NovelToon NovelToon
Aksara Cinta Sang Penulis

Aksara Cinta Sang Penulis

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Tryas menganggap Jati tak lebih dari "barang antik" yang membosankan, hingga ia melemparkan perjodohan itu kepada sahabatnya, Gayuh. Namun, di balik sikap kuno itu, Jati adalah seorang CEO dengan kasih sayang yang tak terbatas. Saat Jati mulai "meratukan" Gayuh dalam sandiwara yang ia susun sendiri, Tryas tersadar telah membuang permata. Kini, sang sahabat dituduh pengkhianat. Akankah Jati melepaskan wanita yang tulus mencintainya demi tuntutan perjodohan awal, atau justru membawa sang "pemeran pengganti" ke pelaminan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Sore hari, sinar matahari yang mulai jingga menerobos masuk melalui celah gorden mewah ruang VVIP, menciptakan garis-garis cahaya di atas selimut sutra yang menutupi tubuh Gayuh.

Perlahan, mata Gayuh terbuka. Kepalanya masih terasa berat dan berdenyut, namun hal pertama yang tertangkap oleh indranya adalah aroma terapi yang menenangkan, jauh berbeda dari aroma kamarnya yang biasanya berbau kertas dan tinta.

Ia mengerjapkan mata berkali-kali, menatap langit-langit ruangan yang tinggi dengan lampu kristal minimalis yang elegan.

"Aku, di mana?" bisik Gayuh suaranya parau.

Ia menoleh ke samping dan mendapati Jati sedang duduk di kursi sofa, masih dengan jaket ojeknya yang tampak sangat kontras dengan kemewahan ruangan itu.

Jati yang menyadari Gayuh terbangun segera berdiri dan mendekat.

"Kamu sudah sadar? Syukurlah," ucap Jati dengan nada lega yang tulus.

Gayuh mencoba duduk, namun tubuhnya masih terasa sangat lemas. Ia menatap sekeliling dengan bingung.

"Jati, kenapa aku di sini? Ini, bukan puskesmas kan? Kenapa ruangannya seperti hotel berbintang? Kita tidak mungkin sanggup membayar ini, Jat!"

Jati sudah menyiapkan jawaban. Ia tersenyum tenang, mencoba menyembunyikan fakta bahwa ia adalah pemilik gedung ini.

"Tenanglah, Tryas. Kamu ingat email dari J-Corp tadi pagi? Perusahaan yang membeli naskahmu itu ternyata punya fasilitas 'Asuransi Penulis Eksklusif'. Begitu mereka tahu penulis aset mereka jatuh sakit, mereka langsung mengirim instruksi ke rumah sakit ini untuk memberikan perawatan terbaik. Semua sudah ditanggung mereka, sampai biaya makannya pun gratis."

Gayuh tertegun, matanya berkaca-kaca. "Benarkah? Ada perusahaan sebaik itu? Aku merasa seperti mimpi."

Ia kemudian menatap Jati dengan tatapan penuh rasa bersalah.

Ia melihat jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul lima sore.

"Maaf ya, Jati. Gara-gara aku, kamu jadi repot begini. Kamu pasti sudah seharian di sini menungguku," ucap Gayuh pelan, air matanya mulai menetes.

"Kamu sampai tidak bisa narik ojek, tidak mendapatkan orderan seharian karena mengurusku. Berapa banyak penghasilanmu yang hilang hari ini? Aku benar-benar merepotkanmu..."

Hati Jati bergetar mendengar kekhawatiran wanita itu.

Di tengah kondisinya yang sedang sakit dan lemah, Gayuh masih memikirkan nasib "orderan ojek" Jati yang sebenarnya tidak pernah ada.

Jati duduk di pinggir tempat tidur, dengan lembut ia menghapus air mata di pipi Gayuh.

"Jangan bicara begitu. Orderan bisa dicari besok, tapi melihatmu membuka mata lagi itu jauh lebih berharga daripada seribu orderan masuk, Tryas. Bagiku, memastikan kamu baik-baik saja adalah prioritas utamaku hari ini."

Gayuh tersenyum tipis di balik rasa lemasnya, merasa sangat terlindungi. Ia tidak pernah menyangka bahwa di balik jaket kusam itu, Jati adalah sosok yang begitu kokoh menjaganya.

Ia tidak tahu bahwa sementara ia mengkhawatirkan uang ojek Jati, pria di depannya ini baru saja menghancurkan karier seorang model papan atas demi dirinya.

Ketukan lembut di pintu memecah suasana haru di dalam ruangan.

Seorang perawat masuk dengan senyum ramah, mendorong troli berisi semangkuk bubur hangat dan buah-buahan segar.

Di belakangnya, tampak Pak Gunawan yang kini sudah berganti pakaian lebih santai, berusaha menyamar sebagai rekan sesama tukang ojek Jati.

"Permisi, Nona. Waktunya makan sore," ucap perawat itu dengan sopan.

Jati berdiri, memberikan isyarat kepada Pak Gunawan untuk menunggunya di sudut ruangan.

"Aku keluar sebentar ya, Tryas. Ada temanku datang," pamit Jati lembut. Gayuh hanya mengangguk lemah, membiarkan perawat menyiapkan mejanya.

Di luar pintu, wajah Pak Gunawan berubah serius. "Tuan, maaf mengganggu. Ada meeting darurat dengan investor dari Singapura malam ini. Anda harus berangkat ke bandara satu jam lagi. Jet pribadi sudah siap."

Jati menggeram rendah, matanya melirik ke arah pintu kamar.

