Gwen baru sadar bahwa menjadi dewasa itu tidak seasyik telenovela favoritnya. Tagihan menumpuk, kopi tidak pernah cukup, dan setiap pertemuan keluarga selalu berakhir dengan satu pertanyaan maut: “Kapan nikah?” Bisakah Gwen bertahan, menghindari pertanyaan itu, dan tetap mempertahankan kebebasannya—tanpa menyerah pada “dunia dewasa” yang penuh aturan absurd?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Honey Brezee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
02 - Erlangga Yudha Baskara
Kamera mana… kamera mana…
Gwen rasanya ingin melambaikan tangan ke arah kamera sambil mengibarkan bendera putih tanda menyerah.
Sayangnya ini bukan acara reality show. Tidak ada sutradara yang akan berteriak “cut!” lalu menyelamatkannya dari situasi memalukan ini. Bude Dewi sudah pergi entah ke mana, meninggalkannya begitu saja. Dan sekarang Gwen terjebak.
Sendirian.
Bersama pria yang bahkan terlihat seumuran ayahnya. Sejak tadi Mas Rudi—atau mungkin lebih pantas dipanggil Pak Rudi, bahkan Aki Rudi sekalian—terus saja berbicara tanpa jeda. Tentang pekerjaannya, tentang rumahnya, tentang investasi, sampai komunitas golf yang baru saja pria itu ikuti.
Gwen hanya bisa mengangguk-angguk kecil, sesekali menyahut “oh begitu” atau “iya ya,” seperti boneka dashboard mobil yang kepalanya terus bergoyang. Sementara di dalam hatinya, ia hampir menangis. Dalam benaknya terlintas satu pikiran putus asa—ia merasa seperti Siti Nurbaya yang dijodohkan dengan aki-aki, hanya saja tanpa drama musik latar.
Beberapa menit lalu, diam-diam Gwen bahkan sudah mengirimkan sinyal SOS lewat pesan kepada adiknya, Pandji—si manusia milenium yang hidupnya lebih sering online daripada di dunia nyata. Harapannya sederhana: semoga bocah itu membaca pesannya dan datang menyelamatkannya.
"Cepat ke sini. Selamatkan mba. SEKARANG."
Rencananya sederhana. Pandji datang, pura-pura memanggilnya, lalu mereka kabur dari meja ini bersama-sama.
Tapi sampai sekarang… batang hidung adiknya bahkan tidak terlihat.
Jangan-jangan bocah itu sedang asyik main game, pikir Gwen kesal. Atau lebih parah lagi—Adiknya itu membaca pesan SOS, lalu memilih mengabaikannya demi menyelesaikan satu ronde lagi.
Sementara di depannya, Mas Rudi masih berbicara tanpa tanda-tanda akan berhenti, kini beralih membahas jenis stik golf favoritnya. Gwen menahan diri untuk tidak menjatuhkan kepalanya ke meja. Dalam hati ia hanya bisa berdoa—semoga Pandji segera muncul sebelum ia benar-benar berubah menjadi Siti Nurbaya versi modern.
“Sayang, kok kamu di sini? Aku mencarimu dari tadi.”
Suara pria tiba-tiba terdengar di sampingnya, diikuti lengan yang dengan santai merangkul pinggangnya. Gwen membelalak. Ia langsung menoleh cepat ke arah pria yang berani-beraninya menyentuh pinggangnya seperti itu.
Dan jantungnya langsung berhenti sepersekian detik.
Erlangga Yudha Baskara.
Bocah tengil dan menyebalkan yang dulu hampir setiap hari nongkrong di rumahnya karena Pandji. Gwen menatapnya tidak percaya. Aga—panggilan bocah itu—dulu kurus kering seperti tiang bendera yang terlalu sering kena angin. Kalau berdiri di samping kipas angin saja rasanya bisa ikut goyang.
Tapi sekarang?
Berbeda.
Jauh berbeda.
Tubuhnya tegap dengan bahu lebar yang terbungkus rapi oleh setelan jas yang pas di badan. Rambut hitamnya tertata santai, sedikit jatuh ke dahi. Wajahnya bersih dengan garis rahang tegas, hidung mancung, dan mata terang yang memancarkan percaya diri yang nyaris menyebalkan.
Serius. Bocah ini terlihat seperti model majalah yang baru saja turun dari panggung peragaan busana… atau minimal iklan parfum mahal.
Gwen berkedip dua kali, masih berusaha menerima fakta bahwa mantan bocah penghabis mi instan di rumahnya kini tiba-tiba terlihat seperti pemeran utama pria dalam drama.
Namun sebelum ia sempat berkata apa pun, lengan Aga justru semakin santai melingkari pinggangnya. Pria itu menoleh ke arah Mas Rudi dengan senyum sopan yang begitu mulus sampai hampir mencurigakan.
“Erlangga,” katanya santai sambil mengulurkan tangan. “Calon suami Gwen.”
Otak Gwen langsung berhenti bekerja.
