NovelToon NovelToon
Satu Malam Yang Merubah Ku

Satu Malam Yang Merubah Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / One Night Stand / Hamil di luar nikah
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Millea

Satu malam dalam keadaan mabuk berat, Permana merusak hidup seorang wanita yang bahkan tak ia kenal.

Wanita itu—Aaliyah, putri dari orang terpandang di kota London. Ia merasa bersalah sudah menodai wanita itu, sampai kata - kata yang di ucapkan oleh Aaliyah pada malam itu masih terus terngiang di kepala Praman.

“Bertaubatlah !! Kasihani orang tua mu. Aku tahu siapa dirimu sebenarnya.”

Sejak saat kejadian itu, Pramana. Merasa bersalah pada Aaliyah. meretakkan cintanya pada sang kekasih, mengguncang keyakinannya, dan menyeretnya pada pertanyaan terbesar:

mampukah ia menebus dosanya selama ini ia lakukan atau justru tenggelam dalam masa lalunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Millea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13

Pagi itu, angin London terasa lebih dingin daripada biasanya. Aaliyah berdiri di depan jendela kamarnya, menatap kompleks perumahan yang tampak sepi. Matanya sembab, masih terasa sisa tangis semalam. Ada banyak hal yang mengganggu pikirannya—kehamilan yang bukan keinginannya, trauma yang belum pulih, dan rasa takut yang terus menghantuinya seperti bayangan gelap.

Mommy Amira masuk membawa segelas air hangat. “Kamu sudah mandi, Sayang?”

Aaliyah mengangguk kecil. “Iya, Mommy, barusan.” Suaranya serak.

Mommy Amira duduk di tepi tempat tidur, menatap putrinya lama. “Kita harus bicara sebentar, Nak.”

Aaliyah menegang. Ia tahu ketika sang ibu berbicara dengan nada seperti itu, pasti ada keputusan besar yang ingin disampaikan.

“kamu akan pergi dari London untuk sementara waktu,” ucap Mommy Amira perlahan namun tegas.

Aaliyah memalingkan wajah. “Pergi… kemana?”

“Turki,” jawab Mommy Amira. “Ke rumah Oppa dan Nine kamu.”

Ini keputusan yang sudah Mommy Amira pikirkan dengan sangat matang, selama tiga hari belakangan ini. Ia mau Aaliyah menjalani pengobatan trauma psikiater di Turki. Dimana Ibu dan Ayahnya tinggal. Kalo Aaliyah menjalankan itu semua di sini, Mommy Amira takut putrinya akan terus tenggelam dengan traumanya terus menerus.

Ia juga tidak bisa terus - terusan memantau sang putri 24 jam lebih. Karena dirinya harus bekerja di kedutaan. Pekerjaan yang sangat banyak dan memakan waktu, takut dirinya tak fokus menyembuhkan trauma Aaliyah dengan baik. Kalo sang anak di kediaman orang tuanya masih banyak orang yang akan memantau Aaliyah dengan baik dan menyalurkan perhatian mereka pada Aaliyah.

Dimasa seperti ini Aaliyah harus banyak di berikan perhatian dan dukungan oleh orang di sekitarnya. Takutnya kalo mereka lengah sedikit Aaliyah akan mengambil jalan pintas dan membuat mereka kehilangan Aaliyah selamanya.

Wajah Aaliyah memucat. “Mommy…kenapa aku harus pindh ke rumah Opa dan Nine ?”

“Kamu perlu tempat yang aman.” Mommy Amira menggenggam kedua tangannya. “Kamu perlu suasana baru, far from everything. Kamu butuh ruang untuk sembuh.”

