Genre: Sistem, Fantasi Timur, Reinkarnasi, Fanfiction, Over Power 🔥🔥
Li Yao mati, lalu sistem memberinya lima tubuh sekaligus di dunia Shrouding the Heavens, kemudian pergi begitu saja. Dengan satu jiwa dan lima takdir, ia harus berkembang dalam diam dan menyatukan kelimanya saat menembus ranah Four Pole. Zona Terlarang, makhluk tertinggi, bahkan para Kaisar Agung? Mereka semua akan berlutut, karena seorang penguasa sejati telah lahir! Li Tiandi:
"Zaman dan Era telah berubah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RA.AM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11 — Di Balik Kabut Tanah Suci Yao Guang
Kabut pagi di Tanah Suci Yao Guang tidak pernah benar-benar pergi.
Ia datang bersama embun, menetap di sela-sela batu giok, merayap di antara pilar-pilar istana, dan menggantung di atas kolam teratai seperti tirai tipis yang tidak pernah bisa dihilangkan sepenuhnya. Energi spiritual di sini begitu kental hingga udara terasa berat saat dihirup, namun anehnya justru menenangkan—seperti berada di dalam rahim raksasa yang melindungi segala sesuatu di dalamnya.
Li Yao berjalan menyusuri koridor panjang menuju ruang kultivasi pribadi Li Daoqing.
Jubah putihnya berkibar lembut setiap kali angin menerpa dari celah-celah dinding. Kain hitam yang melilit matanya terasa sedikit longgar hari ini, namun ia tidak menyesuaikannya. Biarkan saja. Di tempat ini, di saat seperti ini, ia tidak perlu bersembunyi terlalu rapat.
Langit di atasnya masih gelap, namun ufuk timur mulai memerah. Burung-burung spiritual yang bertengger di atap-atap istana belum mulai bernyanyi. Semua masih diam, masih tertidur, kecuali dirinya dan beberapa tetua yang menjaga formasi di kejauhan.
Li Yao menekan daun pintu batu giok di ujung koridor.
Pintu itu terbuka tanpa suara, seolah terbuat dari air, bukan batu. Di dalamnya, ruangan yang luas namun terasa sempit karena kabut spiritual yang menggumpal di setiap sudut.
Li Daoqing sudah duduk di sana.
Penguasa Suci Yao Guang tidak terjaga karena kedatangan Li Yao. Ia tidak pernah tidur. Setidaknya, tidak dalam arti biasa. Bermeditasi selama berminggu-minggu adalah hal biasa bagi praktisi Saint Lord sepertinya.
Jubah putihnya terlipat rapi, rambut putihnya — meskipun usianya belum terlalu tua, beberapa helai rambutnya sudah memutih karena tekanan mengurus tanah suci — terurai di pundak. Matanya terpejam, dadanya naik turun perlahan mengikuti irama napas yang dalam dan teratur.
“Penguasa Suci,” sapa Li Yao dengan hormat.
Li Daoqing membuka matanya.
Tidak seperti kebanyakan kultivator puncak yang matanya menyala seperti bintang atau gelap seperti jurang, mata Li Daoqing justru teduh. Teduh seperti air danau di pagi hari. Namun siapa pun yang pernah berhadapan dengannya tahu bahwa keteduhan itu bisa berubah menjadi badai dalam sekejap.
“Kau datang lebih pagi dari biasanya,” kata Li Daoqing.
“Aku tidak bisa tidur.”
“Kultivator sejati tidak perlu tidur," kata Li Daoqing, setengah tersenyum.
“Aku belum menjadi kultivator sejati.” Li Yao menggelengkan kepala, rendah hati.
Li Daoqing tersenyum tipis. “Duduk.”
Li Yao duduk bersila di atas bantalan giok di hadapan Li Daoqing. Jarak antara mereka hanya sekitar tiga langkah, namun tekanan spiritual yang terpancar dari tubuh Li Daoqing terasa seperti gunung yang menjulang di hadapannya. Bukan tekanan yang menekan — lebih seperti kehadiran yang tidak bisa diabaikan.
“Kau sudah menembus Istana Dao,” kata Li Daoqing. Bukan pertanyaan. Nada bicaranya datar, tapi ada kebanggaan kecil yang berusaha disembunyikan.
Dua alam pertama sistem kultivasi Shrouding the Heavens memang sangat mudah, asalkan ada sumber daya yang cukup, praktisi bisa dengan cepat menerobos.
Sedangkan untuk Four Pole dan keatas, selain menyiapkan sumber daya, seorang praktisi juga harus memperdalam pemahaman Dao Agung!
Tetapi bagi seorang kultivator berbakat, apalagi berasal dari keluarga Kaisar atau Tanah Suci, jelas tidak kekurangan sumber daya batu sumber. Mereka sengaja memperkuat fondasi sebelum benar-benar dapat menerobos!
Li Daoqing tahu hanya dengan pandangan sekilas, fondasi Li Yao sangat kokoh bagaikan besi baja, dan sudah sangat stabil di ranah Istana Dao.
“Tiga hari yang lalu,” jawab Li Yao, masih dengan nada rendah hati.
“Aku tahu. Aku merasakannya dari fluktuasi energi di istana barat. Seluruh formasi di sayap barat bergetar selama tiga napas.” Li Daoqing menghela napas. “Para tetua mengira itu serangan dari luar. Aku harus menenangkan mereka selama setengah hari.”
“Maafkan aku.”
“Jangan minta maaf. Itu pertanda baik.” Li Daoqing menyandarkan punggungnya ke dinding batu giok di belakangnya. “Bagaimana Pupil Ganda-mu?”
