Dia memulai perjalanannya dari dasar Akademi Master Jiwa Junior dengan tongkat besi biasa yang dianggap sampah. Bertahan hidup dalam diam, dia menunggu saat yang tepat untuk memicu sistemnya. Kini, setiap langkah yang ia ambil adalah bayangan kegagalan bagi musuhnya—karena apa yang mereka miliki, akan menjadi miliknya dalam sekejap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5.Jimat, Pernapasan, dan Ambisi yang Mulai Tumbuh
Sambil beradaptasi dengan sensasi lembut namun kuat dari energi yang kini berputar di sekujur tubuhnya dalam satu putaran besar yang utuh, Xiao Xuan mengarahkan aliran itu dengan hati-hati, seolah sedang menuntun seutas benang halus menembus labirin yang rumit.
Ia membiarkan kekuatan halus itu membersihkan setiap jengkal meridian, menembus ke dalam rongga organ dalamnya, sekaligus menempa dan mengeraskan daging serta tulang-tulangnya satu per satu. Setiap kali energi itu melintas, ada rasa hangat yang nyaman menyebar, seolah seluruh tubuhnya sedang direndam dalam air hangat yang berkhasiat.
Setiap putaran bukan hanya sekadar mengumpulkan tenaga, melainkan juga mempersiapkan jalan—memperlebar dan memperkuat jalur energi agar nantinya, when ia mulai membuka Delapan Meridian Luar Biasa, aliran kekuatan bisa melesat tanpa hambatan atau rasa sakit yang berlebihan.
Inilah alasan di balik pepatah kuno yang selalu dipegang teguh oleh para ahli: semakin muda seseorang mulai berlatih, semakin cepat ia berkembang. Saat masih kecil, struktur tubuh belum sepenuhnya padat dan tertutup; organ serta pembuluh tenaga masih dalam tahap tumbuh dan terbentuk. Jika energi dikembangkan bersamaan dengan pertumbuhan alami tubuh, maka seiring matangnya fisik, tingkat kekuatan akan naik secara otomatis dan lancar, seolah kedua hal itu terjalin menjadi satu.
Namun, begitu tubuh mencapai batas kematangannya, kecepatan kemajuan akan melambat drastis. Dan seiring bertambahnya usia, fungsi tubuh menurun, meridian menjadi kaku dan sempit, tak lagi sanggup menampung energi pekat dalam jumlah besar—itulah sebabnya mengapa orang yang sudah berusia dewasa atau tua sulit lagi untuk mencapai puncak kekuatan, meski memiliki bakat besar sekalipun.
Setelah memahami sepenuhnya prinsip dasar yang tertulis dalam Sutra Hati Agung itu, Xiao Xuan mulai melangkah ke tahap selanjutnya. Ia menarik napas panjang, mengikuti irama napas khusus dari Teknik Pernapasan Tai Xuan—panjang, halus, dalam, dan berirama—lalu perlahan-lahan menyedot energi yang melayang bebas di udara, lalu mengumpulkannya di dalam Dantian, wadah energi di perut bawahnya.
Karena ini adalah pengalaman pertamanya, tarikan napasnya awalnya terputus-putus, canggung dan sulit diatur. Beberapa kali ia gagal, energi yang disedot lolos begitu saja kembali ke alam, seolah air yang dituang ke dalam wadah berlubang. Namun, dengan ketekunan dan ketajaman akalnya yang tak biasa, ia perlahan menemukan ritme yang pas, menyelaraskan detak jantung, napas, dan kesadarannya menjadi satu kesatuan. Akhirnya, ia berhasil.
Semakin lama ia berlatih, semakin teratur tarikan dan hembusan napasnya. Jika ada orang yang berdiri cukup dekat dengan ruangan itu, mereka mungkin akan melihat uap putih keabu-abuan yang keluar dari mulut dan hidung Xiao Xuan setiap kali ia menghembuskan napas panjang. Itu adalah kotoran dan energi yang tidak murni, yang telah dipisahkan oleh tubuhnya agar tidak mengotori sumber tenaga utama.
