NovelToon NovelToon
PREMAN MASUK PESANTREN

PREMAN MASUK PESANTREN

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Dunia malam mengenal Faris Arjuna sebagai Panglima Terminal, namun semesta mengenalnya sebagai pewaris tahta yang hilang.
​Di bawah bimbingan sang kakak, Arjuna Hidayat—Sang Paku Bumi Sidoarjo yang sakti mandraguna—Faris harus menanggalkan jaket kulitnya untuk mengenakan beskap kehormatan. Namun, kejutan terbesar muncul dari sosok Simbok (Nyai Gayatri Sekar Arum). Di balik kesederhanaannya, beliau adalah pemegang restu darah Raja Majapahit yang menguasai istana gaib dan sepuluh dayang piningit.
​Kini, paseduluran dua Arjuna ini bukan lagi sekadar soal urusan pesantren, melainkan menjaga amanah leluhur Nusantara. Saat kegelapan masa lalu mulai mengusik kedaton mereka, Faris harus membuktikan bahwa seorang berandal pun bisa memiliki wibawa seorang Raja.
​Doa Simbok adalah jimatnya, bimbingan Kangmas adalah kompasnya, dan Keris Kyai Jalak Suro adalah takdirnya. Siapkan diri, karena kasekten Majapahit telah bangkit di tanah Sidoarjo!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Titah Menyamar ke Pusat Kota

Malam Jumat Kliwon di kediaman Faris Arjuna di Gedangan mendadak diselimuti kabut putih yang sangat wangi. Bukan bau amis seperti saat Nini Blorong datang, melainkan aroma bunga kenanga dan kayu cendana yang sangat murni. Faris, Arjuna Hidayat, dan Simbok segera keluar ke halaman.

Tiba-tiba, udara di depan mereka seolah terbelah. Muncul sebuah gerbang cahaya keemasan yang memancarkan kewibawaan luar biasa. Dari dalam cahaya itu, melangkah keluar seorang pria gagah mengenakan mahkota emas dengan jubah merah marun yang menyapu tanah. Di belakangnya, seorang wanita cantik jelita yang anggun—Sang Ratu—berserta putra-putri mereka yang nampak seperti ksatria dan dewi.

Itulah Eyang Buyut Wijaya, sang pendiri Majapahit.

"Gusti Allah... Eyang Buyut!" Faris langsung bersimpuh rendah, diikuti oleh Arjuna Hidayat dan Simbok yang menundukkan kepala dengan takzim.

Eyang Buyut Wijaya tersenyum, matanya menatap sekeliling dengan penuh rasa ingin tahu. "Inikah tanah Jawa di masa depan? Inikah bumi Sidoarjo yang kau ceritakan itu, cucuku Faris?" suara Eyang Buyut berat dan berwibawa, mengguncang sukma siapa pun yang mendengarnya.

"Benar, Eyang. Mohon maaf atas segala kekurangan kami dalam menyambut kedatangan Yang Mulia," ucap Faris dengan suara bergetar karena haru.

Brewok yang baru saja keluar dari dapur sambil membawa piring berisi gorengan langsung mematung. Matanya melotot melihat rombongan kerajaan itu. "Waduh Mas Jono... itu orang syuting film kolosal apa beneran? Kok mahkotanya mengkilap sekali, lebih terang dari lampu neon terminal!" bisik Brewok sambil gemetar, hampir menjatuhkan piringnya.

Jono langsung menjitak kepala Brewok. "Ssst! Itu Eyang Wijaya, raja pertama Majapahit! Cepat taruh gorengannya, sujud sini!" Brewok pun ikut bersimpuh, meski mulutnya masih mengunyah sisa pisang goreng.

Sang Ratu mendekati Simbok dan memegang tangannya. "Terima kasih telah menjaga garis keturunan ini dengan penuh ketulusan, Nyai. Kami turun ke dunia kasar ini karena merasakan guncangan hebat. Kegelapan Ki Ageng Blorong sudah hampir menyentuh batas yang tidak bisa dimaafkan," ucap Sang Ratu dengan nada yang sangat lembut.

Eyang Buyut Wijaya kemudian menatap Faris Arjuna. Beliau melihat Keris Kyai Jalak Suro di pinggang Faris. "Keris itu sudah menemukan tuannya yang tepat. Namun, musuhmu di pusat kota bukan sekadar manusia. Mereka dibantu oleh iblis-iblis kuno yang haus akan kekuasaan. Aku dan putra-putraku datang untuk memberimu restu dan kekuatan yang sudah lama terkubur."

Putra-putra raja yang gagah perkasa itu mulai berdiri di sekeliling halaman, menciptakan pagar batin yang sangat kuat. Faris merasa tubuhnya dialiri energi yang sangat besar, seolah ia memiliki kekuatan seribu prajurit Majapahit di dalam nadinya.

