Anya Anandita tidak pernah menyangka hidupnya akan sekacau ini. Di tengah himpitan utang medis mendiang ayahnya dan ancaman kehilangan tempat tinggal, ia justru dipertemukan lewat insiden memalukan dengan Devan Alfarezel CEO muda berhati dingin, arogan, dan perfeksionis yang paling dihindari semua karyawan di perusahaannya. Pertemuan pertama mereka berjalan buruk, menyisakan kekesalan mendalam di hati masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Royo Ekek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Atap, Dua Aturan
Griya tawang (penthouse) mewah yang terletak di lantai lima puluh lima Menara Alfarezel itu memiliki pemandangan yang sanggup membuat siapa pun menahan napas. Dari dinding kaca setinggi langit-langit, seluruh bentangan megah kota Jakarta terlihat bertekuk lutut di bawahnya. Namun bagi Anya Anandita, ruangan berkonsep minimalis modern dengan dominasi warna monokrom dan marmer hitam ini tidak lebih dari sebuah penjara berlapis emas.
Anya berdiri kaku di tengah ruang tamu yang luas, mencengkeram erat pegangan koper kecilnya yang tampak sangat lusuh dan tidak selaras dengan kemewahan di sekelilingnya. Ia masih mencoba menata napas dan detak jantungnya setelah proses "evakuasi" dramatis dari kosannya beberapa jam lalu.
Langkah kaki yang mantap terdengar mendekat. Devan Alfarezel berjalan memasuki ruangan, baru saja melepaskan jas abu-abunya dan menyisakan kemeja putih dengan dua kancing teratas yang terbuka. Pria itu tampak sangat santai, kontras dengan Anya yang tampak seperti buronan yang siap melarikan diri kapan saja.
"Kau bisa meletakkan kopermu. Ini bukan hotel tempat kau memesan kamar untuk transit," ucap Devan datar, suaranya bariton lambat menggema di langit-langit ruangan yang tinggi.
Anya menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya. "Pak Devan... maksud saya, Devan. Apakah ini benar-benar perlu? Menghindar dari wartawan bukan berarti saya harus pindah ke tempat tinggal Anda. Ini sama sekali tidak ada di dalam kontrak awal kita!"
Devan berjalan menuju mini bar, menuangkan air putih ke dalam gelas kristal, lalu berbalik menatap Anya dengan sepasang mata elangnya yang tajam dan penuh kalkulasi.
"Kakekku menempatkan orang untuk mengawasi kita, Anya," jawab Devan dingin sebelum meneguk airnya. "Setelah foto kita viral malam tadi, Karina dan Dion mulai mencari tahu celah dalam hubungan kita. Jika mereka tahu kita tinggal terpisah, dalam waktu dua puluh empat jam mereka akan membuktikan pada Kakek bahwa hubungan ini palsu. Dan kau tahu apa artinya itu?"
Devan melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Anya bisa mencium aroma parfum maskulin yang kini mulai familier di indra penciumannya.
"Artinya, aku kehilangan posisiku, dan kau... harus mengembalikan seluruh uang puluhan juta yang kupakai untuk melunasi utang-utang keluargamu malam tadi. Kau punya uangnya?" tanya Devan dengan nada menyindir yang pelan namun menusuk.
Anya terdiam, mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Harga dirinya berontak, namun logikanya kembali dipaksa bertekuk lutut pada realita finansial.
"Baik," cicit Anya akhirnya, memalingkan wajah karena enggan menatap mata pria yang terlampau dominan itu. "Saya akan tinggal di sini. Tapi kita harus membuat aturan baru. Aturan domestik yang jelas selama kita berada di bawah satu atap."
Devan menaikkan sebelah alisnya, tampak sedikit tertarik. "Aturan domestik? Silakan. Aku ingin tahu apa yang dipikirkan oleh kepala kecilmu itu."
Anya menegakkan bahunya, menantang tatapan Devan.
"Aturan pertama : Area privasi. Kamar saya adalah zona terlarang untuk Anda. Anda tidak boleh masuk tanpa izin tertulis atau ketukan pintu yang jelas. Dan saya tidak akan mencampuri area kamar utama Anda."
"Adil. Lagipula aku tidak tertarik mengintip kamarmu," balas Devan acuh tak acuh.
"Aturan kedua : Tidak ada kontak fisik yang tidak perlu saat kita sedang berada di dalam rumah ini," lanjut Anya, menunjuk dada Devan dengan jari telunjuknya yang ramping. "Di luar sana, di depan kamera dan keluarga Anda, saya akan berakting menjadi kekasih yang penurut. Tapi di balik pintu ini, kita kembali menjadi bos dan asisten. Tidak ada rangkulan, tidak ada pelukan, dan tidak ada... insiden seperti di mobil malam tadi."
Mendengar aturan kedua itu, sudut bibir Devan perlahan terangkat, membentuk sebuah senyum seringai tipis yang terlihat sangat memikat namun berbahaya. Ia melangkah satu jengkel lebih maju, membuat Anya refleks mundur hingga punggungnya membentur tiang pilar marmer yang dingin.
Devan memajukan wajahnya, berbisik tepat di depan wajah Anya hingga napas hangatnya yang beraroma mint menerpa permukaan kulit pipi wanita itu. Anya membelalak, jantungnya mendadak berpacu gila-gilaan seperti sedang dikejar badai.
"Kau tampak sangat ketakutan, Anya," bisik Devan dengan suara rendah yang serak. "Apakah kau sedang membuat aturan untuk melindungiku... atau sebenarnya kau sedang membuat aturan untuk melindungiku... atau sebenarnya kau sedang membuat aturan untuk melindungi hatimu sendiri agar tidak jatuh cinta padaku?"
"Saya tidak akan pernah jatuh cinta pada tirani arogan seperti Anda!" balas Anya dengan nada yang sengit, meski suaranya sedikit bergetar di ujung kalimat karena menahan debaran aneh yang menyiksa dadanya.
Devan menjauhkan kembali tubuhnya, tertawa hambar yang terdengar sangat puas melihat kepanikan Anya. "Bagus. Pegang teguh ucapanmu itu. Kamarmu ada di sebelah kiri lorong. Kemasi barang-mu, lalu buatkan aku makan malam. Aku tidak suka makanan cepat saji."
Pria itu berbalik pergi meninggalkan ruang tamu dengan langkah angkuh, sementara Anya hanya bisa mencengkeram dadanya yang masih berdegup kencang, menyadari bahwa hidup satu atap dengan Devan Alfarezel akan menjadi ujian kewarasan terbesar sepanjang sejarah hidupnya.