Brielle Ardelia Noor selalu hidup bak putri kerajaan—dikelilingi keluarga hangat, kakak-kakak jahil, dan Daddy yang selalu memanjakannya.
Sampai suatu malam… hidupnya berubah.
Demi menyelamatkan perusahaan keluarga, Brielle harus menerima perjodohan dengan putra keluarga rival.
Masalahnya?
Calon suaminya adalah cowok dingin, menyebalkan… dan seorang bocah cadel yang paling ingin ia hindari.
Namun, siapa sangka—di balik tutur katanya yang tak sempurna, tersembunyi cinta paling tulus yang belum pernah sebelumnya Brielle temui
•“Katanya dia cadel dan aneh…
Tapi kenapa cuma dia yang mampu bikin Princess Noor jatuh paling dalam?” ✨
•“Dijodohkan demi bisnis? Brielle siap memberontak.
Tapi semuanya berubah saat si bocah cadel itu mulai memanggilnya… ‘istri’.” 💍
" kenapa harus bocah kek lu sih, yang jadi Suami gw~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lanjut
Nevran menghentikan motornya di deretan kendaraan lain di depan sebuah bangunan berlantai tiga bercat abu-abu kusam. Dindingnya penuh dengan coretan graffiti, sebagian besar bergambar naga dan beberapa gambar yang memiliki simbol-simbol tertentu.
Brielle melepas helmnya dan menatap bangunan di depannya dengan tatapan bingung.
Kenapa membawanya ke sini?
Bahkan lelaki itu tidak bertanya kemana ia akan pergi tadi.
“Rumah siapa?” tanya Brielle pelan.
" Tulun" ucap nya singkat
Brielle tidak langsung menurut. Tatapannya masih menyapu ke sekeliling, mencoba mencari tahu di mana mereka berada. Hingga matanya berhenti pada sebuah bendera hitam besar yang berkibar di lantai dua. Di tengah bendera itu, tergambar naga yang menyembur api berwarna perak dengan tulisan tebal di bawahnya—Dravin Clutch.
Brielle sontak terdiam.
“Dravin Clutch?” gumamnya nyaris tak terdengar.
Ia menoleh pada Cadel, yang berdiri tak jauh, menatapnya dengan ekspresi datar.
Bukankah Zayden pernah bilang Dravin Clutch itu musuh bebuyutan Vornex? Dan Vornex... adalah geng motor Zayden.
Jantung Brielle berdegup lebih cepat. Ia tahu nama itu, tapi ia belum pernah melihat langsung markas atau anggotanya. Dan kini, entah kenapa, ia justru dibawa ke tempat ini.
“Kenapa lo bawa gue ke sini?” tanyanya hati-hati.
Lelaki itu hanya meliriknya sebentar.
“Turun, Brielle,” ujarnya datar, tanpa memberi penjelasan. “Ikut gue ke dalam.”
Di kejauhan, beberapa orang berbadan tegap berseragam jaket kulit hitam mulai memperhatikan mereka. Tatapan mereka menusuk, seakan sedang menilai siapa Brielle dan kenapa ia ada bersama Cadel.
“Gue gak mau,” jawab Brielle tenang, lalu turun dari motor Cadel. “Gue mau balik.”
Baru saja ia hendak melangkah, tangan Cadel menangkap pergelangannya—tarikan itu cukup kencang hingga dahinya membentur dada bidang lelaki itu.
Aroma tubuh Cadel yang maskulin bercampur bau rokok langsung memenuhi indera penciuman Brielle, membuatnya refleks menarik diri dua langkah ke belakang. Namun genggaman Cadel tidak mengendur sedikit pun.
“Lepas! Gue mau pul—”
“Siapa yang nyuruh lo pergi?” potong Cadel dingin.
Cadel melangkah santai dengan satu tangan dimasukkan ke saku celana, sementara satu lainnya tetap menggamgam tangan Brielle.
Setiap langkah yang diambilnya terasa menguarkan semua aura kegelapan dan mengintimidasi dari tubuhnya.
“Cadel, gue gak mau—”
“Lo gak punya pilihan,” ucapnya datar, lalu menarik Brielle tanpa memberi kesempatan untuk berdebat lagi.
