Di dunia kultivasi yang kejam dan tak berbelas kasih, takdir mengikat dua jiwa dari dunia yang sepenuhnya berbeda: Zeng Niu, seorang pemuda berdarah dingin dari kelas bawah yang mewarisi Dao Bencana dan Petir Hukuman Langit, serta Zhao Ying, putri dari Tiran Ketiadaan Surga Atas yang jatuh ke dunia fana dengan kultivasi yang tersegel.
Terdampar di Benua Selatan yang dipenuhi kabut dan kutukan, keduanya harus bertahan hidup dari buruan ahli Nascent Soul dari Suku Li Kuno. Perjalanan berdarah melintasi Hutan Seratus Ribu Gunung Siluman hingga ke gelapnya Kota Reruntuhan Tanpa Tuan memaksa Zeng Niu untuk terus mendobrak batas fisiknya demi menjadi perisai bagi sang dewi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Kolam Sumsum Es Kunlun
Perjalanan sejauh lima ratus batu ke arah barat laut memakan waktu dua hari penuh. Semakin jauh mereka meninggalkan Hutan Kabut Merah, pemandangan berubah drastis. Rimbunnya pepohonan merah berganti menjadi tebing-tebing batu kapur yang curam, diselimuti oleh lapisan es abadi.
Suhu udara anjlok drastis. Angin yang berhembus membawa butiran salju yang setajam pisau kecil, mengiris kulit siapa pun yang tidak memiliki Qi pelindung.
"A-A-Aduh... tulangku rasanya mau beku dan retak," Qian Fugui menggigil hebat, membungkus tubuh gemuknya dengan tiga lapis selimut bekas yang ia temukan di ranselnya. Hidungnya merah seperti tomat, meski fluktuasi energinya kini terasa lebih stabil. Berkat tumpukan pil penambah Qi dari cincin Pendeta Mayat, kutukan malas puluhan tahunnya akhirnya pecah, mendorong kultivasinya naik ke Pengumpulan Qi Tahap Puncak. "Niu-bro, apakah kita benar-benar harus pergi ke tempat sedingin neraka es ini? Daoist ini lebih suka berendam di air panas."
Bao Tu, yang berjalan di sebelahnya, mendengus bangga sambil membusungkan dada. "Itu karena kau kurang latihan tempur, Gendut Kuning! Lihatlah aku, otot dan Qi pelindungku ini sudah ditempa di medan perang perbatasan! Angin dingin ini hanya terasa seperti kipas angin bagiku!"
Pancaran aura Bao Tu memang terasa jauh lebih kokoh dari sebelumnya. Pertarungan hidup mati tanpa henti di perbatasan Benua Utara telah membantunya dan Xiaoyu menembus belenggu, membawa mereka berdua menginjak ranah Foundation Establishment Awal.
Fugui memelototi Bao Tu. "Lemak tetaplah lemak, Saudara Palu! Jangan mencoba menipu kultivator berpengalaman sepertiku walau kau sudah Foundation Establishment!"
Lin Xiaoyu yang berjalan di depan tiba-tiba mengangkat tangannya, memberikan isyarat agar mereka berhenti. Gadis berzirah biru itu baru saja kembali dari memantau jalur di depan menggunakan teknik Langkah Bayangan-nya.
"Kita sudah dekat," lapor Xiaoyu dengan suara pelan namun tegas. Wajahnya diselimuti kabut es tipis. "Di balik bukit es di depan kita, terletak Lembah Kunlun. Kolam Sumsum Es berada tepat di tengah lembah itu."
Xiaoyu menggambar peta kasar di atas salju menggunakan sarung pedangnya. "Tapi seperti dugaanku, tempat itu sudah dikepung. Ada tiga sekte menengah yang membentuk aliansi sementara untuk memonopoli kolam tersebut: Sekte Awan Besi, Lembah Angin Salju, dan Sekte Harimau Putih. Mereka membangun kemah di tiga sisi dan memasang Formasi Pengunci Es di pintu masuk utama."
