"Apa kau pikir Alexandra ikut bagian dalam rencana mereka untuk menjebakku?" tanya Marc Maretta serious.
"Nona Alexandra bekerja sebagai tour guide di negerinya. Ia datang menemui kekasihnya di Thessaloniki setelah satu setengah tahun mereka berkenalan. Kelihatannya hubungan mereka tak berhasil," kata pengawal Marchetti.
Gadis yang sedang patah hati, mampukah ia membunuh mafia kejam seperti Marc Maretta, that's impossible!
Perjalanan yang ditempuh Alexandra begitu jauh, dari Indonesia menuju Greece kemudian ke France. Namun dirinya malah terdampar di Milan, Italy. Dan luka tembak di lengannya, itu bukan untuknya!
Alexandra bukan gadis yang lemah tapi jatuh cinta pada mafia membuat dirinya harus menerima kenyataan, dilukai atau melukai.
Apakah Marc Marreta menjadi pilihan hidupnya di antara dua laki-laki lain yang mencintainya?
Antonis yang ingin merebut cintanya kembali atau mungkin Guy Dupuis sahabatnya yang menyayangi Alexandra sejak lama?
Sebuah dilemma bagi Alexandra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ray B., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
One Moment In Time
Makin hari ke hari kondisi Alexandra makin membaik. Dokter Alfredo datang memeriksa, mengganti perbannya, memberikan suntikan anti infeksi & obat penawar sakitnya. Ia masih butuh waktu pemulihan yang cukup lama.
Pengamanan di Puri Lombardy lebih baik dari penthouse miliknya saat ini. Menyembunyikan identitas Alexandra tidak mudah, karena sewaktu-waktu dirinya bisa menjadi korban berikutnya lagi ketika musuh-musuhnya tahu Marc Maretta menjalin hubungan dengan wanita.
......................
Hari ke 5
Setelah kejadian di bandara, Tuan Muda Marc Maretta terlihat gelisah menunggu laporan dari Marchetti ajudannya. Mereka sedang mengurai satu peristiwa ke peristiwa lainnya. Dan ada kegagalan proyek di Athens yang pastinya bukan suatu kebetulan tapi Sabotages ..
Sabotase adalah tindakan perusakan yang dilakukan secara terencana, disengaja dan tersembunyi terhadap peralatan, personel dan aktivitas dari bidang sasaran yang ingin dihancurkan yang berada di tengah-tengah masyarakat, kehancuran harus menimbulkan efek psikologis yang besar.
Beberapa koleganya bermain nakal kali ini, tidak mematuhi aturan yang dibuat oleh mereka sendiri sebelum bergabung. Mereka melakukan banyak pelanggaran hingga menyerang secara personal atau kelompok.
Berbeda dengan proyek di wilayah lainnya hanya mengenai pengembangan teknologi dasar, sudah sesuai dengan laporan assistantnya Leonardo yang disampaikan kemarin.
Informasi yang diterima dari Uncle Sergey dari Russia, dimana ia sudah memantau jalannya peristiwa dari awal karena Marc Maretta dan dirinya sebenarnya adalah satu bagian yang ditutupi.
Keduanya akrab di dalam tapi di luar seakan musuh besar. Anak didiknya telah memegang kekuasaan wilayah lainnya.
Uncle Sergey telah mewariskan sebagian ilmu & pengalamannya. Mereka saling melindungi satu sama lain, menutupi celah kesalahan dan keduanya selalu keluar menjadi pemenang.
Marc Maretta memegang pelipisnya, semaiaman ia bekerja setelah menemani Alexandra. Ada bagian dari dirinya ingin melindungi atau melepaskannya secepat mungkin. Gadis itu masih dalam kondisi berbahaya & terluka.
Tak lama kemudian Marchetti mengetuk pintu sebelum masuk ke ruang kerja Tuan Muda. Marc Maretta sedang berpikir keras, ketika Marchetti datang membawa berkas yang diminta, lampiran bukti photo-photo & catatan lainnya.
Tuan Muda mengenyitkan dahinya sekian lama mengamati documents tersebut, di luar dugaannya.