Tatapan orang-orang di sekitar semakin mengikuti mereka saat Cadel mendorong pintu berat berwarna hitam dan menyeret Brielle masuk ke dalam bangunan.
Suara tawa dan obrolan ringan mulai terdengar dari para anggota Dravin Clutch saat keduanya melangkah masuk lebih dalam. Namun, semua itu seketika mereda ketika melihat kehadiran sang ketua.
Bukan, bukan itu yang membuat mereka mendadak diam. Tapi gadis yang dibawa ketua mereka.
Bahkan, Axel, Derryl, Nayel, dan Kyven yang sedang bermain uno di pojok ruangan dibuat tak percaya.
Beberapa anggota saling melirik, bisik-bisik mulai terdengar. Axel bahkan menjatuhkan kartunya, matanya membelalak. Derryl melongo seperti baru melihat kejadian langka. Nayel menyandarkan punggung ke sofa dengan tatapan geli, sementara Kyven nyaris tersedak minumannya.
“Anjir... ketua bawa cewek?” Axel berseru tak percaya.
“Bukan cuma bawa, bro,” timpal Derryl sambil melirik genggaman tangan Cadel yang masih erat di pergelangan Brielle. “Digandeng, cuy!”
Nayel menepuk jidatnya pelan. “Der, gue tunggu lo cukur kedua alis lo!”
Kyven malah terkekeh, dan menoyor kepala Nayel. “Lo juga harus siap lelang sneaker-sneaker mahal lo, anjing!”
Brielle langsung menatap mereka dengan datar yang terkesan risih, sementara Cadel? Sama sekali tak menanggapi, seolah ocehan mereka hanya suara angin. Tanpa mengendurkan genggaman, ia tetap melangkah melewati meja tempat mereka berkumpul.
“Woy! Langsung ngamar aja nih? Pelan-pelan dulu kek!” teriak Derryl di belakang, yang langsung dibalas lirikan tajam Cadel—cukup untuk membuat Derryl mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.
“Peace, Bos.”
Tanpa sepatah kata pun, Cadel menarik Brielle menuju tangga di sudut ruangan.
Mereka terus menaiki tangga sampai ke lantai tiga, di mana lorong sepi berakhir di sebuah pintu besar berwarna hitam—kamarnya.
Di markas itu — semua anggota inti memang memiliki kamar masing-masing, dan kamar Cadel satu-satunya yang berada di lantai tiga.
Cowok itu mengeluarkan sebuah kartu tipis dari saku jaketnya, menempelkannya ke panel smart door. Bunyi beep singkat terdengar, lalu pintu terbuka otomatis. Ia kembali menarik lengan Brielle, tapi gadis itu menahan langkahnya.
“Lo mau apa?” tatap Brielle waspada. “Ngapain lo bawa gue ke sini?”
Nevran menoleh menatapnya datar. “Masuk, ada yang harus lo kerjain.”
“Apa?”
“Masuk!”
“Nggak! Lo jangan macem-macem, ya! Atau gue teriak.”
Smirk tipis muncul di bibir Nevran , yang entah kenapa terlihat begitu menyebabkan di mata Brielle. " Teriak sepuas lho ,” ucap Nevran , santai.
Brielle mengernyit. “Apa maksud lo?”
Nevran melepaskan genggaman di pergelangan Brielle, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, lalu melangkah pelan mendekat. Ia membungkuk, wajahnya nyaris sejajar dengan telinga Brielle. “Gini ...” bisiknya rendah, “...mending berdua sama gue, atau rame-rame sama mereka?”
Deg.
Brielle membelalak. Ia tak tahu persis maksud Nevran, tapi otaknya langsung mengasosiasikan itu dengan hal-hal buruk.
“Sialan!” umpatnya, berusaha lari ke arah tangga. Tapi gerakannya terhenti ketika Nevran mencengkeram tangannya lagi dengan cepat dan paksa.
Satu dorongan cukup kuat membuat tubuh Brielle terdorong masuk ke dalam ruangan.
Brak!
Pintu tertutup rapat di belakang mereka, bunyi klik otomatis terdengar—terkunci.
Brielle berbalik, menatap Nevran dengan napas sedikit memburu. “Lo gila, ya?! Buka pintunya sekarang!”