Sebenarnya, dalam pertempuran hidup dan mati, tak ada yang punya waktu untuk memisahkan kotoran semacam ini. Selama energi murni lebih banyak daripada yang kotor, itu sudah cukup untuk bertarung. Namun, jika energi kotor lebih mendominasi dalam jangka panjang, akibatnya bisa fatal—meridian tersumbat, aliran tenaga berbalik arah, hingga menimbulkan apa yang dikenal sebagai "penyimpangan tenaga", sebuah kondisi yang bisa melumpuhkan atau bahkan membunuh praktisinya seketika.
Waktu berlalu begitu saja, tak terasa berjalan terus. Satu jam penuh terlewati dalam keheningan mutlak. Saat hembusan napas terakhir itu keluar, Xiao Xuan perlahan membuka matanya. Ia menghela napas panjang, wajahnya berkerut karena rasa lelah yang menjalar ke setiap sendi, namun juga ada rasa tak percaya yang samar di matanya.
"Hah... Aku tak menyangka fisikku selemah ini," gumamnya pelan, menggeleng kecil. "Hanya langkah awal menyerap dan menyimpan energi saja, butuh waktu satu jam penuh."
Baru saat ini ia benar-benar paham mengapa orang dengan bakat kekuatan roh rendah sulit memiliki masa depan cerah. Efisiensi penyerapan energi saja sudah membuat mereka tertinggal jauh di garis awal, dan jurang itu semakin melebar seiring berjalannya waktu. Memang, teknik pernapasan yang baik bisa mengubah segalanya—seperti Jurus Langit Misterius yang dipakai hingga ribuan tahun kemudian dan masih dianggap berharga.
Namun, kemampuan teknik sederhana itu saja mampu menciptakan bakat kekuatan roh penuh bawaan hanya dengan latihan bertahun-tahun. Itu sudah cukup membuktikan betapa buruknya dan primitifnya metode latihan yang ada di Benua Douluo ini. Sebagian besar warga benua ini hanya mengandalkan bakat alami dan latihan fisik kasar, tanpa memahami rahasia pengolahan energi halus.
Kalau saja ia tidak memiliki Teknik Pernapasan Tai Xuan yang luar biasa ini—yang mampu memperbesar kapasitas Dantian sekaligus memperkuat organ dan pembuluh tenaga saat energi mengalir—maka dengan kondisi fisiknya yang saat ini masih lemah, ia mungkin sudah menyerah duluan karena kesulitan dan keterbatasan.
Namun, rintangan pertama telah dilewati. Sekarang, setelah energi tersimpan aman dan berputar stabil di Dantian, langkah selanjutnya adalah mengalirkannya ke seluruh tubuh mengikuti jalur yang tergambar jelas di dalam Peta Meridian Siklus Agung Tai Xuan. Saat itulah, perjalanan pendakiannya akan benar-benar dimulai.
"Baiklah, sasaran kecil dulu," bisiknya dengan mata berbinar semangat, rasa lelahnya terkalahkan oleh ambisi yang membara. "Selesaikan satu putaran besar sepenuhnya hari ini. Dan malam nanti... aku akan meniru cara latihan Tang San—tak perlu tidur, dan gunakan latihan untuk menggantikan istirahat. Tubuh akan pulih sendiri jika energi mengalir lancar."
Baru saja ia hendak kembali memejamkan mata dan menenggelamkan kesadaran sepenuhnya, suara panggilan terdengar dari luar pintu, memecah konsentrasi yang sudah terbentuk rapi itu.
"Kakak Xiao Xuan! Waktunya makan siang!"
Suara Xi Yu terdengar ceria, memanggil dari balik pintu kayu yang tipis. Tanpa ragu, Xiao Xuan menyingkirkan segala pikiran latihannya, menyegel sementara aliran energi di dalam tubuhnya agar tidak berantakan, lalu bangkit dari tempat tidur, dan berjalan keluar menuju ruang tengah.
Begitu melangkah masuk, ia langsung mendengar suara geraman kesal Kakek Jack yang bergumam sendiri sambil menyiapkan piring dan mangkuk di meja makan. Wajah lelaki tua itu tampak merah padam menahan emosi yang meluap.
