NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Lahir Dari Luka

Pernikahan Yang Lahir Dari Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: peony_ha

Zara Ayleen adalah perempuan religius dari keluarga sederhana yang percaya bahwa hidup selalu punya jalan lurus untuk tetap dijalani. Namun satu malam yang kelam menghancurkan keyakinannnya. Dalam keadaan yang tak pernah ia kehendaki, Zara menjadi korban dari kesalahan seorang lelaki yang bahkan tak kenal dengan baik—Arsyad Faizandra Wiratama pewaris perusahaan besar yang hidupnya penuh kendali, kekuasaan dan kesombongan. Kesalahan itu memaksa mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta. Bagi Arsyad pernikahannya dengan Zara merupakan bentuk tanggung jawab bukan perasaan. Bagi Zara, pernikahannya dengan Arsyad adalah ujian terberat dalam hidupnya. Dibawah satu atap, mereka hidup sebagai suami istri yang asing. Arsyad dingin dan berjarak, sementara Zara memendam luka dan berharap dalam diam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lakukan Apa yang Kamu Mau Mas!

POV Arsyad.

“Ish mas, aku yang pantas memakai cincin berlian itu.” Aku berhasil merampas cincin berlian milik Ayleen. Dari tangan Sabrine.

Kita sedang berada diparkiran, Sabrine dan mama akan segera pergi, mungkin untuk bersenang-senang.

“Arsyad!, balikin cincin itu pada Sabrine.”

“Tante… aku mau cincin berlian itu.” Ah kepalaku terasa sangat pening sekali kala mendengar rengekan dari mulut Sabrine.

“Mah papa sudah on the way rumah, jika papa menelpon Arsyad sekarang dan menanyakan mama dimana, Arsyad akan menjawabnya dengan jujur. Hangus sudah tas impian mama itu”

“Kamu benar-benar ya Arsyad. ayok Sabrine kita pulang, biarkan cincin berlian itu nanti kita bisa rebut kembali dari si wanita sok alim itu.”

“Tante.. cincin itu.. aku mau cincin itu.” Aku memijat kening, rasanya sangat pegal sekali.

Aku mulai melangkahkan kaki menaiki tangga kecil menuju beranda rumah. Dimana Ayleen apakah wanita itu baik-baik saja.

“Mbak Asih lihat Ayleen?” Aku bertanya pada mbak Asih yang sedang membereskan meja yang berserakan bekas makanan yang dibawa oleh Sabrine dan mama.

“Setau Mbak Asih, sedari tadi non Ayleen tidak keluar dari kamar mas.”

“Oh yaudah, makasih ya bi.” Berarti Ayleen cukup aman.

Aku membuka pintu kamar, tidak ada siapa-siapa didalamnya. Aku melayngkan pandang pada sekitar, pintu kamar mandi terbuka, dan ada suara gemericik air dari shower. Apa ayleen mandi lagi?, perasaan tadi dia sudah mandi.

Lama aku menunggu, tidak ada tanda-tanda Ayleen keluar. Jujur ini janggal.

Aku menubruk pintu kamar.

Brak…

Dalam keadaan terikat, kulitnya memucat putih Ayleen diguyur oleh air dingin shower. Wanita itu menatapku penuh harap, dari mulut kecilnya tidak terucap sepatah katapun, tubuhnya menggigil hebat, Ayleen mengalami hipotermia berat.

Sigap aku membuka jaket yang masih aku kenakan, kemudian membungkus badan mungil Ayleen, menggendongnya dan membawa wanita ini keatas kasur.

Ayleen menggigil hebat, suara gemelutuk giginya terdengar, aku panik bukan kepalang. Tanpa berfikir lama, aku melepas semua pakaian basah yang masih melekat pada tubuh Ayleen, tanpa menyisakan sehelai benangpun. Ayleen hanya diam, sesekali matanya terpejam. Tubuhnya yang polos terpampang jelas dimataku, bukan untuk mencari kesempatan aku hanya menolongnya.

Aku menarik selimut tebal, dan membungkus tubuh Ayleen. Namun nihil, tubuhnya tetap menggigil hebat.

“Mbak…mbak Asih…” aku berteriak sekncang-kencangnya.

Dengan wajah panik, mbak Asih memasuki kamarku, aku memerintahnya untuk membuatkan segelas teh hangat untuk Ayleen.

Tidak lama teh hangat itu datang.

“Aduh mas…maap Mbak gat….”

“Syut…. gapapa mbak, saya tau.”

Mbak Asih pamit pergi, tubuh Ayleen masih saja menggigil bahkan setelah diberi teh hangat pun.

Aku membaringkan tubuhnya, tubuhku ikut naik keatas kasur, aku peluk erat tubuh kecil itu, sampai aku merasakan getaran tubuh Ayleen.

Aku hampir putus asa karena tubuh Ayleen tidak juga membaik, aku berjalan ke arah lemari besar mengambil selimut bulu yang tabal, kembali membukus tubuh Ayleen dengan selimut itu. Memeluknya erat.