Nevran tak menggubris. Ia berjalan santai menuju lemari, mengambil sesuatu dari dalamnya, lalu berbalik dan menuju sofa panjang di tengah ruangan. Sebuah kotak persegi putih ia letakkan di atas meja.
Tatapannya kembali mengarah pada Brielle. “Duduk,” titahnya datar.
Brielle menggeleng cepat.
“Nggak.”
“Duduk, Brielle!” perintahnya lagi dengan nada lebih tegas.
Brielle mendengus pelan, akhirnya melangkah duduk... namun memilih posisi sejauh mungkin dari Nevran , di ujung sofa.
Nevran mendecak pelan. Ia menepuk sisi sofa di sebelahnya. “Di sini.”
“Nggak!” tolak Brielle tegas.
“Sini, Brielle,” ulang Nevran , nadanya kali ini lebih berat.
“Nggak!”
Mata Nevran menyipit.
“Duduk di sini... atau gue beneran telanjangin lo.”
Brielle membelalak. “Lo gila?!”
“Pilihan ada di tangan lo,” jawab Cadel santai, tapi tatapannya jelas tidak main-main.
Membuang napasnya dengan kasar, Brielle bangkit. Ia melangkah mendekat, niatnya hanya untuk duduk di sebelah Cadel dan menyelesaikan omong kosong ini secepatnya.
Namun, baru saja ia akan menurunkan tubuh—Cadel menarik tangannya, membuat Brielle terjatuh tepat di atas pangkuannya.
“Shit!” umpat Brielle refleks, mencoba bangkit. Tapi lengan Cadel sudah melingkar kuat di pinggangnya, menahan setiap gerakan.
“Diam,” ucapnya pelan namun tegas, tatapannya menusuk tepat ke mata Brielle. Jarak mereka begitu dekat hingga Brielle merasa sulit bernapas.
“CADELLL... LEPASIN! Lo apaan sih?!” serunya, mencoba meronta.
Alih-alih melepaskan, Cadel justru memutar posisi tubuh Brielle hingga mereka kini berhadapan, wajah hanya terpisah beberapa senti. Dengan tangan satunya, ia mengambil kotak persegi putih yang tadi diletakkannya di meja, lalu menyerahkannya pada Brielle.
“Obatin luka gue,” titahnya.
Mata Brielle membelalak mendengar ucapan Cadel.
“Maksud lo?”
Cadel menunjuk luka di sudut bibirnya bekas pukulan Zayden dengan jari telunjuknya.
“Ini.”
“Gue gak mau!” tolak Brielle, kembali memberontak.
“Obatin aja sendiri, tangan lo masih berfungsi kan?”
“Gue mau cewek gue yang obatin,” jawab Cadel santai, masih menahan pinggang Brielle.
“Ya udah, sana minta cewek lo. Kenapa malah nahan gue?”
“Cewek gue, lo. Lo lupa,lo tunangan gw ”
Brielle membelalak " anjir itu perjodohan?!”
“Yaudah....Sejak gue cium lo,” jawabnya enteng.
“Brengsek!”
Cadel tersenyum tipis, mencondongkan wajahnya sedikit ke arah Brielle. “ first kiss lo ada di gw Brielle. Rugi kalau lo nggak jadi pacar gue,” bisiknya rendah tepat di telinga Brielle.
Gadis itu membeku, hawa panas merambat ke pipinya.
Sial!
Ia kembali mengingat momen itu.
Brielle memutar bola matanya, mencoba menutupi degup jantung yang makin kencang. “Lo pikir gue bakal bangga cuma gara-gara lo nyuri ciuman pertama gue? Nggak, Cadel. Gue malah nyesel.”
Alis Nevran terangkat. “Nyesel?”
“Banget.”
Nevran menarik sudut bibirnya ke atas, genggamannya di pinggang Brielle justru mengerat. “Kalau gitu... gue bakal bikin lo berhenti nyesel.”
“Lo—” Brielle belum sempat menyelesaikan protesnya, Nevran sudah mendorong kotak obat ke tangannya lagi.
“Obatin dulu, baru lo boleh keluar dari sini.”
“Gue bilang nggak mau—”
“Kalau lo nggak mau, berarti lo harus di sini sampai lo mau,” potong Nevran santai, namun nadanya tak memberi ruang untuk menolak.
Bersambung
bantu support juga yaa😇