[ Karya pertama di NovelToon ]
[ Semua visual di dalam didapat dari apk pinterest ]
----------
Yu Lingxi adalah Nona Muda Sekte Naga Giok. Ia dipuja-puja sebagai dewi karena memiliki kemampuan diatas rata-rata para kultivator wanita luar. Namun, ada suatu masa Sekte Naga Giok runtuh, disebabkan oleh Sekte Iblis Guntur yang secara terang-terangan mendeklarasikan peperangan dadakan. Dan diakhir hanya menyisakan nyawa Yu Lingxi dan Kakek Naga—Yu Tianlong. Peristiwa itu mengakibatkan mereka terpaksa meninggalkan sekte demi keberlangsungan hidup.
Tapi, tanpa Sekte Iblis Guntur ketahui, akan ada masanya Yu Lingxi membalaskan ketidakadilan dan dosa besar yang sudah mereka lakukan terhadap Sekte Naga Giok. Yu Lingxi, akan segera datang. Tunggu saja ...
----------
[ Hasil ketik tangan sendiri ]
[ Segi dunia, kultivasi, profesi, tingkatan, kekuatan, dan lain sebagainya adalah sebuah rekayasa dari ide author sendiri. Jika ada kesalahan kalimat/typo, mohon beritahu author ]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nona cacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pahit Berujung Manis #01
Angin malam tiba-tiba berembus kencang. Langit di atas jalan setapak menuju Puncak Shuangfeng yang tadinya berbintang, seketika tertutup oleh awan hitam yang berputar membentuk pusaran raksasa. Petir ungu menyambar-nyambar di sela awan, menerangi hutan dengan cahaya yang menyakitkan mata.
Tanah bergetar hebat. Pohon rindang tempat mereka berteduh bergoyang seolah hendak tumbang. Dari balik kabut tebal, muncul sosok setinggi tiga meter dengan postur tegap. Itu adalah Kera Kemelut Guntur, seekor Monster Roh Raja berumur hampir seratus ribu tahun.
Monster itu tidak sepenuhnya berwujud hewan. Tubuhnya ditutupi bulu emas yang memancarkan listrik, namun ia berdiri tegak dengan proporsi setengah manusia. Matanya bersinar keemasan, memancarkan haus darah yang tak terpadamkan. Saat ia melangkah, Domain Siluman miliknya menyebar—membuat udara sekeliling terasa seberat timah.
Di satu sisi, Lingxi merasakan paru-parunya seperti dihimpit. Lututnya gemetar, dan secara insting, seluruh sel di tubuhnya berteriak untuk lari atau berlutut.
"Tekanan ini ... tidak mungkin!"
Selama beberapa detik, Lingxi mematung. Wajahnya pucat pasi, matanya membelalak menatap sosok yang perlahan keluar dari bayang-bayang. Kera Guntur itu hanya menatapnya dengan dingin, seolah-olah Lingxi hanyalah sebutir debu yang mengganggu jalannya.
Melihat Kera Raja itu melirik ke arah Shen Zhengtian yang tak berdaya, kesadaran Lingxi tersentak kembali. Ia menggigit bibir bawahnya hingga berdarah, menggunakan rasa sakit itu untuk memecahkan belenggu ketakutan dari Domain Siluman.
"Jangan berani ... melangkah lebih dekat!" bentak Lingxi seraya memaksakan diri untuk berdiri tegak.
Dengan sisa Qi yang terasa kering di Dantiannya, Lingxi memaksakan diri memasang kuda-kuda tempur. Cahaya biru air di tangannya kini meredup dan tidak stabil, namun ia tetap mengarahkannya ke depan.
Kera Kemelut Guntur berbicara dengan suara berat yang menggetarkan tulang, bahasa manusia yang sempurna. "Semut Kecil, kau punya nyali untuk berdiri di hadapan Raja ini hanya demi melindungi manusia yang energinya sudah padam? Sia-sia."
"Sia-sia katamu?! Hei, Monyet Tua, mentang-mentang kau Monster Roh Raja, kau menjadi sangat sombong!" celetuk Lingxi dengan mata membara.
"Hmm? Fakta. Kau hanya berada di Ranah Jiwa Baru Tahap Prima Level 6. Tiada mampu untuk mengalahkanku yang sudah hidup ribuan tahun," suaranya sarat remeh.
