NovelToon NovelToon
Dendam Diatas Materai

Dendam Diatas Materai

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:545
Nilai: 5
Nama Author: Senjani jingga

Gara-gara wine tumpah Aruna Wijaya harus menikah kontrak dengan seorang iblis berwajah tampan Devara Mahesa.

Tanda tangan kontrak diatas materai menjadi penanda Aruna resmi terjerat dalam pelukan hangat Devara yang mematikan dan penuh dendam rahasia.

Hingga Bayu datang, seorang dokter keluarga Wijaya yang menyimpan kenangan masa lalu kelam Aruna menawarkan kebebasan.

Apakah Aruna akan menerima tawaran Bayu lepas dari iblis?, ataukah akui dendam diatas materai itu sudah menjadi candu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DDM|26| First Kiss?

Aruna membulatkan matanya, Ia mendengar namanya di panggil Devara, namun lelaki itu masih terpejam, 'dialam bawah sadarnya, apakah dia begitu membenciku..?'-batin Aruna.

Aruna mendekat, nafas Devara tidak teratur. Ia memberanikan diri memegang dahi pria itu, terasa sangat panas. Aruna hanya menatap tanpa ekspresi.

Gadis itu beranjak dari duduknya, dan berjalan menuju pintu keluar, tangannya sudah memang knock pintu, namum Ia terlihat mematung sejenak. Ia tak membuka pintu Itu, tangannya mengepal keras. Gadis itu berbalik, menuju lemari mencari handuk kecil dan langsung membasahi dengan air.

Menempelkannya ke dahi Devara, "Kenapa kamu manggil aku dengan suara lembut, biasanya kamu manggil cuma buat nakutin aku Dev" Ucap Aruna kepada pria yang belum sadar itu.

Semalaman Aruna merawat Devara yang terbaring lemas dan tak sadarkan diri, suhu tubuhnya naik drastis, Aruna mengompresnya terus menerus hingga nampak sudah turun suhu badannya. Gadis itu tersenyum sekilas, menatap lelaki itu diranjang.

"Mami, jangan tinggalin Dev..."

Pria itu mengigau, air matanya meluncur di sudut matanya, tangannya meremas selimut dengan kencang, menyebut ibunya terus menerus. Aruna mendekat, Ia memegang punggung tangan Devara yang terasa dingin.

"Lihat tangan besarmu Dev, aku saja tak sanggup memegangnya. Sebenarnya kamu lemah kan, kenapa kamu sejahat itu sih kemarin" Gumam Aruna.

Tangan Aruna digenggam kencang oleh Devara tanpa sadar, gadis itu tertidur dengan duduk menyender di pinggir ranjang. Tangannya masih di genggam Devara.

Pria itu terbangun saat mendengar suara alarm dan punggung tangannya terasa berat. Matanya yang terasa berat terbuka, betapa terkejutnya saat melihat Aruna tidur diatas tangannya. Devara langsung menarik tangannya dengan cepat.

Aruna terbangun karena tarikan tangan Devara, gadis itu mengusap matanya yang terasa lengket. Gadis itu langsung menempelkan tangannya di dahi Devara. Pria itu langsung menyingkirkannya dengan cepat.

"Kenapa disini?" Tanya Devara dengan wajah bingung.

"Kenapa kamu tidak membiarkan saya m*ti saja?" Devara langsung memotong sebelum Aruna menjawab.

Aruna mengerutkan alisnya. Pria itu melepas paksa infus yang menempel ditangannya, lalu hendak beranjak dari tidurnya. Aruna dengan cepat melarangnya. "Kamu harus isti.."

Lagi-lagi Devara mendorong Aruna hingga terjatuh saat menahan Devara untuk bangun. Aruna tak marah, Ia bangkit dari duduknya. "Kalau kamu m*ti tidak ada lagi orang yang tertarik akan memb*nuhku dengan tangannya sendiri" Ucap Aruna yang berdiri didepan Devara.

