Seorang pria remaja mendapatkan kekuatan dari aura ghaib Putri Mahkota Bangsa Iblis. Yang membuat perubahan seratus delapan puluh derajat dari kehidupan sebelum nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kend 13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perubahan Fisik Jay
'Hah?' Jay melongo. Hal itu sangat mustahil untuk dilakukan nya. Mengingat dia masih lah pelajar di bawah umur.
'Kenapa? Lu keberatan?' tanya Milea dengan sarkas.
'Gue belum pernah ngelakuin hal begituan. Nggak bisa ganti yang lain?' tanya Jay pada Milea. Berharap bisa menggantikan misi yang belum di lakukan nya itu.
'Nggak bisa! Itu adalah misi utama. Kalau nggak, buat apa juga gue susah-susah menggoda lu untuk datang ke tempat keramat itu sebagai wadah gue sekarang?' jelas Milea.
'Jadi, ceritanya lu manfaatin gue nih?' tuduh Jay mencoba menyerang Milea dengan cara seperti itu.
'Lu kan juga dapat manfaat nya!' balasnya lebih sarkas.
Jay mencoba memutar otak nya. Mencari celah untuk mengorek informasi dari yang katanya Putri Mahkota iblis itu.
'Jangan pernah berfikir untuk mendapatkan informasi!'
'Lu kok bisa tau fikiran gue sih?' keluh Jay. Merasa tertindas, seakan tak ada lagi ruang untuk privasi dirinya sendiri.
'Karena, saat ini. Lu tuh cuma alat gue.' tegas Milea. 'Dan jangan harap bantuan dukun, atau orang-orang sakti di dunia ini akan bisa bekerja ngelawan gue! Mereka bisa saja mengusir semacam roh-roh halus disini. Namun, tidak akan bekerja pada gue sebagai bangsa iblis.!' imbuh Milea seakan tau kemana fikiran Jay saat ini.
Kedua bahu Jay merosot lemah. Benar-benar tak ada lagi ruang baginya.
'Ikuti saja permainan nya! Selama lu nggak memberontak, lu akan mendapatkan manfaat nya juga kok. Dan kalau pun lu berontak,!' Milea menjeda ucapannya.
Jay merasakan hawa tubuh nya terasa begitu panas. Keringat sebesar jagung mulai muncul disetiap pori-pori pada tubuh nya.
'Gue bisa saja membunuh roh lu dengan mudah. Dan bisa melakukan apapun dengan tubuh lemah lu ini.!' Ancamnya dengan suara menggeram.
'Hentikan!' Jay menggeram menahan rasa panas pada tubuh nya itu. 'Okey! Gue nurut!' lanjut nya mengalah, ingin mengikuti kemauan Putri Mahkota Iblis itu.
'gitu kek, dari tadi.' Seketika itu juga suhu tubuh Jay langsung berubah. Menjadi sejuk seperti sedia kala.
"Hufftt!" Jay menghembuskan nafas keruh setelah hawa panas itu berlalu. Namun, tubuh nya terlihat begitu aneh. Keringat yang keluar barusan seperti cairan aneh.
Cairan berlendir itu berwarna hitam, dan menguarkan bau busuk yang sangat menyengat.
Gegas Jay berdiri di bawah shower untuk membersihkan cairan lendir berwarna hitam itu.
'Tenang saja, itu hanya lah sisa kotoran racun yang masih membandel dalam tubuh lemah lu.' terang Milea.
Jay mengacuhkan pernyataan Milea. Saat ini dia terlalu sibuk menggosok serta menyikat seluruh anggota tubuh nya dengan sikat pembersih lantai. Karena terlalu sulit menggosok nya dengan tangan.
***
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam. Jay baru keluar dari dalam kamar setelah Aida berulang kali memanggilnya dari balik pintu kamar. Rambut nya masih lah basah ketika dia duduk di bangku meja makan.