"Tapi bagaimana dengan Gayuh? Dia masih sangat lemas, Pak Gun. Aku tidak bisa meninggalkannya sendirian."

"Saya yang akan menjaganya, Tuan. Saya akan pastikan tidak ada satu pun orang—termasuk Nona Tryas Adiguna—yang mendekati ruangan ini," jawab Pak Gunawan meyakinkan.

Jati menghela napas panjang. Ia harus pergi, tapi ia butuh alasan yang masuk akal agar Gayuh tidak curiga.

Ia kembali masuk ke dalam kamar, mengambil alih mangkuk bubur dari tangan perawat, dan mulai menyuapi Gayuh dengan telaten.

"Tryas, aku punya kabar buruk," ucap Jati sambil menyodorkan sendok berisi bubur.

"Barusan temanku memberi kabar. Nenekku di kampung mendadak sakit keras. Beliau butuh biaya pengobatan segera, jadi malam ini aku harus pulang kampung."

Gayuh yang sedang mengunyah langsung terhenti. Matanya membelalak cemas.

"Astaga, Jati! Kenapa tidak bilang dari tadi? Nenekmu sakit apa? Apa uangmu cukup?"

Jati menunduk, pura-pura lesu. "Itulah masalahnya. Tabunganku belum seberapa."

Tanpa diduga, Gayuh mencoba turun dari tempat tidur dengan sisa tenaganya.

"Jati, antarkan aku ke ATM di bawah. Sekarang."

"Tapi kamu masih lemas, Tryas!"

"Cepat, Jati! Ini darurat!" tegas Gayuh.

Tak tega membantah, Jati akhirnya mengambil kursi roda dan membantu Gayuh duduk di sana. Ia mendorong kursi roda itu keluar kamar, melewati lorong mewah menuju area ATM di dekat lobi rumah sakit.

Jati menunggu di luar bilik kaca saat Gayuh masuk dan melakukan transaksi dengan tangan yang masih sedikit gemetar.

Beberapa menit kemudian, Gayuh keluar dan mengajak Jati kembali ke taman kecil di dekat lobi yang sepi.

Di sana, Gayuh menyerahkan sebuah amplop cokelat tebal yang baru saja ia ambil dari tasnya (yang ternyata sudah ia siapkan dari hasil pembayaran naskahnya).

"Jati, ini untuk kamu. Ambillah," ucap Gayuh sambil menyodorkan amplop berisi uang seratus juta rupiah.

Jati tertegun, matanya menatap amplop itu lalu menatap Gayuh dengan tidak percaya.

"Tapi Tryas, ini banyak sekali. Aku tidak bisa menerimanya. Ini uang darimana?"

Gayuh tersenyum tulus, meski wajahnya masih pucat.

Ia kembali berbohong demi menjaga rahasianya sebagai penulis.

"Ini uang untuk pengobatan nenek kamu. Jangan ditolak. Aku baru saja mendapatkan bonus besar dari pekerjaanku sebagai model cadangan. Sutradara film hororku juga memberikan uang muka tambahan. Anggap saja ini pinjaman tanpa bunga, atau balas budiku karena kamu sudah menjagaku."

Jati terpaku. Di tangannya ada uang seratus juta, uang yang bagi seorang miliarder sepertinya hanyalah recehan, tapi bagi seorang "tukang ojek", itu adalah jumlah yang sangat besar.

Ia merasa dadanya sesak melihat bagaimana Gayuh, yang baru saja pingsan karena kelelahan bekerja, justru memberikan hasil jerih payahnya tanpa ragu demi neneknya yang "sakit".

"Terima kasih, Tryas. Kamu benar-benar orang yang sangat baik," bisik Jati dengan suara serak.

Dalam hatinya, Jati merasa semakin bersalah sekaligus semakin mencintai wanita di depannya.

"Gayuh, jika kamu tahu bahwa uang ini berasal dari perusahaanku sendiri, dan nenekku sebenarnya sedang bersantai di luar negeri. Tapi ketulusanmu ini, tidak akan pernah bisa kubayar dengan uang sebanyak apa pun." ucap Jati dalam hati

1
Dew666
😍😍😍😍
Rahmawati
wow maharnya fantastis bgt👏👏👏
Rahmawati
hahaha, pagi pagi udah nongol aja si jati
Rahmawati
tryas km akan nyesel nanti😂
Rahmawati
lah kok malah jadi nyaman😂
Rahmawati
baru mulai baca
my name is pho: terima kasih kak🥰
total 1 replies
Vie
aaaa..... ini disini juga aku mau jati... ini udah mangap dari tadi loh... 🤭🤭🤭
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
Vie
nah itu kau tahu sendiri kan.... makanya selamat tersiksa ya tryas.... 🤪🤪🤪🤪
Vie
lanjut kak.... 👍👍👍👍👍👍
Vie
iiihhhh jadi baper deh.... 🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Vie
kamu dasar cucu durhakim.... bilang neneknya sakit.... eh ternyata lagi santai di ln..... dasar cucu durhakim... 🤭🤭🤭🤭
Vie
demi bos jadi ikutan nyamar.... 🤣🤣🤣🤣 demi apa coba hal itu dilakukan.... demi cinta... 🤭🤭🤭🤭
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
Vie
lanjut kak..... 👍👍👍👍 seru banget..
Vie: makasih kak.... aku selalu stay walau jarang komen, tapi tetap lanjut baca... lanjut sampai ceritanya tamat ya kak.. 👍👍👍👍😊😊😊
total 2 replies
Dew666
🍎🍎🍎🍎
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!