NovelToon NovelToon
Sultan Desa

Sultan Desa

Status: tamat
Genre:Perjodohan / CEO / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:49.9k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​"Menikahlah dengannya, atau kamu pergi dari rumah ini tanpa membawa apa pun!"

​Tepat dua hari sebelum pernikahan adiknya, Aira dipaksa menikah dengan pria kusam dari ujung desa demi membuang sial. Dewa, pria yang hanya bermodalkan motor tua dan pakaian lusuh, menjadi suaminya dalam semalam.

​Aira sudah bersiap hidup melarat. Namun, saat ia mulai tulus mencintai sang suami di tengah kemiskinan, sebuah iring-iringan mobil mewah datang menjemput.

​Siapa sangka, pria yang dihina keluarganya sebagai fakir itu ternyata pemegang tahta tertinggi di kota ini. Saat topeng terbuka, mampukah Aira bertahan di dunia suaminya yang penuh intrik, atau justru ia yang akan berbalik meninggalkan kemewahan itu?

Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Sultan Desa.
By - Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Pagi itu, matahari merangkak naik dengan terik yang mulai menyengat kulit. Aira berdiri di dapur kecilnya, sibuk menata nasi putih hangat ke dalam kotak makan plastik yang warnanya sudah mulai kusam.

Di atas nasi itu, ia meletakkan dua potong tempe goreng dan tumis kangkung yang bumbunya ia ulek sendiri dengan penuh perasaan.

Meskipun kejadian menyakitkan di Hotel Grand Mahkota kemarin masih menyisakan perih di hatinya, Aira menolak untuk menyerah. Ia melihat Dewa sudah berangkat pagi-pagi sekali dengan pakaian proyeknya yang penuh noda semen, setidaknya itu yang dikatakan Dewa.

"Mas Dewa sudah berjuang sampai bekerja kasar di proyek bangunan. Aku tidak boleh membiarkannya kelaparan," gumam Aira.

Ia mengikat kotak bekal itu dengan kain bersih, lalu bergegas menuju lokasi proyek yang disebutkan Dewa kemarin, sebuah pembangunan gedung perkantoran di pusat kota.

Pusat Kota, 12.00 WIB.

Di saat yang bersamaan, sebuah mobil Bentley hitam dengan kaca gelap meluncur mulus memasuki lobi gedung pencakar langit Pradipta Tower. Dewa turun dari mobil itu, mengenakan setelan jas custom-made berwarna charcoal yang sangat pas di tubuh tegapnya.

Langkah kakinya terdengar mantap di atas lantai marmer, sementara puluhan karyawan membungkuk hormat saat ia lewat.

"Tuan Muda, rapat dengan investor dari Dubai akan dimulai sepuluh menit lagi," lapor Bara sambil berjalan cepat di sampingnya.

"Batalkan sementara. Aku butuh laporan mengenai akuisisi lahan di pinggiran kota kemarin," jawab Dewa dengan suara otoriter yang dingin.

Namun, langkah Dewa mendadak terhenti saat matanya menangkap siluet yang sangat familiar di seberang jalan, tepat di depan pagar proyek pembangunan gedung satelit milik perusahaannya.

Wanita itu mengenakan gamis sederhana berwarna biru muda dan jilbab instan. Ia berdiri dengan cemas sambil memegang bungkusan kain, matanya mencari-cari di antara para pekerja bangunan yang sedang beristirahat di bawah pohon.

"Aira?" bisik Dewa. Jantungnya berdegup kencang, kali ini bukan karena negosiasi bisnis, tapi karena ketakutan rahasianya akan terbongkar.

"Ada apa, Tuan Muda?" tanya Bara bingung.

"Bara! Lihat ke sana! Itu istriku!" Dewa menunjuk dengan panik. "Dia membawakan bekal! Dia mengira aku bekerja di proyek itu!"

Bara terbelalak. "Lalu kita harus bagaimana, Tuan?"

"Cari pakaian kerjaku yang kemarin! Sekarang! Dan suruh mandor proyek itu untuk tidak banyak tanya!" Dewa langsung berlari menuju pintu belakang gedung, diikuti Bara yang sibuk menelepon asisten lainnya.

Di toilet umum dekat area proyek, suasana berubah menjadi adegan film aksi. Dewa melepas jas mahalnya dengan kasar, melempar dasi sutranya ke arah Bara, dan dengan terburu-buru mengenakan kemeja kusam yang penuh bercak debu dan semen.