"Eyang, dunia sekarang sudah berbeda. Banyak yang sudah lupa pada akarnya," lapor Faris sedih.

Eyang Buyut Wijaya menatap ke arah jalan raya yang penuh dengan lampu kendaraan. "Biarkan mereka lupa, tapi jangan kau. Selama masih ada satu orang seperti kamu yang memegang pena dan menjaga doa, Majapahit tidak akan pernah benar-benar mati. Sidoarjo akan menjadi titik awal kebangkitan kembali kejayaan Nusantara."

Malam itu, rumah sederhana di Gedangan menjadi istana sementara bagi para raja. Di tengah dunia modern yang serba cepat dan egois, kehadiran mereka adalah pengingat bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar pergi. Mereka hanya menunggu orang yang tepat untuk dipanggil kembali.

Simbok kemudian mengajak rombongan agung tersebut duduk di teras rumah yang sudah digelar tikar pandan. Meski hanya teras rumah sederhana di Gedangan, namun saat Eyang Buyut Wijaya duduk di sana, suasananya berubah menjadi seperti pendopo keraton yang agung. Cahaya rembulan di atas rumah tampak lebih terang, seolah-olah ikut memberikan penghormatan.

"Cucuku Faris Arjuna," panggil Eyang Buyut Wijaya dengan suara yang menggetarkan sukma.

Faris menunduk takzim, tidak berani menatap langsung mata sang Raja. Eyang Buyut Wijaya kemudian memperkenalkan putra-putrinya. Di sana ada Raden Jayanegara yang gagah, serta dua putri cantik nan anggun, Dewi Tribhuwana Tunggadewi dan Dewi Rajadewi Maharajasa.

"Eyang, apa yang harus hamba lakukan menghadapi kegelapan di Sidoarjo ini?" tanya Faris dengan suara bergetar.

Eyang Buyut Wijaya mengelus janggutnya, lalu berkata dalam bahasa Jawa yang sangat halus:

"Cucuku, jagad iki lagi kisruh merga menungso wis lali marang jati dirine."

(Cucuku, dunia ini sedang kacau karena manusia sudah lupa akan jati dirinya.)

"Ki Ageng Blorong iku mung dadi wadhahe duso. Sing luwih medeni iku menungso sing raine malaikat nanging atine iblis."

(Ki Ageng Blorong itu hanya menjadi wadahnya dosa. Yang lebih menakutkan itu manusia yang wajahnya malaikat tapi hatinya iblis.)

Faris mendengarkan dengan seksama. Ia merasa setiap kata dari Eyang Wijaya adalah pedang yang membelah keraguannya. Raden Jayanegara kemudian ikut angkat bicara dengan nada yang tegas:

"Dikmas Faris, kowe ora dewekan. Getih Majapahit iku mboten nate mati, nanging mung turu ing njero dodo sing suci."

(Dikmas Faris, kamu tidak sendirian. Darah Majapahit itu tidak pernah mati, tapi hanya tidur di dalam dada yang suci.)

Di sudut teras, Brewok dan Jono tampak sibuk menyiapkan teh hangat. Brewok berbisik kepada Jono sambil melirik Dewi Tribhuwana yang sangat cantik.

"Jon, aku rasanya ingin pensiun jadi bodyguard dan daftar jadi asisten kerajaan saja kalau dewinya secantik itu," bisik Brewok polos.

Jono menyikut perut Brewok. "Ojo ngawur kowe, Wok! Mengko malah dikutuk dadi krupuk kaleng kowe!"

(Jangan ngawur kamu, Wok! Nanti malah dikutuk jadi kerupuk kaleng kamu!)

Sang Ratu yang sedari tadi diam kemudian mendekati Faris dan memberikan sebuah bungkusan kain sutra putih. "Gowoen iki, Le. Iki dudu jimat, nanging pengeling yen kowe iku njogo amanah para leluhur."

(Bawalah ini, Nak. Ini bukan jimat, tapi pengingat bahwa kamu menjaga amanah para leluhur.)

Faris menerima pemberian itu dengan kedua tangan yang gemetar. Ia merasakan kehangatan yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya. Kegelisahannya selama ini seolah sirna berganti dengan keberanian yang membaja.

"Terima kasih, Eyang, Gusti Ratu, dan para Pangeran. Hamba berjanji akan menjaga amanah ini," tegas Faris.

Malam itu, di bawah langit Gedangan yang wangi, rencana besar disusun. Para leluhur tidak hanya datang untuk berkunjung, tapi untuk memastikan bahwa cahaya Majapahit akan kembali bersinar melalui tangan seorang penulis novel yang berjiwa ksatria.