Dia berhenti berjalan, Aruna seolah menjadi pagar yang tak bisa Ia lewati, Didepannya jantungnya seolah berdetak tak wajar mendengar ucapan dari gadis yang Ia benci itu, Ia benci merasakan degupan itu.

"Lantas, kapan aku bisa memb*nuhmu secepatnya?" Jawab Devara datar, suaranya menembus langsung kedalam gendang telinga Aruna membuat gadis itu sedikit merinding setelah mendengarnya.

"Eum... Bag....."

Devara mendorong Aruna ketembok tangannya menahan kepala, memiringkan wajahnya dan melahap bibir Aruna dengan cepat.

Aruna membulatkan matanya terkejut dengan serangan langsung itu. Dia langsung menggigit bibir Devara dengan cepat.

Devara mundur memberi jarak, bibir bawahnya berdarah, sedangkan Aruna menyender lemas ditembok dengan mata berkaca-kaca. "Kenapa Dev, katanya kamu mau memb*nuhku?" suaranya pelan.

Pandangan Aruna menuju bibir Devara yang berdarah karena ulahnya, pria itu segera mengusap bibirnya dengan punggung tangannya, gerakannya kasar sampai bekas darah itu terlihat di punggung tangannya.

"Lupain itu, anggap tidak terjadi apapun" Suaranya datar.

Dia diam menatap Devara, Pria itu langsung membuang pandangan dan berjalan menuju kamar mandi, terdengar suara pintu itu dibanting olehnya.

Aruna gemetar bukan karena takut, tapi karena marah, obat yang berhambur jatuh kelantai dan infus yang dibiarkan menjuntai sembarangan, bahkan ujung jarum infus itu masih membekas darah Devara yang mengering.

Dia berjalan pelan mengambil cangkir kosong dan Ia melemparkannya ke depan pintu kamar mandi.

BRAKK... Suara kran air berhenti..

Pintu kamar mandi terbuka, Devara membasahi wajahnya, air menetes dari rambutnya yang basah terkena air, dibiarkan begitu saja.

"Kenapa suruh ngelupain, bahkan aku udah gak bisa sabar kaya dulu lagi. Kali ini aku udah siap Dev, semua yang lo lakuin udah jadi memori yang gak terlupakan" Ujar Aruna, suaranya dibuat tinggi agar pria itu sadar, namun tampaknya Devara tak terlihat sadar.

Devara berjalan kearah jendela kaca, Ia mengambil handuk kecil dan mengusap kasar wajahnya dengan handuk tadi, matanya menatap keluar jendela.

"Sama kaya memori yang Wijaya lakuin ke ayah saya" Ujar pria itu datar.

"gak bisa saya lupain Run" Ucap Devara kembali. lalu membuang pandangan.

Aruna tersenyum pahit, Ia berjalan mendekat. "Apa ayahku sekejam itu..?"

" Gak ada celah maaf buat dia..?, bahkan dia lagi sekarat Dev" lanjut Aruna.

Devara memutar badannya, melihat Aruna didepannya. "Maaf..?" Ujar Devara sambil tertawa pelan namun matanya menatap serius.

"Ayah saya m*ti karena Wijaya Run.."

Aruna mundur satu langkah.

"Sampai kapanpun saya gak akan bisa maafin itu" suara Devara mulai meninggi, tatapannya membuat Aruna mundur beberapa langkah ke belakang.

Aruna meremas ujung dress-nya dengan keras. "Jadi... Nyawa harus dibalas nyawa kan, kenapa gak kamu ambil aja nyawaku sekarang supaya dendam itu selesai..?" Ucap Aruna lirih, Ia berhenti mundur.

Devara mencengkram kedua bahu Aruna dan mendekatkan wajahnya, sangat dekat hingga Aruna membuang wajahnya agar tak bersentuhan dengan pria itu. "Belum saatnya Run".

Kemarin sebelum pulang...

