NovelToon NovelToon
Istri Tanpa Sentuhan Pewaris Adinata

Istri Tanpa Sentuhan Pewaris Adinata

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:33k
Nilai: 5
Nama Author: najwa aini

Shafiya Elara Hanum, namanya. Ia tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan pria yang tak pernah benar-benar menjadi suaminya.




Ia adalah putri seorang kiai.
Dibesarkan dengan kehormatan dan batasan.
Namun satu kesalahan yang tidak ia lakukan, telah merenggut segalanya. Pernikahannya batal. Nama baik keluarganya ikut hancur, dan ia pun terseret ke dalam ikatan dengan SAGARA ADINATA.
Pewaris tunggal keluarga Adinata.
Seorang pria yang dingin. Tegas. Dan tidak percaya pada pernikahan.




Mereka menikah tanpa cinta.
Tanpa keinginan. Tanpa sentuhan.
Namun satu hal mengikat mereka--Seorang anak yang tumbuh di rahim Shafiya…
anak yang bahkan tidak pernah mereka rencanakan.




Di balik hubungan yang datar dan penuh jarak, rahasia demi rahasia mulai terkuak.
Dan perlahan, batas yang mereka jaga mulai goyah.



Mampukah mereka bertahan dalam pernikahan yang bukan hanya sekedar kesepakatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 Berita Yang Gagal Ditutup Rapat

"Ini bukan hanya tentang anak itu." Sagara menatap lurus ke Shafiya. "Ini tentang kamu, Elara."

Sunyi mengambil tempat setelah kalimat Sagara itu terucap.

Shafiya diam. Dan ucapan itu sempat tinggal lebih lama di hatinya.

"Istirahatlah." Sagara kemudian menutup keheningan itu hanya dengan satu kata.

"Hampir Maghrib." Shafiya menjawab lirih.

"Mau sholat?"

"Iya."

Shafiya beringsut pelan, duduk menyandar terlebih dahulu.

Sagara sempat maju satu langkah. Dan seketika berhenti. Seolah tidak tahu harus berbuat apa.

Shafiya bangkit. Sedikit terlalu cepat. Dan mendadak pusing itu menyerang. "Aduh." Ia mengaduh tertahan, terduduk seketika.

Sagara menangkap tangannya. Lalu reflek duduk tak jauh di samping Shafiya.

"Badanmu masih lemah. Jangan memaksakan diri."

"Solat itu wajib, Mas." Shafiya menatap Sagara sesaat, sebelum membanting pandangan itu ke lain arah.

"Dalam solat juga ada keringanan, untuk orang yang sedang berhalangan melakukannya dengan sempurna," kata Sagara.

Shafiya reflek menoleh. Menatap wajah itu lagi. "Kamu tahu tentang itu?"

"Tidak." Sagara menggeleng. "Hanya pernah membaca."

Tahu karena pernah membaca tentang sesuatu. Dan tahu karena pernah melakukannya, itu dua hal yang berbeda. Sagara tidak ingin pemahaman Shafiya salah arah. Karena ia memang bukan pria yang religius.

Safiya menarik pandangannya kembali dan tak mengatakan apa pun.

Tapi sesaat kemudian, pandangan itu jatuh pada tangan Sagara yang masih bertahan memegang lengannya.

Itu membuat Sagara reflek menarik tangannya, bahkan segera bangkit.

Tepat saat itu, Winda tiba di depan kamar usai mengantar dokter Zulaika. Ia menahan diri di ambang pintu. Tidak langsung masuk.

"Berbaring lagi," kata Sagara. "Nanti setelah kondisimu lebih nyaman. Solat."

Shafiya mengangguk.

Sagara kemudian melangkah keluar dari kamar. Winda menyisih, memberi ruang.

"Temani. Dan siapkan segala kebutuhannya," perintah Sagara.

"Baik, Tuan."

"Jika ada apa-apa, beritahu saya. Langsung." Kali ini Sagara tak ingin lagi terlambat tahu.

"Iya, Tuan."

Sagara kemudian meninggalkan kamar itu dengan langkah yang tegap dan kokoh seperti biasa. Meski mungkin sudah ada hal dalam dirinya yang tak lagi sama.

"Sagara." Agam masih menunggunya di ruang utama. Dan ia tak sendiri. Ada dokter Raka juga.

Sagara diam sejenak. Melonggarkan dasi, kemudian duduk. Pakaian kerja itu memang belum sepenuhnya dilepas. Karena begitu sampai di rumah, ia tak langsung ke ruang pribadinya. Melainkan ke kamar Shafiya.

"Bagaimana, Nona Shafiya?" tanya Raka.

"Bed rest."

"Itu berarti ada kondisi yang harus dijaga. Tentang kandungannya."

"Iya." Sagara mengangguk singkat.

Agam mengangkat pandangannya.

"Sagara, aku minta maaf."

"Untuk?" Sagara menatap Agam lurus.

"Hal yang di luar kendaliku."

Sagara diam.

Agam melanjutkan.