“Tapi pekerjaanku…”

“Mommy sudah bicara dengan atasanmu,” potong Mommy Amira. “Dan maaf sebelumnya Mommy mengambil keputusan ini sendirian. Mommy melayang surat resign pada kantor mu. Supaya kamu fokus ke penyembuhan dan kehamilan mu dulu, sayang. ”

Aaliyah menunduk. Dadanya terasa sesak. Ia mencintai pekerjaannya sebagai desain interior—itu adalah hal yang ia perjuangkan bertahun-tahun. Tapi di sisi lain, ia tahu dirinya tidak mungkin bekerja dengan kondisi seperti ini. Setiap hari ia bangun dengan perasaan takut. Setiap kali ia melihat cermin, ia seakan melihat seseorang yang tidak ia kenali lagi.

“Aku takut, Mommy…” suaranya pecah. “Aku merasa semua orang menatapku. Aku merasa kotor…”

Mommy Amira langsung memeluknya erat. “Sayang, kamu tidak kotor. Kamu adalah korban. Kamu terluka bukan karena kesalahanmu sendiri.”

Pelukan itu bertahan lama, seolah Mommy Amira ingin memindahkan seluruh kekuatan dunia agar putrinya bisa tetap berdiri.

---

Sementara itu, di rumah berbeda yang hanya berjarak tiga blok dari rumah kediaman Jhonson, Pramana duduk termenung di meja makan. Wajahnya pucat, matanya sembab seperti tidak tidur semalaman.

Sejak beberapa hari ini ia tidak tenang. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, ia selalu teringat mimpi yang sama—gadis yang ia nodai di kamar hotel hari itu. Ia melihat bayangan tubuh yang menangis, memohon, berusaha melawan.

Setiap malam mimpi itu terasa semakin nyata.

Ali, sahabat Pramana. Masuk sambil membawa dua cangkir kopi. “Kau belum tidur lagi?”

Aliudin teman pertama Pramana berasa dari Indonesia disaat kuliah dulu. Ali merupakan satu - satunya sahabat Pramana yang beragama Islam. Ali juga tahu kalo Prama memiliki kelain seksual, alias Gay. Ia pernah menceramahi sahabatnya itu sampai mulutnya capai. Tapi apa boleh buat, Pramana sudah sangat begitu bebas dalam pergaulannya. Sampai - sampai sahabat nya itu masuk ke dalam club berisi pria - pria penyuka sesama jenis.

Ia duduk di seberang Pramana, menatap sahabat yang kini terlihat jauh lebih hancur daripada sebelumnya.

“Aku nggak bisa tidur,” jawab Pramana lirih. “Aku merasa… dosa aku makin nyata setiap hari.”

Ali menarik napas panjang. “Pram, kau memang salah. Kau tahu itu. Tapi kau harus bertanggung jawab. Bukan cuma nyesel di kepala kau sendiri. Itu ngga ada gunanya.”

“Apa aku pantas hidup setelah semua ini?” suara Pramana bergetar.

“Pantas.. tapi kau harus tobat, meminta ampu atas segala oerbuatan mu pada Allahm” kata Ali tegas. “Bukan cuma minta maaf sama Allah. Tapi bener-bener berubah.”

Pramana menunduk. “Aku… bahkan lupa gimana caranya sholat.”

“Kalo lupa berarti harus belajar lagi,” ujar Ali pelan.

Mata Pramana memerah. “kau pikir Tuhan masih mau nerima orang kayak aku?”

“Setiap orang berhak tobat, Man.” Ali menepuk bahunya. “Tapi prosesnya berat. Sangat berat. Kau siap?”

Pramana menelan ludah. Hatinya terasa kacau, namun ada kekuatan kecil yang mulai tumbuh—sebuah rasa ingin kembali menjadi manusia yang lebih baik, bukan monster yang ia lihat di dalam mimpinya.

“Aku mau coba,” katanya akhirnya. “Aku mau berubah.”

---

Hari keberangkatan menuju Turki datang lebih cepat dari yang Aaliyah harapkan. Di bandara, hatinya terasa kian berat. London adalah rumahnya. Pekerjaan, momen-momen indah bersama mendiang ayahnya, kenangan kecil dengan orang-orang yang pernah hadir dalam hidupnya—semuanya ada di sini. Tapi kini ia harus meninggalkan semuanya karena trauma yang ia alami setelah kejadian sialan itu.

