NovelToon NovelToon
Takdir Gelap Huang

Takdir Gelap Huang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Zerro One

Kisah ini adalah perjalanan pilu seorang anak yang ditempa oleh kehilangan. Huang adalah perwujudan dari ketabahan dalam kesunyian, dipaksa dewasa oleh kematian tragis orang tuanya. Pohon beringin menjadi saksi bisu atas kesedihan abadi, sementara tidur enam tahun di dasar kolam adalah simbol kematian masa kecilnya dan kelahiran kembali sebagai seseorang yang sama sekali baru. Huang melangkah bukan hanya untuk mencari pembunuh, tetapi juga untuk menemukan arti dari hidup yang tersisa.

Tema pembalasan dendam, kesepian, dan keinginan untuk menjadi kuat demi melindungi yang tersisa... menjadi nyawa dalam cerita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zerro One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2. Masuk Hutan dan Kolam

Keesokan harinya.

Huang membuka matanya dengan napas tersengal. Tangannya langsung meraih tanah di samping tubuhnya. Jemarinya menyentuh gundukan tanah yang masih lembap. Saat itu juga, dadanya terasa seperti diremas sesuatu yang tidak terlihat.

“Ibu... Ayah...”

Suaranya lirih. Bibirnya bergetar pelan. Huang menundukkan kepala, lalu kedua tangannya mencengkeram tanah di atas makam orang tuanya sampai kukunya dipenuhi lumpur.

Ingatan semalam kembali menghantam kepalanya tanpa ampun. Darah di lantai bambu. Tubuh dingin ibunya. Mata ayahnya yang tidak lagi bergerak. Semua itu terasa begitu nyata, seolah baru saja terjadi beberapa helaan napas yang lalu.

Air mata kembali mengalir di pipinya. Huang menggigit bibirnya kuat-kuat agar tidak meraung lagi. Tenggorokannya terasa sakit akibat terlalu banyak menangis semalam. Namun rasa sakit itu tidak ada artinya dibanding lubang kosong di dalam dadanya.

“Aku akan mencari mereka...”

Huang berbicara pelan di depan dua gundukan tanah itu. Angin yang berembus membuat bunga liar putih bergoyang kecil di atas makam Lian dan Haoshu.

“Suatu hari nanti... saat Huang sudah cukup kuat berjalan jauh sendiri... Huang akan mencari siapa yang membunuh Ayah dan Ibu.”

Tangannya mengepal kuat. Tubuh kecilnya gemetar, tetapi matanya perlahan berubah. Kesedihan di sana belum hilang, namun di dasar pupil hitam itu mulai muncul sesuatu yang lain. Sesuatu yang dingin.

Huang mengusap air matanya kasar dengan lengan baju lusuhnya. Setelah itu dia berdiri perlahan. Kakinya masih lemas karena semalaman tertidur di tanah dingin tanpa makan sedikit pun.

Huang berjalan masuk dengan langkah pelan. Lantai bambu masih meninggalkan bercak merah kehitaman yang belum sempat dibersihkan. Bau anyir samar masih tertinggal di udara.

Tubuh Huang menegang sesaat.

Namun dia tidak menangis lagi.

Dia mendekati sudut ruangan, lalu mengambil golok tua milik ayahnya yang tergantung di dinding bambu. Besinya kusam dan sedikit berkarat, tetapi masih tajam. Golok itu terasa berat di tangannya yang kecil.

Huang memegang gagangnya erat.

“Ayah pernah memakai ini mencari kayu...”

Dia menelan ludah. Perutnya terasa melilit sejak semalam. Di dapur tidak ada lagi beras tersisa. Ikan asin yang dibawanya kemarin bahkan masih tercecer di halaman bersama pasir dan lumpur.

Huang menatap tungku dingin di dekat tempat ibunya ditemukan.

“Aku harus hidup...”

Kalimat itu keluar pelan dari bibirnya sendiri. Seakan dia sedang meyakinkan dirinya sendiri agar tidak runtuh.

“Ayah dan Ibu pasti marah kalau Huang mati kelaparan.”

Dia menarik napas panjang, lalu melangkah keluar rumah, berjalan menuju hutan.

Hutan di dekat desa selama ini hanya dilihat Huang dari kejauhan. Anak-anak desa sering berkata ada binatang buas di sana. Bahkan para pemburu dewasa jarang masuk terlalu dalam.

Namun Huang tidak punya pilihan lain.

Jika ingin hidup, dia membutuhkan kayu untuk dijual. Mungkin juga akar liar atau buah-buahan hutan. Apa pun yang bisa membuatnya bertahan sampai tubuhnya cukup besar untuk bekerja sendiri.

Langkah Huang perlahan memasuki jalur sempit di antara pepohonan tinggi. Semakin jauh dia berjalan, semakin redup cahaya di sekitarnya. Ranting-ranting besar saling bertaut seperti tangan raksasa yang menutupi langit.

Tiba-tiba suara aneh terdengar dari kejauhan.

Grahhhmm!...!

Tubuh Huang langsung menegang.

Dia menoleh cepat ke segala arah. Semak-semak bergoyang pelan diterpa angin. Daun-daun kering berdesir di bawah kakinya sendiri.

