NovelToon NovelToon
MUSUH BEBUYUTAN PALING SAYANG

MUSUH BEBUYUTAN PALING SAYANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Enemy to Lovers / Teen / Komedi
Popularitas:922
Nilai: 5
Nama Author: Skyler Austin

Arkan sama Salsa itu kayak kucing sama anjing di SMA Garuda. Tiap kali ketemu di koridor, pasti ada aja yang diributin, mulai dari nilai ulangan sampe jatah parkir. Salsa yang ambis banget pengen dapet rangking satu ngerasa keganggu sama Arkan yang keliatannya santai tapi pinter banget. Kenapa sih nih cowok kudu ada di sekolah ini? batin Salsa kesel tiap liat muka tengil Arkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyler Austin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EKSPERIMEN GETARAN HATI

  Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah jendela kamar Salsa Kirana terasa jauh lebih cerah dari biasanya. Padahal, ramalan cuaca di ponselnya mengatakan hari ini akan berawan. Salsa berdiri di depan cermin, merapikan kerah seragam putihnya yang sudah sangat rapi. Biasanya, fokus utamanya adalah memastikan tidak ada satu helai rambut pun yang keluar dari tatanan kuncir kudanya yang sempurna. Namun pagi ini, matanya justru tertuju pada pantulan bibirnya yang tanpa sadar melengkung membentuk senyuman tipis saat mengingat pesan singkat Arkan semalam.

  "Istirahat sana, Sa. Besok gue mau liat muka seger lo di sekolah, bukan muka zombie rumusnya."

  Salsa segera menepuk kedua pipinya dengan pelan. "Sadar, Salsa! Dia itu rival lo. Dia itu orang yang ngerebut peringkat satu lo dengan cara yang... oke, dia emang pinter, tapi tetep aja dia itu nyebelin!" gumamnya berusaha mengembalikan kewarasan. Dia mengambil tas sekolahnya, memastikan draf laporan yang sudah diperbaiki Arkan tersimpan aman di map plastik, lalu melangkah keluar kamar dengan semangat yang sulit dia bendung.

  Sesampainya di SMA Garuda, hal pertama yang dilakukan Salsa bukan menuju loker atau ke kelas untuk belajar materi jam pertama. Matanya justru secara otomatis memindai area parkir motor. Begitu melihat motor sport hitam milik Arkan sudah terparkir di sana, ada perasaan lega yang aneh menyelinap di hatinya. Dia merasa seperti seorang peneliti yang baru saja menemukan variabel yang hilang dalam persamaannya.

  "Cari siapa, Sa? Tumben jam segini masih di parkiran. Biasanya udah dudu manis sambil baca buku biologi," suara berat yang sangat familiar itu terdengar dari arah belakang.

  Salsa tersentak, hampir saja menjatuhkan botol minumnya. Dia berbalik dan mendapati Arkan sedang berjalan santai ke arahnya, menyampirkan tas di satu bahu dengan gaya yang sangat serampangan. Rambutnya masih sedikit basah, mungkin karena baru selesai cuci muka atau memang sengaja tidak dikeringkan setelah mandi.

  "Siapa juga yang nyariin orang? Gue cuma... cuma mastiin kalau motor gue nggak dipake parkir sembarangan sama lo lagi," kilah Salsa cepat, mencari alasan paling logis yang pernah menjadi bahan keributan mereka.

  Arkan tertawa pendek, jenis tawa yang membuat matanya menyipit dan terlihat sangat menyebalkan sekaligus menawan di saat yang sama. "Alasan klasik. Bilang aja kangen liat muka ganteng gue. Kan semalam udah gue bilang, jangan terlalu dipikirin, nanti malah kebawa mimpi."

  "Dih, percaya diri lo setinggi langit ya? Mending lo simpen tuh rasa pede buat presentasi proyek kita nanti. Udah bawa semua komponen yang kita beli kemarin?" tanya Salsa, mencoba mengalihkan pembicaraan sebelum pipinya semakin merah.

  Arkan menepuk tas punggungnya. "Lengkap. Semuanya aman. Oh iya, gimana tidur lo? Nyenyak? Nggak ada zombie rumus yang dateng kan?"

