NovelToon NovelToon
LABIRIN EGO: DIALEKTIKA DUA JIWA DI KOTA TAK BERNAMA (NOVEL VERSION)

LABIRIN EGO: DIALEKTIKA DUA JIWA DI KOTA TAK BERNAMA (NOVEL VERSION)

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Sistem / Misteri / Psikopat
Popularitas:44
Nilai: 5
Nama Author: MUXDHIS

"Keadilan di kota ini tidak ditegakkan, melainkan diperdebatkan dengan nyawa."

Bagi Dr. Saraswati, detektif psikolog jenius, semua kejahatan pasti tunduk pada logika dan akal sehat. Hingga "Sang Pembebas" muncul—pembunuh berantai misterius yang membantai para elit korup tanpa jejak, hanya menyisakan teka-teki berdarah yang mengejek hukum.

Di mata publik yang tertindas, pembunuh ini adalah pahlawan. Di mata hukum, ia monster anarkis.

Alih-alih bersembunyi, Sang Pembebas justru mengincar Saraswati. Melalui teror pesan chat rahasia, ia mengajak sang detektif bermain kucing-kucingan mematikan, menguliti trauma masa lalunya satu per satu.

Untuk menangkap entitas di luar nalar ini, Saraswati dihadapkan pada pilihan fatal: mempertahankan kewarasannya dan kalah, atau melepaskan logikanya untuk menyelami kegelapan pikiran sang pembunuh.

Siapa yang memburu, dan siapa yang sebenarnya sedang diburu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUXDHIS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 GAS KETIADAAN DAN DIALEKTIKA NAPAS TERAKHIR

[11:18 AM] ZONA KARANTINA BAWAH TANAH, GUDANG NOMOR 4

Sssshhhhhhh.

Suara desisan itu terdengar sangat pelan, nyaris seperti embusan napas hantu di tengah ruangan bawah tanah yang dingin. Dari ventilasi udara di langit-langit baja, karbon monoksida (CO) industri bertekanan tinggi mulai disemburkan ke dalam ruangan. Gas ini tidak memiliki warna. Gas ini tidak memiliki bau. Ia adalah pembunuh yang paling sunyi, sebuah metafora yang sangat presisi untuk menggambarkan penindasan struktural dalam teori Marxis.

Sama seperti kapitalisme yang beroperasi tak kasat mata—mengisap esensi kemanusiaan (Gattungswesen) dan perlahan-lahan mencekik kaum proletar tanpa mereka sadari melalui inflasi, alienasi, dan utang—gas ini akan mengikat hemoglobin di dalam darah, merampas oksigen dari sel-sel tubuh, dan meninabobokan korbannya menuju ketiadaan yang permanen. Kala, sang Übermensch yang memproklamirkan dirinya sebagai dewa kehancuran, telah merancang eksekusi Dionysian yang paling puitis dan ironis bagi para kapitalis ini.

Di lantai mezanin, topeng Apollonian Menteri Hartono—keteraturan, wibawa, dan rasionalitas sang penguasa—runtuh seketika berkeping-keping.

"Buka pintunya! Tembak panelnya! Hancurkan apa saja!" jerit Hartono, suaranya pecah, melengking tinggi dalam kepanikan yang absolut.

Kedua tentara bayaran di sampingnya segera mengarahkan senapan serbu mereka ke arah pintu hidrolik baja raksasa di ujung ruangan yang baru saja terkunci otomatis.

TRATATATATATA!

Peluru tajam berhamburan, memercikkan bunga api kuning yang menyilaukan saat menghantam pelat baja setebal sepuluh sentimeter itu. Namun, deduksi logika Aristotelian tidak bisa dibantah: peluru kaliber 5.56mm (Sebab Material) tidak memiliki massa dan akselerasi yang cukup untuk menembus baja padat murni guna menciptakan lubang pelarian (Sebab Final). Tembakan membabi buta itu hanya menghasilkan pantulan peluru (ricochet) yang berbahaya. Salah satu peluru memantul dan merobek paha salah satu penjaga itu sendiri. Pria itu menjerit, jatuh berlutut sambil memegangi kakinya yang mengucurkan darah.

