"Aku berhak bahagia dan aku bisa hidup tanpamu!"
Mila Rahma akhirnya memilih jalan hidupnya sendiri meskipun orang-orang disekitarnya menolak keputusan yang diambilnya. Mereka sangat kecewa dengan Mila karena berani menggugat cerai. Mila melakukan itu bukan tanpa sebab, selama menikah dirinya selalu mendapatkan penyiksaan dan penghinaan.
Mampukah Mila bertahan hidup dengan menjauh dari orang-orang yang sangat dicintai dan disayanginya?
Apakah Mila menemukan pria yang sangat mencintai dan menghormatinya?
Ikuti ceritanya dan mohon dibaca perlahan setiap episodenya. Terima kasih banyak karena sudah membaca tanpa meloncat episode🙏🏼
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Berhak Bahagia - episode 34
POV Hasbi
Hari itu kos-kosan tempat Hasbi tinggal kedatangan penghuni baru, seorang wanita yang parasnya cukup menarik. Ia mulai tertarik dengan Mila, ketika tak sengaja mendengarkan suara lantunan ayat suci selepas salat Maghrib.
Rasa penasaran dan ingin mengenal lebih dekat semakin besar, apalagi Mila selalu bangun tengah malam. Lantunan suara ngaji terdengar hingga lantai atas tempat kamarnya.
Hasbi diam-diam sering memperhatikan kegiatan Mila dan mulai mendekatinya dari sekedar bertanya hal sederhana.
Lama-lama kelamaan hubungan mereka semakin dekat, tetapi Mila seakan menjaga jarak seperti orang yang sangat ketakutan. Hasbi pun juga perlahan membatasi obrolan mereka.
Semakin hari semakin serius, Hasbi mulai mempertanyakan tentang masalah hati. Hasbi juga mengakui pernah mengalami patah hati karena perselingkuhan.
Hasbi juga terang-terangan menunjukkan rasa kesukaannya kepada Mila. Namun, wanita itu tak pernah paham. Hasbi tak menyerah, ia tetap berusaha berada dekat di sisinya.
Sejak pertama kali melihat Mila, ia sudah merasakan ketertarikan. Ia merasa nyaman bicara dengan Mila.
Hasbi perlahan menjaga jarak, ia cemburu ketika Mila sering diantar pulang pria lain. Hasbi merasa Mila tak memiliki perasaan kepadanya.
Namun, rasa cemburunya itu perlahan menghilang dan mereka kembali dekat. Hingga, suatu hari Mila mulai mengakui sudah pernah menikah.
Hasbi sedikit terkejut mendengarnya, ia tak percaya jika Mila adalah seorang janda. Hasbi berpikir selama ini Mila hati-hati bicara sebab tak ingin lawan bicaranya memberikan harapan besar kepadanya. Apalagi, perceraian yang dialami Mila begitu sakit. Mengalami KDRT, mantan suaminya pelit dan selingkuh.
Hasbi bukannya mundur, ia semakin keras mengejar wanitanya. Hingga sebuah kesalahpahaman memisahkan mereka selama beberapa minggu.
Hasbi terpaksa pulang tanpa memberitahu Mila karena buru-buru. Ponselnya mati dan baru diisi sesampainya di rumah orang tuanya. Setelah memberikan kabar itu kepada pujaan hatinya, malam harinya ponsel Hasbi rusak sebab terjatuh dari saku celananya saat hendak ke rumah sakit.
Sang kakek meninggalkannya selama-lamanya. Hasbi begitu terpukul sehingga tak dapat memberikan kabar kepada Mila. Beberapa hari kemudian, Hasbi balik ke kota perantauan. Tapi, dia tak menemui Mila.
"Mbak Mila baru aja pulang kampung, Mas Hasbi. Katanya, cuma seminggu aja di sana. Adik sepupunya menikah," ucap tetangga depan kamar Mila.
"Oh, ya, Mbak. Makasih, ya," kata Hasbi, padahal ia belum bertanya hanya melihat ke arah kamarnya Mila yang tampak kosong saat dirinya hendak membeli makan siang.
Selang 3 hari, Hasbi mendadak balik ke kota kelahirannya karena orang tuanya menginginkannya tetap di dekat mereka. Tak ingin dianggap menjadi anak durhaka, Hasbi menuruti permintaannya.
Hasbi resign dari pekerjaannya, ia belum sempat berpamitan dengan Mila. Karena beberapa kontak telepon hilang dan terpaksa membeli ponsel baru serta kesibukannya sehingga tak sempat menghubunginya.
Dua minggu berlalu, akhirnya Hasbi berhasil mendapatkan kembali nomor teleponnya Mila. Tetapi, nomor itu tak dapat dihubungi. Hasbi terus mencoba menghubunginya hingga beberapa kali dalam sehari.
Melihat putranya duduk melamun di teras belakang, Mama Sherly menghampirinya dan menepuk bahu dengan lembut. "Mikirin dia?"
