Selama dua tahun, Elara Vasiliev bekerja sebagai ART di rumah keluarga Moretti. Diam, patuh, dan selalu menerima hinaan, ia dianggap hanya wanita miskin yang tak punya harga diri. Tidak seorang pun tahu bahwa Elara menyimpan rahasia besar tentang jati dirinya.
Saat Madam Seraphina Moretti menuduhnya mencuri kalung berlian dan mengusirnya di depan semua orang, deretan mobil mewah tiba di depan gerbang mansion keluarga itu. Seorang pria tua turun, membungkuk hormat, lalu berkata,
“Nona Elara, Tuan Octavian menjemput Anda. Seluruh Vasiliev Group menunggu pewaris sahnya.”
Keluarga Moretti seketika pucat. Wanita yang selama ini mereka hina ternyata cucu tunggal pemilik kerajaan bisnis terbesar di Eropa.
Kini Elara kembali… bukan sebagai pelayan, melainkan wanita berkuasa yang siap membuat semua orang yang meremehkannya menyesal. Namun di tengah balas dendamnya, Damian Moretti—pria dingin yang dulu tak pernah membelanya—mulai mengejar cinta yang telah ia sia-siakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ThiaSulaiman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seraphina Mulai Panik
Malam gala charity belum selesai, tetapi bagi Seraphina Moretti segalanya sudah terasa runtuh.
Lampu ballroom masih berkilau indah. Musik klasik masih dimainkan pelan oleh orkestra di sudut ruangan. Para tamu masih tertawa, berfoto, dan berpindah dari satu lingkaran sosial ke lingkaran lain.
Namun bagi Seraphina, semua suara itu terdengar seperti ejekan.
Setiap tawa terasa mengarah padanya.
Setiap bisikan terasa menyebut namanya.
Setiap mata yang menoleh terasa sedang mengingat satu hal:
Ia pernah memperlakukan Anastasia Elara Vasiliev seperti bawahan tak berharga.
Tangannya menggenggam gelas sampanye terlalu erat.
Selene yang berdiri di samping berbisik,
“Ibu, santai sedikit. Wajah Ibu seperti mau pingsan.”
“Diam.”
“Aku cuma bilang.”
“Kalau kau tidak bisa membantu, setidaknya jangan bicara.”
Selene memutar mata.
“Kita semua di kapal yang sama sekarang.”
Seraphina menoleh tajam.
“Tidak. Aku masih bisa memperbaiki ini.”
Selene tertawa pendek.
“Dengan apa? Senyum palsu?”
Di sisi lain ruangan, Elara sedang berbicara dengan dua investor asing. Sikapnya tenang, bahasanya fasih, dan ekspresinya tak pernah berlebihan.
Seraphina melihat semua itu dengan dada makin sesak.
Bagaimana mungkin perempuan yang dulu mencuci piring di dapurnya kini menjadi pusat ruangan?
Ia mencoba mengingat setiap momen bersama Elara.
Nada perintah.
Tatapan meremehkan.
Bentakan kecil.
Tamparan itu.
Tamparan yang kini terasa seperti suara kehancuran nasibnya sendiri.
Ia memejamkan mata sebentar.
Tidak.
Ia tidak boleh kalah oleh rasa malu.
Ia Seraphina Moretti.
Ia bertahan puluhan tahun di dunia sosialita dan bisnis dengan satu prinsip: jangan pernah terlihat lemah.
Di dekat panggung, dua wanita sosialita sedang mengobrol sambil pura-pura tidak menatapnya.
“Kasihan juga ya.”
“Siapa?”
“Seraphina.”
“Oh… yang mempekerjakan pewaris konglomerat jadi ART itu?”
Keduanya tertawa kecil.
Seraphina mendengar jelas.
Urat di rahangnya menegang.
Ia berjalan mendekat dengan senyum sempurna.
“Lucu sekali. Boleh saya ikut tertawa?”
Kedua wanita itu langsung kikuk.
“Sera… kami hanya bercanda.”
“Tentu.”
Ia mengambil satu canapé dari nampan pelayan.
“Lain kali bercandalah lebih cerdas.”
Ia pergi tanpa menunggu jawaban.
