Di puncak tertinggi Sembilan Ranah, Yu Fan adalah legenda—seorang Master Tingkat 9 yang menyentuh ranah kedewaan. Namun, kepercayaan adalah pedang bermata dua; ia dikhianati oleh sahabat masa kecilnya dan dibuang ke Dunia Fana dalam keadaan hancur.
Setelah 50.000 tahun tersegel dalam kegelapan yang sunyi, Yu Fan terbangun di dunia yang telah berubah total. Kekuatannya sirna, ingatannya terkikis, namun api amarah di jiwanya tetap membara. Di dunia baru ini, sang pengkhianat dipuja sebagai Dewi Kebajikan, dan sekte yang membantainya telah menjadi penguasa tunggal yang paling disegani.
Mengenakan jubah hitam dan memikul kutukan energi Yin yang dingin, Yu Fan harus memulai kembali perjalanannya dari titik terendah. Di antara kepingan ingatan yang hilang dan dunia yang penuh kebohongan, Sang Ashura akan bangkit kembali—bukan untuk menjadi pahlawan, melainkan untuk menghancurkan langit yang telah memuarakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fandy syahputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Seribu Langkah Menuju Langit
Langit di dalam dimensi ujian tidak berwarna biru.
Ia berwarna perak—bukan perak logam yang dingin dan mati, melainkan perak yang berpendar dari dalam, seperti kulit mutiara yang sangat besar yang dibentangkan menjadi langit-langit dunia. Di bawahnya, cahaya yang turun tidak menghasilkan bayangan yang jelas, melainkan cahaya yang merata ke segala sudut tanpa sumber yang bisa ditunjuk, menciptakan suasana yang terasa seperti berada di dalam lukisan yang belum selesai—dunia yang nyata secara fisik namun belum diputuskan sepenuhnya oleh penciptanya.
Ribuan peserta berdiri di lapangan batu hitam yang membentang seluas beberapa li, tubuh-tubuh mereka berjejer dalam keheningan yang dipaksakan oleh rasa takut yang belum sepenuhnya disadari sebagai rasa takut. Sebagian besar dari mereka masih menyimpan ekspresi percaya diri dari pertarungan-pertarungan kecil yang membawa mereka ke titik ini—ekspresi yang akan sangat berubah dalam beberapa jam ke depan.
Di depan mereka semua, berdiri Seribu Anak Tangga Langit.
Tangga itu—jika kata "tangga" cukup untuk menggambarkannya—adalah sesuatu yang pertama kali dilihat manusia tidak langsung dipahami sebagai tangga. Yang pertama kali tertangkap oleh mata adalah lebar: ia membentang dari ujung kiri ke ujung kanan lapangan sepenuhnya, tidak meninggalkan celah di kanan atau kiri yang bisa dilalui tanpa menaikinya. Yang kedua tertangkap adalah warna: batu hitam dengan kilap rendah yang menyerap cahaya perak di sekelilingnya, bukan memantulkannya, seolah tangga itu adalah benda yang ada sebelum dimensi ini ada dan tidak butuh cahaya dimensi ini untuk diakui keberadaannya. Dan yang ketiga—yang paling terakhir disadari namun paling lama dirasakan setelahnya—adalah aura yang memancar dari setiap anak tangganya. Bukan panas, bukan dingin, tidak bisa diidentifikasi sebagai Yin atau Yang. Hanya berat. Berat yang terasa bukan di badan, melainkan di tempat yang lebih dalam dari badan.
Puncaknya tidak terlihat. Awan perak yang tebal menelan bagian atas tangga itu setelah beberapa ratus anak tangga, dan dari dalam awan itu, tidak ada cahaya, tidak ada suara, tidak ada petunjuk tentang apa yang ada di sana kecuali sebuah aura yang sangat samar—sedingin bintang yang padam dan setua langit yang belum pernah tidur.
"Sambut ujian pertama kalian."
Suara itu tidak datang dari manusia mana pun. Ia muncul dari udara di sekitar seekor rubah berekor tiga yang melayang enam kaki di atas kepala kerumunan—tubuhnya setengah transparan, bulu-bulunya berwarna emas pucat, dan ketiga ekornya bergerak perlahan seperti ganggang di bawah air. Binatang roh tingkat tinggi, penjaga dimensi ini yang telah melakukan hal yang sama selama waktu yang tidak perlu diukur dengan satuan yang dimengerti manusia.
"Tujuh hari. Satu tujuan: puncak. Aturannya sederhana." Rubah itu tidak membuka mulutnya—suara keluar langsung dari udara di sekelilingnya. "Dilarang membunuh. Dilarang menggunakan pil terlarang. Dilarang berbuat curang. Gerbang ini merekam setiap detak jantung dan niat kalian." Ketiga ekornya berhenti bergerak bersamaan. "Mereka yang kehilangan kesadaran akan dipindahkan keluar. Tidak ada pengecualian. Tidak ada belas kasihan. Dimensi ini tidak mengenal keduanya."