Mendengar kalimat itu, membuat Lingxi naik pitam. Ia ingin sekali langsung membunuh Kera Kemelut Guntur. Tapi, ia juga menyadari perbedaan kekuatan yang bagaikan bumi dan langit, Lingxi memang memilih untuk menyerang lebih dulu, tapi ia melakukannya bukan bermaksud membunuh, tapi mengulur waktu.
Ia melesat laju ke hadapan. "Teknik Kedua, Delapan Belas Pukulan Penghancur Rembulan!"
Dalam hitungan detik, Lingxi melepaskan rangkaian serangan bertubi-tubi pada titik-titik krusial sang Raja Kera. Tiga pukulan pertama menghantam ulu hati dan dada untuk menggoncang napasnya. Lima pukulan berikutnya menyerang persendian bahu dan siku tangan kanannya. Dua tendangan berputar menghantam pelipis dan rahang bawah. Delapan pukulan terakhir dilesakkan secara simultan ke arah titik nadi di leher sang monster.
DUAK! DUAK! BLAM!
Namun, Kera Kemelut Guntur hanya bergeming. Ia menggerakkan lengannya dengan cepat, menangkis setiap hantaman Lingxi hanya dengan punggung tangannya. Melihat serangannya tak berarti, Lingxi segera mengubah taktik. Sebelum tangan Monster Roh Raja itu berhasil mencengkeram lehernya, ia menghentakkan jari-jarinya.
"Teknik Ketiga, Teleportasi Void diaktifkan!"
SHUUT!
Tubuh Lingxi menghilang, meninggalkan jejak partikel biru laut di udara. Dalam sekejap mata, ia muncul kembali di bawah pohon rindang, tepat di samping tubuh Shen Zhengtian. Tanpa membuang sedetik pun, Lingxi menyentuh dahi Shen Zhengtian dengan jari telunjuknya yang mengenakan Cincin Ruang.
"Maaf, Zhengtian, di dalam sini mungkin akan sedikit sesak, tapi ini lebih baik daripada jadi camilan Monyet Tua itu!" bisiknya dengan keringat dingin sudah bercucuran membasahi dahi.
Kera Kemelut Guntur meraung marah, menyadari mangsanya telah disembunyikan. Ia menghantamkan tinjunya ke arah Lingxi, menciptakan ledakan petir yang sanggup meratakan bukit.
"BERANI-BERANINYA KAU BERMAIN TRIK RUANG DI HADAPANKU!"
Saat tinju raksasa itu hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya, Lingxi kembali memicu energinya.
Lingxi memasang senyuman miring meski wajahnya pucat pasi. "Selamat tinggal, Monyet Tua! Temukan kami di puncak kalau kau bisa!"
"Teknik Ketiga, Teleportasi Void diaktifkan!"
BOOOOM!!!
Hantaman sang Kera menghancurkan pohon rindang, namun Lingxi sudah tidak ada di sana. Ia meledakkan seluruh sisa Qi nya untuk melakukan teleportasi berantai, melompati dimensi ruang berkali-kali. Beberapa ratus meter jauh di atas tebing, sosok Lingxi muncul kembali dengan tubuh yang limbung. Ia terengah-engah, dadanya terasa panas karena memaksakan tekniknya berturut-turut.
Lingxi menyempatkan diri untuk menoleh ke bawah, melihat kilatan petir yang masih mengamuk di kejauhan. "Gila ... benar-benar gila. Aku baru saja selamat dari Monster Roh Raja ..."
Ia tidak berhenti. Sambil memegang dadanya yang sesak, ia terus berlari mendaki jalan setapak yang terjal, menghilang ke dalam kegelapan hutan menuju puncak Puncak Shuangfeng.
...✦•┈๑⋅⋯ ࿔‧ ֶָ֢˚˖𐦍˖˚ֶָ֢ ‧࿔ ⋯⋅๑┈•✦...
Lingxi melesat di antara batang-batang pohon bagaikan bayangan yang menyatu dengan alam. Napasnya terbakar, dan kakinya mulai terasa mati rasa. Ia mengira teleportasi berantainya telah memberikan jarak yang cukup aman. Namun, ia meremehkan apa artinya menjadi seorang Raja.
