Dunia akan hancur ketika kita tidak menemukan pemilik hati yang sebenarnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sonya_860, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Hari demi hari telah berlalu dengan biasa saja—setidaknya bagi Ziva, tidak ada kata luar biasa dalam kamusnya selama satu minggu terakhir. Tujuh hari penuh ia menghabiskan waktu dengan status "tahanan rumah" di dalam kamarnya sendiri, sebuah hukuman yang dijatuhkan sang ayah akibat fitnah keji Sanya. Namun, hari Senin ini adalah lembaran baru.
Masa hukuman itu telah usai, dan Ziva akhirnya diizinkan untuk kembali menghirup udara kebebasan di sekolah.
Pukul lima pagi, Ziva sudah sibuk di dapur. Cahaya lampu neon yang dingin menyinari wajahnya yang nampak lebih kurus dari biasanya. Ia mengusap keringat yang mulai membanjiri pelipisnya dengan punggung tangan. Di atas kompor, sebuah teflon kecil mendesis, mengeluarkan aroma harum nasi goreng yang ia siapkan sebagai bekal.
Ziva sudah lama memutuskan untuk tidak lagi ikut sarapan di meja makan bersama keluarga "harmonis" ayahnya. Baginya, menelan makanan di tengah sindiran ibu tiri dan tatapan meremehkan Sanya hanya akan membuat lambungnya sakit.
"Huftt, akhirnya selesai juga," gumam Ziva lega. Ia memasukkan kotak bekal dan sekotak susu cokelat kesukaannya ke dalam tas jinjing kecil.
"Waktunya berangkat!" Ziva menyandang tas sekolahnya, bersiap melangkah menuju pintu keluar. Namun, baru saja kakinya menginjak anak tangga pertama menuju lantai bawah, sebuah suara yang melengking menghentikannya.
"Heh! Mau ke mana lo?"
Ziva mendongak. Di balkon lantai atas, berdirilah Sanya dengan keangkuhan yang sudah mendarah daging. Gadis itu masih mengenakan bathrobe putih, rambutnya yang bergelombang dibiarkan terurai berantakan.
Ziva memutar bola matanya malas. Malas sekali. "Lo nggak liat gue pakai seragam lengkap begini mau ke mana? Ke pasar?"
" Ya ke sekolah lah!"
"Nah, itu lo tau. Makanya punya otak dipake, jangan cuma jadi pajangan doang. Goblok kok dipelihara," sambung Ziva pedas. Ia sudah tidak punya sisa kesabaran untuk berbasa-basi.
Wajah Sanya memerah padam mendengar hinaan itu. Namun, sebuah ide licik tiba-tiba melintas di benaknya. Ia tersenyum miring. "Lo boleh ke sekolah sekarang, tapi ada syaratnya."
Ziva mengangkat sebelah alisnya. "Why? Emangnya lo siapa ngatur-ngatur gue?"
"Lo setrika dulu baju seragam gue! Sekarang!" suruh Sanya dengan nada memerintah yang sangat santai, seolah Ziva adalah pelayan pribadinya.
Ziva mengedipkan mata, sejenak ia merasa telinganya salah dengar. "Heh, lo punya tangan nggak sih? Masa setrika baju aja nyuruh orang. Tangan lo normal, kan? Nggak cacat?"
"Sialan lo! Berani ya lo nyumpa—Ayah!" Sanya tiba-tiba memutus kalimatnya dan merubah ekspresi wajahnya menjadi dramatis saat melihat
Pandu keluar dari kamar. Pandu yang mendengar panggilan anak kesayangannya itu langsung berjalan mendekat dan mengusap kepala Sanya dengan penuh kasih sayang. "Ada apa, Sayang? Pagi-pagi kok sudah teriak?"
Ziva hanya bisa terdiam di tempatnya berdiri. Rasa iri dan sesak kembali menghujam dadanya saat melihat perlakuan lembut sang ayah kepada saudara tirinya. Rasanya seperti ada duri yang menyangkut di tenggorokannya.