Lama, sampai perlahan tubuh menggigilnya mereda, hening dengan kadaan aku masih memeluknya. Aku merasakan gerakan kecil tubuhnya. Kepalanya mendongak kearahku.

“Makasih Mas.” Ucapnya pelan, dengan wajahnya yang masih pucat. Aku tidak menjawabnya, hanya mengangguk samar. Aku melepaskan pelukan, Ayleen dengan perlahan bangkit, aku pun.

Dengan perlahan Aylen melepaskan selimut tebal yang masih menyelimuti tubuhnya, apakah dia lupa aku sudah melocoti semua pakaiannya yang basah. Dengan pandangan menunduk.

Set….

Selimut tersingkap, kini menampilkan tubuh Ayleen yang polos, aku menoleh sekilas. Bayangan saat aku menikmati tubuh Ayleen terbayang kembali.

“Lakukan apa yang kamu mau mas!” Ayleen dengan wajah menantang, ia menatapku dengan sorot mata yang dingin.

“Leen saya tidak bermaksud.”

“Tidak mas, aku sering mendengar mu bermain dengan tanganmu sendiri di kamar mandi, maafkan aku, kini aku sudah siap mas. Lakukan apa yang kamu mau!”

Aku bangkit dan kembali menutupi tubuh polos Ayleen dengan selimut.

Aku berjalan menuju lemari pakaian, mangambil sweatur tebal miliku, dan mamakaikannya pada tubuh Ayleen yang masih terasa dingin.

“Tidak, saya tidak akan melakukannya dalam keadaan seperti ini.” Ucapku tegas, Ayleen hanya terdiam saat sweater hitam miliku terpasang rapi pada tubuh kecilnya.

“Kenapa mas?, aku sangat takut menjadi istri yang penuh dosa, walaupun pernikahan ini sementara.”

“Aku tidak akan melakukannya lagi karena aku tidak mencintaimu Ayleen. Ingat perjanjian kita kan?”

Baru Ayleen terdiam, aku merogoh saku celana dan mengambil cincin berlian milik Ayleen. Meraih jari manis Ayleen akan memasangkannya.

Ayleen menarik jarinya lagi. “Cincin ini masalah bagiku mas, aku tidak mau memakainya lagi.”

“Kamu bisa menyimpannya!”

“Simpan saja sama kamu mas, berikan padaku diwaktu yang tepat. Aku hanya ingin memakai cincin dari suami yang memang mencintaiku suatu saat nanti.”

Deg.. sontak hatiku tersentak.

“Baik, aku yang menyimpannya.”

***

“Ra, melamun aja.” Nura menyenghol bahuku, aku yang sedang membereskan buku diperpustakaan menoleh.

“Ra kamu ga ambil cuti gitu buat honeymoon.” Aku menggeleng pelan. Hari ini kepalaku sangat tidak pokus sekali.

Kepalaku sungguh dipenuhi bayang-bayang yang sangat memalukan tadi malam. Aku yang benar-benar menawarkan diri dengan keadaan polos di depan mas Arsyad.

Aduh… bisa-bisanya ku berfikir pwndek sekali.

“Kamu pulang naik apa ra?”

“Biasa angkot aja, kamu.”

“Biasa dia jemput sama ayang mbeb.”

“Ish.. beruntung kali ya kamu nur.”

Aku berjalan menuju gerbang sekolah. Langkahku terhenti, kenapa ada mobil mas Arsyad disini. Ada keperluan apa dia.

Tit… “masuk!”

Aku hangga mengangguk pasrah. mas Arsyad mulai melajukan mobilnya.

“Loh kemana ini mas?”

“Kamu harus membeli sebuah dress, kita undangan besar malam ini.”

Aku melongo.

*

*

Awas ya Ra jangan sampai benih-benih cinta itu muncul, pokoknya kalau mas Arsyad belum bisa mencintaimu, kamu jangan jatuh hati dulu.

Jangan lupa like, komen dan kasih bintang lima ya, sama vote juga.

Love u Readerss

1
Aniza
lanjut thooor
roses: siap kak, dukung terus Author ya💗
total 1 replies
Suren
mantappp👍 Arsyad butuh org ada disampingnya tapi egonya tinggi
roses: berul ka, dukung terus Author ya💗
total 1 replies
Ineu
baru mulai baca
roses: makasih kak, dukung terus Author ya💗
total 1 replies
Lisa Kusmiran07
ceritanya menarik,tp agak bingung pas percakapan.atau dialog nyaga ada tanda nya.
Sri Jumiati
cantik .cocok thor
roses: Makasi yah kak, dukung terus author💗
total 1 replies
roses
iya kak, selamat membaca dan siap-siap diobrak abrik perasaan
Sri Jumiati
bagus ceritanya
Buku Matcha
Typo nya banyak ni thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!