NovelToon NovelToon
Mengejar Si Cinta Sampai Ke Desa

Mengejar Si Cinta Sampai Ke Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:844
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Rasyid adalah calon Bupati muda yang dikelilingi wanita-wanita cantik yang mengincar posisi Istri Bupati.

Tetapi hati Rasyid sudah terpaut pada Ami, gadis desa lulusan SMA yang benar-benar tak tertarik padanya.

Perjuangan Rasyid untuk mendapatkan Ami, dibantu oleh ajudan setianya, Andre.

Ketika Rasyid sudah mendapatkan Ami, lawan politik menyerang hingga mereka dipisahkan takdir.

Andre hadir untuk mengisi posisi kosong itu tanpa niat buruk.

Namun, ketika keadaan kembali seperti semula, Ami memutuskan kembali ke desa, mencari ketenangan hingga dijemput kembali oleh lelaki pilihannya.

~~Kita bisa merencanakan sesuatu, namun takdir yang menentukan akhirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukti

Ami yang ikut mendampingi juga banyak berbincang dengan para ibu peternak. Ia mulai melihat bahwa masalah mereka bukan hanya soal harga jual, tetapi juga ketergantungan penuh pada tengkulak dan kurangnya pengolahan hasil peternakan ketika pasar sedang turun.

Di tengah kunjungan itu, Rasyid berkata pelan kepada Ami, “Ternyata benar, terlalu fokus pada satu keberhasilan bisa bikin kita lupa masih ada orang lain yang menunggu.”

Dan hari itu menjadi pengingat penting bagi Rasyid bahwa kepemimpinan bukan tentang merasa berhasil, melainkan tentang terus mau memperbaiki kekurangan sebelum masyarakat kehilangan kepercayaan.

Kunjungan itu berlangsung hampir seharian penuh. Semakin lama Rasyid berkeliling, semakin ia menyadari bahwa persoalan para peternak jauh lebih rumit daripada yang terlihat di laporan-laporan resmi. Banyak peternak kecil ternyata hidup dalam tekanan utang pakan, sementara keuntungan terbesar justru dinikmati distributor besar dan tengkulak. Ketika harga ayam atau telur turun, masyarakat kecil yang pertama kali jatuh.

Di salah satu kandang sederhana, seorang peternak paruh baya akhirnya bicara terus terang di depan Rasyid. “Pak, kami bukan minta dibantu terus,” katanya sambil berdiri di antara kandang ayam yang panas dan sempit. “Kami cuma ingin pemerintah benar-benar hadir waktu kami kesulitan.”

Kalimat itu membuat Rasyid terdiam beberapa saat. Ia kemudian melihat sekeliling, wajah-wajah lelah para peternak, ibu-ibu yang ikut membantu membersihkan kandang, dan anak-anak kecil yang tumbuh di lingkungan peternakan dengan bau menyengat setiap hari. Mereka bekerja keras, tetapi sering kali hidup mereka tetap berjalan di tempat.

Ami yang berdiri di dekat kelompok ibu-ibu peternak juga mulai menemukan pola masalah yang mirip dengan desa pertanian sebelumnya. “Kalau harga telur turun,” katanya pelan kepada Rasyid, “Mereka nggak punya alternatif selain menjual rugi.”

Rasyid langsung memahami maksud itu.

Malamnya, dalam perjalanan pulang, suasana mobil dinas terasa tenang. Rasyid lebih banyak diam sambil memikirkan semua yang ia lihat hari itu.

Ami akhirnya membuka suara lebih dulu. “Kamu kepikiran sesuatu ya?”

Rasyid mengangguk pelan. “Kita terlalu fokus membangun produksi,” katanya lirih. “Padahal yang paling penting justru bagaimana masyarakat tetap punya nilai jual saat pasar jatuh.”

Beberapa detik kemudian ia mulai bicara lebih serius, seolah ide itu mulai terbentuk jelas di kepalanya. “Kalau hasil peternakan mereka bisa diolah…”

Ami langsung menoleh.

“Telur asin premium, makanan beku, abon ayam, olahan siap saji…” lanjut Rasyid pelan sambil berpikir keras. “Kalau semuanya cuma dijual mentah, mereka akan terus dipermainkan harga pasar.”

Ami perlahan tersenyum kecil. “Berarti kita mulai lagi dari awal?”

Rasyid ikut tersenyum tipis meski wajahnya masih lelah. “Sepertinya begitu.”

Dan malam itu, setelah menerima kritik dari masyarakat yang merasa diabaikan, Rasyid justru kembali menemukan arah baru dalam kepemimpinannya. Ia mulai memahami bahwa pembangunan yang benar bukan tentang memilih satu sektor lalu melupakan yang lain, melainkan tentang terus bergerak mendengar kebutuhan masyarakat yang berbeda-beda, meski itu berarti harus terus memulai perjuangan baru berkali-kali.