"Berapa banyak penjaga, dan apa tingkat kultivasi tertinggi mereka?" tanya Zeng Niu tenang, matanya menatap lurus ke arah bukit es.
"Di pintu masuk, ada sekitar dua puluh murid pelataran luar tingkat Pengumpulan Qi Tahap 7-9. Namun, di dalam kemah utama, aku merasakan fluktuasi setidaknya tiga Tetua tingkat Foundation Establishment Tahap Menengah," jawab Xiaoyu. "Jika kita menyerang terang-terangan, kita akan memicu formasi peringatan dan dikepung oleh ratusan murid."
Bao Tu menelan ludah. "T-Tiga ahli Foundation Establishment Tahap Menengah? Niu, kau baru di Tahap 4 Pengumpulan Qi... Xiaoyu dan aku juga baru menginjak Foundation Establishment Awal. Yah, walau Si Gendut Kuning ini Pengumpulan Qi Puncak, menghadapi tiga Tetua tingkat menengah beserta ratusan murid... ini sedikit berlebihan bahkan untuk ukuran kegilaan kita."
Zeng Niu tidak menjawab. Ia melangkah maju menaiki gundukan salju, menatap lembah di bawah sana.
Dari kejauhan, terlihat sebuah kawah raksasa yang memancarkan cahaya putih susu. Kabut spiritual yang luar biasa pekat mengepul dari kawah tersebut, membawa energi Yin dan air yang sangat murni. Itulah Kolam Sumsum Es Kunlun, harta alam yang terbentuk dari tetesan esensi bumi selama ribuan tahun.
Zeng Niu memejamkan matanya, merasakan Dantian jahitannya berdenyut lapar.
"Energi di kolam itu luar biasa padat, Zeng Niu!" seru Lei Ling di dalam Lautan Kesadarannya. Roh petir itu tampak menjilat bibirnya. "Jika kau bisa berendam di pusatnya, aku berani jamin kau tidak hanya akan menembus Foundation Establishment lagi, tapi meridianmu akan sekuat baja spiritual! Kau harus merebutnya!"
Aku memang berniat merebutnya, balas Zeng Niu dingin.
Zeng Niu membuka matanya. Ia merogoh sabuknya, memastikan ikatan Bilah Penebas Tulang siap ditarik kapan saja.
"Kita tidak akan menyelinap," ucap Zeng Niu memecah keheningan, suaranya sedatar es di bawah kakinya.
Xiaoyu terkejut. "Kau mau menerobos masuk lewat gerbang depan?!"
"Benar," Zeng Niu menoleh pada Xiaoyu dan Bao Tu. "Jika kita menyelinap dan memicu formasi saat kita sudah berada di dalam kolam, itu akan menjadi jebakan maut. Tapi jika kita menghancurkan gerbang utama mereka, kita akan menarik semua Tetua itu keluar. Di ruang terbuka, pedangku tidak mengenal formasi."
Zeng Niu menatap Zhao Ying. Gadis bercadar itu mengangguk pelan, sepenuhnya percaya pada penilaian tempur Zeng Niu. Di Surga Atas, kekuatan mutlak selalu menghancurkan intrik rendahan.
"Bao Tu, Xiaoyu. Jika terjadi kekacauan, tugas kalian hanya satu: hancurkan bendera formasi di kiri dan kanan gerbang agar mereka tidak bisa mengurung kita," perintah Zeng Niu. "Fugui, kau bertugas mencari perlindungan. Gunakan cadangan Qi Puncak mu untuk melemparkan jimat apimu dari jarak jauh jika mereka mencoba mengepung."
"M-Melempar dari jauh? Tentu! Itu keahlian utamaku!" Fugui buru-buru menyetujui, lega karena tidak disuruh bertarung jarak dekat dengan para Tetua.
"Dan aku?" tanya Zhao Ying.
Zeng Niu menatap mata jernih gadis itu. "Kau tetap di dekatku. Begitu aku membelah jalan menuju kolam, kita berdua akan langsung melompat masuk. Aku akan menerobos fondasiku, dan kau akan menggunakan energi es murni itu untuk mengikis segel kutukan di nadimu."