Rubah itu menghilang ke dalam kabut perak seperti asap yang dihembus angin.
Satu detik keheningan.
Lalu ribuan kaki mulai bergerak sekaligus.
Yu Fan berdiri di barisan paling awal yang bergerak, namun tidak yang paling tergesa. Ia menarik napas satu kali yang sangat panjang—cara yang sudah menjadi kebiasaan dalam satu bulan terakhir setiap kali ia hendak melakukan sesuatu yang membutuhkan semua fokusnya—lalu menatap anak tangga pertama di depannya.
Ia melangkah.
Anak tangga pertama terasa biasa. Beratnya normal, permukaannya datar dan kokoh, tidak ada yang mengindikasikan apa pun. Anak tangga kedua, sama. Ketiga, sama. Yu Fan tidak mengendurkan kewaspadaannya.
Di anak tangga kesepuluh, sesuatu berubah.
Bukan secara dramatis—tidak ada suara, tidak ada cahaya, tidak ada perubahan yang terlihat di udara sekitar. Hanya sebuah penambahan berat di bahunya yang tiba-tiba ada di sana, seolah seseorang meletakkan sesuatu di atas bahunya tanpa meminta izin. Bukan berat fisik—tidak ada benda di sana jika ia memeriksa dengan mata. Namun beban itu sangat nyata, dan sumbernya bukan dari luar melainkan dari dalam—gravitasi yang bekerja pada energi spiritual di dalam tubuh, bukan pada massa fisiknya.
Di sekelilingnya, peserta lain mulai merasakan hal yang sama. Seorang pemuda berbadan besar dari kerajaan tetangga yang tadi melangkah dengan sangat percaya diri kini berjalan condong ke depan, bahunya terangkat, alis berkerut. Seorang gadis bertubuh kecil di barisan kanannya sudah berkeringat di anak tangga ketujuh belas.
"Tekanan ini..." bisik seseorang di belakang Yu Fan. "Setiap langkah terasa seperti berat badanku bertambah dua kali lipat!"
Dua kali lipat, pikir Yu Fan. Di anak tangga kesepuluh. Apa yang menunggu di anak tangga keseratus?
Ia mengalirkan Qi dengan sangat tipis ke permukaan kulitnya—lapisan yang paling ekonomis yang bisa ia ciptakan, cukup untuk meredam tekanan tanpa menguras cadangan yang ia butuhkan untuk jarak yang masih sangat panjang di depan. Di dalam kepalanya, ia menghitung: tujuh hari, seribu anak tangga, dengan asumsi tekanan meningkat secara konsisten. Ia harus mengukur pengeluaran energinya seakurat mungkin.
Di anak tangga keseratus, pemandangan di belakangnya sudah berubah drastis.
Lebih dari sepertiga peserta telah tersungkur atau terduduk. Beberapa pingsan dan menghilang—diteleportasi keluar oleh sistem dimensi dengan cara yang tidak dramatik, tubuh mereka hanya menjadi semakin transparan selama tiga detik sebelum lenyap sepenuhnya. Darah mengalir dari lubang hidung beberapa peserta yang memaksa diri melewati batas—tekanan internal yang melebihi kemampuan meridian mereka untuk menampung akibat mereka terlalu memaksakan Qi tanpa teknik yang tepat.
Yu Fan tidak menoleh ke belakang. Ia terus melangkah.
Di sekitar anak tangga ke-tiga ratus, ia mulai memperhatikan enam sosok lain yang bergerak dengan cara yang berbeda dari kerumunan.
Yang pertama bergerak paling depan di antara enam itu—seorang pria dengan tubuh yang terbuat dari proporsi yang sempurna untuk bertarung, tidak terlalu besar hingga lamban, tidak terlalu kecil hingga kurang kekuatan. Jubahnya abu-abu dengan satu garis merah gelap di tepinya. Rambutnya pendek dan tidak rapi dengan cara yang terlihat sengaja, dan di punggungnya tersandang sebuah pedang yang bilahnya lebih lebar dari pedang biasa—hampir setengah lebar dari panjangnya, dengan permukaan gelap yang tidak memantulkan cahaya. Murid Sekte Pedang Iblis. Saat ia melangkah, setiap langkah kakinya tidak meninggalkan suara sama sekali—bukan karena ringan, melainkan karena ia mengontrol setiap kontak antara telapak kakinya dan batu tangga dengan presisi yang menunjukkan seseorang yang sudah sangat terlatih.