Setelah suasana khidmat di teras rumah mereda, Eyang Buyut Wijaya berdiri dan menatap ke arah jalan raya yang masih sesekali dilewati truk kontainer. Beliau mengelus dagunya, tampak berpikir keras tentang sesuatu.

"Cucuku Faris," panggil Eyang Buyut Wijaya.

"Hamba, Eyang," jawab Faris sambil mendekat.

"Aku pengen weruh sejatine kahanan ing punjere kutha Sidoarjo. Aku ngrasa energi ireng Ki Ageng Blorong sumberne teko kono."

(Aku ingin melihat keadaan sebenarnya di pusat kota Sidoarjo. Aku merasa energi hitam Ki Ageng Blorong bersumber dari sana.)

Faris terkejut. "Tapi Eyang, jika Eyang dan para Pangeran serta Dewi pergi ke kota dengan busana seperti ini, kota Sidoarjo bisa gempar. Bisa-bisa jalanan macet total karena semua orang akan mengira ada rombongan dewa turun ke bumi."

Raden Jayanegara tertawa kecil, suara tawanya gagah namun bersahabat. "Bener kandamu, Dikmas Faris. Mula iku, aku lan kabeh bakal nylamur dadi kawula jaman saiki. Aku pengen ngrasakake dadi menungso biasa."

(Benar katamu, Dikmas Faris. Maka dari itu, aku dan semuanya akan menyamar menjadi rakyat zaman sekarang. Aku ingin merasakan menjadi manusia biasa.)

Mendengar kata "menyamar", mata Brewok langsung berbinar-binar. Ia merasa inilah saatnya ia menunjukkan keahliannya sebagai "pakar gaya" di terminal.

"Ampun, Gusti Prabu! Kalau soal menyamar, serahkan pada hamba dan Jono. Hamba punya banyak koleksi baju 'keren' di kamar belakang yang pas buat Pangeran dan Gusti Putri," sahut Brewok dengan percaya diri yang kelewat batas.

Jono menyenggol lengan Brewok. "Wok, ojo ngisin-ngisini! Masa' pangeran arep mbok kon nganggo kaos oblong gambar naga pasar malem?"

(Wok, jangan malu-maluin! Masa' pangeran mau kamu suruh pakai kaos oblong gambar naga pasar malam?)

Brewok tak peduli. Ia segera berlari ke dalam dan mengeluarkan beberapa tumpuk pakaian. Eyang Buyut Wijaya melihat sehelai kain denim dan kaos hitam dengan tatapan heran.

"Iki klambi opo, Wok? Kok kaku temen koyo lulang kebo garing?" tanya Eyang Wijaya sambil memegang celana jins milik Brewok.

(Ini baju apa, Wok? Kok kaku sekali seperti kulit kerbau kering?)

Brewok nyengir kuda. "Ini namanya celana jins, Eyang. Biar Eyang terlihat seperti bos besar yang lagi santai. Nanti ditambah kacamata hitam, wah... Ki Ageng Blorong pasti nggak bakal sadar kalau yang lewat itu pendiri Majapahit!"

Dewi Tribhuwana Tunggadewi dan Dewi Rajadewi tampak tertarik melihat jilbab pashmina dan gamis modern milik Simbok. Mereka mencoba mematut diri di depan cermin kecil di ruang tengah.

"Kakang Faris, punika kainipun alus sanget. Napa niki sing dienggo putri-putri jaman sakniki?" tanya Dewi Rajadewi dengan binar mata penasaran.

(Kakang Faris, kain ini halus sekali. Apakah ini yang dipakai putri-putri zaman sekarang?)

"Benar, Gusti Ayu. Itu agar kalian tidak terlihat mencolok namun tetap sopan," jawab Faris sambil tersenyum melihat keanggunan mereka yang tidak hilang meski hanya memakai baju sederhana.

Eyang Buyut Wijaya akhirnya mengangguk setuju. Beliau menatap Faris dengan pandangan yang kembali tajam dan penuh wibawa.

"Yo wis, Cucuku. Sesuk isuk kita budhal nylamur menyang punjere kutha. Kita pancing ula-ula ireng iku metu saka lengke."

(Ya sudah, Cucuku. Besok pagi kita berangkat menyamar menuju pusat kota. Kita pancing ular-ular hitam itu keluar dari sarangnya.)

Faris menarik napas panjang. Besok akan menjadi hari yang sangat aneh sekaligus bersejarah bagi Sidoarjo. Seorang Raja Besar, para Pangeran, dan Putri Majapahit akan berjalan-jalan di Alun-alun Sidoarjo dengan pakaian warga biasa.

"Siap, Eyang. Sidoarjo akan menjadi saksi, bahwa cahaya masa lalu akan membersihkan kegelapan masa kini," gumam Faris penuh tekad.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!