Calon… apa?
Ia menoleh tajam ke arah Aga, berharap pria itu berkedip, tertawa, atau setidaknya memberi tanda bahwa ini hanya lelucon.
Tapi tidak.
Bocah tengil itu justru berdiri dengan ekspresi tenang seperti CEO muda yang baru saja menandatangani kontrak miliaran rupiah.
Kalau Pandji ada di sini, Gwen yakin adiknya pasti sudah terguling di lantai sambil tertawa.
Mas Rudi yang sejak tadi tidak berhenti berbicara akhirnya terdiam. Pria itu menatap tangan Erlangga yang masih terulur, lalu wajah Gwen, lalu kembali ke Erlangga, seolah sedang mencoba menyusun potongan puzzle yang tiba-tiba jatuh dari langit.
“Calon… suami?” ulangnya pelan.
Aga—atau Erlangga, atau apa pun identitas barunya sekarang—tersenyum santai. Senyum yang terlalu percaya diri untuk ukuran seseorang yang baru saja menciptakan status hubungan secara sepihak.
“Iya, Pak,” jawabnya ringan, seolah itu fakta yang sudah diketahui seluruh dunia. “Kami memang belum sempat mengumumkan ke banyak orang.”
Gwen hampir tersedak udara untuk kedua kalinya malam itu.
Belum sempat?
Dalam hati ia ingin menendang tulang kering bocah itu. Namun sebelum Gwen sempat membuka mulut untuk membantah, jari Aga justru menekan pelan pinggangnya—sebuah peringatan halus yang terasa lebih seperti ancaman.
Gwen menoleh sedikit dan menemukan Aga menatapnya sekilas. Tatapan itu cepat, tapi jelas.
Mainkan saja.
Astaga.
Dari semua orang yang bisa menyelamatkannya dari perjodohan mengerikan ini… kenapa justru bocah tengil itu?
Mas Rudi berdeham kecil, masih terlihat bingung. “Oh… saya tidak tahu kalau Gwen sudah—”
“Bertunangan?” potong Aga santai. “Ya, memang masih baru.”
Gwen merasa hidupnya baru saja berubah menjadi sinetron yang naskahnya ditulis oleh orang yang terlalu banyak minum kopi.
Beberapa menit lalu ia hanya ingin kabur dari meja ini.
Sekarang?
Ia tiba-tiba punya calon suami palsu.
Dan yang lebih parah lagi—calon suami itu adalah sahabat adiknya sendiri.
“Erlangga,” katanya santai. “Calon suami Gwen.”
Gwen hampir tersedak napasnya sendiri.
Pacar?
Sejak kapan?!
Kalau Pandji ada di sini, Gwen yakin adiknya pasti sedang tertawa sampai jatuh dari kursi.
Mas Rudi kembali berdeham, jelas masih berusaha mencerna situasi yang berubah terlalu cepat.
“Oh… begitu,” katanya akhirnya, meski nadanya terdengar ragu. “Saya tidak tahu kalau Gwen sudah… punya calon.”
“Memang belum banyak yang tahu, Pak,” sahut Aga dengan santai, seolah pria itu sudah latihan dialog ini sejak lahir.
Sementara itu, Gwen tersenyum kaku. Senyum yang kalau diperhatikan lebih lama sedikit saja mungkin sudah terlihat seperti orang yang sedang menahan keinginan untuk menjerit.
Di bawah meja, kakinya bergerak pelan—lalu menginjak keras sepatu Aga.
Pria itu sedikit menegang, tapi wajahnya tetap tenang. Bahkan senyumnya tidak goyah sedikit pun.
Hebat juga, pikir Gwen kesal. Bocah ini ternyata punya bakat jadi aktor.
“Sayang,” lanjut Aga tiba-tiba sambil menoleh padanya, suaranya terdengar terlalu lembut untuk ukuran seseorang yang baru saja menipu satu meja penuh orang. "Aku mencarimu dari tadi. tidak bilang kalau kamu disini duduk dengan… Pak siapa tadi?
Mas Rudi langsung menyahut, “Rudi.”
“Ah, iya. Pak Rudi,” kata Aga sambil mengangguk sopan. “Maaf kalau saya mengganggu. Saya hanya bingung tiba - tiba calon istri saya hilang.
“Kalau begitu… saya permisi dulu ya.”
“Silakan, Pak,” jawab Aga ramah.
Beberapa detik kemudian pria itu benar-benar pergi. Begitu sosok Mas Rudi menghilang di antara tamu undangan, Gwen langsung menoleh tajam ke arah Aga. Tangannya bergerak cepat menyingkirkan lengan pria itu dari pinggangnya.
“Apa. Itu. Tadi?” desisnya pelan, setiap kata dipisah seperti peluru.
Aga tampak sama sekali tidak terganggu.
Ia malah memasukkan kedua tangannya ke saku celana dengan santai, seolah baru saja melakukan hal kecil yang tidak perlu dibesar-besarkan.