"Hmph, Tang Hao itu sungguh menyebalkan! Aku sudah bersusah payah mengurus segalanya agar San Kecil bisa bersekolah di kota, bahkan sudah dapat kuota tambahan, tapi dia malah menolak mentah-mentah. Sungguh keterlaluan!" Kakek Jack menggeleng-gelengkan kepalanya dengan nada tak percaya. "Memang benar Roh Rumput Perak Biru itu tak ada gunanya di medan pertempuran, tapi anak itu punya kekuatan roh penuh bawaan! Meski hanya dapat cincin roh putih sepuluh tahun saja, dia tetap bisa jadi Master Roh yang dihormati dan dapat penghasilan tetap dari Balai Roh. Apakah pemabuk yang cuma tahu minum itu tak mengerti betapa berharganya kesempatan itu? Dia malah bilang lebih baik anak itu belajar bertani atau berburu saja!"
Xiao Xuan hanya diam mendengarkan, lalu menghela napas panjang dalam hati.
Kalau Tang Hao saja tak dianggap sebagai Master Roh sejati, maka mungkin tak ada satu pun orang di benua ini yang pantas menyandang gelar itu. Pria itu adalah legenda hidup, sosok yang pernah membuat seluruh Balai Roh gempar dan menginjak-injak kehormatan pemimpin tertinggi mereka, Qian Xun Ji, sendirian saja.
Namun, ia tak perlu khawatir atau ikut campur. Sesuai ingatan dari kehidupannya yang lalu, Tang Hao pasti akan mengizinkan Tang San pergi ke sekolah nanti. Keputusan itu akan berubah tepat saat Tang San menunjukkan identitas aslinya sebagai pemilik Roh Kembar, sesuatu yang bahkan ayahnya sendiri belum ketahui saat ini.
Saat ini, posisinya masihlah anak kecil yang lemah dan tak punya pengaruh; ia cukup mengurus dirinya sendiri saja, membangun kekuatannya dalam diam.
Setelah makan siang yang sederhana namun mengenyangkan—di mana Kakek Jack masih terus mengomel tentang sifat keras kepala Tang Hao—Xiao Xuan kembali ke kamarnya, menutup pintu rapat-rapat, mengunci bagian dalamnya, dan melanjutkan apa yang tertunda.
Siang berganti sore, matahari bergerak perlahan ke arah barat, bayang-bayang pohon bergeser di jendela. Selama lima jam penuh, ia duduk bersila tanpa bergerak banyak, mencoba berulang kali, memandu aliran energi yang sering kali tersangkut di persimpangan meridian atau menyimpang jalurnya sedikit saja. Tubuhnya berkeringat deras hingga pakaiannya basah kuyup, namun matanya tetap fokus tajam, tak sedikit pun kehilangan tekadnya. Ia terus memperbaiki kesalahan, mengulangi lagi dari awal setiap kali gagal, seolah tak mengenal kata lelah.
Menjelang malam, saat cahaya senja mulai memudar dan kegelapan perlahan menyelimuti desa, tiba-tiba seluruh tubuh Xiao Xuan bergetar halus. Sebuah rasa hangat yang nyaman menyebar dari dalam ke luar, seolah ada matahari kecil yang bersinar lembut di dalam dadanya, memancarkan kehangatan ke setiap ujung jari dan rambut.
"Selesai!!!"
Ia membuka mata, berseru pelan namun penuh kegembiraan yang meluap-luap. Rasanya luar biasa! Segala kelelahan yang terasa membebani seharian ini hilang seketika, digantikan oleh kesegaran dan semangat yang meluap-luap. Setiap inci kulitnya terasa hangat, ringan, seolah memiliki tenaga yang tak akan habis meski dipakai berlari seharian penuh.
"Menurut perhitunganku, satu kali Siklus Agung yang utuh setara dengan menaikkan kekuatan rohku sepersepuluh tingkat. Artinya... aku hanya butuh sepuluh kali putaran seperti ini untuk naik satu tingkat penuh!"
Ia tersenyum puas, matanya berkilat-kilat dalam remang ruangan. Sekarang ia mengerti sepenuhnya bagaimana Tang San bisa memiliki bakat luar biasa itu hanya dengan berlatih bertahun-tahun dalam kesunyian. Ternyata kuncinya ada di sini: efisiensi penyerapan dan pemurnian energi yang jauh di atas metode biasa.
"Bagus, bagus! Kalau begitu, sasaran kecil selanjutnya: sebelum malam esok tiba, aku harus menaikkan kekuatan rohku ke Tingkat Dua!"