  Salsa memutar bola matanya, namun dia tidak bisa menahan senyum kecil. "Nyenyak banget. Makanya hari ini gue bakal kerja dua kali lipat lebih cepet dari lo. Jangan sampe lo malah jadi beban kelompok ya, Arkananta."

  "Kita liat aja nanti di lab, Salsa Kirana," balas Arkan sambil mengedipkan satu matanya sebelum mendahului Salsa berjalan menuju koridor kelas.

  Pelajaran jam pertama dan kedua terasa lewat begitu saja bagi Salsa. Pikirannya sudah berada di laboratorium fisika yang terletak di lantai dua gedung belakang. Dia sudah menyusun rencana kerja di otaknya: pertama, merakit sensor piezoelektrik pada papan kayu tipis; kedua, menyambungkan kabel-kabel ke multimeter untuk mengecek voltase; dan ketiga, menyusun laporan sementara. Dia ingin semuanya sempurna.

  Begitu bel istirahat kedua berbunyi, yang menandakan waktu bebas untuk mengerjakan proyek mandiri, Salsa langsung berlari menuju laboratorium. Dia menemukan Arkan sudah ada di sana, sedang menata peralatan di atas meja panjang yang terbuat dari kayu jati tua. Suasana laboratorium yang sunyi, dengan bau khas bahan kimia dan debu buku tua, entah kenapa terasa sangat nyaman bagi mereka berdua.

  "Tepat waktu," komentar Arkan tanpa menoleh. Dia sedang sibuk mengupas ujung kabel jumper dengan menggunakan tang potong.

  Salsa meletakkan tasnya dan memakai jas lab putihnya. "Gue nggak pernah telat kalau urusan nilai. Mana papan kayu yang gue minta?"

  Arkan menunjuk sebuah papan kayu berukuran empat puluh kali empat puluh sentimeter. "Gue udah bagi jadi beberapa sektor. Kita bakal pasang sepuluh sensor di situ. Lo yang bagian nyolder atau gue?"

  Salsa ragu sejenak. Dia sangat ahli dalam teori, tapi urusan menggunakan alat solder yang panas dan mengeluarkan asap itu, dia agak sedikit gugup. "Gue... gue bisa kok. Gue pernah liat tutorialnya di YouTube."

  Arkan menatap Salsa dengan pandangan ragu, lalu tersenyum tipis. "Sini. Jangan sok jago kalau tangan lo gemeteran gitu. Biar gue yang nyolder bagian yang rumit, lo bagian nempel sensornya ke papan pake lem tembak. Lebih aman buat tangan mungil lo."

  Salsa ingin memprotes kata "tangan mungil", tapi dia memutuskan untuk mengalah kali ini. Dia mengambil alat lem tembak dan mulai menata sepuluh lempeng piezoelektrik di atas papan. Mereka bekerja dalam keheningan yang produktif selama beberapa saat. Hanya terdengar suara gesekan kabel, tetesan lem, dan napas mereka yang teratur.

  "Arkan," panggil Salsa pelan sambil menekan salah satu sensor agar menempel sempurna.

  "Kenapa?"

  "Kenapa lo pinter banget di bidang ginian? Maksud gue, di kelas lo keliatannya cuma main-main, tidur, atau gangguin orang. Tapi pas ngerjain ini, lo kayak... beda orang."

  Arkan menghentikan aktivitas soldernya sebentar. Dia meletakkan alat panas itu di dudukannya, lalu menatap Salsa. "Gue nggak suka cara belajar yang kaku, Sa. Duduk di kelas, dengerin guru ceramah, terus ngafalin teks. Buat gue, itu membosankan. Gue lebih suka bongkar pasang sesuatu. Gue belajar dari ngeliat gimana sesuatu itu bekerja, bukan cuma baca teorinya. Mungkin itu sebabnya nilai ulangan harian gue kadang naik turun, tapi kalau udah praktek, gue nggak bakal mau kalah."

  Salsa mengangguk paham. "Tapi lo tetep dapet peringkat satu semester kemarin. Itu artinya lo tetep belajar kan?"

