Bagi Jayden Xeno Frederick, perempuan hanyalah makhluk rumit yang membuang waktu. Sebagai ketua VULTURES—geng motor paling disegani di Jakarta—ia punya segalanya: kuasa, ketampanan, dan pengaruh. Namun, sepulangnya dari program pertukaran pelajar di London, prinsip hidup Jayden runtuh dalam semalam. Ia bertemu dengan Elleanor Catleena Smith, murid baru pindahan Amerika yang barbar, gemar membuat rusuh, dan sama sekali tidak mempan dengan pesonanya.
Elleanor—sang Queen Racer tersembunyi—berpindah ke Indonesia bukan untuk mencari cinta, melainkan karena didepak dari sekolah lamanya akibat merusak fasilitas sekolah. Sifat liar dan tak terkendali milik Elle justru memicu rasa penasaran Jayden. Rasa penasaran yang lambat laun bermutasi menjadi sebuah obsesi gelap dan posesif. Jayden menginginkan Elle, mutlak untuk dirinya sendiri.
Namun, mengurung seekor burung hantu yang hobi berontak tidaklah mudah. Apalagi di belakang Elle, ada Alkana Putra Adhytama, ketua geng WOLFANGS.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alyssa Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Bayang-Bayang yang Mengintai
Malam semakin larut ketika Elleanor akhirnya melangkah keluar dari markas Wolfangs. Dengan gerakan tangkas, ia kembali mengenakan tudung jaket bomber-nya, membaur ke dalam kegelapan malam Jakarta Barat sebelum menyetop taksi online yang sudah dipesannya lewat aplikasi samaran di ponselnya. Pikirannya dipenuhi oleh cetak biru sirkuit Sentul dan kalkulasi rasio kompresi mesin yang baru saja ia diskusikan dengan Matthew dan Rafka.
Ia harus bergerak cepat. Waktu satu bulan bukan waktu yang lama untuk menjinakkan motor spek Amerika miliknya agar sesuai dengan karakter aspal Indonesia yang cenderung lebih panas dan bergelombang.
Namun, yang tidak Elleanor ketahui, sekecil apa pun celah yang ia buat untuk kabur, radar sang predator jalanan tidak pernah benar-benar kehilangan arah.
Di seberang jalan, sekitar lima puluh meter dari gerbang bengkel Wolfangs, sebuah mobil SUV hitam dengan kaca film pekat terparkir diam di bawah bayangan pohon peneduh yang mati. Di dalam kabin yang gelap, layar sebuah laptop militer menyala, menampilkan titik koordinat merah yang berkedip tepat di atas posisi taksi yang ditumpangi Elle.
Haikal menggeser jemarinya di atas trackpad, mengirimkan data visual real-time itu ke sebuah nomor pribadi.
"Bos, si nona baru aja keluar dari sarang serigala," ucap Haikal dingin melalui sambungan earphone bluetooth yang terpasang di telinganya. "Dia beneran pinter nukar posisi sama Soraya di rumah Smith. Tapi dia lupa kalau sinyal rooting di ponselnya punya enkripsi ID perangkat yang gak bisa dikloning."
Di ujung telepon, keheningan panjang sempat terjadi sebelum sebuah suara berat, rendah, dan parau menyahut.
"Biarkan dia pulang," perintah Jayden Xeno Frederick. Suaranya mengalun pelan namun sarat akan getaran obsesi yang begitu pekat. "Pastikan dia sampai di rumahnya tanpa lecet sedikit pun."
"Siap, Bos. Tapi... lo gak mau intervensi rencana balap mereka? Matthew baru aja nembus jalur belakang pendaftaran independen Inter-School. Mereka mendaftarkan satu nama baru: VÈRUNE."
Di dalam kamar penthouse-nya yang gelap, Jayden yang sedang berdiri menatap pemandangan kota langsung menarik sudut bibirnya, membentuk seulas seringai tipis yang luar biasa tampan namun mengerikan. Nama "VÈRUNE" bukan nama yang asing. Itu adalah nama konsep visual estetika mewah yang pernah ia lihat di dalam salah satu berkas coretan desain milik Elleanor yang tertinggal di mejanya beberapa waktu lalu.
