NovelToon NovelToon
The Broken Lens

The Broken Lens

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:898
Nilai: 5
Nama Author: Vian's

Sinopsis: The Broken Lens

Bagi Savya, bidikan kamera analog dan kedamaian di Thalassa Coffee adalah pelarian terbaik dari masa lalu. Namun, dunianya yang tenang mendadak retak saat Katya kembali hadir—membawa intimidasi dan ancaman yang siap menghancurkan sisa hidupnya.

Di tengah kepungan panik yang nyaris membuat Savya runtuh, Valerius datang mengintervensi. Pria misterius itu hadir sebagai perisai yang tak tergoyahkan, siap pasang badan dan menjadi fokus baru yang menyatukan kembali kepingan hidup Savya.

Saat masa lalu menolak pergi, mampukah Savya bertahan? Ataukah lensa kehidupannya akan hancur sepenuhnya sebelum Valerius sempat mendekapnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vian's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 32: Jeda Senyap untuk Jiwa yang Lelah

Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden ruang tengah, membawa kehangatan yang perlahan mengusir sisa dinginnya malam. Di kediaman keluarga Savya, suasana pagi itu terasa jauh lebih lambat dan tenang. Karena keputusan berat untuk meliburkan Thalassa Coffee hari ini telah bulat, Savya tidak perlu terburu-buru bersiap memakai apronnya. Untuk sejenak, beban berat di pundaknya terangkat oleh aroma akrab dari dapur rumah yang menenangkan.

Di sudut ruang tengah, sang ayah sedang duduk santai di kursi rotan kesayangannya. Di pangkuannya, seekor kucing jantan berbulu abu-abu pekat bernama Locky sedang meringkuk manja. Locky adalah kucing kesayangan ayahnya yang luar biasa malas, yang saat ini hanya mendengkur halus ketika jemari kekar sang ayah mengusap lembut bagian belakang telinganya.

"Locky, kamu ini kerjaannya cuma tidur dan makan. Coba tiru anak gadis ayah, jam segini sudah rapi," gurau sang ayah pelan, disusul kekehan rendah yang membuat Locky membuka sebelah matanya dengan malas sebelum kembali terpejam.

Savya yang baru saja melangkah keluar dari kamar mandi hanya tersenyum tipis mendengar gurauan itu. Rambutnya yang setengah basah dibungkus handuk kecil, dan ia mengenakan pakaian rumah yang santai. Namun, senyuman di wajahnya tidak mampu menyembunyikan binar matanya yang tampak meredup akibat kurang tidur semalam.

Dari arah dapur, sang ibu muncul membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat dan sepiring pisang goreng yang masih mengepulkan asap. Langkah ibunya terhenti tepat saat sepasang matanya menangkap sosok Savya. Sebagai seorang ibu yang melahirkannya, nalurinya langsung menangkap ada sesuatu yang berbeda dari anak gadisnya pagi ini.

"Vya," panggil ibunya lembut, meletakkan nampan di atas meja kopi lalu melangkah mendekati Savya. Ibunya menatap lekat-lekat gurat halus di bawah mata anaknya. "Kamu sakit, Nak? Wajahmu pucat sekali, seperti orang yang kelelahan dan kurang tidur."

Savya sedikit tersentak mendengar panggilan rumahnya disebut dengan nada penuh kekhawatiran. Ia segera mengatur ekspresi wajahnya, mencoba menampilkan senyum terbaik agar batin ibunya tidak ikut terbebani oleh ancaman teror Katya.

"Vya cuma agak capek aja, Bu. Akhir-akhir ini pembukuan kedai lagi padat banget, jadi semalam baru bisa tidur lewat jam tiga," bohong Savya halus, beralasan logis sambil melangkah mendekati ibunya dan mengusap lengan wanita paruh baya itu dengan sayang.

Ibunya menghela napas panjang, sebelah tangannya terangkat untuk menyentuh kening Savya, memastikan suhunya normal. "Ibu tahu kamu anak yang mandiri dan pekerja keras, Vya. Tapi tubuhmu juga butuh istirahat. Jangan dipaksakan terus. Ibu sampai khawatir melihatmu belakangan ini seperti sedang menanggung banyak pikiran."

"Iya, Bu. Makanya hari ini khusus buat Vya, kedai diliburkan satu hari. Vya mau istirahat total dan menyegarkan pikiran," jawab Savya lembut, berusaha meyakinkan ibunya.

