Laura, seorang gadis kota yang mandiri, menemukan belahan jiwanya pada Arka ketika mereka bekerja di tempat yang sama. Cinta mereka yang kuat membawa keduanya ke jenjang pernikahan. Namun, kebahagiaan itu mulai terkikis saat Laura setuju untuk ikut Arka pindah dan tinggal di kampung halamannya.Sejak hari pertama, kehidupan Laura berubah menjadi penuh air mata. Ibu mertuanya, Rohaya, tidak pernah menyukainya. Rohaya selalu mencari-cari kesalahan Laura, mulai dari cara memasak, mengurus rumah, hingga hal-hal kecil lainnya. Laura tidak pernah tahu alasan di balik kebencian mendalam ibu mertuanya tersebut. Di sisi lain, Arka adalah suami yang setia. Arka selalu pasang badan dan mati-matian membela Laura setiap kali Rohaya menyudutkan istrinya.Di balik sifat ketat dan kejamnya, Rohaya menyimpan trauma dan dendam masa lalu yang kelam terhadap "orang kota". Saat Rohaya sedang hamil dulu, suaminya yang bernama Arman berselingkuh dengan seorang wanita kota bernama Sinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ellin Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Izin untuk Berdiri Sendiri
...****************...
Malam itu, setelah semua keributan mereda, rumah akhirnya kembali sunyi.
Namun bagi Laura, sunyi justru terasa paling berisik.
Ia masih duduk di atas tempat tidur sambil menatap layar ponselnya. Beberapa lowongan pekerjaan sudah ia simpan sejak tadi—admin toko, penjaga butik kecil, bahkan pekerjaan kantor sederhana di pusat kota.
Bukan karena ia ingin lari.
Tapi karena ia merasa…
jika terus berada di rumah sepanjang hari, ia akan perlahan kehilangan dirinya sendiri.
Pintu kamar terbuka perlahan.
Arka masuk dengan wajah lelah.
Hari itu terlalu panjang bagi mereka berdua.
Ia melihat Laura yang masih memegang ponsel.
“Belum tidur?”
Laura menggeleng kecil.
“Belum.”
Arka duduk di sampingnya.
“Aku minta maaf soal Ibu.”
Laura menatap suaminya.
“Kamu selalu minta maaf untuk luka yang bukan kamu buat.”
Kalimat itu membuat Arka diam.
Laura menarik napas panjang.
Ada sesuatu yang ingin ia sampaikan sejak tadi.
“Ka… aku mau bicara.”
Arka menoleh.
“Serius sekali?”
Laura mencoba tersenyum kecil.
“Karena memang serius.”
Ia menggenggam ponselnya erat.
“Aku ingin mencari pekerjaan.”
Ruangan mendadak terasa hening.
Arka menatapnya beberapa detik.
Seolah memastikan ia tidak salah dengar.
“Kerja?”
Laura mengangguk pelan.
“Iya.”
Arka langsung menghela napas.
“Laura…”
Nada suaranya terdengar berat.
“Aku sudah pernah bilang, kamu tidak perlu bekerja kalau itu hanya karena tekanan dari rumah ini.”
Laura buru-buru menggeleng.
“Bukan hanya karena itu.”
“Lalu?”
Laura menunduk.
“Aku butuh sesuatu untuk membuatku tetap waras, Ka.”
Kalimat itu begitu jujur hingga membuat Arka terdiam.
Laura melanjutkan dengan suara lirih,
“Setiap hari di rumah ini rasanya aku hanya menunggu dimarahi. Menunggu melakukan kesalahan. Menunggu jadi alasan pertengkaran.”
Air matanya mulai menggenang.
“Aku capek merasa seperti beban.”
Arka menatap istrinya dengan hati yang ikut berat.
Laura berkata lagi,
“Kalau aku bekerja, setidaknya aku punya ruang untuk bernapas. Aku bisa sibuk. Aku bisa merasa bahwa aku masih punya hidupku sendiri.”
Arka mengusap wajahnya pelan.
Ia mengerti.
Tapi sebagai suami, ada bagian dari dirinya yang tidak ingin Laura semakin lelah.
“Aku hanya tidak mau kamu tambah capek.”