Struktur kepribadian Freudian di ruangan itu terbalik secara dramatis. Para pria dewasa yang memegang kekuasaan dan senjata api ini kehilangan Ego dan Superego mereka, terdegradasi sepenuhnya ke dalam Id—insting binatang yang meronta-ronta di ambang kematian. Mereka saling dorong, saling menyalahkan, dan menjerit dalam histeria.

Sebaliknya, Dr. Saraswati, yang terbaring di lantai dengan bahu kanan hancur tertembus peluru, menolak untuk menyerah pada keputusasaan.

Layar monitor raksasa di atasnya menampilkan angka merah yang berdenyut kejam:

00:04:15

Empat menit lima belas detik.

Rasa sakit di bahunya mengirimkan gelombang kejut yang membuat pandangannya berkunang-kunang. Namun, ajaran filsuf eksistensialis Simone de Beauvoir kembali menjadi sauh kewarasannya. Dalam menghadapi batas ekstrem eksistensi, seorang individu (terutama perempuan yang secara historis selalu diposisikan sebagai Sang Liyan yang pasif dan menanti diselamatkan) harus secara radikal mengafirmasi kehendak bebasnya. Saraswati menolak mati sebagai objek di dalam perangkap Kala. Ia memaksakan Will to Power (Kehendak untuk Berkuasa) ala Nietzsche membanjiri saraf-saraf motoriknya, mengubah rasa sakit yang melumpuhkan itu menjadi stimulan yang membangunkan kesadarannya.

Saraswati bertumpu pada lengan kirinya, menyeret tubuhnya untuk bangkit. Darah menetes dari bahunya, menodai lantai beton. Matanya yang tajam menatap ke arah puluhan kerangkeng baja di sekeliling ruangan.

Anak-anak yatim piatu di dalam sana tidak menjerit seperti Menteri Hartono. Mereka hanya beringsut mundur, saling berpelukan, menatap layar hitung mundur dengan mata kosong yang menyayat hati. Mereka telah begitu lama mengalami alienasi ekstrem; mereka telah diajari bahwa dunia ini adalah tempat penyiksaan, sehingga kematian pun disambut dalam kebisuan yang pasrah. Ini adalah wujud dari Das Unheimliche—kengerian yang teramat sangat familiar. Anak-anak ini sedang berada di dalam "lemari" mereka sendiri.

"Tidak malam ini," desis Saraswati, darah segar mewarnai giginya. "Aku tidak akan membiarkan kalian mati dalam gelap."

00:03:30

Saraswati menyambar Glock 19 miliknya dari lantai menggunakan tangan kirinya. Menembak dengan tangan non-dominan sambil menahan rasa sakit adalah ketidakmungkinan anatomis, tetapi ia membidikkan larasnya ke atas balkon.

"Hartono! Lemparkan kunci kerangkeng anak-anak itu!" teriak Saraswati.

Menteri itu sedang terbatuk-batuk hebat di atas balkon. Kepanikan mempercepat detak jantungnya, yang berarti ia menghirup karbon monoksida jauh lebih cepat daripada orang lain. Wajah Hartono mulai memerah, ciri khas awal dari keracunan CO ringan, di mana oksihemoglobin berubah menjadi karboksihemoglobin.

"Persetan dengan anak-anak itu!" balas Hartono dengan suara serak, matanya melotot liar mencari jalan keluar dari dinding beton. "Tembak wanita itu! Dia yang membawa kita ke neraka ini!"

Satu-satunya tentara bayaran yang masih berdiri mengarahkan senapannya ke bawah, bersiap mengeksekusi Saraswati.

Namun, sebelum jari pria itu menekan pelatuk, Saraswati telah menembak lebih dulu.

DOR!

Logika Aristoteles—analisis sudut, lintasan, dan probabilitas. Peluru kaliber 9mm itu melesat dan menghantam tepat di bahu kanan sang penjaga, melumpuhkan saraf motoriknya dengan cara yang persis sama seperti penjaga itu melumpuhkan Saraswati. Penjaga itu menjerit dan menjatuhkan senapannya ke bawah balkon.

"Kuncinya!" raung Saraswati, matanya menyala dengan api Dionysian yang menembus keangkuhan Hartono.