"Seharusnya aku bisa lebih menjaga--"

"Tidak perlu, Gam." Sagara memotong.

"Aku sendiri yang jaga sekarang."

"Itu keputusan paling tepat." Raka menimpali dengan cepat, sambil tersenyum.

"Kalau begini arahnya, aku tarik kembali permintaan maafku," kata Agam sambil tersenyum miring.

Sagara tak menanggapi lagi. Ia justru memanggil Ratri.

"Ratri."

Ratri mendekat.

"Iya, Tuan."

"Jangan sampai ada berita keluar. Terutama ke mansion."

"Baik, Tuan. Saya paham."

Akan tetapi perintah itu terlambat. Meski Ratri mengeksekusi dengan cepat. Larangan ia buat. Peraturan diperketat. Terkait kondisi Shafiya dan hal yang ada di antaranya, ternyata gagal ditutup rapat.

Berita itu sampai ke mansion. Entah karena ada sistem penjagaan yang bocor di rumah Sagara. Atau, kekuasaan Anjani yang terlalu kuat untuk dilawan sepenuhnya. Hingga seolah tak ada tempat yang benar-benar lolos dari pengawasan pemilik otoritas tertinggi keluarga Adinata itu.

Anjani tiba di Adinata Residence 3 pagi itu. Terlalu pagi untuk hitungan jam kebiasaan sang nyonya menghadiri sebuah acara.

Sagara masih belum sepenuhnya siap berangkat ke kantor. Ia masih berkutat dengan beberapa berkas di ruang kerjanya ketika asisten datang melapor.

Anjani tidak menunggu. Ia langsung ke kamar Shafiya. Dan ia tidak hadir seorang diri. Melainkan bersama orang baru kepercayaannya. Kaluna.

Anjani duduk di kursi tak jauh dari ranjang. Pandangannya memindai wajah Shafiya cukup lekat. Cukup dalam.

"Siapa dokter yang biasa menangani?"

"Dokter Zulaika dari Adinata Medical Center." Ratri yang menjawab dengan sigap.

Anjani menoleh ke Kaluna.

"Periksa!"

"Baik." Kaluna membuka layar tablet pintar yang tak lepas dari pegangan. Jemarinya bergerak lincah di sana. Tidak lama. Ia selesai.

"Dokter Zulaika Sp.OG(K) → konsultan/sub spesialis. Lulusan Universitas ternama. Pernah mendapat penghargaan

Dokter Obstetri Teladan Nasional, dari

POGI (Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia). Dan sebelumnya adalah kepala departemen Obgyn rumah sakit besar, sebelum ditarik ke Adinata Medical Center."

Anjani mengangguk. Merasa puas dengan prestasi dan kredibilitas dokter yang dipilih untuk menangani Shafiya.

Shafiya tersembunyi menghela napas. Ia merasa lega. Padahal alasannya sederhana saat memilih dokter Zulaika untuk menanganinya--karena ia dokter spesialis perempuan. Shafiya risih jika dokternya laki-laki. Dan alasan kedua, karena mereka masih kerabat. Itu saja.

Shafiya bahkan belum tahu kalau dokter Zulaika punya prestasi yang segemilang itu.

"Apa diagnosanya?" lanjut Anjani.

Kali ini Winda yang menjawab. Semua yang disampaikan oleh dokter Zulaika tadi malam diulang dengan cepat. Hampir tak ada satu kata yang terlewat.

Shafiya sendiri sempat heran dengan ketajaman ingatan Winda dan sikap tegaknya saat berhadapan dengan Anjani.

Jika bukan karena sudah bersama tiap hari, Shafiya mungkin akan berpikir kalau orang-orang di Adinata Residence tiga bukan lagi manusia, melainkan sistem yang bergerak hanya atas perintah pemiliknya.

"Elara." Anjani kini menatap Shafiya. Dalam. "Kamu membawa darah Adinata. Jangan pernah bertindak sembarangan."

Shafiya mengangguk kecil. Pelan. Dalam hatinya berkecamuk berbagai hal. Namun ia pilih untuk tetap diam.

"Ratri." Selanjutnya Anjani menatap Ratri.

Perempuan itu maju tiga langkah.

"Siapkan sup iga kambing rempah untuk Elara."

"Baik, Nyonya." Ratri tak menunggu. Langsung bergegas ke dapur untuk menyampaikan perintah itu.

"Mulai hari ini." Anjani kembali ke Shafiya. "Akan ada perawat khusus untuk memantau kesehatanmu."

Shafiya mengangkat pandangan. Sesaat menatap Winda lalu kembali pada penguasa tertinggi keluarga Adinata itu.

"Sudah ada, Winda, Nyonya. Dia selama ini menemani dan menjaga saya dengan baik."

"Aku tidak menggeser posisi Winda. Tapi kamu perlu perawat medis yang bisa memantau kondisimu setiap saat."

Shafiya diam. Namun helaan napasnya, jelas menunjukkan kalau ia keberatan.

Dan Anjani jelas membaca itu.