Laura menatapnya.
“Capek di luar rumah mungkin lebih baik daripada capek menangis sendirian di dalam rumah.”
Kalimat itu menampar hati Arka.
Ia tahu…
Laura tidak sedang mengeluh berlebihan.
Ia sedang benar-benar kelelahan.
Namun Arka masih mencoba bertahan.
“Kalau kamu bekerja, Ibu pasti akan punya alasan baru untuk marah.”
Laura tersenyum pahit.
“Ka… bahkan saat aku tidak bekerja pun, Ibu tetap marah.”
Arka terdiam.
Dan itu benar.
Tidak ada pilihan yang benar-benar aman bagi Laura.
Beberapa detik berlalu.
Hanya ada suara kipas angin yang berputar pelan.
Akhirnya Arka berkata,
“Aku egois ya?”
Laura mengernyit.
“Kenapa bilang begitu?”
“Karena aku ingin kamu tetap di dekatku, tapi aku lupa kalau yang paling banyak menanggung semuanya adalah kamu.”
Laura menggenggam tangannya.
“Aku tidak pergi dari kamu. Aku hanya ingin berdiri sedikit lebih kuat.”
Mata Arka melembut.
Ia menatap perempuan yang ia cintai itu,
dan untuk pertama kalinya ia benar-benar melihat—
Laura sedang berjuang mempertahankan dirinya sendiri.
Bukan sekadar menjadi istri.
Tapi menjadi dirinya.
Arka menghela napas panjang.
Lalu perlahan mengangguk.
“Kalau itu yang kamu butuhkan…”
Laura menahan napas.
Arka melanjutkan,
“…aku izinkan.”
Mata Laura langsung berkaca-kaca.
“Benarkah?”
Arka tersenyum kecil.
“Iya. Tapi dengan satu syarat.”
Laura menatapnya.
“Apa?”
“Jangan memaksakan diri. Kalau kamu lelah, bilang. Kalau kamu sedih, bilang. Jangan menanggung semuanya sendirian.”
Air mata Laura jatuh.
Kali ini bukan karena sakit.
Tapi karena akhirnya…
ada seseorang yang benar-benar memilih untuk memahaminya.
Laura memeluk Arka erat.
“Terima kasih…”
Arka membalas pelukannya.
“Aku yang seharusnya berterima kasih. Karena kamu masih memilih bertahan.”
---
Keesokan paginya.
Laura bangun dengan perasaan yang sedikit berbeda.
Masalahnya belum selesai.
Rumah itu masih sama.
Rohaya tetap dingin.
Bella tetap sulit ditebak.
Tapi setidaknya,
hari ini ia punya tujuan.
Ia sedang menyiapkan sarapan ketika Rohaya masuk ke dapur.
Tatapan wanita itu masih sama seperti biasanya.
Dingin.
“Kamu terlihat lebih segar. Menang lotre?”
Laura menahan napas, lalu menjawab tenang,
“Tidak, Bu. Saya hanya sedang mencoba lebih baik.”
Rohaya mendengus kecil.
“Semoga bukan hanya kata-kata.”
Laura hanya mengangguk.
Ia belum ingin memberi tahu soal pekerjaannya sekarang.
Belum.
Karena ia tahu,
badai baru pasti akan datang.
Dan kali ini,
ia ingin lebih siap menghadapinya.
Di meja makan, Bella memperhatikan Laura dari jauh.
Ada sesuatu yang berbeda.
Laura terlihat lebih tenang.
Lebih kuat.
Dan Bella tidak menyukai itu.
Ia menyesap tehnya perlahan sambil berpikir.
Jika Laura mulai menemukan jalannya sendiri…
maka permainan di rumah ini akan berubah.
Dan Bella tidak suka kehilangan kendali.
Ia tersenyum kecil.
Kalau begitu,
ia hanya perlu membuat permainan baru.
Sesuatu yang lebih besar.
Sesuatu yang tidak hanya melukai Laura…
tetapi juga mengguncang seluruh rumah.
Dan tanpa disadari siapa pun—
badai berikutnya
sedang mulai disiapkan.
(Bersambung Episode 12)
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...