Di tengah puing-puing yang membara, takdir mempertemukan Rangga dengan sosok misterius, Pertapa Gila Tanpa Tanding. Sang pertapa bukanlah orang sembarangan; di balik pakaian compang-camping dan tawa yang nyeleneh, ia adalah pemegang rahasia Pedang Naga Emas Seribu Langit, pusaka sakti yang konon mampu membelah awan dan menggetarkan bumi. Rangga kemudian dibawa ke lereng Gunung Kerinci yang berselimut kabut, sebuah tempat terpencil di mana waktu seolah berhenti berputar.
Selama lima belas tahun, Rangga dididik dengan keras di bawah gemblengan sang Pertapa Gila. Ia tidak hanya belajar olah kanuragan dan ilmu meringankan tubuh yang membuat gerakannya seringan kapas, tetapi juga ditempa secara spiritual untuk mengendalikan api dendam yang membara di dadanya. Sang pertapa mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada tajamnya bilah pedang, melainkan pada kemampuan hati untuk tetap tegak di jalan kebenaran. Rangga tumbuh menjadi pemuda yang gagah perkasa..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Lembah Mayat.
Langit di atas Gunung Tiga Puluh perlahan berubah warna, seolah-olah semesta sedang melukis tragedi. Dari biru menyilaukan menjadi jingga kemerahan yang kental, lalu merambat cepat menuju kelam yang pekat. Senja turun seperti tirai kematian, menyapu sisa-sisa cahaya terakhir di cakrawala dan menggantinya dengan sunyi yang menindas.
Di tengah rimba yang kian menggelap, sosok Rangga Nata masih terus melesat.
Napasnya berat, memburu bagai deru mesin yang dipaksa bekerja melampaui batas. Langkahnya yang biasanya seringan kapas kini mulai goyah, menghantam dahan dan akar dengan kasar. Namun tekadnya tetap tegak, tak tergoyahkan oleh rasa lelah yang menggerogoti otot-ototnya.
Di pundaknya, tubuh Ayu Wulandari terkulai lemah. Wajah gadis itu kini benar-benar kehilangan rona kehidupan, pucat seperti kertas kuno. Bibirnya membiru karena racun dan dingin, dan setiap helaan napasnya terdengar lirih, serak, dan pendek—seperti tarikan terakhir di tepi jurang ketiadaan.
Darah yang tadi mengucur deras dari mulutnya kini mulai mengering, meninggalkan noda hitam yang mengerikan di jubah putihnya. Namun, bagi Rangga yang paham ilmu pengobatan, itu bukan pertanda baik. Itu berarti darahnya mulai membeku di dalam, menyumbat jalur pernapasan dan menghancurkan organ dalamnya dari dalam.
Rangga mendarat di sebuah batu besar yang menjorok ke jurang dalam. Kakinya gemetar hebat saat menapak. Dengan tangan yang berusaha tetap stabil, ia menurunkan Ayu perlahan, menyandarkannya pada batang pohon tua yang akarnya mencuat keluar dari tanah seperti tangan-tangan kurus yang hendak mencengkeram bumi.
“Ayu…” suaranya serak, nyaris hilang tertelan angin malam.
Ia menyentuh pergelangan tangan gadis itu. Dingin. Nadinya berdenyut sangat tipis, hampir tak terasa di bawah ujung jarinya.
“Tidak…” gumamnya, matanya bergetar.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun pengembaraannya, rasa takut yang sesungguhnya merayap di hati sang Naga Emas. Bukan takut akan tajamnya pedang musuh, bukan takut akan kematian diri sendiri, tapi takut akan… kehilangan. Kehilangan satu-satunya cahaya yang menemaninya di jalan pedang yang sunyi ini.
Ingatan tiba-tiba menyeruak, membelah keputusasaannya. Suara parau seorang tua yang liat, tawa keras yang mengguncang hutan, sosok guru yang tak pernah tunduk pada aturan dunia.
“Kalau kau benar-benar terdesak, Rangga…” suara itu bergema di batinnya, “…datangi lembah yang tak diinginkan siapa pun. Lembah di mana napas dan maut bertukar tempat.”