Hasbi mendongakkan wajahnya ke arah kiri, "Eh, Mama. Kenapa tau?" ia tersenyum tipis.
"Kamu memang mau serius dengannya?" tanya Mama Sherly, sebab putranya itu sering bercerita mengenai Mila.
"Apa Mama setuju aku bersamanya?" tanya Hasbi.
Mama Sherly duduk di sampingnya putranya dan menjawab, "Kalau kamu suka dan senang, Mama setuju aja."
"Tapi, dia sudah pernah menikah, Ma."
"Mama enggak pernah mempermasalahkannya, asal kamu bahagia," kata Mama Sherly tersenyum.
"Benar, Mama enggak malu punya menantu janda dan dia cuma pelayan restoran kecil?" Hasbi hanya meyakinkannya lagi sebab sang ayah sudah menyerahkan keputusan kepada putranya tanpa ikut campur. Sedangkan sang mama meskipun telah menyetujui kedekatannya dengan Mila, tetapi ia ingin mendengarkannya sekali lagi.
"Mama 'kan pernah bilang setuju aja, kalau dia memang menyayangimu dan mencintaimu tulus," kata Sherly.
Hasbi tersenyum senang dan memeluk ibunya, "Terima kasih, Ma!"
Seminggu kemudian, Hasbi pun berangkat ke kota itu. Berniat ingin menemui Mila untuk mengungkapkan perasaannya dan membawanya ke dalam hubungan serius.
Sesampainya di sana, Hasbi menemukan kenyataan pahit. Mila pindah kos. Ia lalu mencoba mencarinya di tempat kerjanya Mila namun hasilnya tetap sama. Mila sudah keluar dari pekerjaannya.
Hasbi teringat dengan temannya Mila, ia pun bergegas menemui Indah. Ada 2 kali, Mila minta diantarkan ke rumah Indah.
"Aku enggak mau memberitahumu keberadaannya!" Indah menolak untuk Hasbi yang meminta alamat orang tuanya Mila di kampung.
"Aku serius ingin menikahinya!" Hasbi berkata penuh yakin.
"Kamu enggak main-main 'kan? Mila pernah disakiti, jadi aku sebagai temannya enggak mau dia gagal lagi buat kedua kalinya," ucap Indah.
"Aku janji gak akan menyakitinya!" kata Hasbi sungguh-sungguh.
"Baiklah, aku percaya padamu. Awas aja kalau berani sakitinya!" Indah memberikan ultimatum.
Indah lalu memberikan nomor teleponnya Della, karena cuma temannya itu yang lebih tahu alamat lengkap kampung halamannya Mila.
Sebelumnya Indah memberitahu Della bahwa Hasbi ingin bertemu Mila. Hasbi mau bertanya banyak mengenai sosok Mila dari 2 orang wanita itu.
Setelah mendapatkan kontak telepon dan alamat tempat tinggalnya Della. Ia pun berangkat ke kota itu. Hasbi tak segera menemuinya, namun keesokan harinya mereka bertemu. Della ditemani oleh suami dan anaknya.
"Kamu yakin mau serius dengannya?" tanya Della.
Hasbi mengangguk mengiyakan.
"Kamu gak perlu ke kampungnya, nanti aja kalau kalian udah bertemu. Mila lagi butuh pekerjaan, kami belum menemukan pekerjaan yang sesuai keinginannya," kata Della. "Rencananya ia mau bekerja di kota ini," lanjutnya.
Hasbi diam sejenak, lalu berucap, "Aku ada ide."
Della dan suaminya saling pandang.
"Aku ingin memberikan kejutan untuknya, tapi aku mau kalian termasuk Indah agar tak memberitahu rencanaku kepada Mila," kata Hasbi.
"Ya, apa rencananya?" tanya Della.
Hasbi lalu menelepon sahabatnya, kebetulan keluarga sahabatnya mempunyai toko fashion dan Hasbi memintanya untuk membuka 1 lowongan pekerjaan khusus buat Mila.
Sahabatnya tak dapat menolak permintaan Hasbi, lagian permintaan Hasbi tak terlalu merepotkan dan mereka juga butuh karyawan.
Hasbi menyuruh Della menghubungi Mila bahwasannya sudah mendapatkan pekerjaan yang cocok. Bahkan, Hasbi juga yang mencari kos-kosan Mila. Ia pun membayar separuh uang kos-kosan biar Mila tak merasa keberatan. Mila hanya tau kalau tempat tinggalnya itu sangat murah.
Setelah Mila bekerja beberapa hari, Hasbi mulai mengirimkan paket makanan ke toko dan seluruh karyawan mengetahuinya seakan-akan mereka tak tau apapun. Makanya, ketika Mila ingin mengetahui sosok pengirim ia tak diberikan izin melihat kamera pengawas. Hingga akhirnya ia pun memberanikan diri menemui wanita pujaan hatinya.