Ia bahkan mengusapkan sedikit debu konstruksi ke pipi dan lengannya agar terlihat meyakinkan.

"Jam tangan Anda, Tuan! Lepaskan!" bisik Bara.

"Sudah, cepat keluar! Dia menuju ke sini!"

Dewa berlari keluar dari area belakang, berpura-pura sedang mengelap keringat dengan handuk kecil yang tersampir di bahunya. Begitu ia melihat Aira, ia langsung melambaikan tangan dengan senyum yang dipaksakan.

"Aira! Kamu... kamu kenapa ke sini?" tanya Dewa sambil terengah-engah.

Wajah Aira seketika cerah. Ia berlari kecil mendekati suaminya, mengabaikan debu yang beterbangan. "Mas! Tadi aku masak tempe kesukaan Mas. Aku takut Mas telat makan siang, jadi aku bawakan ke sini."

Dewa menatap kotak bekal itu. Di tengah kemewahan ruang direksinya yang menyediakan makanan dari koki bintang lima, kotak makan plastik ini terasa jauh lebih berharga.

"Ayo makan di sana, Mas. Di bawah pohon itu sejuk," ajak Aira.

Mereka duduk di pinggir jalan, beralaskan rumput kering di bawah pohon pelindung. Dewa duduk bersila, sementara Aira dengan telaten membuka kotak bekalnya.

"Maaf ya Mas, lauknya cuma tempe. Tadi uangnya aku pakai buat beli obat memar karena tanganku kemarin agak sakit," ucap Aira lembut sambil menyuapkan nasi ke mulut Dewa.

Dewa mengunyah nasi dan tempe itu dengan khidmat. Rasanya jauh lebih nikmat daripada hidangan mahal mana pun yang pernah ia makan. Ia melihat peluh menetes di pelipis Aira. Istrinya ini berjalan jauh, di bawah terik matahari, hanya untuk memastikan perut suaminya terisi.

"Aira, harusnya kamu tidak perlu repot begini. Cuacanya panas sekali," ucap Dewa, tangannya terangkat untuk menyeka keringat di dahi Aira.

"Tidak apa-apa, Mas. Melihat Mas makan dengan lahap begini, capekku hilang semua," jawab Aira sambil tersenyum manis.

Mereka berbagi sebotol air mineral yang dibeli Aira di warung pinggir jalan. Dewa meminumnya perlahan, matanya tidak lepas dari wajah istrinya.

Di tengah kebisingan suara mesin bor dan klakson kendaraan, momen itu terasa sangat tenang bagi Dewa. Ia menyadari satu hal - Aira tetap mencintainya di saat titik terendahnya.

"Mas, kerja yang semangat ya. Tapi jangan terlalu memaksakan diri. Kalau capek, istirahat," pesan Aira sambil merapikan kotak makan yang sudah kosong.

"Iya, Sayang. Kamu juga, pulangnya hati-hati. Ini, pakai uang ini untuk naik angkot, jangan jalan kaki lagi," Dewa menyodorkan beberapa lembar uang sepuluh ribuan yang kumal, yang sengaja ia siapkan di saku pakaian kerjanya.

Saat Aira berdiri dan hendak berpamitan, embusan angin kencang bertiup, menerbangkan kain penutup kotak makan yang dipegang Aira. Kain itu tersangkut di lengan baju Dewa yang sedikit tersingkap karena ia sedang mengelap lehernya.

Aira membungkuk untuk mengambil kain itu, namun gerakannya mendadak terhenti. Matanya terpaku pada pergelangan tangan kiri Dewa.

Di sana, melingkar sebuah benda yang sangat kontras dengan pakaian kusam dan tangan Dewa yang penuh debu. Sebuah jam tangan pintar smartwatch dengan desain futuristik, layar safir yang berkilau tajam di bawah sinar matahari, dan tali titanium yang elegan.

Aira pernah melihat jam itu di majalah bisnis yang ada di katering kemarin. Itu adalah Patek Philippe Nautilus edisi terbatas yang harganya setara dengan sebuah rumah mewah di pusat kota.

"Mas..." suara Aira mendadak lirih.

Dewa membeku. Ia baru menyadari bahwa dalam keguguhannya berganti baju tadi, ia lupa melepas jam tangan yang terintegrasi dengan sistem keamanan perusahaannya itu.