Mendengar hal itu, sang ayah ikut menyahut dari kursinya tanpa menghentikan usapan pada bulu Locky. "Nah, itu keputusan bagus, Vya. Sekali-kali libur tidak akan membuat kedaimu bangkrut. Manfaatkan hari ini buat jalan-jalan atau tidur seharian."

Savya mengangguk patuh. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, perhatian dan kekhawatiran ibunya justru membuat dadanya sedikit berdesir perih. Ia merasa bersalah karena harus menyembunyikan kenyataan pahit ini, namun ini adalah satu-satunya cara agar ketenangan rumah mereka tetap terjaga steril dari kegilaan di luar sana. Setelah menikmati sarapan singkat yang penuh kehangatan, Savya memutuskan untuk pergi keluar. Ia tahu, jika ia tetap tinggal di rumah, ibunya yang jeli akan terus menginterogasi raut wajahnya yang muram.

Tujuan pelarian Savya siang itu jatuh pada sebuah pameran galeri seni yang terletak di pusat kota. Tempat itu sengaja dipilih karena ia tahu suasananya akan sangat sepi dan tenang di hari kerja seperti ini.

...****************...

Begitu melangkah masuk ke dalam galeri, embusan AC yang dingin langsung menyambut kulitnya, berbaur dengan aroma khas cat minyak dan kertas tua yang menenangkan. Suasana di dalam ruangan berlantai marmer itu begitu sunyi. Hanya ada beberapa pengunjung yang berjalan tanpa suara, larut dalam dunia visual mereka masing-masing.

Savya berjalan lambat, melangkah dari satu kanvas ke kanvas lainnya dengan kedua tangan saling bertaut di depan tubuh. Sepasang matanya menatap lekat pada sebuah lukisan abstrak berskala besar yang didominasi oleh perpaduan warna biru tua, abu-abu, dan sedikit goresan emas di sudutnya. Guratan warna itu seolah merepresentasikan kondisi batinnya saat ini: gelap, dilingkupi badai kegelisahan, namun ada secercah harapan kecil yang enggan padam.

Di dalam ruangan yang sunyi ini, Savya merasa jiwanya yang lelah akhirnya bisa bernapas kembali. Tidak ada aroma kopi yang harus ia racik, tidak ada ketakutan akan kedatangan preman sewaan, dan tidak ada bayang-bayang pesan tegas dari Valerius yang mengusik logikanya. Di sini, ia hanyalah seorang wanita biasa bernama Vya yang sedang menikmati keindahan dalam kesunyian. Langkah demi langkah yang ia ambil di atas lantai galeri terasa seperti terapi penyembuhan mandiri untuk memulihkan mentalnya yang sempat hancur diguncang teror kemarin siang.

Setelah menghabiskan waktu hampir dua jam di dalam galeri seni, Savya memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya ke sebuah taman kota yang letaknya tidak jauh dari sana. Matahari siang mulai bergeser, namun rimbunnya pepohonan mahoni di taman itu memberikan keteduhan yang sempurna dari sengatan terik udara luar.

Savya berjalan menuju sebuah bangku taman panjang yang terbuat dari besi tempa berwarna hijau tua, yang terletak di bawah pohon yang paling rindang. Ia mendudukkan diri di sana, menyandarkan punggungnya yang letih, lalu menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma tanah kering dan daun-daun kering yang tertiup angin sepoi-sepoi.

Suasana taman siang itu cukup hidup namun tidak bising. Di kejauhan, tampak beberapa anak kecil sedang berlarian didampingi orang tua mereka, serta beberapa pekerja kantoran yang memanfaatkan jam istirahat untuk duduk santai menikmati udara segar.

Savya memandangi interaksi orang-orang asing itu dengan tatapan kosong namun damai. Sembari berdiam diri di atas bangku taman, pikirannya perlahan mulai mendingin. Ia membiarkan angin sepoi-sepoi menerpa wajah dan menerbangkan beberapa helai rambutnya yang terurai. Jeda senyap ini adalah hal yang paling ia butuhkan sebelum ia harus kembali masuk ke dalam arena pertempuran yang sesungguhnya. Namun, kedamaian itu mendadak terusik oleh sebuah suara berat yang sangat familier di telinganya.

"Savya?"

