NovelToon NovelToon
Ijab Kabul Tanpa Qalbu

Ijab Kabul Tanpa Qalbu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Ibu Mertua Kejam / Trauma masa lalu
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Hari yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Humairah berubah menjadi mimpi buruk saat Abraham, calon suaminya, melarikan diri tepat sebelum akad nikah dimulai karena ketidaksiapan mental. Demi menutupi aib besar keluarga, ayah Abraham—seorang Kyai terpandang—mengambil keputusan nekat untuk menikahkan putranya, Ustadz Fathan Kareem,yang sekaligus kakak Abraham untuk menggantikan posisi mempelai pria.
Fathan akhirnya mengucap ijab kabul. Namun, di balik wajah tenangnya, Fathan menyimpan luka masa lalu yang belum sembuh akibat pengkhianatan mantan kekasihnya. Ia membangun tembok tinggi di hatinya dan menegaskan sebuah janji dingin kepada Humairah di malam pertama mereka:
"Kita menikah hanya di atas kertas. Jangan harapkan hati, apalagi cinta."
Kini, Humairah harus berjuang dalam pernikahan tanpa kasih sayang, sementara Fathan terus berperang dengan traumanya. Akankah ketulusan Humairah mampu meruntuhkan dinding ustadz.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Suasana di dalam kamar yang seharusnya penuh doa, kini berubah menjadi medan perdebatan yang menyayat hati.

Tuduhan keji Nyai Latifah yang menyebut Humairah sebagai wanita penggoda membuat udara di ruangan itu terasa mencekik.

Abi Sasongko, yang selama ini dikenal sebagai pria yang sabar, kini tak mampu lagi membendung harga dirinya yang diinjak-injak.

Ia berdiri tegak, melindungi putrinya yang sedang bersimpuh dalam tangis.

"Cukup!" suara Abi Sasongko bergetar karena emosi.

Ia menatap Kyai Umar dengan luka yang mendalam.

"Kyai, persahabatan kita sangat berharga bagi saya. Tapi jika putri saya harus dihina seperti ini di rumahnya sendiri, lebih baik pernikahan ini tidak pernah terjadi. Silakan keluar. Kami akan menanggung aib ini sendiri. Saya tidak akan membiarkan Humairah masuk ke keluarga yang bahkan tidak menginginkannya."

Umi Mamik memeluk bahu Humairah yang bergetar hebat.

"Benar, Kyai. Biarkan kami menanggung malu ini, daripada putri kami harus hidup dalam kebencian."

Kyai Umar terpaku, wajahnya pucat pasi mendengar pengusiran halus itu. Namun, di saat ketegangan memuncak, sebuah suara bariton yang berat dan tenang memecah kebuntuan.

"Umi, berhenti," ucap Ustadz Fathan.

Fathan, yang sejak tadi hanya menjadi pengamat bisu, melangkah maju ke tengah ruangan.

Ia menatap ibunya dengan tatapan datar namun penuh penekanan, lalu beralih pada Abi Sasongko.

"Abi Sasongko, maafkan kelancangan Umi saya. Dan Umi..." Fathan menjeda kalimatnya, menarik napas panjang seolah sedang menelan pahitnya takdir.

"Aku akan menikahi Humairah. Detik ini juga."

Nyai Latifah terbelalak. "Fathan! Apa kamu sudah gila? Kamu mau mengorbankan masa depanmu demi wanita ini? Dia hanya akan menjadi duri—"

"Cukup, Umi!" potong Fathan cepat.

"Ini adalah jalan untuk menjaga marwah Abah, marwah pesantren, dan martabat keluarga Abi Sasongko. Saya tidak akan membiarkan akad ini batal."

Nyai Latifah mendengus kasar, napasnya memburu karena emosi yang meluap.

Tanpa sepatah kata lagi, ia memutar tubuh dan melangkah keluar kamar dengan bantingan pintu yang keras, meninggalkan keheningan yang menyakitkan.

Kyai Umar mengembuskan napas lega yang berat.

Beliau menepuk bahu sulungnya. "Terima kasih, Fathan. Allah akan membalas keikhlasanmu. Ayo, Nak, turunlah. Penghulu dan saksi sudah terlalu lama menunggu. Kita selesaikan apa yang seharusnya diselesaikan."

Fathan mengangguk singkat. Sebelum melangkah keluar, ia sempat melirik ke arah Humairah—bukan dengan tatapan kasih sayang, melainkan tatapan kosong yang seolah mengatakan bahwa hidup mereka setelah ini tidak akan pernah sama lagi.

Sepeninggal para pria, kamar itu mendadak sunyi.

Humairah masih terduduk di tepi ranjang, meremas sapu tangan yang sudah basah oleh air mata.

Ia bisa mendengar suara riuh rendah dari lantai bawah melalui pengeras suara yang samar-samar.

Beberapa menit kemudian, suara getaran mikrofon terdengar, diikuti suara berat sang ayah yang memulai khotbah nikah dengan nada yang dipaksakan stabil.

