Alya Maheswari, gadis sederhana dengan masa lalu kelam, dipaksa menikah dengan Arkan Virello, seorang mafia dingin dan kejam yang tak percaya cinta.
Pernikahan mereka bukan tentang cinta, melainkan perjanjian darah. Namun di balik sikap dingin Arkan, tersembunyi obsesi berbahaya. Dan di balik kepasrahan Alya, tersimpan rahasia yang bisa menghancurkan segalanya.
Ketika cinta mulai tumbuh di antara ancaman, pengkhianatan, dan dendam lama, satu pertanyaan muncul:
Apakah mereka akan saling menyelamatkan, atau justru saling menghancurkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Besar Terungkap
Pecahan gelas masih berserakan di lantai ruang kerja Arsen.
Tidak ada yang bergerak sejak Damar keluar sambil tertawa tipis, ancaman yang ia tinggalkan terasa seperti racun yang perlahan menyebar ke seluruh mansion.
Alya berdiri mematung di dekat meja besar itu, sementara napas Arkan terdengar berat di belakangnya.
"Jangan percaya apa pun yang keluar dari mulut Damar," ucap Arkan dingin.
Kata itu membuat dada Alya semakin sesak, karena kali ini ia bisa melihat ketakutan di mata pria itu.
"Apa maksudnya tadi?" suara Alya bergetar. "Tentang hal yang menyangkut ayahku."
Arkan mengepalkan tangan, "Aku bilang lupakan hal itu."
"Aku tidak bisa melupakan sesuatu yang bahkan tidak pernah aku tahu!"
Bentakan Alya menggema di ruangan luas itu, Arkan menatapnya tajam, tetapi kali ini tatapan itu tidak lagi terasa mengintimidasi.
Ada sesuatu yang retak di sana, sesuatu yang selama ini ia sembunyikan terlalu lama.
Alya melangkah mendekat, "Kenapa semua orang selalu menyembunyikan sesuatu dariku?" Ayahku meninggal waktu aku kecil, ibuku bunuh diri beberapa tahun kemudian. Aku hidup sendirian sambil mencoba percaya kalau semua itu cuma nasib buruk."
Ia menahan napas, "Tapi sekarang kalian bicara seolah keluargaku terlibat dengan keluarga Virello," lanjutnya.
Arkan memejamkan mata sesaat sebelum akhirnya berkata pelan, "Karena memang begitu, Alya."
Dunia Alya seperti berhenti, detik itu juga tubuhnya melemah.
"Apa?"
Arkan berjalan menuju lemari kecil di sudut ruangan, ia membuka laci tersembunyi dan mengambil sebuah map hitam tua.
Tangannya tidak gemetar, tetapi matanya mengatakan hal yang berbeda.
"Ayahmu bukan orang biasa, Alya."
Map itu dilempar kr atas meja, Alya membukanya secara perlahan.
Foto-foto lama memenuhi isi map itu, foto seorang pria mudah berdiri bersama pria lain yang wajahnya sangat ia kenal.
Leonardo Virello, yang tak lain ayahnya Arkan.
Napas Alya tercekat, "Itu bohong."
"Itu ayahmu," jawab Arkan datar. "Dan pria di sampingnya adalah ayahku."
Alya mundur satu langkah, ia melihat foto berikutnya. Dokumen transaksi, berita lama, potongan artikel tentang kebakaran gudang dua puluh tahun yang lalu.
Tangannya mulai dingin, "Ayahku... bagian dari mafia?"
"Lebih tepatnya dia tangan kanan ayahku."
Selama ini Alya percaya ayahnya hanyalah pengawal biasa, yang meninggal karena kecelakaan. Ternyata semua itu dusta.
Air mata mulai memenuhi matanya, "Kenapa... kenapa ibu tidak pernah bilang padaku?"
"Karena ibumu mencoba melindungimu."
Alya menoleh cepat, Arkan kini berdiri tepat di depannya.
"Setelah pengkhianatan terjadi, keluargamu diburu," sorot mata Arkan berubah gelap. "Ayahmu dituduh mencuri data penting organisasi Virello dan menjualnya ke musuh."
Alya menggeleng keras, merasa tidak percaya dengan apa yang di katakan Arkan barusan. "Tidak mungkin..."
"Dan malam sebelum dia dibunuh, dia membawa sesuatu."
Jantung Alya berdetak tidak karuan, "Ayahku membawa apa?"
"Dia membawa kamu," ucap Arkan dengan menatapnya tajam.
Ruangan itu mendadak terasa sesak, Alya benar-benar kehilangan suara. "Aku tidak mengerti dengan semua ini."
"Kamu bukan sekedar anak dari orang biasa, tapi kamu adalah sakti terakhir malam itu."