Mommy Amira merangkul bahu putrinya. “Tak apa sayang, jangan bersedih. Ketika kamu merasa lebih baik dan kuat, kau boleh kembali lagi ke sini. "

Aaliyah menarik napas panjang, tetapi dadanya tetap terasa sesak.

“Mommy…” suaranya nyaris pecah. “Aku nggak tahu apa aku kuat.”

“Kamu kuat. Kamu anak Mommy,” jawab yang lebih tua, mencium kening putrinya.

Tapi di balik ketegasan itu, Mommy Amira menyembunyikan sesuatu: rasa marah yang mendidih. Marah pada pria yang telah menghancurkan hidup putrinya. Marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa melindungi Aaliyah saat itu. Marah pada dunia yang tidak pernah adil bagi perempuan.

Mereka naik ke pesawat. Aaliyah duduk di dekat jendela, memandangi runway yang perlahan menjauh.

Tiga hari kedepan Mommy Amira memutuskan untuk mengambil cuti yang belum ia gunakan. Mommy Amira akan menemani putri semata wayangnya disana terlebih dahulu sebelum dirinya kembali ke London.

Selamat tinggal, London… bisiknya Aaliyah dalam hati.

---

Setibanya di Turki, Nine dan Oppa Aaliyah langsung menyambut dengan pelukan hangat. Mereka sudah tahu dengan detail kejadian yang menimpa Aaliyah—Mommy Amira sudah menceritakan semuanya tentang Aaliyah  yang mengalami trauma besar dan membutuhkan waktu untuk pulih.

Nine mengelus rambut Aaliyah. “Cucu… Nine di sini, sayang. Kamu aman, nak. Kamu istirahat dulu. Nggak perlu mikir apa-apa.”

Aaliyah menangis dalam pelukan itu. Meski tidak menjelaskan apa pun, Nine  bisa merasakan dari tatapan mata cucunya—bahwa gadis itu memikul beban yang sangat berat.

Malam itu, Aaliyah tidur di kamar barunya yang menghadap taman. Di luar, angin Turki berhembus sejuk, tetapi pikirannya tetap kacau.

Ia meletakkan tangannya di perut.

“Maaf…” bisiknya. “Aku belum siap jadi ibu… maaf…”

Air matanya mengalir begitu saja.

---

Sementara itu di London, Pramana berdiri di dalam kamar mandi, menatap wajahnya sendiri di cermin. Matanya merah, pipinya cekung, dan wajahnya terlihat lebih tua daripada usianya.

Ia membuka keran air untuk wudhu. Suara air mengalir membuat dadanya bergetar. Sudah lama sekali ia tidak melakukan ini.

Tangan pertamanya gemetar.

Satu cipratan air menyentuh wajahnya, tapi tangannya terhenti di tengah proses.

Ia menunduk.

“Ya Allah…” suaranya bergetar. “Aku… aku telah melakukan hal yang sangat keji dan terjerumus hal sesat… tapi aku… aku ingin berubah. Aku takut… aku menyesal…”

Air matanya jatuh bercampur air wudhu.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Pramana sujud. Sujud yang penuh getaran, penyesalan, dan rasa bersalah.

“Tolong ampuni aku… tolong tunjukkan aku jalan…”

Tangisnya pecah di atas sajadah.

Itu adalah awal dari proses tobatnya—perlahan, berat, menyakitkan.

---

Tiga hari setelah Aaliyah pindah ke Turki, Mommy Amira kembali ke London untuk mengurus beberapa hal dan pekerjaannya. Dan bersiap memberikan pelajaran pada Pramana, saat ini. Selama beberapa hari ini Mommy Amira menahan diri untuk tidak melabrak Pramana.