"Alexandra, apakah benar gadis itu terlibat dalam jebakan penembakan beberapa hari lalu? Mengapa malah dia yang menjadi martir dalam peristiwa tersebut?" Marc Maretta mulai bimbang & ragu.
Rangkaian photo yang diambil dari CCTV bandara Athens, Thessaloniki, Milan. Dan beberapa photo aktivitas gadis itu di cafe, shopping atau pergi nonton dengan mantan pacarnya Antonis menjadi suatu pertanyaan panjang.
Setengah jam Marchetti duduk menunggu perintah selanjutnya, tetapi Tuan Muda sibuk mengamati beberapa photo lainnya yang lebih banyak menyita perhatiannya.
Photo pertama yang dilihatnya sebuah lobby gedung perkantoran, Antonis mencium wanita lainnya sementara sosok Alexandra tak jauh dari laki-laki tersebut. Dan photo kedua, gadis itu menyerahkan sesuatu.
Marc Maretta bangkit berdiri memandang kaca jendela, meluaskan pikirannya yang sesak. Informasi yang diberikan Marchetti sedikit menohok, karena posisi Alexandra sekarang sudah berada ditengah keluarganya.
Ia menyalakan cigarettes, hembusan asap rokoknya mengepul diruang kerjanya. Ajudannya menuangkan minuman untuknya. Ia menghisap rokoknya lebih dalam lagi.
Dilonggarkan dasinya, digulungnya lengan kemeja putih & tangan kekar itu berungkali mengepal keras.
Tuan Muda meneguk minumannya sekali tandas, rokoknya pun dimatikan. Dan perintahnya ...
...Segera kembali ke Puri Lombardy!...
...----------------...
Bosan sudah dirasakannya cuma bisa berbaring di sini tanpa melakukan apa-apa, seperti magabut saja dilayani setiap hari kebutuhannya.
Awalnya Alexandra sulit bergerak, rasanya seperti ditabrak mobil yang kencang pftt ... bukan, ini peluru tajam yang menembus lengannya tapi seolah malah jantungnya yang diterjang, karena sakitnya luar biasa.
Lima hari tidak membahas apa-apa tentang kejadian yang menimpanya seperti tuna netra kehilangan arah.
Mengapa Marc Maretta belum menjelaskan kepadanya. Seharusnya ia patut mengetahui ada apa semua dibelakang kejadian ini.
Oh, aku lupa karena 5 hari ini aku selalu tertidur panjang setelah meminum obat dari Dokter Alfredo. Tubuhku sengaja di istirahatkan agar lukanya cepat sembuh.
Tak ada histeris di malam buta karena Marc Maretta selalu menemaninya. Kadang menyuapinya karena ia tidak bisa bangun mengangkat dirinya sendiri tanpa bantuannya.
Sore yang cerah terlihat dari jendela, walau cuaca dingin menerpa. Bertumpu di lengan kananku mengangkat tubuhnya bangkit dari ranjang mewah.
Pelan tapi pasti juga sangat menyakitkan saat menggeser lengan kirinya bergerak searah tubuhku.
Alexandra terduduk, mengatur nafas menyampirkan lengan kiri ke pangkuan. Bebatan perban gulung dengan kasa steril di dalamnya terasa tebal bebal seakan mati rasa tak berguna seluruh tanganku ini.
Coba bangkit berdiri dan berhasil. Ingin teriak kencang tapi aku tak berani hanya mengaduh menahan nyeri yang luar biasa, peluh & sedikit airmata mengiringnya.
Kamarnya cukup hangat, heater dipasang seharian selama ia terus berbaring. Kini ia belajar berjalan menghadapi kenyataan.
Ia butuh ke kamar mandi sendiri. Selama ini ia sering dibantu pelayan Elisa mengerjakan semuanya.
Wajah pucatnya terpaku di cermin, rambut panjangnya kusut. Tubuhnya lunyu lunglai sejak meninggalkan Thessaloniki, hidupnya tak bersemangat lagi.
Dibasuh wajahnya dengan handuk yang sudah dibasahi dengan air hangat, menggosoknya pelan agar duka lara itu hilang.
