Satu komentar mengubah hidup Dr. Briella Zamora dalam semalam.
Berniat menghancurkan reputasi mantan kekasihnya, Lexington Valerio—Briella justru terjebak dalam skandal yang mengancam Dirinya Sendiri.
"Kau tahu apa yang paling lucu, Lex? Aku menghabiskan waktu untuk memperbaiki wajah orang lain agar terlihat sempurna, hanya agar aku bisa melupakan betapa hancurnya aku karena pria sepertimu."
"Rupanya waktu belum juga merubah kecerobohanmu, Briella Zamora."—Lexington Valerio.
Happy reading 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#7
Lampu kristal di lobi Zamora Beautiful Clinic berpijar lembut, namun suasananya terasa seperti medan perang yang baru saja usai.
Briella melangkah masuk dengan sisa-sisa amarah dari pengadilan yang masih mendidih di dadanya. Ia melemparkan tas kulit bermereknya ke atas meja resepsionis, mengabaikan tatapan penasaran para stafnya yang pasti sudah melihat berita "perceraian" khayalannya di media sosial.
"Dokter Briella!" asisten pribadinya, seorang perawat bernama Rina, berlari kecil menghampirinya dengan wajah pucat.
"Ada pasien yang... sangat mendesak. Beliau membayar biaya konsultasi lima kali lipat di muka hanya untuk bertemu langsung dengan Anda. Beliau menolak ditangani dokter spesialis lain dan sudah menunggu sejak pagi tadi."
Briella memijat pelipisnya. "Aku sedang tidak mood melakukan konsultasi operasi hidung atau filler hari ini, Rina."
"Tapi beliau bilang ini masalah... 'estetika keluarga' yang sangat mendesak, Dok," bisik Rina ragu.
Briella menghela napas panjang. Profesionalisme akhirnya menang. "Baiklah. Suruh dia masuk ke ruanganku dalam lima menit."
Setelah membasuh wajah dan mengenakan jas putih dokternya—yang entah kenapa selalu membuatnya merasa lebih kuat—Briella duduk di kursi kebesarannya.
Pintu terbuka, dan seorang wanita paruh baya dengan kacamata hitam besar, syal sutra Hermes, dan aura yang bisa membungkam satu ruangan penuh, melangkah masuk.
Briella terpaku. Jantungnya seolah merosot ke perut.
"Nyonya... Kimberly Valerio?"
Wanita itu melepas kacamata hitamnya, memperlihatkan mata tajam yang persis seperti milik Lexington, namun dengan binar yang jauh lebih sulit ditebak.
Kimberly tidak terlihat marah; ia justru terlihat seperti sedang bersiap menonton pertunjukan komedi.
"Halo, Dokter Cantik," sapa Kimberly dengan nada suara yang sengaja dibuat berat. Ia duduk di kursi pasien dengan gerakan dramatis, lalu tiba-tiba meletakkan tangannya di dada.
"Oh, astaga... dadaku sesak sekali. Aku merasa seperti akan pingsan setiap kali mengingat berita itu."
Briella langsung berdiri, panik. "Nyonya, apakah Anda butuh oksigen? Saya akan panggil perawat—"
"Tidak, tidak!" Kimberly menghalangi dengan tangan lentiknya, lalu tiba-tiba terbatuk-batuk kecil yang sangat dibuat-buat. "Kesehatanku menurun drastis sejak kau mengatai anakku macet di depan seluruh warga Los Angeles, Dr. Briella. Kau lah yang mulai... kau merusak reputasi aset paling berharga keluarga Valerio."
Briella terdiam, wajahnya memerah karena malu. "Nyonya, saya... saya benar-benar minta maaf. Itu hanya luapan emosi. Saya sedang mabuk dan—"
"Kau tahu?" Kimberly memotong, suaranya tiba-tiba berubah menjadi bisikan rahasia sambil mencondongkan tubuh ke arah meja Briella.
"Ucapanmu benar-benar membuatku tidak bisa tidur nyenyak. Sebagai ibunya, aku tahu genetik Valerio itu unggul. Daddy-nya Lexington saja... ah, lupakan. Tapi untuk Lexington? Aku selalu menganggap dia adalah karya seni yang paling proporsional."
Kimberly menatap Briella dengan tatapan menyelidiki yang jenaka. "Katakan padaku sejujurnya, Dokter Bedah. Kau yang sudah 'membedah' setiap inci tubuhnya selama bertahun-tahun... apakah benar ada gangguan sirkulasi di balik celana mahalnya putraku? Karena jika benar, aku harus segera membawanya ke spesialis urologi terbaik, bukan ke pengadilan!"
Briella merasa ingin tenggelam ke dalam lantai marmernya. Ia tahu Kimberly adalah wanita yang eksentrik, tapi ia tidak menyangka ibu mantan kekasihnya akan datang untuk membahas "aset" anaknya di klinik kecantikan.