Hari itu, Mommy Amira berdiri di depan rumah sewa milik Pramana. Wajahnya dingin, tatapannya tajam.

Bel rumah ditekan.

Pintu dibuka oleh Pramana sendiri.

Mereka saling menatap beberapa detik.

Tatapan Mommy Amira penuh kebencian.

Tatapan Pramana penuh keterkejutan, seolah baru saja melihat hantu dari masa lalu.

“Bu…?” Pramana terlihat kebingungan melihat wanita paruh baya yang tak ia kenali ini. Di tambah tatapan benci dari wanita itu membuat Pramana bertanya.

Siapa wanita paruh baya ini ? Kenapa tiba - tiba datang kerumahnya dengan tatapan benci ?

Mommy Amira mendekat, menatapnya tepat di mata dengan amarah yang dibakar oleh luka seorang ibu.

“Kau…” suaranya rendah namun mematikan. “Yang telah menghancurkan hidup putri ku. Aaliyah Jefar Jhonson.”

Pramana langsung pucat. Degup jantungnya berhenti seketika. Wanita paruh baya di hadapannya ini merupakan ibu dari Aaliyah, wanita yang sudah ia hancurkan masa depannya.

Napasnya tercekat.

“Bu… saya—”

“Diam.” bentak Mommy Amira smambil menahan  tangis. “Jangan panggil saya Bu. Karena saya bukan ibu mu.”

Pramana menunduk, merasa tubuhnya ingin jatuh.

“Kau tahu apa yang kau perbuat buat?” suara Mommy Amira pecah. “Putri ku mengalami trauma berat. Putri ku selalu menangis setiap malam. Dan saat ini Putri ku… hamil.”

Deg!!

Tubuh Pramana melemas.

Jantung Pramana seolah di tikam dengan sajam yang tak kasat mata. Kabar yang di sampaikan wanita paruh baya itu membuat Pramana semakin merasa bersalah dibuatnya.

“Kau…” Mommy Amira menggenggam tasnya erat. “Adalah laki-laki paling menjijikkan yang pernah aku lihat.”

Mommy Amira menahan sekuat tenaga untuk tidak memumukul dan menampar pria telah menolehkan luka yang sangat besar pada putrinya. Ia tak mau citranya rusak karena telah memukul seseorang. Cukup dengan kata - kata saja, tapi bisa membuat pria di hadapannya ini hancur.

Pramana jatuh bersimpuh di hapan Mommy Amira. Tangan bertangkup di depan dada memohon maaf atas perbuatannya pada wanita di hadapannya.

“Aku… aku minta maaf… aku… aku salah… aku…” Lututnya gemetar. “Aku menyesal…”

“Penyesalanmu tidak akan mengembalikan masa depan putri ku,” ucap Mommy Amira getar. “Tapi Tuhan mungkin akan menerima perkataan maaf mu. Tapi tidak dengan ku.”

Mommy Amira melangkah pergi, sebelum meninggal perkarangan rumah Pramana. Mommy Amira berbalik.

“Semoga kau menerima ganjarannya,” katanya menatap Pramana penuh dendam. “ Dan Kau tak akan bisa menemukan putri ku, sampai kapan pun. "

Mommy Amira melangkah pergi meninggalkan halaman rumah Pramana dengan langkah tegas dan penuh wibawa.

Pramana menutup wajahnya dengan kedua tangan, menangis keras. Tangannya gemetar, tubuhnya bergetar seperti ingin pecah berkeping-keping.

“Aku… aku benar-benar menghancurkan hidupnya…” suaranya pecah. “Ya Allah… apa yang sudah aku lakukan…”

Tangisnya pecah untuk kedua kalinya hari itu.

Dan itu adalah titik terdalam dari penyesalan seorang pria yang akhirnya melihat dirinya sendiri sebagai iblis—dan mulai merangkak untuk menjadi manusia kembali.

Bersambung...

1
Uthie
Coba mampir 👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!