NovelToon NovelToon
Gairah Suami Kakakku

Gairah Suami Kakakku

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / CEO / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

"Celah pintu itu hanya terbuka lima sentimeter. Namun, lima sentimeter itu cukup untuk menghancurkan pernikahan sepuluh tahun. Di dalam, lampu tidur berwarna jingga membingkai siluet dua tubuh yang saling membelit dengan penuh nafsu, acuh terhadap badai yang baru saja dimulai tepat di luar pintu kamar mereka."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Pesta di Balik Pintu yang Terbuka

Pesta di Balik Pintu yang Terbuka

​Malam perayaan anniversary ke-5 itu terasa seperti upacara kematian bagi harapanku. Rumah sudah didekorasi dengan bunga-bunga lili putih kesukaan Mbak Siska. Aroma masakan mewah tercium dari dapur, dan yang paling membuat hatiku perih: Gavin pulang membawa kotak perhiasan beludru biru tua.

​Setelah mendengar pengakuan Siska tentang perjodohan itu kemarin, Gavin seolah-olah berubah. Dia tidak lagi dingin, tapi justru menunjukkan perhatian yang berlebihan—seolah sedang menebus dosa karena sempat membiarkan pikirannya berkelana kepadaku.

​"Siska, ini untukmu. Terima kasih sudah bertahan bersamaku selama lima tahun ini," ucap Gavin lembut sambil memasangkan kalung berlian di leher Siska di ruang makan.

​Siska tersenyum, matanya berkaca-kaca. Dia melirikku yang sedang duduk mematung di sudut ruangan, lalu dia mengecup pipi Gavin dengan mesra. "Makasih, Mas. Aku sayang banget sama kamu."

​Gavin hanya mengangguk, lalu menoleh sekilas padaku. Tatapannya datar, seolah aku hanyalah bagian dari furnitur rumah. "Arum, kamu nggak keluar sama teman-temanmu? Ini malam perayaan kami, mungkin kamu butuh udara segar di luar."

​Pengusiran secara halus. Dadaku sesak. Dia benar-benar ingin aku menghilang malam ini.

​Di Kafe - Pukul 21.00

​Aku melarikan diri ke kafe biasa, berharap bisa sedikit tenang. Tapi ternyata, semesta memang sedang hobi menginjak-injak perasaanku. Di meja sudut, aku melihat Bella sedang tertawa manja sambil menyandarkan kepalanya di bahu Raka.

​"Aduh Raka, lu pinter banget sih jelasin materi ini. Gue jadi makin ngefans," puji Bella sambil mengerlingkan matanya.

​Raka tampak sedikit canggung tapi dia tersenyum. Saat dia melihatku masuk, senyumnya sedikit memudar, tapi Bella dengan cepat memegang tangan Raka, seolah memamerkan kalau sekarang Raka adalah miliknya.

​"Eh, Arum! Kok sendirian? Mas Gavin lagi 'pesta' ya sama istrinya?" celetuk Bella dengan nada yang sengaja dibuat manis tapi menusuk. "Tuh liat, Raka sekarang lebih dapet perhatian dari gue daripada lo yang galak mulu."

​Tiara yang duduk di sampingku cuma bisa menghela napas. "Sabar ya, Rum. Bella emang lagi masa subur kayaknya, lagi pengen nyakar cowok siapa aja."

​"Gue nggak peduli!" sahutku ketus, tapi di dalam hati aku merasa makin kesepian. Semua orang punya pasangan, semua orang bahagia, sementara aku hanya bayang-bayang di rumahku sendiri.

​Tengah Malam - Di Rumah

​Aku pulang saat rumah sudah gelap. Aku berjalan perlahan menaiki tangga, berniat langsung masuk kamar dan tidur selamanya. Namun, saat melewati depan kamar Gavin dan Siska, aku membeku.

​Pintunya tidak tertutup rapat. Ada celah kecil yang memperlihatkan cahaya lampu tidur yang temaram kemerahan. Dan dari dalam sana... terdengar suara yang membuat bulu kudukku berdiri.

​Suara desahan napas yang berat, suara kulit yang bergesekan, dan erangan pelan Mbak Siska.

​Rasa penasaran yang berdosa mendorongku untuk mendekat. Aku mengintip lewat celah itu. Jantungku serasa mau copot. Di atas ranjang besar itu, aku melihat Gavin—pria yang sangat kupuja—sedang berada di atas tubuh Siska.