Melihat Briella yang terpojok, Kimberly semakin gencar. Ia berakting mengusap air mata imajiner.
"Bayangkan hancurnya hatiku, Bri. Anak kebanggaanku, yang kuberi makan vitamin terbaik sejak bayi, tiba-tiba disebut 'kegagalan biologis'. Apakah dia sekecil itu? Seperti... sosis mini?"
"TIDAK! Tidak, Nyonya!" Briella berteriak refleks, tangannya bergerak sendiri di udara untuk memberikan visualisasi.
"Dia... dia normal! Sangat normal! Dia bahkan pernah periksa... maksudku, aku pernah memeriksa... ah, maksudku kami melakukannya sering sekali!"
Kimberly menahan senyum kemenangannya. "Sering? Tapi seberapa normal?"
Briella, yang sudah kehilangan akal sehat karena stres dan provokasi Kimberly, akhirnya meledak.
Ia memperagakan dengan kedua tangannya, merentangkannya cukup lebar di atas meja.
"Reaksinya sepanjang ini, Nyonya! Ya, sebesar ini! Sebesar tanganku kalau sedang merentang! Tidak ada yang macet, semuanya berfungsi dengan sangat... sangat Normal!"
Briella tersentak, menyadari apa yang baru saja ia katakan dan peragakan. Ia segera menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya membelalak horor.
Kimberly Valerio bersandar kembali ke kursinya, lalu meledak dalam tawa yang sangat renyah.
"Oh, syukurlah! Jadi tanganku tidak salah saat memilihkan genetik untuknya."
"Nyonya Kimberly... tolong lupakan apa yang saya katakan," rintih Briella, wajahnya sudah semerah tomat matang.
"Benar begitu?" tanya Kimberly lagi dengan nada menggoda. "Jadi, kalau dia sehebat itu, kenapa kau menceraikannya di pengadilan tadi? Dan kenapa kau berteriak seolah dia adalah monster?"
"Karena dia brengsek!" jawab Briella jujur. "Dia pria paling pintar di dunia, tapi dia tidak punya perasaan. Dia memperlakukanku seperti mesin yang rusak hanya karena aku sedikit ceroboh."
Kimberly mengangguk-angguk, wajahnya tiba-tiba berubah menjadi serius namun tetap hangat.
Ia mengulurkan tangan dan menggenggam tangan Briella yang masih gemetar. "Briella, dengar. Lexington itu, Dia kuat, dia cepat, tapi dia takut pada hal-hal yang tidak bisa ia kendalikan. Dan kau... kau adalah satu-satunya hal di dunia ini yang tidak bisa ia kendalikan."
Kimberly berdiri, merapikan syalnya. "Aku datang ke sini bukan untuk menuntutmu, Sayang. Aku datang karena aku merindukan calon menantuku yang paling berani. Dan setelah mendengar testimonimu tentang aset anakku tadi... aku yakin, kau masih sangat mencintainya."
"Saya membencinya, Nyonya," bisik Briella.
"Kebencian dan cinta itu hanya beda tipis, seperti garis jahat setelah operasi plastikmu," Kimberly mengedipkan mata.
"Simpan uang 600 juta itu untuk biaya bulan madu kalian nanti saat dia akhirnya berlutut memohon padamu. Aku akan memastikan dia tahu bahwa ibunya sudah mendapatkan 'data akurat' tentang kejantanannya darimu."
"Jangan katakan padanya!" teriak Briella panik saat Kimberly berjalan menuju pintu.
"Oh, aku tidak akan mengatakannya," Kimberly berbalik di ambang pintu dengan senyum misterius. "Aku hanya akan mengirimkan rekaman suara percakapan kita ini padanya. Ciao, Dokter Cantik!"
Kimberly keluar dengan langkah ringan, meninggalkan Briella yang jatuh terduduk di kursinya, menyadari bahwa ia baru saja dijebak oleh versi wanita dari Lexington Valerio yang jauh lebih berbahaya.
"MATILAH AKU!" teriak Briella sambil memukulkan kepalanya ke meja.
Sementara itu, di luar klinik, Kimberly masuk ke mobilnya dan langsung menghubungi seseorang.
"Lexington, Sayang? Kau harus dengar ini. Ternyata Dokter Zamora-mu itu masih sangat mengagumi ukuran milikmu, Nak. Kau harus melihat bagaimana dia memperagakannya dengan tangannya. Sangat... impresif."
Di ujung telepon, Lexington terdiam, namun napasnya terdengar berat. "Mommy... apa yang kau lakukan di kliniknya?"
"Menyelamatkan masa depan cucu-cucuku, tentu saja!" jawab Kimberly riang sambil mematikan sambungan telepon.
emosinya kaya nyata dapet banget.
sehat selalu yaaa, semoga hari kamu baik terus
Tuhan memberkati 😇😇😇