Rasyid kemudian tidak ingin berhenti hanya pada kunjungan dan mendengar keluhan. Ia tahu masyarakat sudah terlalu sering diberi janji tanpa langkah nyata. Karena itu, beberapa minggu setelah kunjungan ke kampung peternakan, pemerintah daerah mulai menjalankan solusi konkret untuk para peternak ayam potong dan petelur.

Pertama, Rasyid membentuk koperasi peternak mandiri agar masyarakat tidak terus bergantung pada tengkulak dan distributor besar. Melalui koperasi itu, pembelian pakan dilakukan bersama sehingga harga bisa jauh lebih murah dibanding membeli sendiri-sendiri. Pemerintah daerah juga membantu membuka jalur distribusi langsung ke pasar, hotel, rumah makan, dan sekolah tanpa harus melewati terlalu banyak perantara.

Kedua, Ami memimpin program pengolahan hasil peternakan seperti yang sebelumnya berhasil dilakukan di desa pertanian. Telur yang biasanya dijual murah saat panen besar mulai diolah menjadi telur asin premium, telur cair siap masak, kue rumahan, dan berbagai makanan olahan. Sementara ayam potong diolah menjadi frozen food berkualitas seperti nugget kampung, ayam ungkep, abon ayam, hingga makanan siap saji khas daerah.

Ami bahkan menggandeng ibu-ibu peternak untuk belajar pengemasan modern dan pemasaran lewat media sosial. “Kalau mau harga stabil,” katanya pada mereka, “Produk kita harus punya nilai lebih.”

Ketiga, Rasyid membangun tempat pengolahan limbah peternakan menjadi pupuk organik dan biogas sederhana. Selama ini limbah kandang menjadi sumber konflik dengan warga sekitar karena bau dan pencemaran. Dengan pengolahan itu, limbah justru mulai menghasilkan tambahan pendapatan bagi masyarakat.

Keempat, pemerintah daerah membuat program cadangan pangan daerah. Saat harga telur atau ayam jatuh terlalu rendah, pemerintah membeli sebagian hasil peternak untuk kebutuhan bantuan sosial, sekolah, dan rumah sakit daerah. Dengan begitu harga pasar tidak langsung hancur ketika produksi melimpah.

Yang paling penting, Rasyid tidak hanya menyerahkan program itu kepada dinas lalu selesai. Ia dan Ami rutin turun langsung memantau perkembangan. Mereka memastikan pelatihan benar-benar berjalan dan masyarakat tidak kembali dikuasai permainan tengkulak besar.

Perlahan hasilnya mulai terasa. Peternak tidak lagi terlalu panik saat harga turun karena mereka punya alternatif pengolahan dan jalur penjualan lain. Anak-anak muda desa juga mulai tertarik mengembangkan usaha olahan peternakan yang lebih modern. Bahkan beberapa produk frozen food buatan kampung mulai masuk toko-toko kota dengan merek lokal daerah mereka sendiri.

Dari situ Rasyid semakin memahami satu hal penting dalam kepemimpinan: masyarakat kecil sebenarnya mampu berkembang, asalkan pemerintah tidak hanya datang membawa pidato, tetapi juga sistem yang membuat mereka bisa berdiri lebih kuat dengan usaha mereka sendiri.

***

Malam itu, setelah seluruh rangkaian rapat dan kunjungan selesai, Rasyid akhirnya kembali ke ruang kerjanya di rumah dinas. Di depan meja besar terbentang peta wilayah kabupaten yang selama ini hampir setiap hari ia lihat dan tandai sendiri perkembangan tiap daerahnya.

Kini sebagian besar desa di peta itu sudah dipenuhi warna hijau, tanda bahwa program pemberdayaan masyarakat mulai berjalan. Ada kawasan walet yang kini dikelola koperasi masyarakat, desa pertanian dengan usaha pengolahan hasil kebun, hingga kampung peternak yang perlahan mulai bangkit lewat industri olahan mandiri mereka sendiri.

Memang belum sempurna. Masih banyak jalan rusak, masih ada desa miskin, dan masih banyak masyarakat yang perlu dibantu. Tetapi untuk pertama kalinya sejak menjabat, Rasyid benar-benar bisa melihat arah perubahan itu dengan jelas.

Ia memandang peta itu cukup lama sebelum akhirnya bersandar pelan sambil menghela napas panjang. “Sepertinya malam ini kita bisa tidur lebih awal dengan nyenyak,” katanya sambil tersenyum kecil.

Ami yang sejak tadi duduk di sofa sambil memeriksa beberapa catatan program langsung menoleh dan ikut tersenyum lembut. “Ya,” jawabnya pelan. “Aku tahu, Abang juga pasti lelah sekali.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!