Sebuah rencana yang sangat sederhana, kasar, dan murni mengandalkan kebrutalan. Khas seorang algojo.
Lembah Kunlun dijaga dengan sangat ketat. Di pintu masuk utama yang diapit dua tebing curam, sebuah gerbang kayu raksasa berlapis besi spiritual telah didirikan. Di atas gerbang, berkibar tiga bendera dari sekte aliansi.
Di depan gerbang, selusin murid berseragam abu-abu dari Sekte Awan Besi sedang berjaga sambil berdiang di dekat perapian arang.
"Cih, dingin sekali. Para Tetua enak-enakan menyerap energi kolam di dalam, sementara kita disuruh menjaga angin," keluh seorang murid bertubuh kurus.
"Bersabarlah, setelah para Tetua selesai, kita akan mendapat sisa-sisa air kolamnya. Itu cukup untuk menembus—"
TAP. TAP. TAP.
Suara langkah kaki yang stabil dan berat menghentikan percakapan mereka. Para penjaga langsung berdiri, meraih gagang pedang mereka, dan menatap ke arah celah tebing yang tertutup badai salju.
Dari balik tirai putih badai, melangkah keluar lima sosok manusia.
Berjalan paling depan adalah seorang pemuda berjubah hitam bersulam perak. Wajahnya datar seperti patung, namun ada sesuatu yang sangat salah dengan auranya. Meskipun fluktuasi Qi-nya hanya berada di Pengumpulan Qi Tahap 4, hawa membunuh yang dibawanya membuat badai salju di sekitarnya seolah menyingkir ketakutan.
Di punggungnya, tersampir sebuah pedang raksasa berwarna hitam kusam yang sangat mengerikan.
"Berhenti di sana!" teriak pemimpin penjaga, menghunus pedangnya dan mengarahkan ujungnya ke arah Zeng Niu. "Ini adalah wilayah terlarang Aliansi Tiga Sekte! Manusia fana dan kultivator liar dilarang masuk! Mundur, atau kami akan memenggal kepalamu!"
Zeng Niu tidak mempercepat langkahnya, tidak pula melambat. Ia hanya berjalan lurus, matanya menatap pemimpin penjaga itu layaknya menatap mayat.
"Aku datang untuk meminjam kolam itu," suara serak Zeng Niu menggema menembus desir angin. "Buka gerbangnya."
Para penjaga seketika tertawa meremehkan.
"Meminjam? Hahaha! Bocah Tahap 4 ini pasti otaknya sudah beku!" ejek pemimpin penjaga itu, wajahnya dipenuhi kesombongan khas sekte besar. "Kau ingin lewat? Silakan merangkak di bawah selangkanganku dulu—"
Kalimat itu tidak pernah selesai.
ZRAAAASH!
Tanpa ada yang sempat melihat kapan ia menarik pedangnya, sebuah bayangan hitam membelah udara. Zeng Niu tidak menggunakan Qi. Ia murni menggunakan kekuatan otot Tulang Besi Berkarat-nya untuk mengayunkan Bilah Penebas Tulang seberat seribu kati secara horizontal!
Gaya kinetik murni dari tebasan itu menciptakan ledakan angin yang luar biasa dahsyat.
Pemimpin penjaga itu tidak sempat menjerit. Tubuhnya, beserta pedang spiritual di tangannya, hancur terbelah menjadi dua bagian. Sisa gelombang angin dari tebasan itu bahkan mementalkan lima penjaga lain yang berdiri di dekatnya hingga menabrak gerbang besi dengan suara dentuman keras.
Darah segar menyembur, menodai salju putih di depan gerbang menjadi merah padam.
Sisa penjaga yang masih hidup langsung pucat pasi. Kesombongan mereka menguap dalam sekejap mata, digantikan oleh teror absolut. Pemuda Tahap 4 macam apa yang bisa membelah kultivator Tahap 9 seperti memotong rumput?!