Hartono, yang kini menyadari bahwa uang, kekuasaan, dan jabatannya telah larut menjadi ketiadaan (sebuah teologi negatif yang brutal di mana dewa-dewa palsu diluluhlantakkan), gemetar ketakutan. Dengan tangan yang meronta, ia menarik sebuah cincin besi berisi sekumpulan kunci master dari sabuk penjaga yang terluka, lalu melemparkannya ke bawah.

Kunci itu berdenting jatuh di lantai beton.

00:02:45

Saraswati memungut kunci itu. Gejala keracunan mulai menyerang sistem saraf pusatnya. Telinganya berdenging keras. Kepalanya terasa seperti ditusuk oleh ribuan jarum. Ia berada di tengah-tengah Barzakh—sebuah isthmus antara alam orang hidup dan alam orang mati. Ibnu Arabi menyatakan bahwa di dalam Barzakh, persepsi manusia berubah, batas antara fisik dan spiritual mengabur. Ruangan bawah tanah ini terasa seperti mengecil, dindingnya seolah bernapas.

Ia tertatih menuju kerangkeng terdekat. Ia memasukkan kunci itu dengan tangan kiri yang gemetar, memutarnya, dan menarik pintu kerangkeng itu terbuka.

"Keluar! Buka kerangkeng yang lain!" perintah Saraswati kepada tiga anak laki-laki kurus di dalam sana, menyerahkan sisa kunci di cincin itu kepada mereka.

Anak-anak itu ragu-ragu. Ketakutan telah membuat mereka mematuhi aturan kerangkeng.

"Dengarkan aku!" Saraswati berlutut, mensejajarkan pandangannya dengan mata mereka, menolak memposisikan dirinya sebagai penyelamat yang transenden (Tanzih). Ia hadir di sana bersama mereka, berdarah dan kesakitan (Tashbih). "Kalian bukan barang jualan! Kalian adalah manusia! Dan jika kalian ingin hidup, kalian harus melawan! Buka pintunya!"

Kata-kata itu memecah cangkang keliyanan mereka. Kesadaran kelas (class consciousness) mulai bangkit. Anak tertua di antara mereka menyambar kunci itu dan berlari menuju kerangkeng di sebelahnya. Dalam waktu kurang dari empat puluh detik, puluhan anak yatim piatu itu berhamburan keluar dari penjara besi mereka.

00:01:50

"Ke arah pintu hidrolik!" teriak Saraswati, mengarahkan kawanan anak-anak itu ke satu-satunya jalan keluar.

Mereka berkumpul di depan pintu baja raksasa yang tertutup rapat. Saraswati menekan tombol elektronik di dinding, tetapi panel itu telah mati total. Sistem digital telah dihancurkan oleh Kala.

Namun, Saraswati memegang teguh rasionalitas mekanis. Sebuah pintu hidrolik seberat dua ton tidak digerakkan oleh sihir; ia digerakkan oleh tekanan fluida (Sebab Material). Di dalam setiap sistem hidrolik darurat industri, pasti ada tuas pelepasan manual (manual override valve) untuk mencegah jebakan fatal jika terjadi mati listrik atau peretasan.

Mata Saraswati dengan cepat memindai struktur dinding di samping pintu. Di sana, tertutup oleh sebuah pelat kaca tebal dengan tulisan peringatan HAZARD, terdapat sebuah katup putar berbentuk roda besi kemerahan.

Saraswati mengangkat pistolnya dan menembakkan peluru terakhirnya.

PRANG!

Kaca itu hancur. Saraswati menjatuhkan pistol yang telah kosong, lalu mencengkeram roda besi itu dengan tangan kirinya. Ia memutar roda itu sekuat tenaga.

Roda itu berkarat dan macet. Tidak bergerak satu milimeter pun.

Saraswati mengerang, mencoba memaksakan tangan kanannya yang hancur tertembak untuk ikut memutar. Rasa sakit yang mematikan meledak di bahunya, membuat pandangannya menjadi hitam sesaat. Roda itu masih tak bergeming. Tekanan hidrolik pintu ini terlalu besar untuk diputar oleh satu lengan seorang wanita yang sedang keracunan gas.

00:01:10

Satu menit sepuluh detik.

Kabut karbon monoksida mulai membuat beberapa anak kecil di belakangnya batuk-batuk dan tersungkur lemas.

