NovelToon NovelToon
Pendekar Mulut Sampah

Pendekar Mulut Sampah

Status: sedang berlangsung
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Li Zhen terbangun di ranjang jerami yang gatal, menggaruk kepalanya dengan wajah bingung. Dia menyadari dirinya terlempar ke Benua Awan Surgawi, masuk ke tubuh pemuda lemah dengan nama yang sama.

Alih-alih berlatih ilmu kanuragan seperti kultivator lain, Li Zhen hanya menguap lebar sambil menatap langit-langit yang bocor. Dia memilih menggunakan lidahnya yang setajam pisau untuk bertahan hidup di dunia persilatan yang kejam ini.

Dia tidak pernah sekalipun memukul lawan, namun musuhnya sering menangis tersedu-sedu sambil memeluk lutut. Ini adalah kisah berputar-putar tentang seorang pemuda yang mengacaukan dunia kultivasi hanya dengan ocehan tanpa henti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pagi yang Canggung

Cahaya pagi perlahan menyingsing di ufuk timur Benua Awan Surgawi, mengusir sisa-sisa kegelapan malam yang membekukan tulang. Matahari kembar kembali naik dengan sinarnya yang berwarna jingga menyilaukan, menembus kabut tipis yang masih menggantung manja di sekitar lereng gunung terpencil itu.

Di halaman gubuk reyot yang dipenuhi gulma liar, puluhan tokoh paling berkuasa di Sekte Teratai Angin masih berdiri mematung layaknya deretan arca batu. Embun pagi yang dingin menetes dari ujung rambut dan kerah jubah sutra mahal mereka, membuat pakaian kebesaran itu menjadi sedikit lepek.

Tidak ada satu pun dari para tetua ranah Inti Emas maupun Jiwa Baru Lahir itu yang berani bergerak untuk sekadar mengusap wajah mereka. Mereka telah berdiri dalam posisi menunduk hormat selama lebih dari enam jam penuh, menahan rasa pegal yang luar biasa di bagian punggung bawah.

Kepala Sekte yang berdiri di barisan paling depan tampak memiliki lingkaran hitam yang sangat pekat di bawah kedua matanya. Wajahnya yang biasanya memancarkan aura wibawa mutlak kini terlihat sedikit pucat karena harus menahan hawa dingin gunung tanpa menggunakan perisai energi spiritual.

Mereka semua masih meyakini dengan sepenuh hati bahwa gubuk reyot di depan mereka adalah tempat pengasingan seorang alkemis legendaris tingkat dewa. Anjing Petir Ekor Tiga yang tertidur lelap di depan sisa pintu gubuk dianggap sebagai bukti tak terbantahkan atas kehebatan sang senior misterius tersebut.

Hewan buas tingkat lima itu mendengkur dengan sangat keras, sesekali mengigau sambil mengunyah tulang ayam kosong di dalam mulutnya. Setiap kali anjing raksasa itu mengeluarkan suara geraman kecil, para tetua sekte akan serempak menahan napas mereka karena ketakutan.

Sementara di luar terjadi ketegangan yang sangat absurd, Li Zhen justru sedang meregangkan tubuhnya di atas ranjang kayu yang berderit nyaring. Dia menguap lebar-lebar tanpa menutup mulut, menggosok matanya yang masih dipenuhi kotoran tidur dengan punggung tangannya yang berminyak.

"Kasur kayu sialan ini benar-benar didesain khusus untuk menghancurkan struktur tulang belakang manusia secara perlahan," gerutu Li Zhen dengan suara serak khas orang bangun tidur. Dia memukul pinggangnya yang terasa kaku, wajahnya meringis menahan rasa nyeri yang menjalar dari punggung hingga ke lehernya.

Dia bangkit duduk dengan malas, menatap sekeliling gubuknya yang kini terlihat semakin berantakan setelah pesta barbekyu gilanya semalam. Sisa-sisa tulang ayam raksasa berserakan di atas daun pisang, dikelilingi oleh lalat-lalat spiritual bercahaya yang sedang berpesta pora di sana.

