lalu mereka berjabat tangan.
"Iya om, saya mewakili papa." Jawab Arjusena Gita yang melihat Arjusena berdiri mematung, telinganya berdenging.
"Iya iya....Handoko sudah telpon kemarin. Gimana kamu sehat, sekarang sudah dewasa ya Kamu. Lama tidak berjumpa." Kata papa Rafael seraya tertawa sambil menepuk-nepuk lengan Arjusena.
"Rafael sini, kenalkan ini anak teman papa. Teman seperjuangan papa dari nol." Papa Rafael memanggil Rafael yang sedang mengobrol dengan Rachel.
"Sena" "Rafael" mereka berjabat tangan.
"Gita sini, itu istri Rafael." Tidak lupa mama Rafael memperkenalkan Gita. Gita mengulas senyum tipis, berjalan lambat langkahnya terasa berat.
"Gita, dia bawahan saya di kantor."Arjusena menjelaskan pada keluarga Rafael. Rafael menoleh ke arah Gita.
"Malam pak." Gita menunduk tanpa berjabat tangan.
"Wah...ternyata dunia ini sempit ya." Celetuk Rafael.
"Sudah-sudah silahkan nikmati hidangannya. Kalian ngobrol sama biar makin akrab." Papa Rafael menepuk lengan Rafael dan Sena secara bersamaan lalu meninggalkan mereka.
"Kenalkan aku Rachel." Rachel tau-tau berada di samping Rafael.
"Sena, Arjusena." Kata Arjusena memperkenalkan diri. Alis Rafael bertaut, sorot matanya berubah saat melihat Sena.
"Jadi kalian atasan dan bawahan?" Tanya Rafael. Tangannya masuk kedalam saku celana.
"Iya."jawab Sena. Sambil melirik Gita, sedangkan. Gita hanya berdiri dan menunduk tanpa ada niatan untuk mengobrol.
Malam itu menjadi malam yang panjang bagi Gita, Rafael tiba-tiba juga diam tak banyak bicara. Waktu berjalan melambat ada rasa was-was setiap ia berada didekat Arjusena. Gita berusaha menjaga jarak dengan Arjusena, sedangkan Rafael banyak mengobrol dengan kolega papanya.
"Kenapa terlihat tegang sekali?" Tanya Arjusena, suara dari belakang mengagetkan Gita yang sedang melamun.
Arjusena menyodorkan cocktail tanpa alkohol kepada Gita.
"Tidak apa-apa pak." Gita kembali menunduk. Arjusena meminum cocktail miliknya hingga tandas.
"Kamu cantik malam ini." Goda Arjusena sambil mengedipkan matanya.
Dari jauh Rafael melihat itu, rahangnya mengeras. "Maaf saya permisi dulu." Rafael segera menuju Gita.
"Rafael." Rachel memanggil Rafael dan mengikuti Rafael disampingnya. Rafael tidak bergeming.
"Gita." Rafael datang dan langsung meraih pinggang Gita lalu merapatkan ke tubuhnya. Rachel berhenti sesaat karna shock begitupun Arjusena.
"Aku cari-cari ternyata kamu disini." Tangan kiri Rafael masih merangkul pinggang Gita erat
"Iya." Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Gita. Gita bingung dengan situasi yang ia alami sekarang. Tak lama Rafael pamit pada Arjusena dan Rachel untuk membawa Gita. Gita gugup tangan Rafael masih ada di pinggang rampingnya.
Selepas pesta Rafael dan Gita langsung pulang, tidak ada interaksi lagi antara mereka sejak masuk mobil tadi. Gita meremas tangannya, melirik Rafael dengan sudut matanya. Bibirnya mengatur ragu untuk mengeluarkan kata-kata.
"Rafael.."
"Hmmm" Rafael hanya berdeham.
"Gak apa apa." Sahut Gita lirih akhirnya.
"Jadi dia Arjusena? Dia bos kamu sekaligus orang yang lagi dekat sama kamu atau... Pacar kamu?" Tuduh Rafael.
"Kita gak Deket, dia juga bukan pacar aku. Dia cuma bos aku." Jelas Gita, Rafael menoleh ke arah Gita lalu menghembuskan napas lelah.
Entah kenapa pria tadi begitu mengganggu pikiran Rafael. Cara dia menatap Gita, berbicara pada Gita, tersenyum pada Gita. Rafael tidak suka.