Mo Han, nama itu mengalir masuk ke dalam kesadarannya entah dari mana—mungkin dari percakapan-percakapan kecil di aula pendaftaran yang tidak ia sadari terekam.
Yang kedua adalah seorang biksu muda dengan tubuh yang jauh lebih kekar dari yang seharusnya untuk seseorang dengan penampilan biarawan. Jubahnya abu-abu tua dengan tepi kuning pucat—warna Sekte Buddha. Kepalanya dicukur bersih, dan di telapak kedua tangannya terdapat tattoo bulat berwarna emas yang bersinar sangat tipis—segel kultivasi yang ditanamkan langsung ke dalam kulit, sebuah praktik yang hanya dilakukan oleh Sekte Buddha untuk mengunci kekuatan di dalam tubuh secara permanen. Ia melangkah dengan cara yang paling lambat di antara enam itu, namun posturnya paling sempurna—setiap langkah membagi berat tubuhnya secara merata, setiap tarikan napasnya terukur dan ritmis seperti irama yang sudah lama dihafal. Fa Hai.
Yang ketiga adalah seorang wanita—atau lebih tepatnya, sosok yang bergerak dengan kesadaran penuh bahwa setiap gerakannya dilihat orang. Pakaiannya dari sutra tipis berwarna merah muda dengan lapisan transparan di atasnya, dan cara ia bergerak di atas anak tangga—bahkan dalam kondisi tekanan yang semakin berat ini—tetap mempertahankan satu kualitas tertentu yang sulit didefinisikan namun sangat mudah dirasakan: ia bergerak seperti seseorang yang tahu bahwa ruangan tidak selesai sebelum ia hadir di dalamnya. Sekte Penggoda. Mei Er—rambutnya diikat setengah ke atas dengan jepit berbentuk kupu-kupu merah, dan senyumnya yang samar tidak pernah benar-benar hilang dari wajahnya bahkan di saat ia berkeringat.
Yang keempat adalah seorang pemuda yang bergerak sangat berbeda dari yang lain—tidak dalam garis lurus, melainkan dalam zigzag kecil yang tidak acak, memotong sudut-sudut tangga yang membuat setiap langkahnya sedikit lebih efisien dari yang terlihat. Pakaiannya sederhana dan tidak mencolok dengan sengaja—abu-abu netral tanpa lambang yang terlihat dari luar, namun Yu Fan yang memperhatikan dengan saksama melihat beberapa kantong kecil tersembunyi di sabuk, lengan, dan bagian belakang kerah jubahnya. Sekte Pencuri. Xiao Feng—rambut cokelatnya dibiarkan acak, dan matanya selalu bergerak satu atau dua detik lebih awal dari yang lain, memindai medan sebelum kakinya sampai di sana.
Yang kelima—Yu Fan melihatnya dan sesuatu di dalam dirinya memperhatikan dengan cara yang berbeda dari keempat lainnya.
Seorang pemuda bertubuh tinggi dengan jubah biru tua bergaris emas tipis—warna murid Sekte Pedang Ilahi, sama dengan yang diajarkan Jin Taixu. Namun cara ia bergerak jauh lebih agresif dari gaya Sekte Pedang Ilahi yang biasanya mengutamakan aliran dan kelembutan. Bahunya sedikit condong ke depan, langkahnya berat dan menancap—gaya seseorang yang selalu bergerak seolah sedang menuju pertarungan, bukan sedang berjalan biasa. Pedangnya bergagang hitam dengan batu rubi kecil di ujungnya. Wajahnya dengan dahi yang tinggi dan mata yang sangat tajam memancarkan intensitas yang tidak pernah turun. Li Wei—murid berbakat dari kerajaan yang berbeda, bukan perwakilan sekte besar namun cukup kuat untuk berdiri di barisan yang sama.
Dan yang keenam—
Jubah putih. Tidak ada warna lain. Dari ujung kepala hingga ujung kaki, putih yang begitu konsisten hingga terlihat seperti prinsip yang diwujudkan menjadi pakaian, bukan sekadar pilihan estetika. Mahkota teratai perak kecil di atas rambut hitam yang disisir sangat rapi ke belakang, diikat dengan tali putih. Kulitnya sangat pucat dengan cara yang terlihat seperti bukan hasil kekurangan cahaya matahari melainkan hasil dari disiplin yang sangat panjang—seperti seseorang yang selama bertahun-tahun memurnikan dirinya hingga bahkan warnanya sendiri ikut bersih.
Lin Xueru.