Dulu satu kalimat seperti itu cukup membuat lawan mundur.
Malam ini?
Tak satu pun rasa puas muncul.
Karena ia tahu mereka tetap akan menertawakannya setelah ia pergi.
Sementara itu, Damian akhirnya berdiri di depan Elara.
“Bisa bicara sebentar?”
Elara menatapnya datar.
“Kalau tentang proyek, hubungi sekretaris saya.”
“Bukan tentang proyek.”
“Kalau tentang masa lalu, sudah lewat.”
“Kalau tentang aku?”
Elara mengangkat alis.
“Kau baru tertarik pada topik itu sekarang?”
Damian menahan napas.
“Aku salah.”
Kalimat itu keluar kaku, seolah belum pernah dipakai lidahnya.
Elara tak terlihat terkejut.
“Aku tahu.”
“Dan aku menyesal.”
“Bagus.”
“Itu saja?”
Ia tersenyum tipis.
“Penyesalan bukan hadiah untuk orang yang disakiti, Damian. Itu hukuman untuk yang terlambat sadar.”
Damian terdiam.
Di kejauhan, Seraphina melihat mereka bicara berdua.
Jantungnya berdetak cepat.
Bukan karena cemburu.
Karena takut.
Kalau Damian berpihak pada Elara, posisi keluarganya akan makin rapuh.
Seraphina berjalan cepat menghampiri mereka.
Selene menghela napas.
“Ibu mulai panik…”
Saat Seraphina tiba, ia langsung memasang senyum manis.
“Elara… maksud saya, Miss Vasiliev.”
Elara menoleh perlahan.
Tatapan tenang itu membuat Seraphina semakin gelisah.
“Saya ingin bicara pribadi.”
“Di sini saja cukup.”
Seraphina menahan malu.
“Tentang… kesalahpahaman dulu.”
“Kesalahpahaman?”
Elara memiringkan kepala.
“Saya dituduh mencuri, ditampar, lalu diusir malam hari.”
Ia tersenyum kecil.
“Bagian mana yang salah paham?”
Beberapa tamu di sekitar mulai memperhatikan.
Seraphina merasa tengkuknya panas.
“Saya akui saya terlalu emosional.”
“Benar.”
“Tapi saya tidak tahu siapa Anda.”
Elara menatapnya beberapa detik.
Lalu berkata pelan, namun cukup jelas untuk didengar sekitar mereka.
“Itulah inti masalahnya, Madam.”
Ruangan di sekitar seolah merapat.
“Anda hanya baik pada orang yang Anda anggap penting.”
Seraphina membeku.
Tak ada teriakan.
Tak ada penghinaan kasar.
Namun kalimat itu lebih telak daripada tamparan.
Selene yang menyaksikan dari jauh berbisik sendiri,
“Wow…”
Damian menunduk tipis.
Ia tak bisa membela ibunya.
Karena itu benar.
Seraphina berusaha bangkit dari rasa malu.
“Kita semua pernah salah.”
“Ya.”
“Dan orang besar tahu cara memaafkan.”
Elara tersenyum lebih tipis.
“Orang besar juga tahu cara bertanggung jawab.”
Seraphina kehilangan kata-kata.
Untuk pertama kali dalam hidup sosialnya, ia tak punya kalimat penolong.
Ia mundur satu langkah.
“Kau berubah.”
Elara menjawab tenang,
“Tidak.”
Tatapannya tajam dan dingin.
“Saya hanya berhenti menunduk.”
Seraphina merasakan telapak tangannya dingin.
Ia benar-benar mulai panik.
Di sisi ballroom lain, Cassian menikmati pemandangan itu sambil memutar gelas anggur.
Viktor berdiri tak jauh, memperhatikan.
“Senang melihat kekacauan orang lain?” tanya Viktor dingin.
Cassian tersenyum.
“Aku senang melihat topeng jatuh.”
“Termasuk topengmu?”
Cassian tertawa kecil.
“Yang berbahaya bukan topengku.”
Ia menatap Elara.
“Yang berbahaya adalah ketika dia mulai menikmati permainan ini.”
Sementara itu, ponsel Seraphina bergetar berkali-kali.
Ia membuka layar.
