Setelah lima tahun menikah, miliarder Axel Stone yakin bahwa istrinya, Olivia Stone, tidak mencintainya. Olivia juga yakin bahwa suaminya masih mencintai mantannya dan pernikahan mereka hanyalah pernikahan demi kepentingan semata. Axel menyerahkan surat gugatan cerai kepadanya, tetapi segera menyesali keputusan impulsifnya itu. Dalam upaya putus asa untuk memenangkan hatinya kembali, Axel menunda proses perceraian tersebut. Olivia, yang sudah muak dengan pertemuan-pertemuan suaminya dengan mantannya, memutuskan untuk tetap melanjutkan proses perceraian.
Apa yang akan dilakukan Axel ketika ia menyadari bahwa ia telah membuat kesalahan terbesar dalam hidupnya? Akankah Olivia membuatnya membayar atas pengkhianatannya atau justru jatuh cinta padanya lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Minaaida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 13 Perdebatan
"Oke, girl, kita bicara lagi nanti. Bye!" ucapku mengakhiri obrolan dan menutup telepon.
Saat aku menutup telepon, Alex muncul dengan segelas air dan menyodorkannya padaku. Itu adalah minuman yang biasa diminum untuk meredakan mabuk akibat minuman.
"Terima kasih," ucapku seraya mengambil gelas itu darinya. Aku menyesap minuman yang warnanya agak kehijauan itu sambil memejamkan mata. Rasanya tidak enak namun aku tidak punya pilihan lain selain meminumnya.
Setelah selesai, Alex mengambil gelas itu dariku dan mulai mengintrogasi ku. "Apa yang kamu lakukan semalam di bar itu? Kenapa kamu pulang tapi kemudian berbalik pergi lagi?"
Aku menghela napas berat. "Pertanyaanmu ini membuat kepalaku semakin sakit." aku mengeluh dan Alex melotot.
"Kamu tahu apa akibatnya kalau mabuk, tapi kamu masih melakukannya."
Aku langsung melotot. "Mungkin jika kamu tidak pergi bertemu dengannya, maka aku tidak akan berakhir di bar itu." desisku sinis, lalu memalingkan wajah, kesal. Aku berusaha sekuat tenaga untuk berusaha tidak memikirkan hal itu, namun dia terus bertanya alasan mengapa aku mabuk semalam.
"Olivia, aku...." Alex ingin mengucapkan sesuatu tapi kemudian dia urungkan. "Dia? Dia siapa?" ucap Alex, bertingkah seolah-olah dia tidak paham apa maksud ucapanku barusan.
"Astaga, yang benar saja." aku berkata dengan alis terangkat ke atas. "Berhentilah bersikap seolah-olah kamu tidak tahu siapa yang aku maksud. Beritanya sudah viral di berbagai media sosial."
"Olivia, kupikir kamu mau move on dengan perceraian itu? Lalu kenapa kamu merasa terganggu dengan fakta bahwa aku keluar ngopi bareng Claudia?" Dia bertanya dengan nada sombong dan aku langsung memasang wajah jijik.
"Bisakah kamu tidak menyebut nama jalang itu di rumah ini?!" bentakku pada Alex membuat dia langsung menatapku dengan tatapan shock. "Kamu baru saja membuktikan fakta kamu sudah berbohong padaku bahwa kamu mengatakan tidak tahu menahu tentang keberadaan Claudia di kota ini!"
"Jika aku pernah jalan bareng Claudia, maka kamu pasti akan melihatnya di media sosial." ucapnya, mencoba membela diri. Tapi dia memang benar, mereka pasti sudah menyebarkannya ke mana-mana di internet
"Siapa tahu kamu bertemu dengannya diam-diam di tempat yang tidak diketahui orang." ujarku lagi, aku benar-benar tidak ingin mempercayai setiap ucapannya.
"Aku sampai mempermalukan diri sendiri saat makan siang bersama orang tuaku semua karena kamu!" ujarku, penuh kemarahan dan tatapan jijik padanya.
Bibirnya terbuka dan matanya berkedip. "Apa? Semua itu karena postingan itu?" tanya Alex dan aku mengangguk tegas.
"Lalu kamu bilang apa pada mereka?"
"Aku bilang pada mereka bahwa kita akan bercerai." ucapku, kedua tanganku menyilang di depan dada.
"Kamu masih ingin meneruskan perceraian itu?" tanya Alex, dia meremas rambutnya. "Kamu tidak mau mempertahankan pernikahan ini?"