Wajahnya cantik dengan cara yang tidak mengundang—bukan karena tidak menarik, justru sebaliknya, melainkan karena setiap garis di wajahnya tersusun dengan cara yang membuat orang merasa perlu menjaga jarak sebelum mendekatinya, seperti benda berharga di balik kaca museum. Alisnya lurus dan sedikit lebih tebal dari yang biasa diasosiasikan dengan kelembutan, matanya berwarna biru sangat pucat hampir seperti es—warna yang sangat tidak biasa bahkan di dunia kultivasi—dan cara ia melangkah di atas anak tangga ini, bahkan dengan tekanan yang semakin berat, tidak pernah kehilangan kualitas tertentu yang hanya bisa disebut sebagai keteraturan yang tidak bisa diganggu gugat.
Yu Fan menoleh ke depan lagi.
Tiga hari di dalam dimensi ini.
Tidak ada matahari yang terbit atau tenggelam untuk menandai waktu—hanya kelelahan tubuh yang menjadi satu-satunya jam yang bisa dipercaya. Di anak tangga ke-lima ratus, langkah-langkah yang tadinya berbeda kecepatan mulai menyatu ke kecepatan yang sama: sangat lambat.
Yu Fan berhenti. Bukan karena tidak bisa melanjutkan, melainkan karena ia merasakan batas dari sesuatu yang berbeda dari sekadar kelelahan fisik. Tekanan di anak tangga ke-lima ratus bukan lagi hanya berat fisik—ia sudah berevolusi menjadi sesuatu yang menyerang meridian secara langsung, mencoba memaksa Qi di dalam tubuh berputar ke arah yang berlawanan dari arah yang seharusnya. Jika dibiarkan berlanjut sendiri-sendiri, meridian seseorang yang tidak cukup kuat akan retak dari dalam.
Di sekelilingnya, enam sosok lain juga berhenti. Untuk pertama kalinya sejak tiga hari ini, mereka berdiri cukup dekat satu sama lain untuk berbicara tanpa berteriak.
Lin Xueru yang berbicara pertama.
"Jika kita terus berjalan sendiri-sendiri," ucapnya—suaranya tenang namun tidak dingin, dengan kualitas seorang pemimpin yang tidak membutuhkan volume untuk didengar, "tidak akan ada satu pun dari kita yang mencapai puncak sebelum hari ketujuh. Meridian kita akan retak sebelum anak tangga ke-tujuh ratus." Ia menatap masing-masing dari enam orang lain itu bergantian, matanya biru pucat dan sangat langsung. "Aturan melarang kecurangan. Mereka tidak melarang kerja sama."
Mo Han dari Sekte Pedang Iblis menyilangkan tangannya di depan dada. Dari dekat, Yu Fan bisa melihat bahwa tato di pipinya adalah segel berbentuk mata yang memancar sangat redup—segel yang terhubung langsung ke pedang di punggungnya, membuatnya dan senjatanya menjadi satu entitas. "Masuk akal," ucapnya singkat. Bukan persetujuan yang hangat, tapi persetujuan.
Mei Er memiringkan kepalanya, senyumnya yang tidak pernah hilang sedikit melebar. "Ah, jika gadis cantik dari Teratai Putih yang meminta, bagaimana mungkin aku menolak?" Nada suaranya ringan, namun Yu Fan yang memperhatikan melihat bahwa tangannya sudah dalam posisi siap membentuk formasi bahkan sebelum pertanyaan itu selesai—seseorang yang memutuskan dengan cepat di balik ekspresi yang dibuat tampak lambat.
Fa Hai mengatupkan kedua tangannya, tattoo emas di telapaknya berpendar tipis. "Amitabha. Menolong satu sama lain adalah jalan kebajikan. Tubuh ini bersedia menjadi perisai."
Xiao Feng mengangkat satu bahu. "Aku masuk."
Li Wei tidak berkata apa-apa, hanya mengangguk satu kali dengan ekspresi yang tidak berubah. Tapi posturnya sedikit bergeser—dari condong ke depan siap menyerang, menjadi sedikit lebih tegak. Persetujuan yang ditunjukkan oleh tubuh bukan oleh kata.
Yu Fan menatap Lin Xueru. Matanya bertemu dengan matanya untuk pertama kalinya dari jarak yang benar-benar dekat—dua meter, cukup dekat untuk melihat detail yang tidak terlihat dari jauh. Untuk sepersekian detik, sesuatu di dalam dadanya bergerak dengan cara yang tidak ia mengerti, tidak mengidentifikasi, dan tidak ia beri ruang untuk berkembang. Ia mengangguk. "Seutas benang mudah putus. Seribu benang bisa mengikat naga."
Formasi yang mereka bangun bukan sesuatu yang pernah ada dalam buku teks sekte mana pun—ia lahir dari kebutuhan dan disesuaikan dalam tiga puluh menit pertama dengan cara yang menunjukkan bahwa semua orang di kelompok ini, apapun latar belakang mereka, adalah pemikir yang cepat dalam situasi tekanan.