Ketiga putri Aida melongo melihat penampilan Jay saat ini. Selain jalan nya tak pincang lagi, pemuda itu sekarang sangat mempesona. Wangi ditubuh nya pun agak berbeda, tidak ada aroma sabun atau shampoo dari berbagai merek pun mengeluarkan harum semerbak seperti ini.
"Baru selesai mandi?" Tanya Aida basa-basi.
"Tadi ketiduran di bathup, bi! Hehehe." Jawab Jay sekenanya.
"Oh! ya udah. Buruan makan gih!" Ucap Aida menyuruh Jay agar segera menikmati makan malamnya.
"Ehem!" Jay berdeham cukup keras melihat ekspresi plongo ketiga putri bibinya itu dalam menatap nya.
Sontak saja ketiganya jadi salah tingkah. Ada yang pura-pura nambah nasi. Ada yang langsung menunduk, seakan menikmati makanan nya, dan ada juga yang langsung minum air segelas penuh. Seperti dia sangat kehausan menahan panasnya gejolak tubuh yang dirasakan nya malam ini.
Aida yang saat ini sudah berpenampilan sedikit tertutup itu mengulum senyuman. Bagaimana tidak? Dia tahu betul watak dari ketiga putri nya itu.
Selama Jay tak sadarkan diri, hanya dialah seorang yang tahu perubahan postur tubuh Jay.
Merasa senang, membayangkan hari-hari kedepannya akan berjalan indah di rumah ini. Tak ada lagi perang dingin antara semua putri nya dengan keponakan nya itu.
"Bibi juga makan, dong! Malah senyum-senyum sendiri!" Celetuk Jay di sela kunyahan nya menikmati hidangan makan malam di ruang makan, malam ini.
"Bibi senang banget malam ini, Jay." Ucap Aida kegirangan.
"Seneng kenapa, bi?" Tanya Jay. Pura-pura tak mengerti dengan apa yang di bicara kan bibinya itu.
"Pokoknya senang aja." Ucap Aida, terus mengembangkan senyuman di bibir berwarna merah muda nya itu sambil mengunyah makanan nya dengan cara elegan.
"Aku udah selesai, mah. Aku kedalam kamar dulu yah." Shitta bangkit setelah menutup makan malam nya dengan meneguk segelas susu putih yang sudah menjadi kebiasaan nya.
"Aku juga, mah." Shilla pun mengikuti kakak keduanya itu.
Kini, diruang makan itu hanya tinggal Jay, Aida dan Shiva yang masih menikmati makanan masing-masing.
"Ehem, Kak!" Jay memanggil Shiva yang masih menundukkan kepala nya itu. Mencoba memulai obrolan dengan nya yang sudah lama tak terjadi itu.
"Hmm?" Shiva mengangkat kepala nya menatap Jay, menampilkan raut wajah penuh tanya.
"Makasih ya." Ucap Jay lembut. Mengutarakan rasa terimakasih nya dengan kejadian minggu lagu.
"Tentang?" Tanya Shiva dengan pandangan seribu pertanyaan.
"Kejadian minggu lalu. Makasih. "
"Oh! Kembali kasih." Potong Shiva sebelum Jay bicara lebih panjang lagi. "Hanya kebetulan." Lanjut nya, dia pun berdiri, karena sudah menyelesaikan makan nya malam ini. Tangan nya langsung bekerja mengambil piring-piring kotor yang ada di atas meja. Untuk di bawanya ke wastafel.
Aida mengulum senyum. Melihat interaksi antara anak dan keponakan nya ini. 'Sudah ada kemajuan sedikit!' soraknya dalam hati.
Putri sulung nya itu memang gadis yang dingin. Karakter nya mengingat kan dirinya saat muda dulu. Namun sepertinya Shiva masih lebih agak lembut dari caranya memperlakukan Jay, pria yang saat ini tak di sukai nya itu. Kalau saja posisi itu berada pada Aida, mungkin dia tidak akan pernah berada di rumah saat ini juga.