Ia melakukan hitungan cepat di dalam kepalanya. Satu siklus memakan waktu sekitar dua jam. Masih butuh sembilan siklus lagi untuk naik satu tingkat penuh. Itu berarti setidaknya delapan belas jam latihan terus-menerus. Waktu yang tersisa hingga esok malam masih lebih dari cukup, bahkan jika ada gangguan atau hal tak terduga yang memakan waktu.
Kini, setelah masalah dasar kekuatan roh mulai teratasi dan jalannya sudah terbuka jelas, pikiran Xiao Xuan mulai beralih ke hal lain yang jauh lebih besar. Ia ingat betul isi lengkap dari Seni Mendalam Taoisme yang ia miliki, harta karun ilmu yang tak ternilai harganya itu.
Selain Sutra Hati Agung yang menjadi fondasi utama, masih banyak hal lain yang menunggunya untuk digali, dipelajari, dan dikuasai. Dan ada satu hal yang membuat rasa penasarannya memuncak sejak pertama kali membacanya, sesuatu yang bisa mengubah posisinya sepenuhnya di dunia yang keras ini: Panduan Lengkap Pembuatan Jimat.
Di dalam benaknya, daftar nama-nama itu kembali berputar, penuh dengan janji kekuatan yang misterius dan dahsyat, jauh melampaui sekadar memukul atau menendang:
- Jimat Penenang: Menenangkan hati dan menjernihkan pikiran, melindungi dari serangan jiwa dan gangguan batin.
- Jimat Penjelajah Angin: Memberikan kecepatan luar biasa dan langkah yang ringan seperti bayangan, seolah tak menyentuh tanah.
- Jimat Api: Meledak dengan panas yang membakar segalanya, atau menciptakan api yang tak bisa dipadamkan air.
- Jimat Air: Mengalir terus-menerus, melindungi seperti perisai cair, atau mempercepat penyembuhan luka.
- Jimat Logam: Tajam dan keras, mampu menembus benda padat dan memotong besi seolah kain.
- Jimat Kayu: Mempercepat pertumbuhan tenaga, memulihkan luka dalam, dan memperpanjang usia.
- Jimat Bumi: Kokoh dan tak tergoyahkan, menjadi benteng yang tak bisa ditembus serangan fisik apa pun.
- Jimat Penyegel Meridian: Menghentikan aliran tenaga musuh seketika, membuat Master Roh yang kuat menjadi orang biasa dalam sekejap mata.
- Jimat Perangkap Keabadian: Mengikat musuh di dalam jaring kekuatan waktu dan ruang, membuat mereka terperangkap selamanya.
- Jimat Lima Petir: Memanggil kilat surga yang menyambar dan menghancurkan apa saja yang berani melawan, kekuatan penghancur sejati.
Hati Xiao Xuan berdebar kencang, jantungnya berdetak lebih cepat karena antusiasme yang tak tertahankan. Jika ia bisa menguasai pembuatan benda-benda ini, posisinya di dunia ini akan berubah sepenuhnya dalam sekejap.
Ia takkan lagi sekadar anak desa biasa dengan tongkat besi di tangan, melainkan seseorang yang memegang rahasia kekuatan kuno yang jauh melampaui pemahaman para Master Roh, Ksatria Jiwa, bahkan para Douluo sekalipun di benua ini.
Malam semakin larut, langit di luar hitam pekat hanya diterangi cahaya bulan dan bintang. Namun, lampu minyak di ruangan itu tetap menyala terang, tak berkedip. Di balik dinding kayu yang sederhana itu, Xiao Xuan kembali memejamkan mata, menyingkirkan segala gangguan, dan menyiapkan dirinya menempuh malam panjang yang penuh kerja keras.
Ia tahu, jalan ke depan masih sangat panjang dan berliku, penuh bahaya dan intrik. Namun, ia tak lagi merasa takut atau ragu. Di tangannya ada ilmu tertinggi, di tubuhnya mengalir energi yang ia bangun sendiri, dan di dalam hatinya tertanam tekad baja untuk tidak lagi hidup dalam bayang-bayang siapa pun.
Malam ini, di gubuk kecil di Desa Roh Suci, langkah pertamanya menuju puncak dunia, benar-benar dimulai.