Fa Hai berdiri di paling depan. Tubuhnya yang kekar seperti dibangun untuk fungsi ini—ia membentangkan kedua tangannya, tattoo emas di telapaknya menyala penuh dan menghasilkan aura emas yang memancar ke depan seperti tameng berbentuk setengah lingkaran. Teknik Tubuh Emas Buddha—kultivasinya yang bertumpu pada pemurnian fisik menjadikan tubuhnya sendiri sebagai senjata pertahanan terkuat, dan di sini ia menggunakan itu untuk membelah tekanan dimensi di depan mereka, menciptakan jalur yang sedikit lebih ringan bagi yang berjalan di belakangnya.
Mo Han berdiri di sisi kiri formasi. Dari sarung pedangnya—yang ia tidak pernah cabut—ia mengalirkan energi gelap yang terkonsentrasi menjadi lapisan pelindung di sisi kiri kelompok. Pedang yang tidak dicabut dari sarungnya yang mengeluarkan energi adalah teknik langka bahkan di Sekte Pedang Iblis—menunjukkan seseorang yang sudah menyatukan jiwa dan senjatanya hingga tidak perlu memperlihatkan bilah untuk menggunakannya. Lapisan pelindung itu berwarna hitam dengan tepi merah gelap, berputar perlahan seperti air di atas permukaan horizontal.
Li Wei mengambil posisi sisi kanan. Dari jemarinya, ia mengeluarkan energi pedang yang ia bentuk bukan menjadi serangan melainkan menjadi senar-senar vertikal yang bergetar—senar-senar itu mendeteksi perubahan tekanan dari samping kanan dan memberikan peringatan dini kepada kelompok tentang lonjakan tekanan yang datang sebelum dirasakan secara fisik. Teknik deteksi yang menggunakan energi pedang sebagai antenna—bukan sesuatu yang ada dalam kurikulum resmi Sekte Pedang Ilahi, ini adalah inovasi seseorang yang sudah melampaui kurikulum.
Mei Er dan Xiao Feng berada di tengah-tengah formasi. Mei Er mengalirkan Qi-nya ke dalam satu lingkaran besar yang menghubungkan tubuh semua orang—bukan dengan tali energi yang kaku, melainkan dengan sesuatu yang lebih mirip getaran, seperti harmoni di antara tujuh alat musik yang berbeda yang menyesuaikan diri satu sama lain secara otomatis. Teknik Resonansi Jiwa dari Sekte Penggoda—yang biasanya digunakan untuk hal-hal yang berbeda dari ini, namun prinsip dasarnya adalah menyelaraskan frekuensi energi antara beberapa entitas, dan di sini ia menggunakannya untuk memastikan ketika satu orang melemah, yang lain merasakan dan mengompensasi secara otomatis. Xiao Feng di sampingnya sibuk melakukan sesuatu dengan jari-jari tangannya yang bergerak sangat cepat—membentuk formasi kecil-kecil dari benda-benda yang ia keluarkan dari kantong-kantong tersembunyinya, meletakkannya di anak tangga dengan posisi yang sangat presisi. Yu Fan tidak bisa mengidentifikasi apa yang dilakukannya, namun efeknya terasa: titik-titik di bawah kaki mereka yang seharusnya paling berat tekanannya menjadi sedikit lebih ringan.
Lin Xueru berdiri di belakang Fa Hai, posisinya di pusat formasi. Dari posisi itu, ia melakukan sesuatu yang tidak segera terlihat jelas—ia mengeluarkan sebatang benda tipis panjang dari balik jubahnya, sebuah instrumen musik berbentuk seruling dari jade putih, dan ia meniupnya sangat pelan. Suara yang keluar hampir tidak terdengar di bawah kebisingan angin dimensi dan napas-napas berat tujuh orang. Namun suara itu—Yu Fan merasakannya bukan di telinganya melainkan di meridiannya, seperti getaran yang masuk langsung ke dalam jaringan energinya dan merapikan distribusi Qi yang mulai tidak teratur. Kultivasi Suara Teratai—teknik langka Sekte Teratai Putih yang menggunakan resonansi suara untuk menyelaraskan dan memurnikan aliran energi internal. Dalam kondisi normal, ini adalah teknik kultivasi solo. Lin Xueru menggunakannya untuk menyeimbangkan enam orang lain sekaligus.