​Gavin bertelanjang dada, otot-otot punggungnya yang kokoh bergerak-gerak di bawah cahaya lampu. Dia menciumi leher Siska dengan sangat liar, sangat berbeda dengan kelembutan yang kulihat tadi pagi. Tangannya yang besar merayap masuk ke dalam gaun tidur sutra Siska, meremas dadanya dengan penuh nafsu.

​"Mas... ahh... Mas Gavin..." rintih Siska.

​Aku melihat Gavin menunduk, bibirnya mengunci dada Siska, menyedot puncaknya dengan sangat kuat melalui kain tipis itu hingga Siska mendongak dengan mata terpejam. Gavin seolah-olah sedang melampiaskan seluruh rasa frustrasinya selama berminggu-minggu ini ke tubuh istrinya.

​Ciuman mereka beralih ke bibir. Gavin melumat bibir Siska dengan ganas, lidah mereka bertautan dalam irama yang memabukkan. Tangan Gavin turun, mengangkat kaki Siska untuk melingkar di pinggangnya.

​Tiba-tiba, saat Gavin sedang sibuk menciumi ceruk leher Siska, Siska membuka matanya. Dia menoleh ke arah pintu, tepat ke arah celah di mana aku berdiri mematung dengan air mata mengalir.

​Siska melihatku.

​Tapi bukannya kaget atau malu, Siska justru menarik kepala Gavin agar semakin dalam mencium dadanya. Dia menatapku lurus-lurus melalui celah pintu itu. Sudut bibirnya terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat jahat. Sebuah tatapan kemenangan yang seolah berkata: "Lihat, Arum. Dia milikku. Tubuhnya, nafsunya, dan statusnya adalah milikku. Kamu hanya penonton."

​Siska sengaja mengeluarkan desahan yang lebih keras. "Mas... lebih lagi... aku milikmu, Mas... seutuhnya..."

​Gavin yang tidak sadar ada aku di sana, semakin beringas. Dia menarik gaun tidur Siska hingga lepas, mengekspos seluruh tubuh istrinya. Tangannya menelusuri paha dalam Siska, memberikan sentuhan-sentuhan yang membuat Siska melenguh nikmat.

​Gavin memposisikan dirinya, dan dengan satu sentakan yang dalam, dia melakukan penyatuan itu. Aku bisa melihat otot punggung Gavin menegang hebat, keringat bercucuran di pelipisnya saat dia mulai bergerak dengan ritme yang cepat dan bertenaga. Suara derit ranjang dan napas mereka yang beradu memenuhi lorong sunyi itu.

​Siska terus menatapku dengan senyum licik itu di tengah-tengah percumbuan panas mereka. Dia menikmati setiap inci sentuhan Gavin, sekaligus menikmati kehancuran mentalku. Dia sengaja mencakar punggung Gavin, menariknya semakin erat agar aku bisa melihat betapa mereka saling memiliki secara fisik.

​Aku menutup mulutku dengan tangan, menahan isakan agar tidak pecah. Rasanya seperti jantungku dicabut paksa dari dadanya. Aku lari menuju kamarku, membanting pintu, dan jatuh merosot di balik pintu.

​Duniaku runtuh. Mbak Siska yang kukira malaikat ternyata tahu segalanya. Dia tahu obsesiku pada Gavin, dan malam ini dia memberikan pelajaran paling berdarah melalui percumbuan panas itu.

​"Dia sengaja..." bisikku di tengah tangis yang pecah. "Mbak Siska sengaja manasin gue..."

​Malam itu, suara desahan mereka masih terngiang-ngiang di telingaku. Aku menyadari satu hal yang mengerikan: Gavin mungkin pernah menginginkanku, tapi dia akan selalu kembali ke ranjang Siska. Dan Siska... dia tidak akan pernah melepaskan Gavin, bahkan jika dia harus menjadi iblis sekalipun.

​Rasa bersalahku pada Siska menguap seketika, berganti dengan kebencian yang mendalam. Kalau dia ingin bermain perang, maka aku akan memberikan perang yang sesungguhnya.

1
gendiz
aseek, makasih ya, Akhirnya Arumi ada yang mau kawal juga 😊
Moms Shinbi
q kawal sampai semua happy end thor
Moms Shinbi
cerita akhirnya siska end so pasti.psangn selingkuh happy dong..


jngan y thor
gendiz: hmmm belum tentu🤭, lihat bab selanjutnya, sudah up tapi belum lolos review nih kayaknya, jadi belum bisa terbit
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!