  "Sedikit. Pas malem sebelum ujian aja. Itu pun karena nyokap gue bakal nyita stik PS gue kalau nilai gue di bawah delapan puluh," jawab Arkan santai, membuat Salsa mendengus kesal sekaligus kagum. Dia harus belajar mati-matian setiap malam hanya untuk mengejar nilai yang didapat Arkan dengan cara "belajar sedikit".

  "Nah, sekarang bagian tesnya," ujar Arkan setelah menyelesaikan sambungan terakhir. "Coba lo tekan papannya pake tangan dulu. Liat di multimeternya, ada lonjakan angka nggak?"

  Salsa mendekatkan wajahnya ke layar multimeter digital. Dia menekan salah satu sensor dengan ibu jarinya. "Dua volt! Arkan, ini berhasil!" seru Salsa antusias.

  Arkan ikut mendekat. Jarak mereka kini hanya terpaut beberapa sentimeter. Salsa bisa mencium aroma sabun cuci muka Arkan yang segar. "Coba tekan lebih keras, atau pake dua tangan sekaligus. Kita butuh liat batas maksimalnya."

  Salsa menekan papan itu dengan kedua tangannya, memberikan seluruh beban tubuhnya ke arah meja. Namun, karena meja laboratorium yang licin dan tangannya yang sedikit berkeringat, pegangannya tergelincir. Tubuh Salsa limbung ke depan.

  "Awas!" Arkan dengan sigap menangkap bahu Salsa, menahan tubuh cewek itu agar tidak jatuh menghantam meja yang penuh dengan alat tajam dan solder panas.

  Salsa memejamkan mata, jantungnya berdegup kencang bukan karena takut jatuh, tapi karena dia merasakan tangan kokoh Arkan yang mendekap bahunya. Saat dia membuka mata, dia mendapati wajah Arkan berada tepat di depan wajahnya. Mata cokelat gelap milik cowok itu menatapnya dengan ekspensi yang sulit diartikan-ada kekhawatiran, tapi juga ada sesuatu yang lebih dalam dari itu.

  Selama beberapa detik, waktu seolah berhenti berputar di laboratorium fisika itu. Suara kipas angin di sudut ruangan dan detak jam dinding seakan menghilang, digantikan oleh suara degup jantung mereka yang saling bersahutan. Salsa bisa merasakan hembusan napas Arkan di keningnya.

  "Lo... lo nggak apa-apa?" tanya Arkan dengan suara yang sedikit lebih rendah dari biasanya.

  Salsa menelan ludah, mencoba mencari suaranya yang mendadak hilang di tenggorokan. "Nggak apa-apa. Makasih, Arkan."

  Arkan perlahan melepaskan pegangannya, tapi dia tidak langsung menjauh. Dia berdeham pelan, mencoba mencairkan suasana yang mendadak terasa sangat canggung namun juga manis. "Makanya, jangan terlalu semangat. Nanti kalau lo luka, siapa yang mau ngerjain laporannya? Gue kan males ngetik panjang lebar."

  Salsa mendengus, mencoba kembali ke mode biasanya untuk menutupi rasa gugupnya. "Oh, jadi lo cuma khawatir sama laporannya? Dasar cowok nggak berperasaan!"

  "Bercanda, Sa. Gue khawatir sama... semuanya," ujar Arkan pelan, namun cukup jelas untuk membuat jantung Salsa kembali melakukan salto.

  Mereka kembali melanjutkan pekerjaan, namun kali ini dengan suasana yang berbeda. Ada getaran halus yang tidak berasal dari sensor piezoelektrik, melainkan dari interaksi-interaksi kecil di antara mereka. Saat Arkan meminta bantuan untuk memegang kabel, tangan mereka tidak sengaja bersentuhan, dan kali ini Salsa tidak langsung menarik tangannya dengan kasar. Dia membiarkan kontak fisik singkat itu memberikan rasa hangat yang menenangkan.