Rangga menutup matanya sejenak. Lembah Mayat. Tempat yang namanya saja sudah cukup untuk membuat pendekar golongan hitam paling bengis sekalipun gemetar. Tempat di mana kematian bukan lagi sesuatu yang menakutkan karena ia sudah menjadi bagian dari tanah, udara, dan air di sana. Dan di sana, menetap seorang legenda yang telah lama menghilang: Nini Ruai, dukun tua teman lama gurunya yang menguasai rahasia antara hidup dan mati.
Rangga membuka mata. Tatapannya kembali tajam, mengusir kabut kesedihan.
“Tidak ada pilihan lain,” desisnya. Ia mengangkat kembali tubuh Ayu, kali ini lebih erat, lebih protektif. “Bertahanlah, Ayu. Aku tak akan membiarkanmu pergi.”
WUSSS!
Tubuhnya kembali melesat, menembus kegelapan menuju tempat yang bahkan malaikat maut pun enggan berlama-lama di sana.
Perjalanan menuju Lembah Mayat adalah perjalanan menembus dimensi lain. Semakin dalam Rangga masuk, semakin sunyi dunia di sekitarnya. Tak ada lagi suara burung malam atau derik serangga. Bahkan angin pun terasa enggan berhembus di sini, seolah takut mengusik ketenangan para arwah.
Pepohonan mulai berubah bentuk. Batangnya hitam legam seperti terbakar, daunnya kering kerontang meski tanahnya terasa lembap ganjil. Akar-akar menjalar di permukaan tanah seperti ular mati yang membeku. Dan kemudian, bau itu datang. Bau busuk yang menusuk pangkal hidung, bau yang hanya dikenali oleh mereka yang akrab dengan medan perang. Bau mayat yang terfermentasi oleh waktu.
Langkah Rangga melambat. Di hadapannya, terbentang lembah yang diselimuti kabut tipis berwarna kelabu pucat. Tanahnya hitam retak-retak, dan di sela-selanya, terlihat tulang belulang yang setengah tertanam. Sebagian masih menyisakan serpihan kain lapuk—sisa-sisa manusia yang tersesat atau dibuang ke tempat ini.
“Inikah… Lembah Mayat?” gumam Rangga.
Belum sempat ia melangkah lebih jauh—
GRRRRRR…
Suara rendah dan dalam mengguncang tanah di bawah kakinya. Rangga langsung menoleh, tangannya secara refleks memegang hulu pedang. Dari balik kabut yang bergulung, sepasang mata muncul. Bersinar putih kebiruan, dingin, dan mematikan.
Sosok itu keluar perlahan. Seekor harimau raksasa, jauh lebih besar dari harimau mana pun di dunia fana. Seluruh bulunya berwarna putih bersih tanpa noda, kontras dengan tanah hitam lembah itu. Namun kebersihan itu justru membuatnya terlihat mengerikan; tak ada hawa kehidupan biasa pada dirinya. Hanya ada aura penjaga gerak kematian.
Harimau Putih Penjaga Lembah.
Rangga menarik napas panjang. Ia tahu binatang ini bukan musuh sembarangan; ia adalah manifestasi dari energi lembah itu sendiri. Perlahan, ia menurunkan Ayu ke tanah di tempat yang dirasa aman. Hatinya terbelah—ia ingin menjaga Ayu, tapi ia harus membuka jalan.
“Maafkan aku, Ayu… ini demi nyawamu,” bisiknya.
Harimau itu melangkah maju, setiap pijakannya meninggalkan jejak yang sedikit berasap. Matanya tidak lepas dari Rangga, seolah sedang menimbang: apakah manusia ini membawa kehidupan yang layak diselamatkan, atau sekadar mangsa baru bagi lembah?
Rangga berdiri tegak. Pedang Naga Emas Seribu Langit kembali dicabut. Cahaya emasnya membedah kabut kelabu, menciptakan garis pembatas antara cahaya dan kegelapan. Namun kali ini, Rangga tidak bertarung dengan amarah. Ia bertarung dengan tekad yang murni.
“Jika aku harus melewatimu untuk menyelamatkannya, maka aku akan melakukannya!” ucapnya tegas.
Harimau itu menggeram, lalu—WUTTT!!!
Cepat! Jauh lebih cepat dari kilat! Cakar raksasanya menyambar ke arah leher Rangga dengan kekuatan yang sanggup meruntuhkan tembok benteng.
TRANG!