"M-Musuh! Ada musuh menyerang!" jerit seorang penjaga panik.
"Xiaoyu! Bao Tu! Sekarang!" raung Zeng Niu.
Dari belakang Zeng Niu, Bao Tu melesat ke udara layaknya bola meriam emas. Niat Foundation Establishment Awal-nya meledak tanpa ragu, memancarkan tekanan yang membuat para penjaga tersungkur!
"PALU PENGHANCUR!"
BLAAAAAM!
Palu godam raksasa Bao Tu menghantam salah satu pilar batu penyangga bendera formasi di sisi kiri gerbang. Pilar itu hancur berkeping-keping, membuat pelindung transparan dari Formasi Pengunci Es seketika berkedip dan melemah.
Di sisi kanan, bayangan biru melesat dengan kecepatan kilat. Lin Xiaoyu bergerak seperti hantu pembunuh. Dengan kekuatan Foundation Establishment Awal-nya yang jauh melampaui para murid penjaga, pedang tipisnya menusuk tenggorokan tiga penjaga yang mencoba mengaktifkan alarm darurat dalam waktu kurang dari satu napas.
"Gila! Teman-temannya adalah ahli Foundation Establishment!" pekik para penjaga yang tersisa, berhamburan melarikan diri ke dalam gerbang.
Zeng Niu tidak berniat membiarkan pintu besi itu menghalanginya. Ia melompat maju, memegang gagang Bilah Penebas Tulang dengan kedua tangan, lalu menghantamkan bilah besarnya tepat ke tengah-tengah gerbang besi spiritual tersebut.
Zeng Niu mengalirkan setitik pemahaman Biji Dao-nya ke dalam pedang kutukan itu. Saat pedang bertemu dengan besi spiritual, struktur besi tersebut seolah "menghilang" selama sepersekian detik, dihancurkan oleh hukum ketiadaan.
KRAAAAABOOOOOM!
Gerbang raksasa setinggi tiga tombak itu meledak menjadi serpihan logam! Puing-puingnya berhamburan ke dalam lembah, menimpa puluhan tenda kemah murid-murid aliansi di baliknya. Dari kejauhan, Qian Fugui yang kini ditopang oleh Qi Tahap Puncak-nya, mulai melemparkan rentetan jimat api ke arah kemah-kemah yang masih berdiri, menambah kekacauan.
Zeng Niu mendarat di tengah-tengah puing yang berasap. Ia mengangkat pedangnya, ujungnya yang berlumuran darah menunjuk lurus ke arah Kolam Sumsum Es di tengah lembah.
"Aku bilang buka gerbangnya," gumam Zeng Niu dingin pada sisa-sisa penjaga yang gemetar hebat di tanah.
Kekacauan itu seketika membangunkan seluruh lembah. Ratusan murid dari Tiga Sekte berhamburan keluar dari tenda mereka, memegang senjata dengan wajah bingung dan marah.
"Siapa yang berani mencari mati di wilayah Aliansi?!"
Sebuah suara raungan yang diperkuat dengan Qi Foundation Establishment Tahap Menengah menggelegar dari arah tenda utama yang terbuat dari kulit beruang kutub.
Seorang pria paruh baya bertubuh kekar, mengenakan zirah abu-abu tebal dengan lambang palu besi di dadanya, melesat ke udara dan mendarat di depan Zeng Niu dengan suara berdebum keras. Ini adalah Tetua Kuang dari Sekte Awan Besi.
Tetua Kuang menatap puing-puing gerbang, lalu menatap Zeng Niu. Matanya dipenuhi amarah yang membara. Namun, saat ia memindai kultivasi Zeng Niu, ia mengerutkan alisnya karena bingung.
"Tahap 4? Seorang bocah ingusan di Tahap 4 menghancurkan gerbang aliansiku?!" geram Tetua Kuang. Tangannya mengumpulkan Qi murni, membentuk sebuah cakar beruang raksasa berwarna abu-abu yang memancarkan tekanan luar biasa berat. "Entah kau memakai artefak penyamar atau kau memang gila, kau harus membayar nyawa murid-muridku!"