Tiga pesan masuk dari kolega bisnis.
Apakah hubungan Moretti dengan Vasiliev masih baik?
Perlu bicara soal proyek gabungan.
Kami menunda pertemuan besok sampai situasi jelas.
Wajah Seraphina memucat.
Ini lebih buruk dari gosip.
Bisnis mulai goyah.
Ia menoleh cepat ke Damian.
“Kita harus bicara sekarang.”
“Nanti.”
“Sekarang!”
Damian memandang ibunya dingin.
“Ketika Elara dipermalukan dulu, aku diam.”
Ia berhenti sejenak.
“Malam ini, aku tidak akan menolong siapa pun hanya karena panik.”
Seraphina mundur setengah langkah.
Putranya sendiri berubah.
Tak lama kemudian, MC mengumumkan sesi networking privat antara Vasiliev Group dan calon mitra terpilih.
Nama-nama perusahaan dipanggil satu per satu.
Moretti Holdings tidak disebut.
Seraphina menegang.
“Itu mustahil.”
Damian tak bereaksi.
Selene justru berbisik,
“Kita disingkirkan.”
Seraphina langsung menuju panitia.
“Pasti ada kesalahan.”
Petugas memeriksa daftar.
“Maaf, Madam. Daftar final dari pihak sponsor.”
“Panggil manajer Anda.”
“Tidak bisa diubah.”
“Apakah Anda tahu saya siapa?”
Petugas itu tersenyum profesional.
“Ya, Madam.”
Jawaban sederhana itu menghancurkannya lebih dari penolakan.
Karena semua orang tahu siapa dia.
Dan malam ini itu tak lagi berguna.
Seraphina kembali ke meja dengan langkah goyah.
Selene menatap ibunya lama.
“Aku belum pernah lihat Ibu seperti ini.”
“Diam.”
“Ibu takut kehilangan status.”
“Diam!”
Beberapa tamu menoleh.
Selene tertawa pahit.
“Akhirnya jujur juga.”
Di depan cermin toilet VIP, Seraphina mengunci diri beberapa menit.
Ia menatap wajahnya sendiri.
Makeup sempurna.
Perhiasan mahal.
Gaun elegan.
Namun matanya dipenuhi sesuatu yang jarang ia rasakan:
ketakutan.
Ia berbisik pada pantulan dirinya,
“Aku tidak akan kalah.”
Tetapi bahkan suaranya sendiri terdengar tak yakin.
Saat ia kembali ke ballroom, satu pemandangan membuat napasnya tercekat.
Damian sedang berdiri di samping Elara.
Mereka tidak bicara banyak.
Hanya berdiri.
Namun jarak di antara mereka jauh lebih dekat daripada sebelumnya.
Seraphina merasa sesuatu yang lebih buruk dari malu sedang datang.
Jika Damian benar-benar berpihak pada Elara…
keluarga Moretti bisa pecah dari dalam.
Ia menghampiri Selene cepat.
“Kita pulang sekarang.”
Selene menatap ke arah Damian lalu tersenyum kecil.
“Sudah terlambat.”
“Maksudmu?”
Selene menoleh pada ibunya.
“Bukan Elara yang paling berbahaya malam ini.”
“Lalu siapa?”
Selene menjawab pelan.
“Kak Damian yang akhirnya sadar.”
Seraphina menoleh cepat ke putranya.
Jantungnya berdetak keras.
Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, ia tak tahu bagaimana mengendalikan keluarganya sendiri.
Dan itulah alasan sebenarnya…
Seraphina mulai panik.
tu nnek lmpir blm kapok jg rupanya,stlh dlu ftnah elara skrng pun mlkukn hal yg sma....tp syangnya dia bkln apes kali ni....tnggu aja blasannya....
biarlh wktu yg mmbuktikn sglanya,kl dia bnr2 mmpu jd pmimpin.....smngtttt....
jd pnsran....sbnrnya elara ada prsaan ga y sm damian????mskpn dia psti kcewa sih sm skpnya dlu yg sllu diam,tp htinya spa yg tau.....
kl udh tau spa dia sbnrnya,bru mrsa brslah dn mnyesal....dlu kmna aja wooyyyyy.... 🙄🙄🙄