Gadis barbarnya ternyata sedang mencoba menyusun sebuah skenario pemberontakan yang cantik.
"Gak perlu dihambat, Haikal," bisik Jayden, netra hitamnya berkilat tajam memantulkan kerlap-kerlip lampu kota dari balik dinding kaca. "Biarkan dia bermain dengan sayap kecilnya. Gua mau liat seberapa tinggi Queen Racer gua bisa terbang sebelum akhirnya gua patahkan sendiri di garis finis."
Keesokan harinya, hari Sabtu yang seharusnya menjadi hari libur tenang bagi anak-anak sekolah berubah menjadi latihan fisik neraka bagi faksi VULTURES. Di sebuah sirkuit gokart tertutup milik Frederick Group di kawasan Bogor, deru mesin Kawasaki H2 Carbon milik Jayden meraung-raung membelah tikungan tajam dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
Sreeeeeettt!
Ban motor belakang Jayden menciptakan gesekan ekstrem dengan aspal, meninggalkan jejak hitam pekat saat ia melakukan cornering dengan sudut kemiringan yang nyaris menyentuh tanah. Tubuh tinggi tegapnya bergerak begitu sinkron dengan bobot motor, menunjukkan level kontrol berkendara yang sudah berada di tingkat profesional.
Di tepi lintasan, Shaka berdiri sambil memegang stopwatch, ditemani Erlan yang sedang meneguk sebotol minuman isotonik.
"Gila, catatan waktu si Bos makin tajam aja. Dia motong lap time hampir satu setengah detik dari rekornya sendiri minggu lalu," ujar Erlan takjub, menggeleng-gelengkan kepalanya melihat cara berkendara Jayden yang terkesan kelewat agresif, seolah-olah sedang melampiaskan amarah yang terpendam.
Shaka menekan tombol stop begitu motor Jayden melewati garis garis imajiner. "Dia gak lagi latihan balap biasa, Lan. Dia lagi ngebangun insting buat membunuh pergerakan Alka bulan depan. Spektrum obsesi Jayden kalau udah menyangkut Elleanor itu bener-bener gak punya batas rem."
Jayden mengarahkan motornya ke arah pit stop, mematikan mesin, lalu membuka helm full-face-nya dengan satu gerakan tegas. Rambut hitamnya yang sedikit basah oleh keringat berantakan membingkai wajah tegasnya yang tampak begitu dingin tanpa ekspresi lelah.
"Shaka, siapkan jadwal latihan tertutup tiap malam Jumat di Sentul," perintah Jayden langsung begitu turun dari motor, menerima handuk kecil yang dilemparkan Erlan.
"Aman, Jay. Tapi lo udah denger soal pendaftar independen bernama VÈRUNE?" tanya Shaka menyelidik, ingin menguji sejauh mana ketertarikan ketuanya pada riak baru di kompetisi ini.
Jayden tidak langsung menjawab. Ia berjalan menuju meja tempat ponsel hitamnya tergeletak, menyalakan layarnya, dan menatap satu-satunya nomor yang sengaja ia pin di urutan teratas obrolan.
Sebuah pesan singkat ia ketikkan dengan jemari panjangnya.
Jayden: Gua tahu lo kabur semalam, Elle. Dan gua tahu siapa VÈRUNE. Siapkan fisik lo dengan baik, karena di sirkuit nanti, gua gak bakal main-main meskipun itu lo.
Di tempat lain, di dalam kamarnya yang super ketat, Elleanor yang sedang asyik mempelajari skema suspensi motor langsung tersentak saat ponselnya bergetar. Begitu membaca pesan dari sang ketua Vures, jantung Elle seolah berhenti berdetak selama satu detik.
Wajah cantiknya menegang sempurna, dan sifat barbarnya mendadak diselimuti oleh rasa meremang yang hebat. Jayden tahu. Psikopat bermuka tembok itu ternyata sudah tahu semuanya sejak awal, namun sengaja membiarkannya menari di atas benang rencana yang ia susun sendiri. Pertempuran bulan depan bukan lagi sekadar balapan biasa; itu adalah labirin jebakan yang sengaja dibuka lebar oleh sang predator untuk menyambut mangsanya dengan cara yang paling megah.