Guntur Abimanyu, seorang CEO muda yang hampir berumur 30 tahun dipaksa untuk menikah tapi tidak ingin menikah.
"JIKA AKU MENIKAH HANYA UNTUK MENGHASILKAN ANAK, AKU BISA LAKUKAN SEKALI TEMBAK KEPADA WANITA MANAPUN! JADI TIDAK PERLU MENIKAH" serunya kepada kakek serta ayah ibunya.
Rustam sang kakek yang memegang kendali perusahaan ingin cucu laki laki satu satunya ini segera menikah. Begitupun Randi dan Ela, orang tua Guntur juga ingin segera menikahkan putra sulungnya itu.
"Baiklah kalau begitu, buktikan kemampuan menembak benihmu kepada wanita yang kakek dan orang tuamu pilih" ucap sang kakek.
"OKE SIAPA TAKUT!!" seru Guntur menerima tantangan.
Tapi ternyata takdir berkata lain, setelah kesepakatan ini dibuat, Guntur bertemu dengan wanita yang meninggalkannya dengan cinta terdalam.
Jadi siapa yang menang dalam taruhan keluarga ini? Apakah wanita yang kembali datang atau wanita yang dipilihkan kakek serta orang tuanya, mampu membuat Guntur membuktikan keperkasaannya? Baca novel ini dan dukung terus yaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SariRani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEJUTAN PLUS KEJUTAN
Sesampainya di Batam, Ratih langsung pulang ke rumah sedangkan Gina ke perusahaan untuk mengurus dealing dengan PT Sulawesi Bersama.
Dirumah, Ratih muntah muntah dan membuat tubuhnya lemas.
"Begini ya rasanya hamil" lirihnya setelah keluar kamar mandi untuk kesekian kalinya.
Melihat jam sudah menunjukkan 7 malam, Ratih heran kenapa Gina belum pulang.
Ting tong..bel rumah berbunyi.
"Sepertinya bukan Gina, karena jika dirinya tidak mungkin menekan bel" ucapnya pada diri sendiri.
Ratih pun berjalan menuju pintu dan membukannya. Dirinya terpaku saat melihat seseorang didepannya.
"Mas..Mas Guntur.." lirihnya kaget.
Pria yang sengaja memberikan kejutan pada kekasihnya itu malah tersenyum lebar sambil membawa boquet bunga yang indah.
"Hai sayang..congratulations untuk kelar misinya" sapa Guntur.
Mata Ratih berkaca kaca melihat kedatangan Guntur. Tapi seperkian detik dirinya langsung panik dengan aturan Rustam yang tidak memperbolehkan mereka berdua bertemu sebelum misi selesai.
"Mas, kamu kok bisa kesini? Gimana kalau kakek tau?" tanyanya dengan raut wajah khawatir.
Guntur tersenyum.
"Sebelum aku menjawab, apakah aku tidak dipersilahkan untuk masuk kedalam?" pancingnya membuat Ratih gelagapan.
"Oh iya, masuk mas. Gina belum pulang, mungkin lembut di kantor" sahut Ratih lalu masuk dan mempersilahkan Guntur masuk juga.
Suasana sedikit canggung dari 2 sejoli yang sekitar 22 hari ini tidak bertemu.
Grep.
Guntur langsung memeluk Ratih dari belakang saat sudah masuk rumah.
"Aku sangat merindukanmu, sayang. Kakek bilang aku harus segera membawamu ke rumah untuk pernikahan kita. Restu kita sudah didapat. Terima kasih sudah berjuang menyelesaikan misi dari kakek" ucap pria itu.
Restu masih diam, membuat Guntur heran dan melepaskan pelukannya.
Sang kekasih terlihat tidak bahagia dengan kejutan akan kedatangannya.
"Kamu gak seneng ya aku tiba tiba datang kesini?" tanya Guntur mencari jawaban.
Ratih langsung menggeleng.
Perutnya kembali mual.
"Nggak, nggak kok Mas..hanya saja aku.." belum juga selesai berbicara, dirinya buru buru ke kamar mandi memuntahkan isi perutnya meskipun hanya air.
Guntur kaget dan mengejar Ratih kedalam.
Hoeek..hoeeek..
Suara Ratih muntah membuat Guntur panik.
"Sayang...kamu sakit? Buka pintunya" minta Guntur saat pintu kamar mandi dikunci.
"Hmm..Mas kamu tunggu dulu di ruang tamu..aku gapapa, hanya mual aja" sahut Ratih dengan suara dipaksa keras.
"Buka pintunya sayang..aku gak mau kenapa napa" ucap Guntur.
Hoeek..hoeek..
Ratih kembali memutahkan isi perutnya.
Tak lama kemudian, ceklek, pintu kamar mandi terbuka.
Wajah Ratih terlihat pucat membuat Guntur semakin khawatir.
"Kamu gapapa? Ayo ke rumah sakit" ajaknya dan Ratih menolak.
"Aku gapapa, Mas. Beneran, hanya saja ini memang gejala awal kehamilan" spontan jawaban wanita itu membuat Guntur terdiam sesaat.
"Hah? Awal kehamilan? Ka..kamu hamil?" tanyanya.
Ratih mengangguk. Ya rencana kasih kejutannya jadi datar begini karena situasi yang serba mendadak.
