NovelToon NovelToon
The Blackstone: The Indentity Agent'S War

The Blackstone: The Indentity Agent'S War

Status: tamat
Genre:Action / Penyelamat / SPYxFAMILY / Tamat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Iris11

Ghea mengira masalah terbesarnya adalah menjaga resto kecilnya, Kedai Raos, tetap bertahan di kota yang tenang untuk membangun bisnis pertamanya. Sampai kerusuhan hebat dan pengalaman nyaris mati membawa orang asing misterius ke dalam hidupnya.

Ghani—yang dikenal di kalangan intelijen elit sebagai Sam—adalah pria yang pendiam dan memiliki ketelitian yang mematikan. Sebagai agen tingkat tinggi untuk organisasi rahasia Garda Biru, ia seharusnya hanya berlibur singkat untuk mengunjungi neneknya. Ia seharusnya tidak menyelamatkan seorang wanita yang tangguh dan mandiri dari kerumunan massa. Ia tentu saja seharusnya tidak tinggal.

Dirinya yang masuk ke dalam hidup Ghea, akankah menyeret Ghea ke dalam dunia bahayanya? Akankah Ghea bersedia menanggung bahaya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

POV Ghani

Aku baru saja melepas pelukan Ghina, adik kecilku yang manjanya tak pernah luntur oleh usia, ketika mobil SUV Radit berhenti tepat di depan gerbang rumah Nenek. Ghina baru saja tiba untuk berlibur, dan aku berjanji akan segera kembali setelah menyelesaikan urusan terakhirku di kota ini.

"Janji ya, Bang, sebentar saja?" suara Ghina masih terngiang saat aku melompat masuk ke mobil. Di dalam, Saga dan Akmal sudah menunggu dengan tawa yang pecah karena kelakar tentang pacar Rowa yang sedang tantrum. Kami berencana menghabiskan malam terakhirku dengan berkemah di Pantai Kreya sebelum aku kembali ke Jakarta.

Namun, tawa itu mendadak mati saat mobil kami mendekati bibir pantai.

"Ghan! Lihat itu! Itu mobil Ghea, kan?" Akmal berteriak sambil menunjuk sebuah mobil putih yang terparkir canggung di area sepi.

Jantungku mencelos. Aku melihat sosoknya—Ghea—sedang berlutut di atas pasir, memegangi dadanya seolah sedang dihujam ribuan jarum. Aku melompat keluar bahkan sebelum mobil berhenti sempurna. Aku berlari, menerjang pasir yang menghambat langkahku, hingga sampai di sampingnya.

"Ghea!"

Wajahnya pucat pasi, bibirnya mulai kehilangan warna. Ia merangkak, mencoba meraih sesuatu di bawah kursi penumpang. Inhaler. Aku segera menyambar benda biru itu.

"Ini, Ghe! Cepat!" teriakku kalap.

Namun, apa yang kulihat di matanya menghancurkanku lebih dalam dari apa pun. Ia menepis tanganku dengan sisa tenaga yang nyaris habis. Matanya yang mulai kehilangan fokus menatapku dengan kebencian mendalam. Kebencian yang tidak kupahami asalnya.

"Pe... r... gi..." desisnya parau, sebuah suara siulan yang menyiksa keluar dari tenggorokannya.

"Iya! Aku akan pergi setelah ini! Tapi kumohon, hirup ini!" Aku menjerit, air mataku pecah tanpa permisi.

"Pe... r... gi..." desisnya lagi.

Aku tak peduli. Aku tidak akan membiarkan maut membawanya hanya karena ia sedang marah padaku. Aku memaksanya menghirup obat itu, namun pshht... pshht... tak ada gunanya. Dadanya tetap kaku. Saluran napasnya telah mengunci rapat—*silent chest*.

Detik itu, duniaku runtuh. Ghea terkulai lemas di pelukanku. Kepalanya jatuh di bahuku dengan berat yang tak bernyawa. Bibirnya yang tadinya pucat kini berubah menjadi biru yang mengerikan.

"Tidak! Tidak! Ghea, bangun!"

Aku meraung, mengangkat tubuhnya yang terasa kedinginan ke kursi penumpang dan memasangkan sabuk pengamannya dengan tangan gemetar hebat. Aku melompat ke bangku pengemudi dan menginjak gas sedalam-dalamnya. Aku menyetir seperti orang kesetanan, menerjang lampu merah, membunyikan klakson panjang, dan memaki setiap kendaraan yang menghalangi jalan.

'Jangan sekarang, Tuhan. Jangan ambil dia. Dia napasku.'

Sesampainya di IGD, aku menggendongnya dan berlari menerobos pintu otomatis yang terbanting terbuka. "Dokter! Tolong! Inhaler tidak mempan! Dia tidak bisa napas!"