Pedang emas menyambut cakar itu. Benturan logam dan kuku mistis menciptakan gelombang kejut yang menerbangkan kabut di sekitar mereka. Getaran hebat menjalar hingga ke bahu Rangga. “Kuat sekali! Kekuatannya setara dengan pendekar tingkat puncak!”
Pertarungan pecah dengan dahsyat. Harimau itu bertarung dengan insting alami yang sempurna, tanpa jeda. Ia melompat, berputar, dan menerjang dari sudut-sudut yang tak terduga. Rangga terpaksa mengeluarkan jurus-jurus terbaiknya.
“Naga Membelah Langit!”
Sabetan pedang Rangga menciptakan busur cahaya emas yang mematikan. Namun harimau itu menghindar dengan gerakan melenting yang hampir mustahil secara fisik. Ia bukan sekadar binatang; ia adalah pelindung kuno yang telah hidup lebih lama dari sejarah persilatan itu sendiri.
Tanah retak di bawah kaki mereka. Kabut terbelah berkali-kali oleh sabetan energi. Rangga mulai terengah, beberapa luka gores mulai muncul di lengannya.
Namun, di tengah hiruk-pikuk pertarungan itu, sebuah sosok tua muncul dari balik kabut di belakang posisi Ayu. Tanpa suara, tanpa aura niat membunuh, seolah-olah ia adalah bagian dari kabut itu sendiri.
Sepasang mata tajam namun penuh kebijaksanaan menatap ke arah Ayu. Itu adalah Nini Ruai. Ia hanya melirik sekilas, namun alisnya langsung berkerut dalam. “Luka dalam Macan Peremuk Gunung… bocah ini benar-benar di ambang gerbang akhir,” gumamnya lirih.
Tanpa membuang waktu, Nini Ruai melesat secepat bayangan. Dengan gerakan yang sangat halus, ia menyambar tubuh Ayu dan menghilang kembali ke dalam kepekatan kabut, bahkan sebelum Rangga sempat menyadari kehadirannya di tengah seru duelnya.
Pertarungan mencapai puncaknya. Rangga yang sudah kelelahan mengumpulkan sisa tenaga dalamnya ke ujung pedang. Matanya menyala terang, memantulkan cahaya emas pusakanya.
“Cukup sampai di sini!” desisnya. “Naga… Menghujam Bumi!!!”
Cahaya emas meledak membelah udara. Harimau putih itu mencoba melompat menghindar, namun ujung energi pedang itu masih sempat mengenai bahunya. SRRAAAK! Luka memanjang terbentuk di bahu sang penjaga. Tidak dalam, namun cukup untuk menghentikan laju serangannya.
Harimau itu mendarat, diam terpaku. Ia menatap Rangga lama, seolah-olah ujiannya telah selesai. Perlahan, ia mundur satu langkah, lalu dua langkah, hingga akhirnya berbalik dan menghilang ditelan kabut dengan satu raungan rendah yang terdengar seperti penghormatan.
Rangga terengah-engah, menyarungkan pedangnya dengan tangan gemetar. “Ini… ujian?”
Ia segera menoleh ke tempat ia meninggalkan Ayu. Namun, jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat tempat itu kosong. Hanya ada bekas tubuh di tanah hitam yang hangatnya masih tersisa.
“Ayu?!”
Rangga berlari kalap ke arah bekas tersebut. Kosong. Gadis itu hilang tanpa jejak. “SIAPA?! KELUAR KAU!” teriaknya murka, suaranya mengguncang lembah.
Dari kedalaman kabut yang paling pekat, sebuah suara tua terdengar bergetar, bergema dari segala arah.
“Jika ingin menyelamatkannya, masuklah lebih dalam, Bocah Naga…” suara itu tenang namun memiliki wibawa yang tak terbantahkan.
“Jangan membuang waktu dengan berteriak. Kalau kau terlambat sedikit saja… rohnya akan benar-benar menjadi milik lembah ini.”
Rangga terdiam. Napasnya berangsur tenang meski hatinya bergejolak. Ia tahu suara itu milik seseorang yang berilmu tinggi. Tanpa ragu, ia melangkah masuk menembus kabut tebal Lembah Mayat, menuju takdir yang tak pasti.
Malam telah turun sepenuhnya, menyelimuti Lembah Mayat dalam kegelapan abadi yang hanya diterangi oleh sedikit denyut cahaya dari Pedang Naga Emas.
Bersambung…