“Masih belum stabil. Tapi…” Li Yao ragu sejenak. Ia sudah mempersiapkan kata-kata ini sejak lama. Namun saat di hadapan Li Daoqing — pria yang membesarkannya, yang memungutnya dari desa hancur ketika ia masih bayi — kebohongan terasa lebih berat dari biasanya.
yah tidak apa-apa, ini demi kebaikan kita semua!
Pikir Li Yao dalam hati, meyakinkan dirinya.
“Aku mulai melihat sesuatu,” lanjutnya. “Fragmen-fragmen kecil. Samar, tidak jelas. Seperti bayangan di balik tirai. Tapi cukup untuk mengetahui bahwa ada yang tidak beres di Yao Guang.”
Li Daoqing tidak langsung menjawab. Ia menatap Li Yao dengan mata yang teduh itu, membaca sesuatu di balik kain hitam yang menutupi mata anak angkatnya.
“Apa maksudmu?” tanyanya akhirnya.
“Pewaris Ruthless Emperor,” kata Li Yao. “Mereka akan bergerak suatu hari nanti.”
Keheningan.
Li Daoqing menghela napas panjang. Namun alih-alih terkejut, ia justru tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke matanya — penuh kepahitan yang sudah lama dipendam.
“Kau pikir aku tidak tahu?” katanya pelan. “Mereka sudah ada di Yao Guang sejak pertama tanah suci ini berdiri. Bahkan sebelum aku menjadi penguasa. Sebelum guruku menjadi penguasa. Sebelum guru dari guruku.”
Kali ini giliran Li Yao yang sedikit terkejut. Ia tidak menyangka Li Daoqing akan benar-benar mengungkap kan rahasia besar ini tanpa basa-basi.
Li Daoqing berdiri. Ia berjalan ke jendela yang tidak pernah tertutup, menghadap ke seluruh Yao Guang yang masih terselimuti kabut pagi. Puncak-puncak gunung di kejauhan tampak seperti pulau-pulau kecil di lautan putih.
“Dengarkan, Li Yao. Aku akan berterus terang padamu, karena kau sudah cukup dewasa untuk mendengar ini.” Lagi pula aku juga tidak bisa menyembunyikan ini dari matamu."
Suaranya berubah. Tidak lagi datar. Ada beban di setiap katanya, beban yang selama ini ia pikul sendirian.
“Yao Guang tidak bisa hidup tanpa mereka. Dan mereka tidak bisa hidup tanpa Yao Guang. Kami saling bergantung — seperti akar dan tanah, seperti air dan ikan. Kekuatan mereka telah menyatu dengan fondasi tanah suci ini selama ribuan tahun. Formasi-formasi kuno yang menjaga pegunungan ini — beberapa di antaranya hanya bisa dioperasikan oleh keturunan mereka. Senjata Kekaisaran Kuali Pola Naga yang diwariskan dari generasi ke generasi — memiliki hubungan kuat dan dapat merespons darah mereka.”
Ia berbalik menghadap Li Yao. Matanya yang teduh itu kini terlihat letih.
“Jika aku memisahkan mereka dengan paksa, jika aku mencoba menekan atau menghancurkan faksi mereka… Yao Guang akan hancur. Bukan kalah perang, tapi hancur dari dalam. Seperti pohon besar yang akarnya dipotong setengah.”
Li Yao mengangguk, mendengarkan secara seksama.
“Aku sudah berpikir ribuan kali,” lanjut Li Daoqing. “Mencari cara. Mencari celah. Berdiskusi dengan tetua-tetua yang kupercaya. Tapi setiap jalan yang kutemukan selalu berujung pada satu kesimpulan, jika mereka pergi, Yao Guang akan kehilangan separuh kekuatannya. Jika mereka mati, Yao Guang akan terkubur bersama mereka. Dan jika aku memaksa mereka tunduk… aku hanya akan menciptakan musuh di dalam tembok sendiri.”
Ia berjalan mendekat, lalu duduk kembali di bantalan gioknya. Kali ini jaraknya lebih dekat. Hanya satu langkah.
“Jadi, ketika kau bilang bahwa ‘mereka akan bergerak’… aku tidak terkejut. Karena aku sudah menduga itu beberapa tahun yang lalu. Sejak aku duduk di kursi ini. Aku hanya tidak tahu kapan, di mana, dan bagaimana cara menghadapinya tanpa menghancurkan Yao Guang bersama mereka.”
Li Yao menunduk. Ia bisa merasakan beban yang dipikul Li Daoqing — beban seorang pemimpin yang harus menjaga keseimbangan antara mempertahankan kekuatan dan menjaga moral, antara realita dan idealisme.
“Sekarang,” kata Li Daoqing, suaranya kembali tenang, “beritahu aku. Apa yang kau lihat dalam fragmen masa depanmu? Jangan sembunyikan apa pun.”
Li Yao mengangkat wajahnya. Kain hitam di matanya sedikit longgar, tapi ia tidak menyesuaikannya.
“Aku… sebenarnya tidak melihat terlalu jelas,” katanya jujur. “Hanya bayangan. Samar-samar. Seperti orang berjalan di belakang kabut tebal — aku bisa tahu mereka ada, tapi tidak bisa melihat wajah mereka."
“Tapi kau yakin mereka akan bergerak?”
“Aku yakin. Jika mereka bergerak pada saat itu, pasti akan berakibat buruk pada Yao Guang.”
Li Daoqing mengangguk perlahan. “Lalu apa yang harus dilakukan?”