"Saya terima nikahnya dan kawinnya Humairah binti Sasongko dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"

Suara Fathan terdengar begitu lantang, tegas, dan dingin merayap melalui dinding-dinding kamar.

"Sah?"

"Sah!"

Seketika, isak tangis Humairah pecah kembali. Di balik pintu kamar yang tertutup rapat, ia kini resmi menjadi istri dari seorang pria yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Pria yang menikahinya bukan karena cinta, melainkan karena keterpaksaan dan nama baik.

Ia tahu, perjuangan yang sesungguhnya baru saja dimulai di balik dinding kamar ini.

Gema kata "Sah" yang bersahutan dari lantai bawah perlahan surut, digantikan oleh lantunan doa yang dipimpin oleh para ulama.

Di dalam kamar, Humairah masih mematung. Dadanya sesak.

Statusnya telah berubah dalam hitungan detik—dari calon pengantin yang ditinggalkan, menjadi istri sah dari pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya.

Suara langkah kaki yang teratur terdengar mendekat.

Jantung Humairah berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar.

Ceklek!

Fathan melangkah masuk sendirian. Jas hitam yang ia kenakan tampak sangat pas di tubuh tegapnya, namun wajahnya tetap datar, tanpa sisa emosi dari ketegangan di bawah tadi.

Ia menutup pintu dengan perlahan, lalu melangkah menghampiri Humairah yang masih duduk di tepi ranjang dengan kepala tertunduk.

Humairah memberanikan diri untuk berdiri. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia meraih tangan kanan Fathan.

Ia membungkuk dalam, lalu mencium punggung tangan suaminya dengan takzim.

Ini adalah baktinya yang pertama, meski hatinya masih diliputi kabut ketidakpastian.

Fathan sempat tertegun sejenak saat merasakan sentuhan tangan Humairah. Namun, sebagai seorang pria yang paham akan syariat, ia tahu apa yang harus ia lakukan.

Fathan meletakkan telapak tangan kanannya di atas ubun-ubun Humairah, tepat di atas hiasan melati yang harumnya kini terasa menyesakkan.

Ia memejamkan mata, lalu mengecup kening istrinya dengan lembut namun terasa formal. Suara baritonnya yang tenang mulai melantunkan doa:

"Allahumma inni as’aluka khairaha wa khaira ma jabaltaha ‘alaihi..."

Mendengar doa itu, tangis Humairah yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh juga.

Ia menangis tanpa suara di depan dada pria yang kini menjadi pelindungnya.

"Hapus air matamu," ucap Fathan setelah menyudahi doanya. Suaranya tidak kasar, namun sangat dingin.

"Semua orang menunggu di bawah. Kita harus meminta restu dan menunjukkan bahwa semuanya baik-baik saja."

Humairah mengangguk pelan, segera menyeka pipinya dan memperbaiki letak hijabnya di depan cermin.

Setelah merasa cukup tenang, mereka berdua keluar dari kamar.

Di ruang tengah, suasana tampak sangat emosional.

Kyai Umar dan Abi Sasongko duduk berdampingan, tampak lega sekaligus haru.

Namun, di sudut lain, Nyai Latifah hanya berdiri dengan tangan bersedekap, wajahnya masih menunjukkan ketidaksukaan yang nyata.

Fathan dan Humairah melangkah mendekat untuk melakukan sungkem.

Fathan bersimpuh di depan ayahnya, lalu di depan Abi Sasongko.

Saat Humairah bersimpuh di hadapan Abi Sasongko, tangis ayah dan anak itu kembali pecah.

"Maafkan Abi, Nak. Abi hanya ingin yang terbaik untukmu," bisik Abi Sasongko sambil mengusap kepala putrinya.

"Humairah ikhlas, Bi. Ini sudah takdir Humairah," sahutnya lirih.

Setelah selesai meminta restu kepada para ayah dan Umi Mamik, giliran mereka menghadap Nyai Latifah.

Saat Humairah hendak meraih tangan ibu mertuanya, Nyai Latifah menarik tangannya dengan cepat, membiarkan Humairah hanya menyentuh udara.

"Sudah, tidak usah drama. Yang penting nama baik keluarga sudah tertutup," ketus Nyai Latifah sebelum akhirnya melengos pergi meninggalkan kerumunan.

Humairah terdiam, hatinya seperti tertusuk sembilu lagi.

Ia melirik Fathan, namun suaminya itu hanya menatap lurus ke depan seolah tidak terjadi apa-apa.

Di detik itu, Humairah sadar, restu dan kasih sayang dalam rumah tangga ini adalah kemewahan yang mungkin harus ia perjuangkan dengan air mata yang lebih banyak lagi.

Suasana di kediaman Abi Sasongko mulai melandai seiring dengan berpamitannya beberapa tamu inti. Namun, bagi Humairah, ketegangan justru baru saja dimulai.

Di depan pintu utama, Fathan berdiri tegak dengan kunci mobil di tangannya.

Wajahnya tetap datar, tak menunjukkan keletihan maupun kegembiraan.

"Abi, Umi, kami mohon pamit sekarang," ucap Fathan dengan nada bicara yang sopan namun sangat formal.