Li Zhen mendecakkan lidahnya penuh rasa jijik, mengibaskan tangannya untuk mengusir serangga-serangga terbang yang menurutnya sangat mengganggu pemandangan pagi itu. Dia meraih setengah potong dada ayam panggang yang sengaja dia sisakan semalam, lalu langsung menggigitnya tanpa mempedulikan kondisinya yang sudah dingin.

Rasa pedas lada fana dan gurihnya lemak spiritual masih tertinggal kuat di serat daging tersebut, membuat perutnya kembali terasa nyaman seketika. Sambil mengunyah sarapan berkalori tinggi itu, Li Zhen melangkah gontai menuju pintu gubuknya yang sudah tidak memiliki daun pintu yang utuh.

Dia menggeser kakinya melewati bongkahan kayu lapuk, lalu menjulurkan kepalanya ke luar untuk menghirup udara pagi yang dia harapkan bisa menyegarkan paru-parunya. Namun, langkah pemuda kurus itu terhenti secara mendadak saat matanya menangkap pemandangan yang sangat tidak wajar di halaman depannya.

Puluhan pria dan wanita tua berpakaian sutra mewah sedang berdiri rapi berbaris di antara ilalang berduri, menundukkan kepala mereka dalam-dalam ke arahnya. Pakaian mereka yang dihiasi sulaman benang emas dan perak tampak sangat kontras dengan pemandangan gubuk reyot yang nyaris runtuh ini.

Li Zhen berhenti mengunyah daging ayamnya, matanya membelalak lebar melihat Kepala Sekte dan jajaran tetua elit sekte sedang berkumpul di halamannya. Dia menelan makanannya dengan susah payah, merasa yakin bahwa dia belum sepenuhnya bangun dan masih terjebak di dalam mimpi buruk yang konyol.

"Apakah ini semacam ritual senam pagi sekte yang diwajibkan bagi para petinggi panti jompo ini?" gumam Li Zhen dengan nada yang sangat kebingungan. Dia melangkah keluar sepenuhnya dari ambang pintu, menatap kerumunan kultivator kuat itu dari ujung kepala hingga ke ujung kaki mereka.

Mendengar suara langkah kaki keluar dari gubuk, Kepala Sekte segera menegakkan punggungnya dengan gerakan yang sangat kaku akibat terlalu lama membungkuk. Mata keemasannya langsung memancarkan rasa hormat yang luar biasa saat menatap pemuda berpakaian compang-camping yang sedang memegang sisa dada ayam panggang tersebut.

Kepala Sekte sama sekali tidak merasa curiga melihat usia Li Zhen yang masih sangat muda dan aura tubuhnya yang tidak memiliki energi spiritual sedikit pun. Di dunia kultivasi, sudah menjadi rahasia umum bahwa para master tingkat tinggi sering kali menggunakan teknik rahasia untuk kembali ke wujud masa muda mereka.

"Junior ini memberikan salam hormat yang setinggi-tingginya kepada Senior Alkemis Agung!" seru Kepala Sekte dengan suara lantang yang menggetarkan udara pagi. Dia menyatukan kedua tangannya di depan dada, membungkuk sekali lagi dengan sangat dalam hingga punggungnya nyaris rata dengan tanah.

Melihat pemimpin mereka memberikan penghormatan, puluhan tetua di belakangnya langsung mengikuti gerakan tersebut secara serempak layaknya pasukan militer yang terlatih. "Kami memberikan salam hormat kepada Senior Alkemis Agung!" teriak para tetua itu bersahut-sahutan, suara mereka menggema memantul di dinding tebing gunung.

Li Zhen mematung di tempatnya berdiri, separuh dada ayam panggang di tangannya hampir saja terjatuh ke tanah saking terkejutnya dia. Alisnya berkerut rapat menyatu di tengah dahi, raut wajahnya menunjukkan perpaduan antara rasa tidak percaya, jijik, dan kebingungan tingkat dewa.

"Alkemis Agung? Apa hidung kalian semua sudah tersumbat debu gunung sampai tidak bisa membedakan mana pil dewa dan mana ayam panggang lada hitam?" balas Li Zhen dengan nada yang sangat datar namun merendahkan. Dia menggigit daging ayamnya lagi dengan kasar, menunjukkan betapa tidak pedulinya dia pada penghormatan besar tersebut.