Daripada saat dirinya kenapa napa nanti, Ratih disalahkan jika tidak memberitau secepatnya. Apalagu kondisinya terkesan lemah.
Raut wajah Guntur yang tadinya khwatir kini langsung sumringah.
"YES!!! BERHASIL!! SEKALI TEMBAK JADI ANAK!!" serunya bahagia.
"Hust mas, jangan teriak teriak udah malam" tegur Ratih.
Grep.
"Makasih sayaaang..makasihh" ucap Guntur dengan rasa bahagianya.
"Kamu harus nikahi aku segera karena aku gak mau anak ini mendapatkan hinaan dari luar" sahut Ratih dengan lirih.
"Beres! Kamu mau ke Jakarta sekarang? Ayo" ajak Guntur.
"Ya gak sekarang juga, Mas. Tubuhku lemes banget, harus istirahat juga" tolak Ratih.
Guntur baru sadar posisi mereka masih di depan kamar mandi sambil berdiri lagi.
Ia pun membawa Ratih ke ruang tengah dan duduk di sofa.
Lalu Guntur memegang perut sang kekasih.
"Sayang..daddi udah disini nih..setelah ini daddi selalu bareng kamu sama mammi ya" ucapnya membuat Ratih geli sendiri.
Belum apa apa udah ada nama panggilan daddi mammi.
"Mas, kamu mau nikahin aku di Karawang sebagai Abi?" tanya Ratih.
"Hmm sepertinya iya. Keluargamu terutama ayah dan kakak laki lakimu masih mengkhawatirkan secara finansial. Takutnya mereka akan memanfaatkan kita" jawab Guntur.
"Lebih tepatnya sih memanfaatkan kamu, Mas" ralat Ratih.
Guntur hanya tersenyum tipis.
"Bagaimana dengan ibu dan ayahmu? Apakah mereka setuju dengan hubungan kita?" tanya Ratih.
"Ya harus setuju. Toh kakek sudah setuju dan merestui. Malah cepet cepet nyuruh kita nikah" jawab Guntur.
Raut wajah Ratih mendadak sendu saat mengingat calon ibu mertuanya tidak menyukainya.
"Jangan pikirkan soal mami. Mami akan menerima kamu cepat atau lambat, apalagi kamu bakal kasih cucu buat dia" ucap Guntur bisa membaca isi hati sang kekasih.
"Mas, gak tau sih 3 tahun lalu, aku ninggalin kamu gara gara ibumu yang menyuruhku pergi" batin Ratih yang tak terucap karena tidak ingin membuat masalah antara ibu dan anak.
"Pokoknya, aku selalu dipihakmu. Kamu sabar dan mami akan luluh" lanjut pria itu memberikan ketenangan.
Tapi Ratih menduga tidak akan semudah itu, namun tidak ingin membuat Guntur mengkhawatirkannya.
Mereka kembali berpelukan hingga tidak sadar sudah ada seseorang yang masuk rumah.
"Eheem eheeem.." deheman Gina dibuat selirih mungkin.
Ratih dan Guntur melepaskan pelukan dan menoleh kearah sumber suara.
"Selamat datang, Mas Guntur" sapa Gina.
"Halo, Gina. Aku sangat berterima kasih kamu sudah membantu calon istriku untuk menyelesaikan misi dari kakek ya" sahut Guntur.
"Sama sama. Bukan masalah besar dan lagipula aku mendapatkan rewardnya juga untuk pergi ke Jakarta" ujar Gina.
"Wah kamu dipromosikan masuk ke Abimanyu group ya?" tanya Guntur karena kesepakatan ini dibuat oleh sang kakek.
"Betul, Mas. Aku akan bekerja dibawah kepemimpinan mu di sana" jawab Gina.
"Mantap. Aku rasa kemampuanmu semakin terasah disini" puji Guntur.
"Benar sekali, Mas. Gina sangat berpotensi dalam memasarkan produk kami. Keahlian marketing serta perencanaannya sungguh detail" tambah Ratih.
"Waduh helm ku tidak muat kalau kalian puji begini" sahut Gina.
Ketiganya pun tertawa.
"Yaudah, aku masuk kamar dulu ya. Kalian bisa habiskan waktu berdua pokoknya gak berisik atau sampai gedor gedor dinding" sindir Gina membuat Ratih tersipu malu.
"Hahhaa aman saja. Aku tidak akan menyentuh calon istriku sebelum kita sah menikah" sahut Guntur.
"Tidak disentuh tapi udah ada isinya tuh" serang Gina dengan kedipan menggoda.
Lagi lagi Ratih yang malu sedangkan Guntur menerimanya sebagai candaan. Maklum dirinya dan Gina sudah dekat sejak remaja karena pekerjaan lalu hubungan mereka terasa seperti adik kakak, tidak ada hal romantis diantara mereka.
"Ya maksudku, cukup sekali aja aku menyentuhnya tapi langsung jadi, ya rejeki ya meskipun salah juga caranya. Aku akan berusaha memperbaiki dan menebus dosa dengan mempertanggung jawabkan semua" ucap Guntur.
Puk!
Ratih makin malu dan menepuk lengan Guntur.
"Hahahaha frontal sekali kamu, Mas. Ya ya ya, pokoknya semoga hubungan kalian segera sah dan halal ya" sahut Gina lalu izin untuk masuk ke kamar.
Ratih pun mengajak Guntur ke kamarnya.