"Ini... jam apa, Mas?" tanya Aira sambil menyentuh pergelangan tangan Dewa. "Kenapa... kenapa jam tangan ini terlihat sangat mahal? Dan... kenapa layarnya menampilkan grafik yang terus bergerak?"

Layar jam tangan itu memang sedang menyala, menampilkan notifikasi real-time tentang kenaikan saham Pradipta Group sebesar 5% dalam satu jam terakhir.

Dewa menelan ludah. Keringat dingin yang asli mulai mengucur di punggungnya. Ia menatap mata Aira yang kini dipenuhi keraguan dan rasa ingin tahu yang besar.

"Ini... ini cuma jam tangan mainan, Aira. Aku menemukannya di tempat sampah proyek tadi pagi," jawab Dewa dengan suara yang bergetar.

Aira tidak melepaskan pandangannya. "Mainan? Tapi Mas, jam ini terasa sangat berat. Dan lihat... ada namamu terukir kecil di bagian belakangnya. Dewa Arka Pradipta."

Jantung Dewa seolah berhenti berdetak. Rahasianya kini berada di ujung tanduk, tepat di bawah pohon di pinggir jalan yang berdebu.

...----------------...

To Be Continue ....

1
Rahmawati Amma
aku suka ceritanya ngak terlalu muter2 bagus thor 👍😍
Rahmawati Amma
iya kayanya 36 37 juga kayanya di ulang🤔😅
Estu Suet
memang g masuk akal seh,terlalu hiperbola kalimatnya
Estu Suet
ceo yang menyamar y, pura-pura miskin dan gembel 👍😍
Edy Kurnia
6 BAB hanya di habiskan oleh obrolan dewa & aira, sekali kali buk Widia.
rumah-kantor rumah-kantor rumah-kantor gtu² aja terus..
APA KABAR DENGAN ORANG² YANG MENGHINA DEWA & AIRA DULU.???
EMANG NYA GAK MAU BALAS DENDAM, KALO GAK MAU BALAS DENDAM YA TAMATIN AJA CERITA INI.
PARA PEMBACA TIDAK MAU TERUS²AN BACA YG ISINYA HANYA OBROLAN ITU² SAJA
Edy Kurnia
nulis ceritanya usahakan buat para pembaca nyaman bacanya Thor.
jangan bikin jengkel dengan alur ceritanya yg muter² di situ² aja.
memang nya per 3 bab hanya di isi oleh obrolan dewa dan Aira terus.
Edy Kurnia
mana balasan buat orang² yg dulu menghina mereka woooii.??
Edy Kurnia
mana pembalasan buat pak Surya dan Siska.??
cuma segitu doang Thor.?
Edy Kurnia
Naaah kalo ini baru top cer.
rahang mengeras, sorot mata tajam mengintimidasi nya di barengi dengan tindakan nyata.
Edy Kurnia
gak usah nyalahin musuh²nya.
dari awal Dewa nya sendiri yg cari penyakit.
CEO goblok ya dia.
Edy Kurnia
ini mah ceo goblok nama nya.
Edy Kurnia
alur ceritanya nii bikin bingung, selain gak nyambung juga muter² gak jelas.
kekonyolan dewa tidak menggambarkan sosok CEO cerdas, tegas, dan bertangan dingin seperti yg di gaung² kan dari awal.
Goblok iya.
Edy Kurnia
ceritanya bagus banget Thor mirip TAIK.
apa maksud nya "tinggal satu menit, kedatangan 10 mobil SUV" klo ujung²nya dewa belum buka identitas aslinya.
menuh²in halaman aja, gak nyambung banget.
Edy Kurnia
ekspresi kemarahan dewa jangan terlalu di ulang² Thor klo ending nya masih mau bersandiwara miskin.
bikin bosen bacanya + muak denger nya.
wajahnya gelap lah, rahangnya keras lah dan bla bla bla.
taik banget.
Rika
bagus
Rahmawati Amma
lah katanya dapat uang 50jeti kenapa ngak baikin kontrakannya 🤔😅
Rahmawati Amma
ceritanya masih baru jadi blm banyak yg baca sepertinya ceritanya bagus gaskun😁✌️
Hatijah Cantik
mungkin Aira bukan anak kandung
Hatijah Cantik
menarik
Hatijah Cantik
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!