"Saya akan membawa Humairah ke rumah saya."

Abi Sasongko mendekat, menepuk bahu menantu barunya itu dengan tatapan mata yang berkaca-kaca.

Ada beban besar yang ia titipkan di pundak pria di hadapannya ini.

"Fathan," suara Abi Sasongko bergetar.

"Humairah adalah satu-satunya permata dalam hidup kami. Kejadian hari ini sudah cukup menghancurkan hatinya. Tolong, jaga dia. Bimbing dia. Jangan biarkan dia menangis lagi karena kesalahan yang tidak ia perbuat."

Fathan hanya mengangguk singkat. "Saya mengerti, Abi."

Setelah berpelukan erat dengan Umi Mamik yang tak henti-hentinya membisikkan doa, Humairah melangkah gontai mengikuti suaminya menuju mobil SUV hitam yang terparkir di halaman.

Humairah masuk ke kursi penumpang di samping kemudi dengan perasaan yang berkecamuk.

Kebaya pengantin yang masih melekat di tubuhnya kini terasa begitu menyesakkan, seolah mengingatkannya pada pernikahan yang terjadi karena kecelakaan takdir.

Fathan melajukan mobilnya membelah jalanan kota yang mulai gelap.

Di dalam mobil, suasana menjadi sangat sunyi, hanya terdengar deru mesin dan detak jarum jam di dasbor.

Fathan fokus menatap jalanan di depan, tangannya memegang kemudi dengan erat, sementara rahangnya tampak mengeras.

Ia tidak berkata apapun. Tidak ada ucapan selamat datang, tidak ada pertanyaan apakah istrinya haus atau lelah, bahkan tidak ada lirikan sekilas pun ke arah Humairah.

Humairah sendiri hanya bisa menatap ke luar jendela, melihat lampu-lampu jalan yang berkelebat cepat seperti kenangan indahnya yang baru saja hancur.

Ia ingin memulai pembicaraan, namun aura dingin yang dipancarkan Fathan menciptakan tembok yang sangat tinggi di antara mereka.

Mobil itu terus melaju, membawa mereka menjauh dari keramaian rumah orang tua Humairah, menuju sebuah rumah yang belum pernah Humairah injak sebelumnya.

Sebuah rumah yang seharusnya menjadi surga, namun bagi Humairah saat ini, terasa seperti gerbang menuju ketidakpastian yang panjang.

Keheningan itu seolah menjadi penegasan dari Fathan: bahwa pernikahan ini memang terjadi di hadapan saksi dan penghulu, namun tidak dalam hatinya.

Di dalam mobil yang sempit itu, Humairah merasa lebih kesepian daripada saat ia ditinggalkan sendirian di kamar pengantin tadi siang.

1
Mundri Astuti
gitu dong kyai tegas jadi laki, jangan diem bae bininya dzolim, lagian y umimu ga tau terimakasih sama Humairah dah ditolongin anaknya
Dede Dedeh
tah kitu atuh abah tegas,, dasar mak lampir rasakn......
Mundri Astuti
lagian udah nikah masih nyampur bae sama ortu Fathan, palagi sama modelan umimu
Fitra Sari
lanjut KK doubel upp 🙏
Mundri Astuti
kyai Umar juga ga bisa ngedidik istrinya ... bukan anak"nya doang yg salah
Fitra Sari
lanjut KK
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
keynara
update lagi thor makin seru 🙏
keynara
update lagi thor🙏
keynara
nah akhirnya Humairah tegas nyesal nggak tu ustadz Fathan..
Yensi Juniarti
nah begitulah harusnya kau bersikap Humairah...
gak usah toleh lagi laki modelan begitu...
kau berhak bahagia....
Yensi Juniarti
penyesalan mu tak berguna Fatan... udah kalau aku JD Humairah ya mending pisah Ajja...
dari pada dari pada..
Yensi Juniarti
kasih karma instan aja si laki modelan begitu ya...
Yensi Juniarti
tinggal minggat Ajja neng laki modelan begitu mah buang Ajja ke pemambunagn sampah
keynara
aduh nyai sihir udah menyiapkan rencana semoga hati humaira lebih kuat lg💪😭
keynara
nyai sihir sama ustadz Fathan mulutnya pengin tak gosok pake cabe🤣🤣
lanjut thor🙏
Yensi Juniarti
kena azab instan Ajja si laki modelan begitu...
keynara
nyai Latifah seorang istri kyai sukanya menghina Jan tak patut tak patut
apalagi anaknya sifatnya sama tidak jauh dari Mak lampir
ayo humaira kabur aja jangan tahan dipenjara sok suci ini
Yensi Juniarti
ya Allah...
melawan si..
bantah sesekali Maklampir....
dan tinggalin Ajja si laki yg model begituan... GK adahatinya sama sekali...
sempah akubacanya sambil nangis 😭😭😭
Yensi Juniarti: saya selalu sabar dan selalu standby 🤭🤭🤭
total 2 replies
Arga Putri Kediri
bagus
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Himna Mohamad
sdh mampir baca kk
my name is pho: Terima kasih kak🥰🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!