  "Sa, coba deh bayangin kalau alat ini beneran dipasang di seluruh lorong sekolah," kata Arkan sambil mulai merapikan sisa-sisa kabel. "Tiap kali murid-murid lari-larian pas jam istirahat, mereka sebenernya lagi nge-charge lampu sekolah. Keren kan?"

  Salsa mengangguk, matanya berbinar membayangkan ide itu. "Iya. Kita bisa sebut ini 'Langkah Energi'. Setiap langkah kaki yang biasanya dianggap nggak berguna, ternyata punya potensi besar buat jadi sesuatu yang bermanfaat. Mirip kayak manusia ya? Kadang hal-hal kecil yang kita lakuin, ternyata punya dampak besar buat orang lain."

  Arkan menatap Salsa dengan senyum tulus, bukan senyum miring yang biasanya dia pamerkan. "Tuh kan, lo kalau lagi nggak marah-marah ternyata bijak juga. Kenapa sih di kelas harus pasang muka galak terus?"

  "Habisnya lo nyebelin! Suka banget mancing emosi gue. Lo tahu kan betapa kerasnya gue usaha buat dapet peringkat satu itu? Terus lo dateng dengan gaya santai lo itu dan langsung ngerebut posisi gue. Siapa yang nggak kesel coba?" curhat Salsa akhirnya.

  Arkan menghela napas panjang. Dia menyandarkan punggungnya di tepian meja laboratorium. "Gue nggak bermaksud ngerebut apa pun dari lo, Sa. Gue cuma jadi diri gue sendiri. Dan jujur, gue sebenernya lebih suka liat lo yang sekarang. Lo yang semangat bahas proyek, lo yang matanya berbinar pas liat angka di multimeter, bukan Salsa yang cuma peduli sama angka di kertas ulangan."

  Salsa terdiam. Dia merasa seperti ada sesuatu yang pecah di dalam dirinya-sebuah tembok pertahanan yang selama ini dia bangun dengan sangat kokoh. Dia menyadari bahwa selama ini dia terlalu fokus pada hasil akhir, sampai lupa menikmati prosesnya. Dan Arkan, cowok yang dia anggap sebagai musuh bebuyutan, justru menjadi orang pertama yang menyadarkannya akan hal itu.

  "Makasih ya, Arkan. Buat semuanya. Ternyata satu kelompok sama lo nggak seburuk yang gue bayangin," bisik Salsa tulus.

  "Sama-sama, Partner. Tapi jangan kira gue bakal ngasih peringkat satu gue gitu aja ya di semester depan. Persaingan tetep jalan," tantang Arkan dengan nada bercanda.

  "Siapa takut? Gue pasti bakal ambil balik posisi gue!" balas Salsa penuh percaya diri.

  Saat mereka sedang asyik berbincang, pintu laboratorium terbuka. Bu Ratna, guru fisika mereka, masuk untuk mengecek perkembangan proyek siswa. Beliau tersenyum melihat Salsa dan Arkan yang terlihat sangat kompak bekerja sama.

  "Gimana, Arkan, Salsa? Sudah ada progres?" tanya Bu Ratna ramah.

  "Sudah, Bu. Prototipe awalnya sudah jadi dan berhasil menghasilkan tegangan. Kami tinggal menyempurnakan bagian penyimpanan energinya di kapasitor," lapor Salsa dengan bangga.

  "Bagus sekali. Ibu senang melihat kalian berdua bisa bekerja sama dengan baik. Ibu tahu kalian adalah dua siswa terbaik di angkatan ini, dan kalau kalian bergabung, hasilnya pasti luar biasa," puji Bu Ratna. "Lanjutkan ya, Ibu tunggu laporan lengkapnya minggu depan."

  Setelah Bu Ratna pergi, Arkan menoleh ke arah Salsa. "Denger tuh? Kita itu tim impian. 'The Dream Team' SMA Garuda."

  Salsa tertawa kecil. "The Dream Team yang kerjanya berantem terus?"

  "Berantem itu bumbu, Sa. Biar nggak hambar," sahut Arkan sambil mengemasi barang-barangnya ke dalam tas.