"Ada penerus Adinata dalam tubuhmu, Elara. Mulai hari ini, kesehatanmu bukan hanya urusan pribadimu."

Kalimat yang tajam, dan menekan.

Shafiya diam.

Setelah itu Anjani menoleh ke Kaluna.

"Sudah dihubungi?"

"Sedang dalam perjalanan, Nyonya."

"Bagus."

Terdengar langkah memasuki pintu kamar itu. Sagara datang, dengan baju kerja rapi.

Berhenti beberapa langkah dari Anjani.

"Nenek."

"Sagara." Anjani menatap cucunya. Kebanggaannya. Namun tak pernah ia ungkap dalam sebentuk kalimat itu.

"Masih di sini?"

Pertanyaan wajar. Karena biasanya pada jam ini, Sagara sudah dalam perjalanan ke Adinata Holding.

"Saya menunggu." Sagara tahu. Kedatangan itu bukan hanya untuk melihat Shafiya. Anjani pasti membawa ultimatum baru. Dan ia tak ingin hal itu disampaikan di depan Shafiya.

"Hmm." Anjani bangkit. Berjalan keluar kamar lebih dulu. Sagara mengikuti.

Mereka tidak keluar jauh. Hanya duduk di ruang santai tak jauh dari koridor yang menuju ke kamar Shafiya.

"Apa perlu aku, yang mengatur siapa yang boleh dan tidak boleh dekat dengan calon anakmu?" Anjani langsung. Dan ia tidak menyebut Shafiya, tapi anaknya. Seolah menegaskan bahwa yang paling penting baginya hanya anak itu. Bukan wanita yang mengandungnya.

"Terima kasih. Jika, Nenek memang bersedia meluangkan waktu." Sagara menjawab dengan cepat. Seolah setuju.

"Tapi urusan rumah tangga saya. Tetap dalam kendali saya." Sagara melanjutkan dengan nada tenang.

1
Ayuwidia
Pandai sekali dia berbicara
Ayuwidia
kata-kata keramat ☕
Ayuwidia
Bukan hanya menjadi istrimu saja yg harus menghadapi itu semua, Sagara. Para istri dari suami yg lain pun juga demikian, hanya versinya berbeda. Jadi, nggak ada alasan bagi seorang istri untuk meninggalkan suaminya dgn alasan tanggung jawab, konflik, dan hal yang rumit
Badiah Roudloh
sempat deg deg akhirnya legah. selalu ditunggu
Nofi Kahza
Ravendra bakal tamat. Udah nggak ada ruang bergerak. Maju mundur tetap kena😎😎
Najwa Aini: Game Over
total 1 replies
Nofi Kahza
Sekarang hobi banget nyentuh pucuk kepala istrinya ya, Gar. Pertahankan. ok!
Nofi Kahza: serasa lebih sepuh darimu aku kak🤣
total 2 replies
Nofi Kahza
panggil pelan2, Fi. lalu ngomong. "Mas Sagara... sini yuk. Tidur di sebelah sini. Aku kelonin biar mimpi indah.". Eaaaakk🤣
Najwa Aini: Telat sih kamu bisikinnya
total 1 replies
Nofi Kahza
penasaran sama gaji dokternya/Drool/
Najwa Aini: Cukup lah..buat beli Pajero...
wataawww
total 1 replies
Nofi Kahza
Halah halahh.. kok pakek toel toel segala sih, Gar. aku yg baca kna salting/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Najwa Aini: Pasti hidungnya situ yang merah. Berasa kena toel
total 1 replies
Nofi Kahza
ciiee.. yang barusan senyum beneran kan..🤭
Najwa Aini: Iyak lah...tapi singkat
total 1 replies
iqha_24
tariik napaas... lumayan tegang
honda vario
kak tulisanmu bagus semua.... aku suka bngt... stelah crita ini yg nafsa dilanjut jg ya
Najwa Aini: Insyaallah ya Kak..😍😍
total 3 replies
zee
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Najwa Aini: 🌹🌹. Terima kasih Kak
total 1 replies
Badiah Roudloh
bagus ceritanya
Najwa Aini: Matur nuwun kak..🌹
total 1 replies
Nurilbasyaroh
makasih mas sagara dari awal bab ini yang aku tunggu pengakuan mu sama safhiya
Najwa Aini: Akhirnya pecah telor ya...Terima kasih masih setia sampai bab ini
total 1 replies
Eka Widya
Alhamdulillah akhirnya...setelah nahan nafas sekian bab.plong dah.ungkapan cinta yg elegan🥰🥰
Najwa Aini: Cinta yang dewasa ya kak...Tak hanya sekedar kata "aku cinta"...
total 1 replies
iqha_24
🥺
Najwa Aini: 🌹..Terima kasih kak
total 1 replies
Ayuwidia
Aw aw aw kalimatnya bikin seorang istri pingin salto, Mas
Ayuwidia
Di bumi belahan mana pun, cara ini memang sudah teruji kehebatannya. Politik memecah belah
Ayuwidia
Betoel banget, dan ini sepertinya berlaku bagi semua istri. Termasuk aku 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!