“Menyelamatkanmu,” katanya ringan.
Gwen langsung menoleh tajam. “Aku tidak pernah minta diselamatkan!”
Aga mengangkat alis, jelas tidak merasa bersalah sedikit pun. “Oh ya?” katanya santai. “Tadi wajahmu sudah seperti orang yang sedang mencari jalur evakuasi.”
Gwen menatapnya beberapa detik, mencoba mencari kata-kata yang cukup tepat untuk menggambarkan betapa menyebalkannya pria di depannya itu.
Sayangnya, yang muncul di kepalanya justru terlalu banyak.
Dan semuanya tidak pantas diucapkan di tengah resepsi pernikahan.
“Kau seharusnya berterima kasih padaku,” kata Aga santai. “Kalau aku tidak muncul, lima menit lagi pria tua itu mungkin sudah minta nomor teleponmu… sekalian mengatur tanggal lamaran.”
Gwen mendengus kesal. “Terima kasih.”
Aga tersenyum tipis, jelas menikmati nada terpaksa itu. “Ini semua tidak gratis, lho,” katanya santai.
“Berapa? Kirim saja nomor rekeningmu.”
Meski sudah hampir setahun tidak bekerja tetap, ia masih punya penghasilan dari novel-novel yang ia tulis. Setidaknya cukup untuk membayar satu aksi penyelamatan dadakan yang tidak ia minta itu.
Aga malah terkekeh pelan. “Aku tidak butuh uang.” Pria itu sedikit menggeser kursinya lebih dekat ke Gwen, membuat jarak di antara mereka tiba-tiba terasa terlalu sempit. Gwen tanpa sadar langsung menegakkan punggungnya, waspada.
“Aku terima bayarannya dalam bentuk…” Aga berhenti sejenak, matanya menatap lurus ke Gwen dengan ekspresi yang terlalu tenang untuk orang yang sedang merencanakan kenakalan.
“Ciuman,” katanya pelan, sengaja menekan kata itu.
Gwen membeku beberapa detik, otaknya seperti perlu waktu untuk memproses kebodohan yang baru saja ia dengar. Lalu dengan cepat ia menepis tangan Aga yang tadi sempat mendekat ke wajahnya.
“Kurang ajar,” desisnya pelan.
Aga malah terlihat sangat puas. Senyum tipisnya makin lebar, seolah reaksi Gwen barusan memang yang ia tunggu sejak awal. “Apa?” katanya santai. “Kamu sendiri yang bilang mau bayar.”
“Itu bukan yang aku maksud!” sewot Gwen.
Aga mengangkat bahu, sama sekali tidak terlihat bersalah.“Aku tidak mau bayaran lain.”
Gwen memutar bola matanya kesal, lalu menyilangkan tangan di dada. “Berani menyentuhku, aku pastikan kamu pulang dari sini dengan hidung patah.”
Aga tertawa pelan, jelas tidak merasa terancam sedikit pun. “Masih galak seperti dulu.”
Gwen mendengus. “Masih menyebalkan seperti dulu.”
Beberapa detik mereka saling menatap.
Lalu Aga mengangguk kecil, seolah baru saja memastikan sesuatu yang penting.
“Bagus.”
Gwen menyipitkan mata. “Bagus apanya?”
Aga mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat.“Berarti kamu belum berubah.”
“Memangnya kenapa kalau aku berubah?” tanya Gwen curiga.
Senyum Aga melebar tipis. “Karena aku masih menyukaimu yang seperti ini.”
“Gila!”
Gwen langsung mendorong kursinya ke belakang dan berdiri. Ia memilih pergi dari meja itu sebelum benar-benar melakukan sesuatu yang bisa membuat keributan di tengah resepsi.
Erlangga Yudha Baskara.
Bocah sialan itu ternyata masih sama menyebalkannya seperti dulu. Gwen berjalan cepat meninggalkan Aga, napasnya masih sedikit tersengal karena kesal. Ia hampir menabrak seseorang yang baru muncul dari lorong samping.
“Mbak, maaf! Tadi aku mules,” Panji buru-buru berkata sambil meringis, wajahnya panik.
Gwen menoleh sekilas, mata masih menyipit karena kesal, lalu menunjuk ke belakang tanpa berhenti melangkah.
“Urus tuh teman lo yang gila,” katanya dingin, tanpa menunggu jawaban Panji.
Tanpa menoleh lagi, Gwen terus berjalan menjauh, meninggalkan Aga dan Panji di belakangnya. Jantungnya masih berdebar, kepalanya penuh dengan kekacauan—antara rasa kesal, keinginan untuk menjerit, sekaligus mencekik Erlangga Yudha Baskara.
Siapa yang melepas anak setan itu dari kandangnya, sih?
inilah inti perjalanan ke depan
good job thor
lanjuttt
ga berasa baca marathon dari bab 1 - 15 tiba2 habis... 👍
kalau "kita" berarti yang diajak berbicara ikut terlibat....