  Hari sudah mulai sore saat mereka selesai membersihkan laboratorium. Cahaya jingga matahari terbenam mulai masuk melalui jendela-jendela besar, memberikan kesan dramatis pada ruangan itu. Salsa merasa hari ini adalah salah satu hari terbaiknya di sekolah, bukan karena dia mendapat nilai bagus, tapi karena dia mendapatkan sesuatu yang lebih berharga: sebuah hubungan baru yang sulit dia definisikan.

  Saat berjalan menuju parkiran, suasana sekolah sudah mulai sepi. Hanya ada beberapa anak ekskul basket yang masih berlatih di lapangan.

  "Lo pulang bareng siapa?" tanya Arkan saat mereka sampai di depan motornya.

  "Dijemput supir kayaknya, tapi dia belum bales chat gue," jawab Salsa sambil mengecek ponselnya.

  "Nggak usah nunggu supir. Bareng gue aja lagi. Gue mau mampir ke toko buku deket rumah lo juga sekalian cari referensi buat bab empat laporan kita," tawar Arkan.

  Salsa sempat ragu, namun dia teringat kenyamanan punggung Arkan kemarin malam. "Yaudah, tapi jangan ngebut-ngebut ya! Gue masih mau hidup buat liat pengumuman peringkat semester depan."

  "Siap, Tuan Putri Peringkat Dua," goda Arkan sambil menyodorkan helm kepada Salsa.

  Salsa memakai helmnya dan naik ke atas motor Arkan. Kali ini, tanpa diminta, dia meletakkan tangannya di pinggang Arkan, memegang jaket cowok itu dengan lembut. Arkan sempat tertegun sejenak saat merasakan sentuhan tangan Salsa, namun kemudian dia tersenyum di balik kaca helmnya.

  Motor sport hitam itu membelah jalanan kota yang mulai padat di sore hari. Di tengah kebisingan jalanan, Salsa merasa ada kedamaian tersendiri. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Arkan, memperhatikan gedung-gedung yang mereka lewati. Dia menyadari bahwa rasa benci yang selama ini dia rasakan terhadap Arkan sebenarnya hanyalah bentuk lain dari rasa kagum yang dia sangkal.

  Ternyata, rumus kimia dan fisika memang rumit, tapi perasaan manusia jauh lebih rumit dan tidak terduga. Dan bagi Salsa, Arkananta Putra bukan lagi sekadar musuh yang harus dikalahkan, melainkan seseorang yang ingin dia kenal lebih jauh. Seseorang yang berhasil mengubah tekanan menjadi energi, persis seperti prinsip piezoelektrik yang mereka kerjakan bersama.

  "Arkan," panggil Salsa sedikit berteriak agar terdengar di balik helm.

  "Ya?"

  "Gue seneng bisa sekelompok sama lo!"

  Arkan tidak menjawab dengan kata-kata, namun dia meraih salah satu tangan Salsa yang ada di pinggangnya, menggenggamnya erat sejenak sebelum kembali fokus pada setang motor. Tindakan sederhana itu sudah lebih dari cukup bagi Salsa untuk mengetahui bahwa Arkan pun merasakan hal yang sama.

  Malam itu, di dalam kamarnya, Salsa tidak langsung membuka buku pelajaran. Dia duduk di meja belajarnya, menatap papan piezoelektrik yang mereka buat tadi. Di sudut papan itu, ada tulisan kecil yang dibuat Arkan dengan spidol permanen: "Property of The Dream Team: Arkan & Salsa".

  Salsa tersenyum manis. Dia tahu, mulai hari ini, segalanya tidak akan pernah sama lagi. Musuh bebuyutannya kini telah menjadi bagian paling manis dalam hari-harinya, dan dia tidak sabar untuk melihat eksperimen apa lagi yang akan mereka lakukan besok, baik di laboratorium maupun dalam hubungan mereka yang baru saja dimulai ini. Persaingan peringkat satu mungkin masih akan berlanjut, tapi setidaknya sekarang, Salsa tahu siapa yang akan selalu ada untuk memberinya cokelat di tengah hujan dan menangkapnya saat dia hampir terjatuh. Dan baginya, itu jauh lebih berharga daripada angka seratus di atas kertas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!