"Itu loh, Yah... Ziva nggak mau bantuin Sanya setrika baju. Padahal Sanya lagi pusing banget ngerjain tugas semalam sampai kurang tidur," adu Sanya dengan suara manja yang dibuat-buat, sambil bergelayut di lengan Pandu.
Pandu menoleh ke arah Ziva, tatapannya yang semula lembut langsung berubah menjadi dingin dan datar. "Ziva, kamu setrika dulu baju kakakmu."
Ziva membelalakkan matanya. "Tapi Yah, ini sudah jam enam lewat! Nanti Ziva telat ikut upacara bendera!"
"Belum ada jam tujuh, Ziva. Cepat kerjakan. Kasihan Sanya kalau kedinginan karena kelamaan pakai handuk begitu," ucap Pandu seolah alasan itu sangat masuk akal.
"Yah, Sanya juga punya tangan! Dia nggak lumpuh!" protes Ziva dengan nada memelas.
Tiba-tiba Ratna keluar dari kamar dengan senyum sinisnya. "Cepat, Ziva. Kamu nggak lihat Sanya sudah menggigil? Setrika baju cuma sebentar, nggak akan buat kamu ketinggalan pelajaran."
"Sudah, kerjakan saja. Sanya itu kakakmu, Ziva," tegas Pandu seraya memeluk bahu Sanya, mencoba memberikan kehangatan buatan.
Ziva mengepalkan tangannya kuat-kali. "Oke, fine! Ziva setrika!"
Di dalam kamar Sanya, Ziva membanting seragam itu ke atas papan setrika dengan emosi yang meluap-luap.
"Sial banget sih gue! Mau berangkat sekolah aja ada aja kendalanya. Dasar Paralon! Tangan masih sehat kok nyuruh-nyuruh, lebay banget sih," gerutu Ziva sambil menggerakkan setrika dengan kasar.
"Semoga aja besok suami tuh Paralon galak, ganas, kecanduan alkohol, pokoknya yang jelek-jelek deh! Cocok sama wataknya yang kayak nenek lampir. Kalau ibunya Nenek Sihir, anaknya Nenek Lampir. Fiks, gue panggil mereka gitu aja di dalam hati," Ziva mengoceh sendiri, sesekali tertawa getir meratapi nasibnya yang harus menyetrika baju untuk orang yang telah memfitnahnya.
Lima menit berlalu. Pekerjaan itu selesai. Seragam Sanya kini terlihat licin dan rapi. Ziva melirik jam di dinding dan seketika jantungnya seolah berhenti berdetak.
"Apa?! Sudah jam tujuh kurang sepuluh menit?! Aduh, mampus gue telat!" Ziva berlari keluar kamar Sanya, menuruni anak tangga dengan kecepatan penuh. Di ruang makan, keluarga "bahagia" itu tengah asyik menyantap sarapan mewah.
"Gimana? Sudah selesai?" tanya Sanya dengan mulut penuh makanan.
"Hm," jawab Ziva singkat.
"Ziva! Jawab yang benar kalau ditanya kakakmu!" tegur Pandu keras.
Ziva berhenti sejenak, mengatur napasnya yang memburu. Ia memaksakan senyum yang nampak sangat palsu. "Iya, sudah, Nyai. Sudah hamba setrika dengan rapi dan wangi. Puas?"
Sanya tersenyum puas. "Bagus. Terima kasih."
"Sama-sama, Nyai Lampir," batin Ziva. Ia segera berbalik hendak menuju pintu keluar.
"Mau ke mana kamu, Ziva?" tanya Pandu.
"Ayah nggak lihat Ziva sudah telat?! Ziva mau sekolah!" teriak Ziva sambil terus berlari tanpa menoleh lagi.
"ZEVA! AYAH BELUM SELESAI BICARA!"
