Sudah 5 tahun sejak pernikahanku dengan Raymond. Di depan keluarga dan teman, kami adalah pasangan yang harmonis. Tapi ketika di dalam rumah kecilku, aku merasa hampa. Ini terasa seperti aku bermain sandiwara selama 5 tahun lebih. Aku pun tidak tahu apa yang salah dengan diriku sendiri kenapa aku masih memaksa diriku untuk bersamanya. Tapi satu hal yang pasti, suamiku mencintai statusnya sebagai suami bukan mencintaiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31
Tok tok tok
"masuk," ucap sang asisten dari dalam ruangan.
Seorang wanita dengan pakaian yang rapih masuk ke dalam ruangan Matt. Wajahnya serius dengan sebuah dokumen di tangannya. Dia salah satu sekertaris kepercayaan sang asisten, bukan kepercayaan Matt karena Matt hanya percaya uang dan asistennya.
"permisi pak, saya mau melaporkan terkait perintah waktu itu untuk mengawasi dengan ketat manajer keuangan kita."
Matt memberi sinyal agar sang asisten yang maju dan memeriksanya. Dengan sigap, dia maju mengambil alih dokumen tersebut dan memeriksanya lembar demi lembar.
"boss, sesuai prediksi boss."
"hm, serahkan ke polisi. Kerahkan semua tim hukum kita untuk menanganinya."
"Baik pak" / "Siap boss," ucap keduanya serentak.
"gitu saja perlu di dikte," gumamnya tapi masih cukup jelas untuk didengar oleh asisten dan sekertarisnya.
Keduanya saling berpandangan, lalu sang asisten mengisyaratkan sekertaris tersebut untuk keluar. "ya sudah saya urus masalah ini dulu."
"ya sana, nanti balik ke sini bawa martabak ya Rik."
Yang dipanggil sedikit bengong lalu menggebrak meja Matt. "oh ayolah, sepagi ini mana ada martabak. Jangan aneh-aneh tolong."
"aku pengen martabak."
"bikin sendiri, jangan nyusahin orang."
"ya ya sudah sana keluar, sumpek liat kamu."
"cih."
Riko namanya, kalau nama panjangnya Riko Anggara. Dia bekerja sebagai asisten Matt tepat saat pria itu baru menjabat sebagai direktur utama. Itu semua murni kebetulan saja. Riko melamar sebagai staff pemasaran yang waktu itu sedang buka lowongan. Lalu Matt juga sedang meminta seorang asisten ke bagian personalia.
Saat melihat CV yang dikirim oleh Riko, Matt langsung meminta agar dia dialihkan menjadi asistennya. Saat pertama kali bertemu, Riko bingung melihat sosok di hadapannya.
"kamuu.. ngapain di sini?"
"nahh lemotnya masih sama, menurutmu aku duduk di ruangan apa dan ini kursinya siapa?" tanya Matt sambil menepuk gagang kursinya.
"direktur utama? kamu bosku? ogah ah."
"ya sudah sana keluar."
"eh ya jangan gituu, tunggu punya tabungan dulu baru keluar."
"jadi mau nggak jadi asistenku."
"terpaksa iya deh mau, asal gajinya gede."
"nggak gede cuma dua digit."
Riko langsung terbelalak saat mendengar kata dua digit. Itu artinya gajinya dua kali lipat dari staff pemasaran biasa.
"plus bonus."
Mendengar kata itu, wajahnya semakin sumringah. Dengan iming-iming uang sebesar itu, Riko seperti sedang dihipnotis saat ia menandatangani kontrak dengan Matt. Ia benar-benar melupakan bagaimana sifat asli makhluk itu. Dan sekarang sudah enam tahun ia terkurung di menara kekuasaan Matt. Setiap hari bertarung dengan tingkah diluar nalar pria itu.
Mereka berdua sudah saling kenal sejak duduk di bangku SMP. Saat Matt baru pindah, ia belum menguasai bahasa lokal dengan baik. Banyak anak-anak yang mengerumuninya saat awal masuk karena ia terlihat sangat berbeda. Kulit putih, rambut pirang dan mata biru. Hidungnya juga sangat mancung dan tubuhnya sudah setinggi kakak kelas.
Matt kewalahan menghadapi kerumunan itu dan hampir pusing dibuatnya. Beruntung saat itu seorang anak dengan kulit coklat karena terbakar matahari datang membubarkan kerumunan itu.
"woy! ini bukan pasar, minggir sana. Aku mau duduk!"
Itu adalah Riko kecil yang kebetulan duduk di bangku belakang Matt. Tanpa Riko tau, tindakannya saat itu berhasil menarik perhatian Matt dan membuatnya merasa cukup aman sekaligus penasaran dengannya.
Sejak itu, Matt sering mengikuti Riko kemanapun ia pergi. Bahkan ia sampai tersesat karena mengikutinya pulang.
"rumahmu dimana?"
"emm diii, tidak tahu," jawab Matt dengan terbata.
Riko melongo dan ikut bingung juga karena dia tidak mengenal si anak baru itu. Berakhir dengan mereka berdua keliling sampai malam hanya untuk mencari alamat rumah Matt. Lalu mereka berakhir di kantor polisi karena Riko menyerah mencarinya. Saat masuk ke kantor polisi, di situ ada tiga orang dewasa dengan raut panik.
Satu orang adalah ibunya Matt, dua orang adalah orang tuanya Riko. Mereka melaporkan kehilangan anak karena sudah malam keduanya tidak kunjung pulang ke rumah.
Orang tua itu langsung memeluk anaknya masing-masing saat melihat mereka masuk dengan pakaian yang sudah berantakan.
"ma, I'm hungry," ucap Matt dengan polos saat mendengar perutnya berbunyi.
Riko yang mendengar itu sontak saja memukul lengan Matt. "itu mama kamu lagi nangis loh."
"hm?"
"hush Riko jangan kasar sama teman."
"lagian dia nggak paham sama bahasa kita bu. Capek tau keliling kesana kemari cuma buat cari rumahnya. Eh taunya kalian ngumpul di sini."
"lain kali harusnya kembali ke sekolah saja minta tolong bu guru. Atau kamu bawa pulang, biar ibu bisa menghubungi orang tuanya."
"ya mana Riko tau kalau harusnya itu yang dilakukan."
Sementara Matt hanya memandang polos Mamanya dan Riko serta orang tua Riko.
"nak Riko, terimakasih banyak ya sudah membantu dan menemani Matt sampai semalam ini."
"loh tante bisa bahasa sini?"
"ya ampun bocahh, sama-sama Bu. Maaf ya anak saya sedikit kurang ajar," jawab ibunya Riko.
Sejak itu, Riko dan Matt seperti saudara tidak sedarah, karena kemanapun selalu bersama. Semua hal pertama di negara ini, ia lakukan bersama dengan Riko.