Savya sedikit tersentak. Ia menoleh ke arah sumber suara dan seketika itu juga tubuhnya menegang. Di hadapannya, berdiri Valerius. Pria itu tampak gagah dengan kemeja kerja formal yang lengan panjangnya digulung rapi hingga siku, serta sebuah mantel kasual yang tersampir di salah satu lengannya.

Pertemuan itu murni sebuah kebetulan. Valerius baru saja menyelesaikan pertemuan bisnis dengan klien penting di salah satu restoran hotel yang terletak persis di seberang taman kota. Saat hendak berjalan menuju area parkir VIP untuk mengambil mobilnya, langkah kaki Valerius terhenti ketika sepasang matanya menangkap siluet seorang wanita yang sangat ia kenali sedang duduk melamun sendirian di bawah pohon mahoni. Ia sempat ragu, namun rasa penasaran menuntun langkahnya untuk menghampiri.

"Valerius?" bisik Savya, suaranya terdengar canggung dan sarat akan keterkejutan.

Seketika itu juga, rasa canggung yang luar biasa hebat langsung menyerang seluruh pertahanan batin Savya. Ingatannya berputar cepat pada rentetan pesan teks yang ia kirimkan pukul dua dini hari tadi—pesan tegas di mana ia menolak bantuan dan meminta pria itu untuk tidak ikut campur lagi. Terlebih lagi, sejak mematikan daya layar ponselnya semalam, Savya benar-benar belum berani membuka ponselnya lagi seharian ini. Ia sengaja membiarkan ponselnya mati di dalam tas karena takut melihat balasan apa yang dikirimkan Valerius setelah ia memutus percakapan secara sepihak.

Kini, orang yang ia hindari justru berdiri tegak di depannya dalam dunia nyata.

Valerius menatap Savya lekat-lekat, lalu beralih menatap sisa ruang kosong di bangku besi tersebut. "Boleh aku duduk di sini?" tanyanya dengan nada baku yang tenang, meminta izin dengan sopan.

Savya menelan ludah dengan berat, merasa tidak enak untuk menolak di tempat umum seperti ini. Ia hanya bisa mengangguk pelan sembari menggeser posisi duduknya sedikit menjauh, berusaha menciptakan jarak fisik yang aman.

Valerius mendudukkan diri, menyandarkan punggungnya dengan santai namun matanya tetap tertuju pada profil samping wajah Savya yang tampak salah tingkah. "Aku cukup terkejut melihatmu di sini, Savya. Tadi pagi sebelum berangkat menemui klien, aku sempat melewati jalur depan Thalassa Coffee dan melihat papan penanda di pintu depan. Kenapa kedaimu tutup hari ini? Apa ada masalah dengan operasionalnya?"

Pertanyaan bertubi-tubi yang diucapkan dengan nada datar namun menuntut itu membuat jemari Savya di atas pangkuannya saling meremas cemas. Ia tidak menyangka Valerius sampai memperhatikan kedainya di pagi hari.

"Aku... aku hanya merasa sedikit kelelahan, Valerius. Jadi aku memutuskan untuk meliburkan kedai satu hari demi menenangkan pikiran dan beristirahat," jawab Savya lambat, mencoba merangkai kalimat se-rasional mungkin agar suaranya tidak bergetar canggung. Ia sengaja menatap lurus ke arah kolam taman, tidak berani membalas tatapan mata pria di sampingnya. "Dan soal pesan semalam... maaf jika aku terkesan tidak sopan karena langsung mematikan ponsel."

Valerius terdiam sejenak mendengar kejujuran canggung wanita itu. Sebuah senyuman tipis yang sangat samar terbit di sudut bibir tegasnya. Pria itu tahu betul Savya sedang berbohong tentang alasan penutupan kedai, namun ia memilih untuk menyimpan analisisnya sendiri. Keras kepalanya Savya untuk menanggung semuanya sendiri justru membuat Valerius merasa wanita ini butuh dijaga lebih ketat lagi.

"Aku tidak mempermasalahkan pesan semalam, Savya," ucap Valerius tenang, suaranya berpadu dengan desau angin taman yang menyejukkan. "Tapi melihatmu melarikan diri sampai ke taman ini sendirian, sepertinya dugaanku semalam memang benar. Kamu sedang tidak dalam kondisi baik-baik saja untuk ditinggalkan sendirian."

Savya membeku, debaran aneh yang asing kembali berpacu di dalam dadanya, membuat keheningan di antara mereka berdua di atas bangku taman itu terasa semakin intens dan menjebak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!