Yu Fan berdiri di posisi paling belakang formasi—bukan karena paling lemah, melainkan karena tekanan paling keras di anak tangga bukan dari depan melainkan dari belakang. Saat mereka maju ke atas, ada arus balik dari bawah yang mencoba menarik mereka turun, dan arus balik itu semakin kuat semakin tinggi mereka berada. Dari posisi belakang, ia mengalirkan energi Yin-nya—bukan dalam bentuk serangan, bukan dalam bentuk perisai, melainkan dalam bentuk jangkar. Setiap kali salah seorang anggota kelompok mulai terdorong ke belakang oleh arus balik, aliran tipis energinya yang menyambung ke mereka semua melalui resonansi Mei Er memberikan hambatan yang stabil—tidak melawan arus, melainkan memberikan titik referensi yang stabil untuk mereka pegang.
Seperti tali di tengah badai yang tidak menghentikan angin, namun memberi sesuatu untuk dipegang.
Hari kelima. Anak tangga ke-tujuh ratus.
Di sini, tekanan dimensi sudah berevolusi untuk ketiga kalinya. Bukan lagi hanya berat gravitasi, bukan lagi hanya serangan meridian. Di anak tangga ke-tujuh ratus, tekanannya masuk ke kepala—menyerang konsentrasi, memancing ingatan yang paling menyakitkan, menciptakan ilusi kelelahan yang melebihi kelelahan fisik yang sesungguhnya.
Langkah Lin Xueru goyah untuk pertama kalinya.
Bukan karena fisiknya yang melemah—posturnya masih hampir sempurna. Namun sesuatu di matanya untuk sepersekian detik kehilangan fokusnya, dan dalam kondisi tekanan sebesar ini, sepersekian detik cukup untuk membuat keseimbangan fisik ikut terganggu. Kakinya tergelincir setengah anak tangga ke bawah.
Tangan Yu Fan menangkap lengannya.
Bukan dengan buru-buru atau panik—ia sudah merasakan perubahan dalam resonansi Mei Er tiga detik sebelum ini terjadi, dan dalam tiga detik itu ia sudah memindahkan posisi tangannya ke tempat yang tepat. Telapak tangannya menutup di sekitar lengan atas Lin Xueru, menopang dengan tekanan yang cukup tanpa mencengkeram.
Lin Xueru memulihkan posisinya dalam dua detik. Ia tidak menoleh ke Yu Fan. Namun jemari tangan satunya yang bebas—selama dua atau tiga detik sebelum ia melepaskan diri—mencengkeram lengan bajunya sedikit lebih erat dari yang diperlukan secara teknis.
Yu Fan melepaskannya saat ia sudah stabil. Tidak ada yang berkomentar. Mereka terus melangkah.
Namun Mei Er, dari posisinya di tengah formasi, melirik ke samping dengan senyum yang sedikit berbeda dari senyum-senyumnya yang lain—lebih kecil, lebih dalam, seperti seseorang yang mencatat sesuatu di dalam benaknya tanpa berniat menyebutkannya keras-keras.
Hari ketujuh. Subuh—atau apa yang terasa seperti subuh, karena langit perak di sini tidak berubah.
Anak tangga ke-sembilan ratus sembilan puluh sembilan.
Satu anak tangga lagi.
Tujuh sosok itu berdiri di batas antara yang sudah dilewati dan yang tersisa, tubuh-tubuh mereka menanggung tujuh hari tekanan yang tidak pernah berhenti. Jubah putih Lin Xueru—yang di hari pertama tampak seperti tidak mungkin bisa bernoda—sekarang memiliki pinggiran yang sedikit kusam, dan rambut yang tadinya sempurna kini memiliki beberapa helai yang jatuh ke dahi. Fa Hai yang di awal berdiri paling tegak kini bernafas dengan cara yang terdengar seperti seseorang yang mengangkat sesuatu yang berat sambil berlari. Mo Han, yang tidak pernah berbicara selama tujuh hari ini, kini memegang sisi dadanya dengan cara yang menunjukkan bahwa ada sesuatu di dalam yang tidak nyaman—bukan luka yang serius, namun cukup untuk dirasakan di setiap napas. Xiao Feng sudah kehabisan semua benda di kantong-kantong tersembunyinya, tangannya kosong untuk pertama kali. Mei Er tidak lagi tersenyum—wajahnya sepenuhnya fokus, energi yang biasanya dialirkan ke penampilannya sekarang semuanya diarahkan ke dalam. Li Wei sudah mengeluarkan pedangnya—pertama kalinya selama tujuh hari—dan menancapkannya di anak tangga sebagai tumpuan.
Dan dari puncak yang masih tertutup awan perak itu, patung raksasa yang sejak awal hanya terasa sebagai aura tanpa wujud tiba-tiba melepaskan sesuatu.