Tidak juga hilang, tapi wajahnya sedikit cerah. Diambilnya sisir, rambutnya butuh sedikit sentuhan agar tergerai karena tangannya tidak bisa menggelungnya lagi pfftt ... menyebalkan!
Sementara itu Tuan Muda sudah tiba di Puri Lombardy, langsung bergegas menaiki tangga dan mengetuk kamar tamu milik Alexandra. Tak ada sahutan dilongoknya ke dalam, ranjangnya kosong.
"Damn! Apakah dia melarikan diri?" desisnya emosi. Matanya menyapu ruangan, kosong. Balkon pun tak ada orang, tak mungkin dia keluar di cuaca dingin seperti ini. Marc Maretta terdiam terpaku menatap semuanya dengan kemarahan tinggi.
Baru saja ia akan beranjak keluar kamar. Tiba-tiba pintu dari kamar mandi pun terbuka. Alexandra keluar dengan terkejut, apalagi dirinya.
Sial ... pikirannya jadi tidak focus hari ini. Ternyata dia baik-baik saja!
"Hi Alexa bagaimana kabarmu hari ini, lenganmu masih sakit?" tanya Marc dengan mengalihkan emosinya agar stabil lagi.
Alexandra duduk dekat meja rias. Rambutnya tergerai di bawah bahu, tubuhnya begitu mungil. Raut wajahnya masih sedikit pucat. Tapi cahaya matanya sedikit hidup kembali.
"Aku baik-baik saja, hanya lenganku masih nyeri. Aku bosan berbaring terus, makan tidur terus!" keluh Alexandra cemberut.
Marc Maretta tersenyum, "Mau ku ajak keliling Puri ini?"
Gadis itu mengangguk, kembali matanya berbinar. Paling tidak mengeksplorasi rumah bagai istana ini cukup menyenangkan baginya.
Dia mengambil scarf tebalnya, sayangnya kesulitan untuk menyampirkan ke bahu kirinya.
Marc datang membantunya, "Kau lebih baik memang memakai ini supaya lebih hangat."
Tapi Alexandra kesulitan memasangkan bootsnya, lagi lagi Marc suka rela memakaikannya. Boots dengan zipper tetap terasa sulit karena butuh kedua tangan juga.
Kemudian digandengnya tangan Alexandra keluar kamar, ia begitu ragu tapi Marc Maretta menuntunnya melangkah terus.
"Pelan-pelan dong jalannya, langkahmu itu panjang aku tak bisa ikuti karena kakiku pendek arghhh ...." Disentaknya tangan Marc untuk hentikan langkahnya.
Alexandra bukan balita, Marc Maretta dengan enaknya main giring saja tangannya tanpa lihat kondisinya. Laki-laki itu kaget, dipandangnya Alexandra.
"Sorry Alexa, aku lupa kau sudah sepeti lilliput hahaha .. maafkan aku. Cuaca cerah hari ini, mungkin kau ingin ke taman atau danau?"
Mata Alexa mengerjap, "Wow, ada pemandangan danau depan puri ini?"
Marc mengangguk, "Kau akan lihat sendiri nanti. Ayo kita jalan-jalan sekitar sini!"
Menuruni tangga hingga keluar melewati ruang keluarga & ruang makan, Alexandra tidak berhenti memandang kagum seisi Puri Lombardy.
Interior mewah dengan lampu chrystal besar dibawah tangga, dinding dengan ukiran indah sampai pada pilar diluar.
Pemandangan yang menakjubkan, danau terhampar luas, keindahan yang tidak ia dapati sepenuhnya di Thessaloki.
Gundah gulana kembali melanda, Alexandra memejamkan mata sejenak. Tanpa disadarinya, di sisinya Marc Maretta sedang mengawasi.
..."Ada yang harus dijelaskan Alexandra saat ini. Aku tak mau menunggu lebih lama lagi!"...
...****************...
Alurnya tak biasa. Keren.
Bahasanya enak dibaca.
Untuk novel karya pertama, ini adalah sesuatu yang luar biasa.
Two thumbs up!
*ikutan nyesek jadinya.
Jd bersa ikut perang...
😁
Smgt n sukses