Selama sepuluh tahun, Nana tumbuh sebagai manusia di desa nelayan — tanpa tahu bahwa dirinya adalah putri mahkota kerajaan Siren Aequoria. Setiap malam, ia mendengar lagu misterius dari dasar laut, memanggilnya dengan nama.
Jeno, Siren penjaga perairan selatan, telah mengawasinya sejak bayi. Tugasnya sederhana: lindungi Nana sampai waktunya kembali. Tapi sepuluh tahun mengamati dari kejauhan membuatnya jatuh cinta pada lagu dalam darah Nana — dan pada Nana sendiri.
Ketika Nana berubah menjadi Siren untuk pertama kalinya, tak ada jalan kembali. Ia harus belajar mengendalikan kekuatannya, menghadapi bibinya yang merebut takhta, dan memilih antara dunia yang ia kenal — atau cinta yang selama ini menunggu di dasar laut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keivanya Huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Pesta di Perairan Netral
Kael tidak menyerah.
Seminggu setelah lamarannya ditolak dengan halus, ia kembali dengan strategi baru. Sebuah undangan — untuk Nana, untuk Jeno, untuk para bangsawan Aequoria.
"Pesta dansa kerajaan di Perairan Netral," kata Kael, tersenyum lebar. "Acara tahunan para bangsawan Siren dari seluruh samudra. Kau tidak bisa menolak, Yang Mulia. Itu akan dianggap penghinaan."
Nana menatap undangan itu. Kertas dari kulit ikan paus, berhias mutiara kecil. Tulisan tangannya rapi dan indah.
"Kau benar," katanya akhirnya. "Aku tidak bisa menolak."
Kael tersenyum puas.
Malam pesta tiba.
Perairan Netral terletak di antara tiga kerajaan — Aequoria di Selatan, Aquilae di Utara, dan kerajaan kecil Oriens di Timur. Tempat itu tidak dimiliki siapa pun, tapi dijaga bersama oleh para Siren dari ketiga kerajaan.
Istana di Perairan Netral terbuat dari karang putih dan kaca laut. Lampu-lampu bioluminesensi dari ubur-ubur kecil menghiasi setiap sudut, menciptakan cahaya lembut berwarna biru dan ungu. Para tamu datang dari berbagai kerajaan — ada yang bersisik emas, ada yang bersisik perak, ada yang bersisik hitam pekat seperti kegelapan itu sendiri.
Nana mengenakan gaun dari rumput laut perak yang berkilauan. Rambut hitamnya ditata tinggi, dengan mahkota mutiara kecil di kepalanya — lebih sederhana dari mahkota upacara, tapi tetap anggun.
Jeno berdiri di sampingnya, mengenakan seragam Kepala Penjaga berwarna biru tua. Wajahnya tegang — seperti biasa saat berada di keramaian.
"Kau tegang," bisik Nana.
"Aku tidak tegang. Aku waspada."
"Waspada terhadap apa?"
"Terhadap semua orang."
Nana tersenyum kecil. "Kau tidak bisa waspada terhadap semua orang. Kau akan kelelahan."
"Aku akan mencoba."
Kael menyambut mereka di pintu masuk istana. Ia mengenakan jubah putih dengan hiasan sisik biru muda — warna kerajaannya. Rambut pirang platinumnya disisir rapi, wajahnya berseri-seri.
"Yang Mulia," katanya sambil membungkuk. "Kau terlihat mempesona malam ini."
"Terima kasih, Pangeran Kael."
Kael mengulurkan tangannya. "Mau berdansa?"
Nana menatap tangan itu. Di belakangnya, Jeno menarik napas tajam — hampir tidak terdengar, tapi Nana mendengarnya.
Ia tidak bisa menolak tanpa mempermalukan Kael di depan seluruh bangsawan. Tarian pertama di pesta dansa adalah protokol — tuan rumah berdansa dengan tamu kehormatan.
"Baik," kata Nana. Ia menerima tangan Kael.
Jeno berdiri di sudut ruangan, menggigit bibirnya sampai hampir berdarah.
Tarian Siren tidak seperti tarian manusia.
Ia mengalir — seperti air, seperti ombak, seperti angin. Tubuh penari bergerak dalam harmoni dengan arus laut. Setiap gerakan harus lembut, presisi, dan sinkron dengan pasangan.
Kael adalah penari yang handal. Tangannya di pinggang Nana — tidak terlalu erat, tapi juga tidak terlalu longgar. Matanya menatap Nana tanpa berkedip, seolah-olah mencoba membaca pikirannya.
"Kau tahu," bisik Kael di telinga Nana. "Aku sudah lama ingin bertemu denganmu."
"Oh ya?"
"Ya. Sejak aku mendengar tentang kemenanganmu melawan Aramis. Sejak aku mendengar tentang pengorbananmu di Lembah Bisu."
Ia memutar Nana — lembut, anggun.
"Kau berbeda dari ratu-ratu lain, Nanara. Kau... berani."
"Atau bodoh," jawab Nana datar.
Kael tertawa. "Atau berani. Sama saja."
Tarian itu berlangsung beberapa menit — terasa seperti berjam-jam bagi Jeno yang berdiri di sudut ruangan.
Ia melihat tangan Kael di pinggang Nana. Ia melihat senyum Kael yang terlalu lebar. Ia melihat cara Kael menatap Nana — bukan sebagai ratu, tapi sebagai trofi.
Tangannya mengepal. Kukunya menusuk telapak tangan sampai hampir berdarah.
"Kau tidak apa-apa?" bisik Lira dari samping. Ia juga diundang sebagai perwakilan bangsawan Aequoria.
"Aku baik-baik saja," jawab Jeno.
"Kau tidak terlihat baik-baik saja."
"Aku bilang aku baik-baik saja."
Lira menghela napas. "Kau cemburu."
Jeno tidak menjawab.
Tarian selesai. Nana kembali ke sisi Jeno.
"Kau melotot," bisiknya.
"Aku tidak melotot. Aku mengamati."
"Dengan mata menyala seperti itu?"
"Mataku tidak menyala."
"Menyala," desis Nana. "Birumu jadi gelap. Seperti badai."
Jeno mendengus. "Kau perhatikan mataku?"
"Aku selalu perhatikan matamu."
Jeno terdiam. Wajahnya memerah — semerah yang bisa dilakukan Siren.
Nana tersenyum kecil. "Kau lucu kalau cemburu."
"Aku tidak cemburu."
"Lucu," ulang Nana. "Tapi jangan khawatir. Tarian hanyalah tarian."
"Aku tahu."
"Jadi berhentilah melotot."
Jeno menghela napas. Ia mencoba melonggarkan wajahnya — susah payah.
"Lebih baik," kata Nana.
"Aku masih melotot. Tapi dari dalam."
Nana hampir tertawa. Tapi ia menahannya. Mereka masih di pesta. Ratu tidak tertawa terbahak-bahak di pesta.