Tiba-tiba, udara di sekitarnya menjadi berubah total—bulu kuduknya berdiri. Sebuah kilatan raksasa melintas di atas kepalanya dengan suara dentuman yang memekakkan telinga.
CRAAAKKK—BOOOM!
Sesosok raksasa berbulu perak sudah mendarat sepuluh meter di depannya, memunggungi Lingxi dengan aura yang jauh lebih menekan dari sebelumnya. Kera Kemelut Guntur telah membalapnya hanya dalam beberapa lompatan besar.
Tanpa berbalik, Kera Kemelut Guntur mengangkat tinju kanannya yang kini dibungkus oleh bola petir ungu yang pekat. Ia menghantamkan tinju itu ke tanah di bawah kakinya dengan kekuatan penuh.
DUMMMMM!!
Efeknya seketika menimbulkan gelombang kejut listrik merambat cepat, dan tanah yang dipijak Lingxi bergetar hebat sebelum akhirnya terbelah menjadi dua. Retakan Monster Roh Raja itu menganga lebar, melahap pepohonan dan bebatuan, menciptakan jurang dadakan yang sangat dalam tepat di depan kaki Lingxi.
Lingxi membelalakkan matanya, dengan suara tercekat di tenggorokan ia berkata, "t-tanahnya terbelah?!" serunya panik.
Spontan, dengan refleks bertahan hidup yang masih tersisa, Lingxi melompat ke atas. Ia mendarat di atas batang pohon besar yang condong ke arah jurang tersebut. Dari atas sana, ia menunduk dan melihat ke bawah. Pemandangan jurang yang berasap karena panas petir itu membuat sekujur tubuhnya merinding.
Lingxi berdiri gemetar di atas batang pohon. Cahaya dari petir yang menyelimuti tubuh sang Kera memantul di matanya kini mulai digenangi rasa putus asa. Semua teknik yang ia gunakan, dimulai dari kecepatan, teleportasi, manipulasi air—terasa seperti mainan anak-anak di hadapan Kera Kemelut Guntur.
"Bagaimana mungkin aku bisa lari dari makhluk yang bisa membelah tanah hanya dengan satu pukulan?"
Kera Kemelut Guntur berbalik perlahan, matanya yang keemasan menatap Lingxi dengan hinaan yang dalam. "Sudah kubilang, semut kecil. Di hadapan kau hanyalah sampah. Kau ingin lari ke mana? Ke puncak gunung yang akan kuhancurkan setelah ini?"
Lingxi mengepalkan tangannya yang gemetar hebat. Kepercayaan dirinya hancur berkeping-keping. Puncak Shuangfeng yang terlihat di kejauhan kini terasa jutaan kilometer jauhnya.
Semua sudah berakhir ...
Kera Kemelut Guntur tanpa banyak basa-basi langsung memanggil guntur yang sudah berseliweran di cakrawala berwarna biru legam. Tangannya ia angkat tinggi-tinggi dengan telapak terbuka lebar.
Apakah kita akan mati bersama di sini ...?
Di tangan Kera Kemelut Guntur, ia memanggil keris bernama Keris Tujuh Guntur. Dengan erat ia mencengkramnya agar tetap kokoh dan tak terlepas dari jangkauannya. Dengan bangga ia menyodorkan keris itu—berniat untuk memamerkan keris ciptaannya di hadapan gadis yang kini masih diam terpaku di tempatnya.
Di hari yang membahagiakan ini, aku bahkan tidak bisa memperlihatkan hasil pembuatan pil ku pada Kakek ...
Kera Kemelut Guntur dengan senyum miring yang lebar langsung melemparkan Keris Tujuh Guntur tepat ke posisi Lingxi. Sementara itu, Lingxi masih terperangah dengan napas terburu-buru. Matanya sayu-sayu karena Qi di dalam Dantiannya kian meredup akibat terlalu banyak menggunakannya. Dan pilihan yang dapat dipilih hanya satu.
BOOOOOMMMMM!!
...✦•┈๑⋅⋯ ࿔‧ ֶָ֢˚˖𐦍˖˚ֶָ֢ ‧࿔ ⋯⋅๑┈•✦...
...…To Be Continued…...
Nggak sia-sia bacanya, harap-harap alurnya juga semantep visualnya/Kiss//Rose/