Aku membaringkannya di brankar. Seorang dokter segera datang, menempelkan stetoskop ke dada Ghea yang kini tak lagi bergerak naik-turun dengan normal. Monitor dipasang. *Tit-tit-tit-tit!* Angka detak jantungnya melonjak gila di angka 140, sementara saturasi oksigennya merosot ke 82%. Merah. Tanda Bahaya.

"Status Asthmaticus," gumam Dokter itu tajam. "Saluran napasnya sudah membengkak total dan tersumbat. Reseptornya tidak bisa menangkap uap lagi. Kita harus bertindak!"

Tirai hijau ditarik kasar—*srettt!*—memutuskan pandanganku darinya.

Aku terduduk di bangku ruang tunggu dengan kepala di antara kedua lutut. Akmal, Radit, dan Saga berdiri tak jauh dariku, menjaga dalam diam. Saat itulah, ponselku bergetar. Mike. Rekan bisnisku di Garda Biru.

"Halo," jawabku parau.

"Ghan, cutimu habis. Segera kembali. Ada klien di Meksiko, aliran dana ke Kartel Rusia. Hanya kamu yang bisa..."

Mendengar itu, sesuatu di dalam diriku meledak. "MEKSIKO? RUSIA? Kamu pikir aku robot, ha?!" teriakku hingga seluruh koridor IGD menatapku. "Aku baru saja menyelesaikan misi di Arab Saudi, Timor Leste, Philipina... dan sekarang kamu mau mengirimku ke neraka lagi saat nyawa wanitaku sedang di ujung tanduk?!"

"Ghan, ini demi keberlangsungan perusahaan..."

"Persetan dengan perusahaan! Kalau kamu tidak bisa menanganinya, aku keluar dari Garda Biru!"

Aku mematikan ponsel dan melemparnya ke kursi. Tanganku masih bergetar. Di titik ini, uang, karier, dan adrenalin yang selama ini kukejar hanyalah debu. Jika Ghea tidak bangun, duniaku tidak lagi punya arti untuk diperjuangkan.

Tiba-tiba, tirai tersingkap. Dokter keluar dengan keringat yang membanjiri pelipisnya. Aku langsung menyergapnya. "Dok, bagaimana Ghea?"

Dokter itu menatapku, menarik napas panjang. "Kondisinya tidak menunjukkan perbaikan setelah tiga kali nebulizer. Inhaler sudah tidak berguna. Saluran napasnya terlalu bengkak."

Ia memegang bahuku, menekan dengan mantap. "Nona Ghea mengalami kelelahan otot napas. Tubuhnya sudah terlalu capek untuk berjuang sendiri. Jika kita biarkan, dia akan berhenti bernapas sama sekali. Kita harus memindahkannya ke HCU sekarang. Kami akan memberikan obat dosis tinggi lewat jalur infus."

Aku melihat Ghea lewat di depanku di atas brankar yang didorong cepat. Masker oksigen besar menutupi wajahnya, berembun tebal oleh sisa-sisa napasnya yang berat. Matanya terpejam rapat, tangannya terkulai lemas di atas sprei putih. Warnanya kulitnya kelabu—warna yang paling kutakuti di dunia ini.

"Lakukan apa saja, Dok," bisikku, suaranya nyaris hilang di kerongkongan. "Tolong, berikan nyawaku padanya jika perlu. Lakukan apa saja."

Aku berdiri mematung di koridor yang terasa makin sempit. Ghea dibawa pergi menuju lift khusus, meninggalkanku dalam sunyi yang mencekam. Di pergelangan tanganku, gelang batu hitam pemberiannya terasa dingin, seolah ikut merasakan detak jantungku yang kian tak menentu.

Aku menyadari satu hal: Aku bisa mengalahkan musuh di seluruh pelosok dunia, tapi aku tak berdaya melawan sunyi di koridor rumah sakit ini. Di sinilah aku sekarang, sang agen yang bisa menghadapi mautku sendiri, kini hanya bisa merapalkan doa karena tak siap jika maut menjemput gadis itu.

1
Wawan
Satu iklan buat intelejen Rusa 💪👍
Iris Aiza: terima kasih 😍
total 1 replies
Wawan
Uhuuuuy... lope... sekuntum mawar terkirim buat Ghea 😍
Iris Aiza: terima kasih 🤭
total 1 replies
Wawan
Salam kenal "Sam" 😍
Iris Aiza: Terima kasih Kak /Smile/
total 1 replies
Mh_adian7
semangat terus kaka💪
Iris Aiza: Terima kasih ^_^
total 1 replies
T28J
hadiir kakk 👍
Iris Aiza: Terima kasih sudah menemani perjalanan Ghani dan Ghea sampai di sini Kak 🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!