"KAPAN-KAPAN AJA, YAH!" sahut Ziva yang suaranya mulai menjauh.
Jika Sanya berangkat menggunakan mobil mewah ber-AC yang dikendarai sang ayah, Ziva harus berjuang di tengah panasnya mentari pagi dengan menaiki ojek pangkalan. Ia tidak punya pilihan; taksi akan memakan waktu terlalu lama untuk sampai ke rumahnya, sementara motor kesayangannya masih mendekam di bengkel.
"Sudah sampai, Neng," ucap pak ojek saat mereka tiba di depan gerbang SMA CAKRA BUANA.
"Ini Pak, kembaliannya ambil aja. Makasih ya!" Ziva langsung melompat turun dan berlari memasuki kawasan sekolah.
"Lima menit lagi masuk! Aduh, mampus... kalau telat bisa-bisanya gue dihukum lari keliling lapangan upacara," gumam Ziva panik. Ia berlari menyusuri koridor dengan kepala tertunduk, matanya terus-menerus melirik jam tangan peraknya yang melingkar di pergelangan tangannya yang mungil.
Karena terlalu fokus pada waktu, Ziva tidak menyadari ada seseorang yang sedang berjalan dari arah berlawanan.
Bruk!!
Ziva menghantam sesuatu yang terasa sangat keras, seperti menabrak tembok beton. Tubuh mungilnya terpental dan ia jatuh terduduk di lantai keramik koridor.
"Aduh... sakit banget," rintih Ziva sambil memegangi hidungnya yang terasa sangat nyut-nyutan.
"Sorry... nggak papa, kan? Ada yang sakit?" sebuah suara rendah dan berat terdengar tepat di depan wajahnya. Seseorang itu kini sedang berjongkok untuk menyamakan tinggi mereka.
Ziva masih memejamkan mata menahan nyeri.
"Ah, nggak papa kok. Maaf ya, tadi gue nggak liat jalan," ucap Ziva seraya mendongak.
Matanya bersitatap dengan mata elang yang sangat ia kenali. Itu adalah laki-laki yang tempo hari menolongnya di koridor yang sama. Laki-laki kutub utara yang dingin, Mahendra.
Tes... tes... tes...
Ziva merasakan sesuatu yang hangat dan kental mengalir dari lubang hidungnya. Ia menunduk dan melihat cairan merah segar menetes di punggung tangannya.
"Darah?" gumam Ziva dengan suara bergetar. Hidungnya ternyata mengeluarkan darah akibat benturan keras tadi.
Mahendra yang melihat itu seketika merasa dadanya seperti dicubit. Ia tidak suka melihat rona merah itu di tubuh Ziva. Tanpa bertanya lebih lanjut, Mahendra segera meraih dagu Ziva, mengangkat wajah gadis itu agar menatapnya.
Mata Mahendra menajam.
Wajah Ziva yang pucat kini dihiasi darah yang mengalir deras, bahkan mengenai kerah seragam putihnya. Tanpa membuang waktu satu detik pun, Mahendra menyusupkan tangannya di bawah lutut dan punggung Ziva.
"Eh! Mau ngapain?!" pekik Ziva kaget saat tubuhnya tiba-tiba melayang dalam gendongan bridal style Mahendra.
"Diam," perintah Mahendra dingin namun tegas. Aura posesifnya kembali bangkit. Ia melangkah lebar menuju UKS dengan ekspresi wajah yang sangat kaku, seolah siapa pun yang berani menghalangi jalannya saat ini akan berakhir tragis.
Ziva hanya bisa terdiam dalam gendongan itu. Ia merasa kepalanya sedikit pusing, dan entah kenapa, aroma maskulin dari tubuh Mahendra membuatnya merasa... aman. Meskipun laki-laki ini dingin seperti es di kutub, namun dekapannya terasa sangat protektif, seolah-olah ia sedang membawa barang paling berharga di dunia yang tidak boleh lecet sedikit pun.