NovelToon NovelToon
KISAH CINTA DAN DUSTA DI JALAN

KISAH CINTA DAN DUSTA DI JALAN

Status: tamat
Genre:Romansa Fantasi / Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:252
Nilai: 5
Nama Author: Caesarius A Enda

- Hamid: Sopir travel, usia 38 tahun, sudah beristri dan punya dua anak, terlihat ramah dan sopan tapi pandai menyembunyikan sifat aslinya.

- Nova: Guru SD, usia 28 tahun, cantik, bertubuh mungil, sudah bersuami tapi rumah tangganya terasa hambar.

- Ain: Guru SMP, usia 30 tahun, wajah biasa saja, giginya agak tonggos, belum menikah, pendiam dan mudah percaya orang, sangat membutuhkan kasih sayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Caesarius A Enda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: ANTARA HUTANG DARAH DAN KEBENARAN

Dimas berjalan perlahan mendekati Ain dan yang lainnya, setiap langkahnya terasa berat dan menekan hati semua orang. Ia berhenti tepat di depan Ain, menatapnya lama dengan mata yang tajam menusuk.

“Aku sudah cari kalian bertiga bertahun-tahun lamanya. Aku sudah tahu semua riwayat hidup kalian, semua dosa, semua aib, semua kebaikan yang kalian lakukan sekarang. Aku tahu kalian sudah berubah, aku tahu kalian membantu banyak orang… tapi itu tidak cukup untuk menebus dosa kalian karena pernah bersekutu dengan pembunuh orang tuaku,” katanya dingin.

“Kami tidak bersekutu! Kami tidak tahu apa-apa!” jawab Ain berani, meski kakinya gemetar hebat. “Kami dibohongi sama Hamid sama seperti adikmu menyamar bohongi kami sekarang! Kami juga korban penipuan dan kekejamannya! Kalau kamu mau balas dendam, balaslah sama dia yang sudah mati! Jangan sakiti orang yang tidak bersalah!”

“TIDAK BERSALAH?!” teriak Dimas keras, suaranya bergema sampai ke dinding-dinding ruangan. “Kalian nikmati hasil kerja keras orang tuaku! Semua uang yang kalian pakai, semua harta yang kalian dapat dari Hamid… itu adalah harta curian milik keluargaku! Kalian hidup mewah dan bahagia dengan darah orang tuaku yang mengalir di dalamnya! Kalian pikir itu tidak ada salahnya?!”

“KAMI TIDAK TAHU ITU HARTA CURIAN! KAMI BERPIKIR ITU UANG HASIL KERJA KERASNYA!” teriak Nova balik, air matanya mengalir deras. “Dan kami tidak nikmati sama sekali! Kami hancur hidup kami, kami kehilangan nama baik, kami kehilangan masa depan, kami menderita bertahun-tahun! Kalian pikir kebahagiaan yang kami dapat sekarang itu gratis? Kami dapatkan setelah melalui ribuan air mata dan penderitaan yang tidak terlukiskan!”

Saat pertengkaran panas itu terjadi, tiba-tiba Rian bergerak maju, berdiri tegak di depan Dimas dengan wajah tenang dan berani.

“Kak Dimas… dengarkan saya sebentar. Saya Rian, anak Ain. Saya tahu kamu sakit hati, saya tahu rasa kehilangan dan dendam yang kamu simpan selama bertahun-tahun itu sangat besar. Tapi dendam tidak akan pernah menyembuhkan luka masa lalu, membunuh orang yang tidak bersalah tidak akan membuat orang tuamu hidup kembali,” katanya dengan suara tegas dan jernih.

“Kamu anaknya, jadi kamu pasti bela mereka!” bentak Lira dari belakang.

“Bukan cuma bela, tapi saya bicara kebenaran!” jawab Rian tajam. “Coba kamu buka saku baju Hamid yang ada di dalam buku catatan itu. Ada satu amplop kecil yang disembunyikan di sana, dia tulis khusus untuk kamu dan adikmu. Dia tulis itu sesaat sebelum dia mati, saat rasa takut dan penyesalannya paling besar.”

Dimas terkejut mendengarnya, lalu ia segera mengambil buku catatan itu, memeriksa bagian dalam sampulnya. Benar saja, ada sebuah amplop kecil terselip rapat, bertuliskan: “Untuk Dimas dan Lira, anak-anak yang paling berhak membenci aku.”

Tangan Dimas gemetar saat membukanya, Lira juga diam menonton dengan wajah penasaran dan cemas. Isinya berbunyi:

“Untuk anak-anak korban yang sudah aku hancurkan hidupnya…

Aku tahu kalian pasti cari aku untuk balas dendam, aku tahu kalian berhak membunuhku seribu kali karena kejahatan yang aku lakukan. Aku tidak minta diampuni, aku siap menerima hukuman apa pun yang pantas aku dapatkan.

Tapi ada satu hal yang harus kalian tahu: wanita-wanita yang kalian cari, Ain, Nova, Sari… mereka sama sekali tidak tahu apa-apa. Aku bohongi mereka semua, aku ambil semua harta mereka sendiri, aku tidak pernah berikan mereka uang curian milik keluargamu. Semua harta curian itu aku habiskan sendiri untuk judi dan narkoba, sampai habis tidak tersisa apa pun. Mereka juga korban, sama seperti kalian.