Setelah meeting, Devara kembali ke kamar untuk bersiap pulang. Namun, didalam kamar tersebut tidak ada siapapun, Ranjang yang kosong, kamar mandi juga kosong, balkon juga tidak ada.

"Ada apa pak?" Tanya Andre yang sedang berdiri didepan kamar.

"Kemana dia?" Ujar Devara datar, namun tangannya mengepal.

"Ke lobby Pak, katanya mau menghirup udara segar"

Devara tidak menjawab, Ia segera berjalan cepat menuju lift menuju lobby, didalam lift tentu saja pria itu tak bisa tenang. Ia mulai memejamkan mata sejenak, menghembuskan nafas kasar setelahnya.

Ting.. Lift terbuka.

Di lobby hotel tampak sepi, tak ada siapapun disana, bahkan Devara sudah berjalan kesana kemari Aruna tak ada. Devara menuju resepsionis dan bertanya.

"Perempuan yang memakai dress hitam ya pak?, dia menuju ke taman Pak" ujar resepsionis.

Devara berlari menuju taman yang dimaksut, langkahnya cepat. Taman hijau yang cukup asri, ada beberapa kursi besi disana, tak banyak orang, langkah Devara terhenti saat melihat Aruna duduk diam sambil menyenderkan tubuhnya di kursi itu, pandangannya menatap kebawah.

Devara berjalan perlahan mendekati gadis itu, "Aruna..." panggil Devara.

Aruna menengok, Ia tersenyum tipis, saat melihat Devara datang.

"Aku tidak akan kabur lagi seperti dulu" katanya.

"ikat rantai di tanganku supaya aku gak bisa jauh darimu Dev" ujar Aruna saat Devara mulai berjalan dekat dengan dirinya sambil menjulurkan tangannya.

Devara duduk disamping gadis itu, rahangnya terkunci. Ia merogoh kantongnya untuk mengambil rokok. Saat hendak menyalakan lighter-nya, Aruna merebut rokok tersebut dan mematahkannya.

"Jangan hindari pertanyaan ku!" Ujar Aruna, tangannya masih memegang rokok yang Ia patahkan, manik matanya menatap Devara.

Devara langsung melirik Aruna, mata mereka bertemu satu detik, detik setelahnya Devara mengantongi lighter-nya sambil menyilangkan kaki, pandangannya mengitari taman.

"Pergi lah yang jauh" kata Devara datar, "Kalau saya bisa menemukanmu, berarti kamu jadi milik saya selamanya" lanjutnya.

Aruna kembali menatap wajah Devara, gadis itu masih belum mampu membaca raut wajahnya. Apa yang pria itu ucapkan Aruna tak mengerti, Aruna mengalihkan pandangannya kembali, Ia memainkan kakinya diatas rumput hijau itu.

"Milikmu selamanya...?" Aruna mengulangi pernyataan Devara.

Setelah ucapan itu, suasana menjadi hening. Mereka larut dalam pikiran masing-masing, sayup-sayup angin yang bertiup lembut membuat rambut Aruna sedikit berantakan, Devara melihatnya, tangannya hendak meraih rambut yang menutupi mata Aruna, sebelum sampai Ia sudah mengepalkan tangannya kembali dan memasukkannya kedalam saku celana.

"Pulang ke penthouse atau mau pergi, terserah.." Ujar Devara beralih dari duduknya tanpa melihat kearah Aruna sedikit pun.

Dia menaikkan alisnya, saat dalam kebingungan Aruna teringat perkataan Marisa, 'buat lelaki itu jatuh cinta denganmu dan tinggalkan.'

Dia berdiri, menatap punggung Devara dan berjalan dibelakannya serta tersenyum tipis.

1
andra screet love
lanjut trus 🙏🙏🙏💪💪
senjani jingga: siap😁
total 1 replies
pєkαᴰᴼᴺᴳ
semagat kk💪
senjani jingga: iya makasih, kamu juga semangat💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!