Aku sudah payah menelan ludah. "Alex, kamu yang pergi dengan mantanmu kemarin. Kamu memberinya kalung yang mahal sementara aku tidak mendapat apapun pada saat aniversary kita," ucapku, aku menggelengkan kepala perlahan. "Haruskah aku bertahan pada pernikahan ini sementara kamu jelas-jelas menginginkan wanita lain."
"Olivia, pertemuan itu tidak berarti apa-apa. Itu hanya dua orang teman lama yang minum kopi bersama." jelas Alex, namun dia tidak menyinggung tentang kalung itu, tapi aku sudah tidak peduli.
"Apakah aku akan merasa lebih baik hanya karena kamu mengatakan semua itu tidak berarti apa-apa?" tanyaku dengan pedih. "Apa kamu tahu yang orang-orang katakan tentangku? Aku, wanita yang sudah menikah tetapi suaminya masih menjalin hubungan dengan mantannya."
Mata Alex menatapku tajam. "Kamu tidak percaya padaku ?" tanya Alex, suaranya dipenuhi frustasi.
"Percaya padamu?" Aku tertawa pahit, terdengar seperti ejekan. "Bagaimana bisa aku percaya padamu? Kamulah yang memberiku surat cerai tepat pada saat mantan pacarmu kembali ke kota ini. Kamu juga yang mengatakan bahwa kamu tidak pernah bertemu dengannya tetapi malah pada akhirnya tertangkap basah minum kopi bersamanya."
Dia menggeleng dan kemudian bertanya. " Lalu, apakah kamu akan semudah itu melupakan tahun-tahun kebersamaan kita hanya karena kamu tidak percaya ketika kukatakan tidak ada apa-apa antara aku dan Claudia?" ucapannya penuh luka dan tatapannya menembus jiwaku.
Gelombang kemarahan menyapu jiwaku dan tanpa sadar kata-kata itu terlontar begitu saja dari bibirku. "Aku tidak peduli dengan semua itu dan aku tidak pernah percaya padamu!"
****
Alexander.....
"Aku tidak peduli dengan semua itu dan aku tidak pernah percaya padamu!"
Kata-kata Olivia seperti tamparan bagiku. Sepertinya dia memang tidak pernah peduli padaku sejak awal.
Aku seharusnya tidak pernah memberinya surat cerai. Aku tidak tahu jika hal itu justru mengubahnya menjadi orang yang berbeda. Aku benar-benar menyesal. Andai saja aku bisa memutar waktu dan memperbaiki semuanya.
Aku mengerti kecemasannya tentang kalung itu. Tadinya, aku ingin memberikan kalung itu padanya. Akan tetapi, aku yang keburu kecewa dengan hadiah anniversary yang biasa-biasa saja dari Olivia itu membuatku urung memberikan kalung itu padanya dan aku malah memberikan kalung itu pada Claudia.
"Olivia, aku tahu kamu terluka dan aku mohon maaf atas semua yang telah kulakukan." ucapku, aku sungguh tak sanggup melihat luka dan kemarahan di matanya. "Maafkan aku atas surat cerai itu dan maafkan aku karena bertemu dengan Claudia."
Ruangan itu mendadak hening untuk beberapa saat.
"Aku perlu waktu dan juga ruang," ucap Olivia sambil beranjak dari tempat tidur. Aku tersentak. "Menjauhlah dariku, aku tidak ingin bertemu denganmu untuk saat ini." ujarnya lagi.
Setelah itu dia melangkah ke luar kamar, meninggalkan aku seorang diri.
Apa yang sudah aku lakukan? Aku menemui Claudia untuk mencari tahu bagaimana reaksi Olivia. Aku ingin melihat apakah dia benar-benar tidak mencintaiku. Apakah hubungan selama lima tahun ini sama sekali tidak berarti baginya.
Jika dia benar-benar tidak peduli, mengapa reaksi seperti itu? Tapi dia terlalu gengsi untuk sekedar menunjukkan perasaannya. Dia selalu berusaha menjaga harga dirinya sebab dia takut jika aku tidak mencintainya.
Selama bertahun-tahun, aku berusaha untuk membuat pernikahan kami berhasil, namun aku melihat Olivia tidak menunjukkan usaha yang sama. Aku hanya ingin memastikan semua itu pada hari ulang tahunku sebelum membuat keputusan.
Aku tidak siap untuk meninggalkan pernikahan yang sudah kami jalani selama bertahun-tahun ini. Aku berusaha menjadi suami yang baik dan berusaha untuk setia pada Olivia. Namun, tampaknya dia sama sekali tidak peduli akan hal itu.
Setelah Olivia meninggalkan kamar, aku juga pergi ke kamarku. Sejak berita perceraian itu, kami memang tidur terpisah karena dia mengatakan bahwa dia tidak bisa tidur bersamaku lagi.