Selain itu… aku simpan semua bukti dan saksi yang bisa membebaskan mereka semua, juga bukti bahwa mereka tidak pernah tahu atau terlibat dalam kejahatan apa pun. Aku simpan di tempat aman, supaya kalau kalian datang, kalian tahu kebenaran yang sebenarnya.

Aku satu-satunya yang bersalah. Jangan sakiti orang lain yang tidak bersalah, jangan tambah dosa kalian hanya karena mau balas dendam sama aku. Aku sudah mati, biarkan aku yang menanggung semua hukuman ini sendirian.

Maafkan aku… Hamid”

Air mata Dimas dan Lira mengalir deras membasahi kertas itu. Selama dua puluh lima tahun mereka hidup dengan dendam yang membakar hati, membenci semua orang yang berkaitan dengan Hamid… ternyata orang-orang itu sama sekali tidak bersalah, ternyata mereka juga korban yang sama menderitanya.

Suasana menjadi hening seketika. Dimas perlahan menurunkan tangannya, senjata yang dipegangnya jatuh ke lantai. Ia menatap Ain, Nova, dan Sari dengan mata yang sudah tidak lagi penuh kebencian, tapi penuh rasa bersalah dan kesedihan yang mendalam.

“Maafkan kami… maafkan kami yang sudah menuduh, mengancam, dan mau menyakiti kalian padahal kalian tidak bersalah sama sekali,” kata Dimas dengan suara parau, air matanya mengalir deras. “Kami hidup dalam kegelapan dan kebencian selama dua puluh lima tahun, kami tidak bisa melihat kebenaran yang sebenarnya. Kami pikir semua orang yang dekat dengan Hamid adalah musuh, ternyata kalian juga korban yang hancur sama seperti kami.”

Lira juga menangis sejadi-jadinya, rasa malu dan rasa bersalah memenuhi seluruh hatinya. Ia berlari menghampiri Ain, bersujud di kakinya.

“Maafkan saya Bu… maafkan saya yang sudah bohongi, tipu, dan mau sakiti Ibu yang sudah baik sama saya. Ibu kasihi saya, Ibu sayangi saya, Ibu anggap saya anak sendiri… sementara saya malah mau hancurkan Ibu. Saya tidak pantas diampuni, saya tidak pantas hidup lagi…” isaknya histeris.

Ain segera memeluk Lira dan mengangkatnya berdiri, menangis bersama gadis muda itu. “Sudah nak, jangan bicara begitu. Kami tidak marah, kami tidak benci kamu. Kami mengerti rasa sakit dan dendam yang kamu simpan selama ini, kami juga pernah merasakan hal yang sama. Sekarang kebenaran sudah terungkap, semua salah paham sudah selesai… kita tidak perlu musuhan lagi.”

Nova dan Sari juga ikut memeluk kedua kakak beradik itu, melepaskan semua rasa takut dan amarah yang selama ini mereka simpan. Mereka sadar, Dimas dan Lira bukan orang jahat sejak lahir, mereka menjadi kejam dan penuh dendam karena hidup mereka hancur di masa kecil, karena tidak ada yang menyayangi dan membimbing mereka.

“Kalian tidak perlu hidup dalam kegelapan dan kebencian lagi,” kata Nova lembut sambil memegang tangan Dimas. “Masa lalu memang pahit dan menyakitkan, tapi kita tidak bisa mengubahnya. Kita hanya bisa mengubah masa depan kita sendiri. Mari kita tinggalkan semua kejahatan dan balas dendam ini, mari kita hidup dengan benar dan bermanfaat bagi orang lain, sama seperti yang kami lakukan sekarang.”

“Tapi… kami sudah melakukan banyak kejahatan, kami sudah membunuh banyak orang, kami sudah terjerat dalam dunia gelap terlalu dalam. Tidak ada jalan keluar buat kami, tidak ada tempat buat kami di dunia yang baik,” jawab Dimas dengan kepala tertunduk penuh keputusasaan.

“Ada nak, selalu ada jalan buat orang yang mau berubah,” kata Sari lembut. “Lihat kami dulu… kami penuh dosa, penuh aib, semua orang benci dan hina kami. Tapi kami mau berubah, mau memperbaiki diri, mau menebus kesalahan. Sekarang kami dihormati dan dicintai banyak orang. Kalian juga bisa sama seperti kami, bahkan lebih baik karena kalian masih muda dan punya banyak waktu.”

Rian maju ke depan, menepuk bahu Dimas dengan ramah. “Kak Dimas, mulai hari ini kita adalah keluarga. Kita sama-sama korban Hamid, kita sama-sama hancur karena dia. Sekarang kita bangkit bersama-sama, kita bantu satu sama lain, kita buktikan pada dunia bahwa anak-anak korban bisa tumbuh menjadi orang baik dan berguna, bukan menjadi penjahat seperti yang orang kira.”

Kata-kata itu menyentuh hati Dimas dan Lira paling dalam. Untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, mereka merasa ada yang menyayangi, ada yang menerima, ada yang menganggap mereka manusia yang berharga. Dendam yang selama ini membakar hati mereka perlahan padam, digantikan dengan rasa kasih sayang dan harapan baru yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!