“Aku tidak takut...”

Namun suaranya sendiri terdengar tidak yakin.

Huang terus berjalan. Dia mulai memotong ranting-ranting kecil yang jatuh di tanah menggunakan golok. Kayu-kayu itu dia kumpulkan menjadi satu ikatan kecil.

Tiba-tiba terdengar suara berat dari balik semak.

BRUKK!

Tanah bergetar kecil.

Mata Huang membelalak.

Seekor beruang besar keluar dari balik pepohonan. Tubuhnya hitam pekat dengan bulu kasar seperti kawat. Tingginya hampir dua kali tubuh orang dewasa desa. Napasnya mengembus kasar dari moncong besar penuh air liur.

Mata merah gelap binatang itu langsung tertuju pada Huang.

Untuk sesaat, tubuh Huang membeku.

Golok di tangannya terasa sangat kecil.

Beruang itu meraung keras.

Huaorrgh!

Suara itu membuat burung-burung beterbangan dari pucuk pohon. Huang tersentak mundur beberapa langkah sampai kayu-kayu yang dibawanya jatuh berserakan.

“Astaga...”

Jantungnya berdetak begitu keras sampai telinganya berdenging.

Beruang itu tidak memberi waktu sedikit pun. Kaki besarnya langsung menghantam tanah saat menerjang ke arah Huang dengan kecepatan mengerikan.

Huang menjerit lalu berbalik lari.

Kakinya bergerak secepat mungkin melewati akar-akar pohon dan semak berduri. Napasnya langsung kacau. Dadanya terasa terbakar.

Di belakangnya terdengar suara hantaman berat.

DUM! DUM! DUM!

Beruang itu masih mengejar.

“Hah... hah... hah...!”

Huang hampir tersandung batu besar. Tangannya tergores ranting tajam sampai berdarah, tetapi dia tidak berhenti.

Raungan beruang kembali terdengar semakin dekat.

HUAORRGH!

Huang menoleh sekilas.

Kesalahan besar.

Beruang itu sudah sangat dekat. Bahkan Huang bisa melihat taring kuning besar di mulutnya.

“Ayah... Ibu...!”

Huang memaksa tubuhnya berlari lebih cepat. Air matanya hampir keluar karena ketakutan. Dia belum ingin mati. Dia tidak boleh mati di tempat seperti ini.

Tiba-tiba pepohonan di depannya terbuka.

Sebuah kolam besar terlihat di tengah hutan. Airnya jernih kebiruan seperti permata. Permukaannya tenang tanpa riak sedikit pun.

Huang tidak berpikir panjang.

Dia langsung melompat.

BYURR!

Air dingin menyelimuti seluruh tubuhnya. Huang segera menyelam sedalam mungkin. Gelembung udara keluar dari mulutnya saat dia menahan napas.

Di atas permukaan terdengar suara beruang mengaum marah.

Huang membuka matanya perlahan di dalam air.

Kolam itu jauh lebih dalam dari yang dia kira. Cahaya redup menembus dari atas, membuat dasar kolam terlihat samar seperti dunia lain yang tersembunyi.

Huang menahan napas sambil terus berenang turun.

Tiba-tiba...

Sesuatu menyentuh pergelangan kakinya dari bawah.

Tubuh Huang langsung menegang. Matanya membelalak dalam air bening itu. Dia menoleh cepat ke bawah, dan saat itulah wajahnya berubah pucat.

Di dasar kolam yang gelap... ada bayangan manusia duduk bersila.

1
yos helmi
tamat.. jgn tunggu up.. thornya dah modaaar 🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
💪😄😄😄💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄👍👍👍
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣😄😄
yos helmi
yg anehnya ko lan dong bisa di murid dalam.. ??? thor jgn terlalu tolol buat cerita..
Tinta Abadi: Ini komentar nya juga aneh. Padahal udah ada narasi. Huang heran mengapa Lan Dong yang murid luar bisa ikut eksplorasi murid dalam. Kau tolol, tapi ngatain orang tolol. Padahal cerita pengenalan Dhu Yan udah dijelaskan. kalau dhu yan itu orang yang memiliki banyak koneksi.

ngakak banget bro ini salah mulu🤣
kok bisa ya kek gitu. bacanya di lompat lompat kah?
total 1 replies
yos helmi
banyak yg ketinggalan dlm cerita ini.. ilmu dari org misterius..
Tinta Abadi: Otak bro yang ketinggalan. Literasi minus. Jadi pembaca itu yang teliti sedikit bro. Jangan dungu.

Saran: Baca ulang bab 4 berulang-ulang sampai paham. Mungkin anda sudah tua, jadi otaknya lemot, saya memahami🙏

Kasihan authornya ditanya mulu. Kebiasaan baca novel warisan, jadi beberapa pembaca nganggep warisan itu kekuatan sakti. Padahal pemahaman dasar loh tentang kultivasi.
total 1 replies
yos helmi
👍👍👍💪💪
yos helmi
😄😄😄😍😍😍
yos helmi
😄😄😄😄😄💪💪💪👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!