Tamara, seorang gadis muda berusia 19 tahun rela menjadi pelayan demi membalas dendam pada orang-orang yang telah menyakiti keluarganya.
Namun saat sedang menjalankan misi, hal yang tak terduga terjadi. Tamara terlibat cinta segitiga dengan suami majikannya.
Akankah misi Tamara untuk balas dendam berhasil? ikutin terus kisahnya ya🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggil sayang
"Bagaimana ya reaksi Giyandra saat tahu suaminya yang sempurna itu telah berselingkuh?"
Tamara tersenyum licik, matanya memancarkan kepuasan saat menatap ponselnya. Di sana terpampang jelas beberapa foto Dion yang sedang memeluknya mesra di atas ranjang. Foto-foto itu Tamara ambil secara diam-diam saat Dion tertidur pulas semalam. Hanya wajah Dion yang terlihat jelas, sementara wajah Tamara sengaja ia sembunyikan dengan rambutnya yang tergerai.
Tanpa membuang waktu, Tamara segera mengirimkan foto-foto panas itu ke ponsel Giyandra menggunakan akun anonim yang sengaja ia buat.
"Aku tidak sabar menunggu reaksi Giyandra saat melihat foto ini!" bisik Tamara penuh kemenangan, senyum miring terukir jelas di bibirnya.
"Apa yang membuatmu begitu bahagia sampai tersenyum sendiri seperti itu?"
Suara bariton yang tiba-tiba terdengar dari belakang membuat Tamara tersentak kaget. Ia hampir saja menjatuhkan ponselnya, namun dengan sigap ia berhasil menyambar benda pipih itu sebelum Dion bisa melihat isinya.
"Tidak ada, Tuan!" Tamara tergagap, segera menyembunyikan ponselnya di saku celemek.
"Saya hanya sedang membuat kue. Hasilnya bagus sekali, saya jadi senang melihatnya," Tamara mencoba mencari alasan paling masuk akal, lalu melanjutkan menghias kue dengan gerakan cepat. Dengan keahliannya, kue itu tampak begitu indah, tak kalah dengan buatan toko kue terkenal.
"Akhh!"
Tamara kembali terkejut saat tangan kekar Dion tiba-tiba melingkar di pinggangnya, memeluknya dari belakang. Hawa panas tubuh pria itu langsung menjalar, membuat bulu kuduk Tamara meremang.
"Tuan! Apa yang Anda lakukan?! Bagaimana kalau ada yang melihat?!" Tamara melirik ke sekeliling ruangan dapur yang luas itu dengan wajah panik, takut ada pelayan lain yang tiba-tiba muncul.
Dion mengeratkan pelukannya, mengendus aroma manis rambut Tamara. "Kau tenang saja. Aku sudah menyuruh semua pelayan untuk pergi keluar. Hanya ada kita berdua di rumah ini sekarang."
"Tidak, Tuan! Saya mohon jangan begini!" Tamara mencoba melepaskan diri, tapi pelukan Dion terlalu kuat.
"Nyonya Giyandra menyuruhku membuat kue ini dan segera membawanya ke rumah sakit. Dia sedang menungguku..." ucap Tamara terbata-bata. Ia berusaha keras untuk tidak terlena dalam sentuhan pria itu, tapi entah kenapa, sulit sekali.
"Aku akan berhenti," bisik Dion menggoda, suaranya serak dan sensual. "Tapi ada syaratnya."
"Apa syaratnya, Tuan?" tanya Tamara, penasaran sekaligus ketakutan.
"Jangan panggil aku 'Tuan' saat kita sedang berdua saja. Kau harus memanggilku 'Sayang'," bisik Dion tepat di telinga Tamara, membuat wanita itu merinding.
"Itu... itu tidak mungkin, Tuan! Saya tidak berani!" Tamara menolak keras.
"Kalau begitu aku tidak akan berhenti," Dion tidak main-main. Pria itu mengangkat tubuh Tamara dan mendudukkannya di atas meja dapur. Tanpa menunggu persetujuan, pria itu kembali mencium bibir Tamara dengan rakus, lalu turun ke leher jenjang wanita itu, meninggalkan jejak-jejak merah.
Mata Tamara terpejam. Ia kembali merasakan kehangatan yang Dion berikan semalam, yang kini bercampur dengan rasa takut yang menyesakkan. Ia membalas ciuman Dion, membiarkan dirinya terhanyut sesaat, hingga ponselnya bergetar di sakunya.
Sebuah pesan masuk.
"Kau di mana? Nyonya sudah menunggumu. Nyonya bilang kalau kau tidak datang dalam 30 menit, kau akan dipecat!" Pesan itu datang dari pelayan lain yang sedang menjaga Giyandra di rumah sakit.
Kesadaran Tamara kembali. Ia berusaha melepaskan diri dari ciuman Dion. "Saya mohon hentikan, Tuan! Nyonya sedang menungguku. Kalau dia marah, dia pasti akan memecatku!"
"Panggil aku 'Sayang', baru aku akan berhenti," ucap Dion, suaranya tak bisa dibantah.
Tamara tidak punya pilihan lain. Demi pekerjaannya, demi misinya.
"Sayang..." ucap Tamara pelan, nyaris tak terdengar, wajahnya memerah karena malu. "Aku mohon hentikan... aku harus segera pergi ke rumah sakit."
Mendengar sebutan itu, Dion akhirnya menghentikan aksinya. Pria itu menatap Tamara lekat-lekat, ada tatapan kepuasan di matanya.
"Baiklah. Aku melepaskanmu sekarang. Tapi ingat, lain kali tidak akan kubiarkan," ucap Dion, senyum tipis terukir di bibirnya.
Tanpa banyak bicara lagi, Tamara segera membungkus kue buatannya dengan cepat. Ia melangkah tergesa-gesa keluar dari dapur tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Dion.
Dion hanya menatap punggung wanita itu yang perlahan menjauh.
"Tamara... rupanya kau sudah tidak mengenali aku lagi, padahal dulu kita cukup akrab." gumam Dion, ada nada melankolis dalam suaranya.
Bersambung...