Semua orang menganggap Gunung Sumber Abadi hanyalah tempat wisata gagal yang dikutuk, tetapi bagi Rizky Santoso, warisan yang dibuang oleh seluruh keluarganya ini adalah awal dari segalanya. Tepat saat ia menerima beban hutang dan kawasan wisata yang hancur itu, sebuah sistem misterius bangkit dan memberinya kekuatan untuk mengubah gunung tandus menjadi destinasi kelas dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Rizky tertawa pelan mendengar pertanyaan polos dari pemilik warung kopi tersebut.
Bapak tua itu benar-benar mengira dirinya memakai jasa dukun untuk mengusir kelompok preman Bagas.
"Bukan dukun Pak Joko, itu tadi cuma kebetulan ada angin kencang dari arah tebing," kilah Rizky sambil tersenyum ramah.
"Lagipula saya ini anak muda zaman sekarang, mana percaya dengan hal gaib seperti itu."
Pak Joko menyipitkan matanya dan menatap Rizky dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Bapak tua itu jelas tidak sepenuhnya percaya dengan alasan angin kebetulan tersebut.
"Angin kencang bagaimana maksudmu?" tanya Pak Joko dengan nada curiga.
"Bapak lihat sendiri si Bagas sampai terlempar berguling-guling seperti bola di jalanan."
"Ah sudahlah Pak, yang penting preman pembuat onar itu sudah pergi dari sini," jawab Rizky mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Bapak bawa rantang makanan itu untuk siapa?"
Pak Joko menunduk melihat rantang di tangannya dan menghela napas panjang.
"Istri bapak di rumah kasihan melihat kamu tidur di lantai loket karcis yang dingin semalaman," ucap Pak Joko sambil menyodorkan rantang itu.
"Dia menyuruh bapak mengantarkan nasi uduk dan tempe goreng ini untuk sarapan pagimu."
Perut Rizky langsung berbunyi merdu merespon aroma masakan rumah yang tercium dari celah rantang.
Krucuk krucuk.
"Wah, kebetulan sekali saya memang belum sarapan sejak kemarin siang," kata Rizky dengan mata berbinar bahagia.
"Terima kasih banyak Pak Joko, sampaikan salam terima kasih saya untuk ibu di rumah ya."
Rizky mengambil rantang itu dengan hati-hati seolah sedang memegang harta karun yang sangat berharga.
"Sebagai rasa terima kasih, bagaimana kalau Pak Joko masuk ke dalam dan melihat-lihat sebentar?" tawar Rizky sambil menunjuk ke arah gerbang.
"Anggap saja Bapak adalah pengunjung resmi pertama di Gunung Sumber Abadi yang baru ini."
Pak Joko langsung mundur selangkah dengan wajah panik.
"Jangan bercanda kamu anak muda!" tolak Pak Joko dengan cepat.
"Tempat ini angker dan cahaya misterius semalam pasti ulah penunggu gunung yang sedang marah."
"Bapak tidak mau ikut campur urusan gaib di dalam sana."
Rizky tersenyum penuh percaya diri dan berjalan mendekati gerbang.
"Tidak ada hantu atau penunggu gunung di sini Pak," bujuk Rizky dengan nada meyakinkan.
"Cahaya semalam itu berasal dari fasilitas baru yang sedang saya bangun di dalam."
"Bapak mau lihat sendiri fasilitas kelas dunia yang akan membuat desa ini ramai lagi?"
Rasa penasaran perlahan mulai mengalahkan ketakutan di wajah keriput Pak Joko.
Dia sudah berpuluh tahun tinggal di lereng gunung ini dan tahu betul setiap sudut kawasan wisata tua tersebut.
"Kamu yakin di dalam aman dan tidak ada genderuwo?" tanya Pak Joko memastikan sekali lagi.
"Saya jamin seratus persen aman Pak," jawab Rizky sambil membukakan jalan masuk.
"Kalau ada apa-apa, saya yang akan pasang badan untuk melindungi Bapak."
Akhirnya dengan langkah ragu dan gemetar, Pak Joko berjalan melewati gapura kayu tersebut.
Mata bapak tua itu langsung membulat sempurna saat melihat kondisi area loket yang sangat bersih.
Tidak ada lagi semak belukar liar atau pecahan kaca yang berserakan berantakan di tanah.
"Kamu membersihkan semua ini sendirian dalam satu malam?" tanya Pak Joko dengan suara takjub.
"Tentu saja Pak, saya serius ingin membangun kembali tempat ini," jawab Rizky dengan bangga.
Langkah Pak Joko terhenti ketika matanya melihat sebuah bangunan marmer putih yang berdiri kokoh tidak jauh dari mereka.
"Bangunan mewah apa itu di sana?" tunjuk Pak Joko dengan tangan bergetar.
"Seingat bapak, kakekmu tidak pernah membangun gedung sebagus itu di dekat gerbang masuk."
"Oh, itu adalah fasilitas toilet umum bintang lima kita Pak," jawab Rizky santai.
"Toilet?" pekik Pak Joko tidak percaya.
"Bangunan semewah istana ini kamu sebut sebagai toilet umum?"
Rizky mengangguk dan mempersilakan Pak Joko untuk melihat lebih dekat.
Wushhh.
Pintu kaca otomatis terbuka seketika dan membuat Pak Joko melompat mundur karena kaget.
"Astagfirullah, pintunya bisa bergerak sendiri!" teriak Pak Joko panik.
"Itu namanya sensor gerak otomatis Pak, teknologi modern dari kota," jelas Rizky menahan tawa.
"Coba Bapak masuk dan rasakan sendiri udara di dalamnya."
Pak Joko menjulurkan kepalanya ke dalam dan langsung menghirup aroma lavender yang sangat harum.
Lantai marmernya terlihat sangat mengkilap tanpa noda debu sedikit pun.
"Gila, toilet ini jauh lebih wangi dan mewah daripada ruang tamu rumah kepala desa kita," gumam Pak Joko geleng-geleng kepala.
"Siapa yang tega membuang kotoran di tempat seindah ini?"
Rizky tertawa lepas mendengar komentar polos Pak Joko.
"Ini baru permulaan Pak, mari saya tunjukkan hal yang paling utama," ajak Rizky.
Dia memandu Pak Joko berjalan lebih dalam menuju area tebing batu di belakang loket karcis.
Suara gemuruh air yang jatuh mulai terdengar semakin jelas di telinga mereka berdua.