Beruntung sikap keras kepala nya tak menurun pada ketiga putri nya itu. Atau mungkin putri-putri nya itu tak punya pilihan lain. Hahaha. Aida bermonolog sendiri. Merasa bangga atas mendidik anak-anak nya bisa sepatuh ini padanya sebagai orang tua dari mereka.
Shiva adalah gadis yang sangat cantik. Dan dia adalah salah satu primadona dari beberapa gadis cantik di kampus. Tinggi tubuh nya mendekati angka 170 cm. Dengan berat badan berkisar 52 - 55 kg. Cukup ideal untuk seorang gadis remaja yang beranjak dewasa.
Kulit nya putih halus, mirip dengan sang ibu. Memiliki gaya yang terkesan anggun tapi tetap simpel, model rambutnya sebahu, 'layered cut' adalah pilihannya. Potongan berlapisnya membuat rambut terlihat cantik karena efek jatuh naturalnya serta terlihat lebih tebal.
Bentuk tubuh nya seperti jam pasir, memiliki ukuran pinggul dan dada yang sama menonjol. Akan tetapi, ukuran pinggangnya lebih kecil dan bahu terlihat agak bulat. Sangat memanjakan mata bagi kaum pria bila melihat nya.
Setelah selesai makan, Jay pun juga mengumpulkan piring-piring kotor yang belum di bawa Shiva. Dia berinisiatif untuk membantu pekerjaan, agar lebih banyak lagi mengobrol dengan kakak sepupunya itu yang saat ini sedang mencuci piring.
Sementara Aida membereskan sisa-sisa makanan, lalu meletakkan nya kembali ke lemari khusus penyimpanan makanan. Melihat apa yang akan di lakukan Jay, Aida pun meninggalkan mereka berdua.
"Kak, gue bantuin, yah." Ucap Jay setelah berada disebelah Shiva sambil mengenakan apron pada tubuh nya.
"Hem." Shiva hanya bergumam merespon ucapan Jay.
Jay pun tak sungkan lagi, dengan interaksi sedekat itu, terkadang tangan mereka saling bersentuhan, namun reaksi Shiva hanya lah biasa-biasa saja.
"Kaki lu udah sembuh?" Tanya Shiva datar, setelah cukup sering bersentuhan dengan tangan Jay, akhirnya dia pun angkat bicara tentang keadaan kaki Jay untuk menutupi rasa gugup nya yang sedari tadi ditahan nya.
Jay tersenyum simpul. "Kayak nya udah pulih total, kak." Jawab nya menerangkan keadaan kaki nya itu. sambil loncat-loncat kecil memperagakan keadaan kaki nya yang benar-benar telah pulih.
'Tuh liat, kan! Cewek cantik sedingin es itu saja udah mencair tuh! Berkat pesona lu!' tiba-tiba Milea bersuara.
"Uhuk!" Jay terbatuk mendengar celotehan Milea barusan.
"Napa lu?" Shiva menolehkan pandangan nya kearah Jay.
"Nggak apa-apa, kak. Cuma tersedak aja, dikit." Jawab Jay mencari alasan asal.
"Ceroboh banget!" Ketus Shiva singkat, kemudian melanjutkan proses cuci piring nya.
"Kakak sih! Cantik-cantik kok sedingin es?" Celetuk Jay secara spontan. Namun setelah itu, dia menutup mulutnya, melihat Shiva langsung berhenti bergerak disertai wajah nya jadi memerah. Jay merutuki Milea. Pasti ini kerjaan iblis sialan itu, terkanya dalam hati.
Namun hal tak terduga terjadi. Walaupun Shiva terdiam dengan wajah memerah. Dalam benak Shiva sendiri merasa senang di puji oleh Jay. Wajah nya yang memerah bukan berarti dia marah, namun itu adalah reaksi alami tubuh nya menahan malu.
*****