Alya tertawa kecil penuh ketidakpercayaan. "Jadi waktu itu aku masih kecil?"
"Ya, dan kamu ada di sana."
Potongan-potongan mimpi buruk yang selama ini menghantuinya, tiba-tiba muncul di kepala Alya.
Api.
Suara tembakan.
Pelukan hangat ayahnya.
Dan seorang pria kecil yang berdiri jauh di ujung lorong, matanya Alya langsung membelalak.
"Tidak."
Arkan tidak menjawab, karena Alya akhirnya sadar. Bahwa anak laki-laki itu adalah Arkan.
"Kamu..." suara Alya pecah. "Kamu ada di sana malam itu?"
Arkan menunduk pelan, untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, pria itu terlihat benar-benar kehilangan pertahanannya.
"Aku melihat ayahmu mati."
Air mata Alya jatuh seketika, tubuhnya limbung. Semua kenangan samar yang selama ini terkunci di kepalanya, mulai kembali sedikit demi sedikit.
Ia ingat darah, ia ingat ibunya menangis, ia ingat seseorang menyeretnya pergi. Dan sekarang semuanya terasa nyata.
"Siapa yang sudah membunuh ayahku?" tanyanya lirih.
Arkan terdiam, keheningan itu menjadi jawaban paling menakutkan.
Wajah Alya perlahan pucat, "Tidak... ini tidak mungkin."
"Alya, aku..."
"JANGAN!"
Alya mendorong tubuh Arkan menjauh, matanya dipenuhi air mata dan kemarahan.
"Jangan bilang, bahwa keluargaku mati itu semua karena kalian yang melakukannya?"
Rahang Arkan mengeras, "Aku tidak peduli organisasi sialan itu!"
Tangisan Alya pecah, "Keluargamu membunuh ayahku!"
Map itu jatuh berserakan ke lantai, Alya menangis tanpa suara, sambil menatap foto-foto lama itu.
Selama ini ia hidup di tengah kebohongan, dan yang paling menyakitkan, ia jatuh cinta pada putra keluarga yang sudah menghancurkan hidupnya.
Arkan mendekat perlahan, "Aku menikahmu hanya untuk melindungimu, Alya."
"Kenapa kamu ingin melindungiku? Sedangkan keluargamu sendiri sudah menghancurkan hidupku?" tanya Alya yang masih menangis.
"Damar sudah menemukan keberadaanmu lebih dulu," suara Arkan rendah dan berat. "Kalau aku tidak menikahimu, maka dia akan membunuhmu."
Alya membeku, "Tapi kenapa dia ingin membunuhku?"
"Karena ada sesuatu yang dicari semua orang," Arkan menatap lurus ke matanya. "Sesuatu yang dipercayai telah disembunyikan oleh ayahmu sebelum dia mati."
"Lalu apa hubungannya denganku?"
"Semua orang percaya, bahwa ayahmu telah meninggalkan petunjuk itu untukmu."
Napas Alya tercekat, ia merasa kepalanya berputar. "Tidak... aku tidak tahu apa-apa."
"Tapi aku tahu," jawab Arkan cepat.
"Tapi kenapa kamu tetap menyeretku masuk ke dalam neraka ini?"
Arkan tidak langsung menjawab, pria itu terlihat frustasi untuk pertama kalinya.
Karena jawaban sebenarnya terlalu berbahaya untuk diucapkan.
Namun akhirnya ia berkata pelan, "Karena aku tidak bisa membiarkanmu mati."
Kata itu seharusnya terdengar menenangkan, tapi justru malah terasa menyakitkan.
Karena semua yang terjadi di antara mereka, ternyata dibangun di atas rahasia dan darah.
"Apa ada satu saja hal dalam pernikahan ini yang terasa nyata?" tanya Alya lirih.
Arkan menatapnya lama, lalu dengan suara pelan, yang bahkan nyaris tidak terdengar. Ia berkata, "Hal yang nyata adalah perasaanku padamu."
Air mata Alya jatuh semakin deras, tetapi sebelum ia sempat menjawab...
DOR!
Suara tembakan mengguncang mansion, alarm keamanan langsung berbunyi nyaring.
Arkan langsung menarik Alya ke belakang tubuhnya, pintu ruang kerja terbuka dengan kasar.
Salah satu anak buah masuk dengan wajah yang begitu panik. "Tuan Arkan, mereka sudah menyerang mansion!"
Tatapan Arkan berubah dingin, "Siapa?"
Pria itu menelan ludah kasar, "Seperti biasa, mereka orang-orangnya Damar."
Dan untuk pertama kalinya, Alya melihat sisi paling berbahaya dari Arkan Virello, yang muncul tepat di depan matanya.