Ren cuma pegawai kantoran biasa.
Setiap hari, ia mengurus dokumen para Awakened sambil berharap bisa pulang tepat waktu. Tapi setelah sebuah insiden, hidupnya berubah total.
Ia mengalami Awakening … dan mendapatkan kemampuan paling aneh yang pernah ada:
"Tidak Melakukan Apapun."
Kekuatan yang terdengar payah. Tidak berguna. Bahkan memalukan.
Masalahnya, kemampuan itu mungkin jauh lebih berbahaya daripada yang dibayangkan siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Setelah mengunjungi makam orangtuanya, Ren kemudian menghabiskan sisa waktunya berkeliling Huangxi, langkahnya kali ini menuju salah satu peternakan tempat "investasi bodoh"nya: "H's Coops. Bau kotoran ayam yang menyengat adalah aroma kemewahan di Huangxi.
Ren berdiri di depan pagar kawat yang mulai berkarat. Di hadapannya, ribuan ekor ayam petelur riuh rendah, mematuk pakan yang didatangkan khusus dari luar kota. Ia memperhatikan gerakan mereka dengan saksama.
"Semuanya sehat, Bos Ren," lapor seorang pria paruh baya dengan caping kusam. Ia menyeka keringat di dahinya yang legam. "Pakan premium yang kau kirim bulan lalu benar-benar berpengaruh. Telurnya lebih besar, cangkangnya tidak mudah retak."
Ren mengangguk pelan. Ia menyentuh kawat pagar. Getaran dari mesin pemberi makan otomatis terasa di ujung jarinya.
"Teruskan saja, Paman. Kalau stok pakan sisa sedikit, segera hubungi aku. Jangan tunggu sampai gudang kosong," ujar Ren.
Pria itu terkekeh. "Kau ini aneh. Di Qilin orang-orang berebut investasi properti atau mineral Scarstone, kau malah buang uang di tanah gersang begini. Apa untungnya?"
"Untungnya? Aku bisa makan telur segar tiap kali pulang kampung," balas Ren singkat.
Ia berpamitan. Langkahnya berlanjut menuju area pinggiran yang lebih dekat dengan jalur kapal terbang logistik. Di sana, deretan kontainer logam tertumpuk rapi. Logo "H-Logistics" terpampang besar-besar, meski catnya mulai mengelupas karena hujan asam yang sering mengguyur wilayah ini.
Ini adalah denyut nadi Huangxi. Bisnis pengantaran barang yang ia rintis untuk memberi pekerjaan pada pemuda setempat. Tanpa ini, mereka hanya punya dua pilihan: menjadi pencuri atau mati kelaparan di gang sempit.
"Bos, Selamat datang!" teriak seorang pemuda dari atas kontainer. Ia melambaikan tangan dengan semangat.
Ren membalas dengan lambaian kecil. Ia tidak merasa seperti bos di sini. Ia merasa seperti turis di lingkungan ini.
Di Huangxi, ia adalah pahlawan tanpa jubah. Di Qilin, ia hanyalah pegawai AFC yang dianggap beruntung oleh orang-orang. Perbedaan itu selalu membuatnya tersenyum sinis. Orang kota terlalu sibuk melihat ke atas hingga lupa bahwa fondasi tempat mereka berdiri dibangun oleh orang-orang seperti penduduk Huangxi.
Ren melanjutkan langkahnya, memanfaatkan momen akhir pekannya sebaik mungkin di Huangxi.
***
Alun-alun pusat kota Huangxi terlihat sibuk, meskipun wilayah kota ini terbilang kumuh dari kota lain. tapi masih ada gedung-gedung yang terlihat berdiri kokoh di pusat alun-alun kota.
Terlihat layar gedung yang menempel di area sibuk itu, terlihat kusam. Tapi cukup terawat dengan baik ditengah kondisi kota ini.
Ren berjalan di tengah kota, lalu berhenti sesaat, ia menatap langit. Gelap. Mendung yang sudah menutupi sejak pagi.
Ia melanjutkan langkahnya di alun-alun. "Saatnya mencari makan."
Baru saja beberapa langkah, sebuah layar raksasa di pusat alun-alun tiba-tiba berkedip. Suara statis yang tajam memecah ketenangan langit mendung yang menyertai.
Sosok Han Jue muncul di layar. Wajahnya tampak kaku, lebih formal. Latar belakangnya adalah ruang kendali AFC pusat yang dipenuhi teknisi yang berlarian panik.
"Warga Federasi Savior, harap diperhatikan," suara Han Jue menggema lewat pengeras suara kota. "Rift Kategori 3 di Tianshi menunjukkan anomali spasial yang tidak terprediksi. Getaran energinya mulai merembet ke wilayah sekitar."
Ren berhenti melangkah. Ia menatap layar itu dengan mata menyipit.
"Kami memerintahkan seluruh sektor di bawah jalur Tianshi, terutama Kota Huangxi, untuk meningkatkan status waspada ke Level Kuning. Tim evakuasi sedang disiapkan. Jangan panik, tapi bersiaplah."
Siaran itu terputus secepat ia dimulai.
Orang-orang di sekitar Ren saling pandang. Beberapa dari mereka kembali bekerja, menganggap itu hanya gertakan rutin. Namun, bagi Ren, ada yang salah. Han Jue tidak pernah seformal itu kecuali situasinya benar-benar kacau.
"Tianshi itu jauh, kan?" celetuk seorang kuli angkut, mencoba menghibur dirinya sendiri.
Ren tidak menjawab. Ia merasakan sensasi dingin di tengkuknya lagi. Sensasi yang sama saat ia berdiri di depan makam orang tuanya tadi pagi. Tidak yakin apakah angin lewat itu peringatan, ataukah hanya angin lewat biasa.