Tetua Kuang tidak berbasa-basi. Ia langsung menerjang maju, mengayunkan Cakar Beruang Penghancur Gunung-nya lurus ke arah kepala Zeng Niu. Tekanan dari serangan ini cukup untuk meratakan sebuah rumah!
Bao Tu dan Xiaoyu yang berada di belakang berseru panik, menyadari bahwa lawan Zeng Niu kali ini berada satu tingkat di atas mereka berdua. "Niu! Menghindar! Itu ahli Foundation Establishment asli!"
Zeng Niu tidak mundur sejengkal pun. Mata gelapnya menatap cakar raksasa yang mendekat. Otot-otot di kedua lengannya menonjol hingga uratnya terlihat jelas, memaksakan potensi maksimal dari tubuh fisiknya.
"Zeng Niu! Gunakan petirku untuk merangsang meridianmu!" teriak Lei Ling dari dalam kepalanya.
Seberkas kilat ungu yang sangat tipis merambat dari Lautan Kesadaran Zeng Niu, mengalir ke otot tangannya tanpa keluar ke udara. Kilat itu memberikan ledakan adrenalin ekstrem.
Zeng Niu mengayunkan Bilah Penebas Tulang ke atas, menyambut cakar raksasa itu dalam benturan lansung!
DUAAAANG!
Benturan antara kekuatan fisik murni dan Qi tingkat menengah menghasilkan gelombang kejut yang meledakkan salju di sekitar mereka hingga membentuk kawah!
Kaki Zeng Niu amblas ke dalam tanah es sedalam mata kaki. Darah menetes dari sudut bibirnya karena Dantian jahitannya berontak menerima tekanan balik, namun pemuda itu tetap berdiri tegak, pedangnya tak bergeser sedikit pun menahan cakar tersebut!
Mata Tetua Kuang membelalak ngeri. Cakar beruangnya yang terbuat dari Qi padat... mulai retak berhadapan dengan pedang hitam kusam itu!
"Mustahil! Kekuatan monster macam apa ini?!" jerit Tetua Kuang, kesombongannya hancur berkeping-keping.
Zeng Niu menyeringai, sebuah senyum yang menjanjikan kematian. Ia memutar pedangnya, menggunakan berat senjata itu untuk menekan pertahanan lawan.
"Kau terlalu banyak omong, orang tua."
Zeng Niu mendorong pedangnya, memecahkan cakar Qi itu sepenuhnya, lalu menendang dada Tetua Kuang hingga pria itu terpental ke belakang.
Tanpa menunggu lawan bangkit, Zeng Niu menoleh ke arah Zhao Ying yang berdiri di belakangnya dengan tenang.
"Sekarang!" seru Zeng Niu.
Zhao Ying melesat maju, gaun sutranya berkibar di udara. Zeng Niu menangkap tangan gadis itu, lalu keduanya melompat melintasi medan pertempuran yang kacau, mengarah lurus menuju pusat kawah yang mengepulkan kabut putih.
"Hentikan mereka! Mereka mau masuk ke kolam!" raung Tetua Kuang yang memuntahkan darah, memerintahkan ratusan muridnya.
"Langkahi dulu mayatku!" Bao Tu berdiri tegak di depan kawah. Niat Foundation Establishment Awal-nya meledak liar saat ia menancapkan palu emas raksasanya ke tanah, menciptakan dinding pelindung bagi Zeng Niu. Di sampingnya, Lin Xiaoyu bersiap dengan pedang tipisnya, dan dari kejauhan, belasan jimat api Fugui mulai menghujani barisan murid sekte.
BYUR!
Zeng Niu dan Zhao Ying menembus kabut putih dan terjun langsung ke dalam Kolam Sumsum Es Kunlun. Air sedingin kematian seketika menyelimuti tubuh mereka, mengawali proses penempaan ulang Dantian Sang Algojo dan lepasnya kutukan Sang Dewi.