Gelombang aura emas turun bukan seperti air yang jatuh melainkan seperti langit-langit yang turun—perlahan, total, tak terhindarkan. Ia menekan semua yang ada di bawahnya dengan cara yang tidak menyisakan arah untuk mundur atau mengelak. Ini bukan ujian kekuatan. Ini adalah ujian apakah mereka bisa memilih untuk melangkah bahkan ketika langkah itu terasa seperti menghancurkan diri sendiri.
Lutut Xueru menyentuh anak tangga.
Lutut Fa Hai mengikuti.
Satu per satu, tubuh-tubuh yang sudah tujuh hari berjuang mulai membungkuk di bawah gelombang terakhir itu. Namun tidak ada dari mereka yang berbaring—mereka berlutut, dan berlutut masih memungkinkan mereka untuk melangkah.
"Genggam," ucap Yu Fan. Bukan perintah—lebih seperti pengingat untuk dirinya sendiri yang kebetulan cukup keras untuk didengar yang lain.
Tujuh tangan saling mencengkeram dalam urutan yang tidak terencana namun terasa sempurna—Fa Hai di ujung kiri, Mo Han di sebelahnya, lalu Xiao Feng, lalu Mei Er, lalu Lin Xueru, lalu Li Wei, dengan Yu Fan di ujung kanan. Genggaman itu bukan lagi untuk menyalurkan energi. Energi mereka sudah hampir habis. Ini hanya dua tangan manusia yang saling memegang karena manusia—apapun tingkat kultivasinya—tidak sepenuhnya bisa melewati sesuatu yang sangat berat tanpa memegang sesuatu.
Dengan satu teriakan yang keluar bukan karena ada yang memimpin melainkan karena tujuh orang yang sudah terlalu lelah untuk menahan suara lagi memilih untuk mengeluarkannya bersamaan, mereka melangkah ke anak tangga yang terakhir.
BUM.
Gelombang aura itu menghilang.
Seketika dan total, seperti lilin yang ditiup.
Tujuh tubuh ambruk ke lantai puncak yang terbuat dari giok putih—bukan jatuh karena tidak sadar, melainkan karena gravitasi normal tiba-tiba terasa sangat luar biasa ringannya sehingga lutut mereka tidak tahu harus melakukan apa. Nafas yang memburu. Keringat yang tidak terasa lagi karena sudah terlalu lama ada. Dan di dalam dada masing-masing dari mereka, sesuatu yang sangat berbeda dari kelelahan—sesuatu yang terasa seperti sebuah ruangan baru yang terbuka di dalam diri mereka yang tidak ada sebelumnya.
Dari atas patung raksasa yang kini terlihat jelas dalam ukuran penuhnya, sepasang mata batu yang tiba-tiba mengandung cahaya membuka.
"Bunga mekar karena hujan, bukan karena guntur." Suara patung itu tidak bersuara—ia terasa, langsung di dalam rongga dada, seperti kata-kata yang diucapkan dari dalam. "Kalian telah belajar bahwa kekuatan sejati tidak ditemukan dalam kesendirian, melainkan dalam keselarasan. Puncak ini bukanlah akhir—ia adalah gerbang menuju penderitaan yang lebih mulia."
Kemudian nama-nama itu disebutkan. Tiga belas nama dari ribuan yang memulai perjalanan.
Yu Fan. Lin Xueru. Fa Hai. Mo Han. Mei Er. Xiao Feng. Li Wei. Dan enam nama lain yang datang dari sekte-sekte yang lebih kecil namun tidak kalah gigih dalam tujuh hari itu.
Mereka melangkah keluar dari gerbang dimensi ke dunia yang nyata dengan tubuh yang tertatih namun tegak—karena jatuh hanya pilihan bagi mereka yang sudah berhenti bergerak, dan tidak satu pun dari tiga belas orang ini memilih itu.
Lapangan penyambutan Akademi Langit Biru membentang di depan mereka—bangunan-bangunan yang melayang, air terjun yang mengalir ke atas seperti gravitasi di sini memiliki pendapat sendiri tentang arahnya, dan ribuan murid senior berseragam biru muda berdiri dalam barisan yang rapi. Di depan semua itu, di podium utama, berdiri Dekan Akademi—seorang pria dengan janggut putih yang panjang dan aura yang terasa seperti langit cerah yang sangat luas, sesuatu yang tidak memaksakan dirinya namun ada di mana-mana. Di sampingnya, Wakil Dekan yang jauh lebih muda dengan mata yang tajam dan dingin menatap tiga belas orang yang baru keluar dari gerbang dimensi itu dengan cara seorang kolektor yang melihat benda yang menarik perhatiannya.
"YU FAN!"
Suara itu memecah seluruh keformalan lapangan penyambutan itu seperti batu yang dilempar ke dalam kolam upacara yang sangat serius. Di barisan paling depan murid terdaftar, Jin Yuexin melompat-lompat kecil dengan cara yang sangat tidak sesuai dengan titel seorang putri kerajaan, tangan melambai ke atas kepalanya dengan liar.