Kepala Sekte mengangkat wajahnya perlahan, senyum maklum yang penuh dengan kesalahpahaman akut menghiasi bibirnya yang sedikit pucat karena kedinginan. "Senior tidak perlu merendah dan menyembunyikan identitas di depan kami, wangi pil surgawi yang Senior racik semalam telah memberkati seluruh sekte kami," ucap Kepala Sekte dengan nada penuh kekaguman.

Li Zhen menghela napas panjang yang terdengar sangat lelah, memutar bola matanya ke atas hingga hanya bagian putih matanya saja yang terlihat. Dia menyadari bahwa orang-orang tua di depannya ini telah dibutakan oleh ambisi dan delusi mereka sendiri yang sudah tidak tertolong lagi.

Tepat saat pemuda itu kehabisan kata-kata untuk membalas kegilaan mereka, layar biru neon dari Sistem Pembicara Sampah tiba-tiba muncul menyilaukan di depan wajahnya. Suara mekanis sistem berdenting nyaring di dalam kepalanya, menandakan bahwa target empuk dengan nilai poin jutaan berada tepat di depan matanya.

Kemampuan 'Mata Penilai Kelemahan' langsung bekerja secara otomatis tanpa perlu diperintah, menyoroti pria paruh baya berjubah emas yang berdiri paling depan. Sebuah teks merah darah yang melayang muncul di atas kepala sang Kepala Sekte yang sangat diagungkan oleh puluhan ribu murid tersebut.

[Target: Zhao Wuji (Kepala Sekte Teratai Angin). Kelemahan Mental: Selalu berusaha tampil gagah, berwibawa, dan ramping di depan murid-muridnya. Namun sebenarnya, dia memakai korset pembentuk perut berlapis baja di balik jubah emasnya karena dia tidak bisa menahan godaan untuk selalu memakan tiga piring kue manis buatan istrinya setiap tengah malam.]

Membaca rahasia memalukan tingkat tinggi itu, ujung bibir Li Zhen perlahan tertarik ke atas membentuk sebuah seringai iblis yang sangat menyeramkan. Niat jahat kembali memenuhi dadanya, melupakan rasa kantuknya seketika saat dia melihat peluang untuk menguras Poin Sampah dalam jumlah yang luar biasa masif.

Li Zhen melangkah maju menuruni undakan tanah gubuknya, berjalan dengan langkah santai namun memancarkan aura intimidasi mental yang membuat bulu kuduk berdiri. Dia berhenti tepat dua meter di depan Kepala Sekte Zhao Wuji, matanya menatap perut pria perkasa itu dengan pandangan yang sangat menusuk.

"Kau memanggilku Senior Alkemis Agung dan berharap aku memberikan pil dewa kepadamu?" tanya Li Zhen dengan nada yang sengaja dipanjangkan untuk memancing ketegangan. Dia menunjuk lurus ke arah perut Kepala Sekte menggunakan ujung tulang ayam yang sudah bersih dari daging.

Kepala Sekte Zhao Wuji mengangguk penuh semangat, matanya berbinar terang membayangkan kejayaan sektenya jika berhasil mendapatkan dukungan dari alkemis kelas dunia. "Benar, Senior, kami bersedia mengabdi dan memberikan apa pun yang Senior minta sebagai gantinya," jawabnya dengan penuh keyakinan.

Li Zhen mendecakkan lidahnya berulang kali, menggelengkan kepalanya dengan gerakan yang sangat dramatis seolah sedang mengasihani pengemis di pinggir jalan. "Sayang sekali, bahkan pil tingkat dewa sekalipun tidak akan bisa menghilangkan tumpukan lemak memalukan yang kau sembunyikan di balik jubah emasmu itu," serang Li Zhen tanpa aba-aba.

1
Bambang Slamet
m
T28J
mantap kakak 👍 like dan hadiah💪
Kalong Super
💪💪💪💪👍👍 mantul
Aisyah Suyuti
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!