Yu Fan, yang tujuh hari terakhirnya diisi oleh tekanan yang tidak pernah berhenti, merasakan sesuatu yang sangat sederhana dan sangat melegakan naik dari dalam dadanya. Ia mengangkat satu tangannya—tidak melambai, tidak berteriak kembali, hanya mengangkat—dan itu cukup.
Setelah pidato penyambutan sang Dekan yang panjang dan penuh dengan kalimat-kalimat yang terdengar sederhana namun mengandung banyak lapis makna, para murid baru dibubarkan.
Yu Fan berbalik untuk berjalan ke arah Yuexin. Sebuah sentuhan di bahunya menghentikannya.
Lin Xueru berdiri di sana. Dari dekat, setelah tujuh hari di dalam dimensi yang sama, Yu Fan bisa melihat bahwa ada sesuatu yang berbeda di cara wajah itu menyusun dirinya saat ini dibandingkan hari pertama mereka bertemu di balkon aula pendaftaran—masih dingin, masih teratur, namun dengan sedikit keterbukaan di sudut-sudutnya yang sebelumnya tidak ada. Seperti jendela yang masih tertutup, namun kuncinya sudah sedikit lebih longgar.
Ia menundukkan kepalanya sedikit—gerakan yang kecil namun sangat disengaja bagi seseorang dengan latar belakangnya. "Terima kasih... atas bantuanmu di tangga," ucapnya. Suaranya lebih pelan dari biasanya. "Tiga kali kau menahan tanganku sebelum aku jatuh. Sekte kami mengajarkan untuk tidak berutang budi tanpa melunasinya."
"Kita semua saling membantu," ucap Yu Fan. "Aku hanya melakukan bagianku."
Lin Xueru menatapnya satu detik lebih lama dari yang diperlukan oleh pernyataan itu. Sesuatu yang sangat samar melintas di matanya yang biru pucat—sesuatu yang bahkan mungkin tidak ia izinkan dirinya sendiri untuk mengidentifikasi. Kemudian ia tersenyum—tipis, pendek, sangat dijaga—namun nyata. "Mulai besok, kita bersaing. Aku tidak akan mengalah. Tapi jika kau butuh sesuatu, carilah aku."
Ia berbalik dan pergi.
Di belakang Yu Fan, suara langkah kaki Yuexin yang sudah tidak sabar akhirnya tiba. "Siapa itu?" tanyanya, nada suaranya dijaga sangat netral dengan cara yang tidak sepenuhnya berhasil.
"Perwakilan Sekte Teratai Putih," jawab Yu Fan.
"Ah." Satu suku kata. "Cantik."
"Aku tidak memperhatikan."
Yuexin menatapnya dengan ekspresi yang tidak percaya sepenuhnya. "Ayo. Asrama terbaik masih bisa kita rebut kalau kita bergerak sekarang."
Yu Fan mengikutinya, melangkah ke dalam Akademi Langit Biru yang membentang di depannya—ribuan murid, tujuh sekte, satu arena yang tidak mengenal belas kasihan.
Namun di balik semua itu, satu hal yang tertinggal di dalam benaknya dari tujuh hari yang baru saja berlalu—sebuah detail kecil yang tidak ia ceritakan kepada siapa pun.
Di hari keempat, di anak tangga ke-enam ratus, tekanan dimensi yang menyerang konsentrasi memancing ingatan—ingatan yang seharusnya tidak ia punya. Selama tiga detik yang sangat jelas, ia berdiri bukan di anak tangga batu hitam melainkan di lantai giok putih yang sangat luas, dan di hadapannya sebuah jubah putih berkibar berbalik pergi.
Tiga detik itu terasa lebih nyata dari tujuh hari yang mengelilinginya.
Dan yang membuatnya tidak bisa berhenti memikirkannya—bahkan sekarang, di lapangan penyambutan yang ramai ini, dengan suara Yuexin yang bersemangat di telinganya—adalah bahwa jubah putih dalam kilasan itu bukan milik Lin Xueru.
Namun sesuatu di dalam cara Lin Xueru berdiri, cara ia memegang seruling jadenya, cara matanya yang biru pucat tidak pernah menunjukkan ketakutan bahkan di saat yang paling berat—sesuatu dalam semua itu adalah gema dari jubah putih yang lebih tua itu.
Sebuah gema yang tidak ia tahu harus ia artikan sebagai apa.
Sang Penghancur Sembilan Ranah kini berdiri di gerbang dunia yang menyembah pembunuhnya.
Dan pembunuh itu—entah dalam bentuk apa—belum pergi.