Di sinilah letak krisis eksistensialismenya. Kesombongan Übermensch Nietzsche adalah memercayai bahwa individu unggul dapat menyelesaikan segalanya sendirian. Namun, manusia tidak hidup dalam isolasi.

"Aku... aku tidak bisa memutarnya sendirian," bisik Saraswati, napasnya tersengal.

Tiba-tiba, sepasang tangan kecil dan kotor menutupi tangan kiri Saraswati di atas roda besi itu.

Saraswati menoleh. Itu adalah anak laki-laki yang tadi mengambil kunci darinya. Diikuti oleh seorang gadis kecil, lalu dua anak lainnya. Empat, lima, hingga sepuluh anak berkumpul, menyatukan tangan-tangan kurus mereka di atas roda besi pemutus hidrolik tersebut.

Ini adalah momen transendensi yang diimpikan oleh Karl Marx: kaum yang tertindas bersatu untuk menghancurkan belenggu material yang mengurung mereka. Mereka tidak lagi menjadi objek pasif yang menunggu ajal. Mereka telah mengambil alih peran sebagai Subjek sejarah. Simone de Beauvoir pernah mencatat bahwa untuk membebaskan diri dari imanensi (keterkungkungan), manusia harus saling bahu-membahu dalam proyek kebebasan (transendensi).

"Pada hitungan ketiga," ucap Saraswati, suaranya bergetar melihat persatuan murni di tengah racun ketiadaan ini. "Satu... dua... TIGA!"

Dengan satu tarikan napas kolektif, mereka mendorong roda besi itu ke arah kiri.

Krrrrriiiiiik.

Karat yang menahan poros roda itu patah. Roda besi itu berputar setengah putaran. Suara desisan keras seketika terdengar saat tekanan fluida hidrolik dari dalam dinding dilepaskan secara paksa. Kunci mekanis di dalam pintu baja setebal sepuluh sentimeter itu kehilangan tekanannya, menciptakan celah kecil di tengah-tengah pintu ganda tersebut.

00:00:45

"Sekarang! Dorong pintunya!" teriak Saraswati.

Anak-anak itu menempelkan tubuh mereka ke pintu baja, mendorong sekuat tenaga. Saraswati menggunakan sisa bahu kirinya untuk mendorong bersama mereka.

Namun, kekacauan belum selesai. Dari arah belakang, suara langkah kaki yang terseret terdengar.

Menteri Hartono, dengan wajah semerah tomat matang akibat keracunan tingkat lanjut, menerobos gerombolan anak-anak itu layaknya babi hutan yang terluka. Ia memukul, menendang, dan menyingkirkan anak-anak yang mencoba mendorong pintu. Narsisme egois kaum borjuis termanifestasi dalam tindakan paling rendah: mengorbankan kaum yang lebih lemah demi kelangsungan hidupnya sendiri.

"Minggir kalian hama kotor! Aku harus keluar!" jerit Hartono, mencoba menekan tubuh gemuknya melewati celah pintu yang baru terbuka sepuluh sentimeter.

Salah satu gadis kecil terpelanting ke lantai beton dan terinjak oleh sepatu kulit mahal milik sang menteri.

Di hadapan kebrutalan absolut ini, Superego Saraswati—yang selama bertahun-tahun di kepolisian dilatih untuk mematuhi prosedur penangkapan dan hak asasi tersangka—akhirnya mencair dan musnah. Apa yang tersisa adalah Will to Power murni.

Saraswati menarik tubuhnya mundur, membungkuk dan meraih palang besi patah dari pecahan kaca kotak darurat di lantai. Ia berbalik, dan dengan kekuatan presisi yang diwarnai oleh amarah purba, ia menghantamkan palang besi itu tepat ke bagian belakang lutut Menteri Hartono.

KRAK!

Bunyi tulang tempurung lutut yang pecah terdengar nyaring.

Hartono menjerit histeris, tubuhnya ambruk menghantam pintu baja, gagal melewati celah tersebut.

Saraswati mencengkeram kerah kemeja sutra sang menteri dengan tangan kirinya, menatap mata pria yang telah menghancurkan keluarganya dan ribuan nyawa lainnya.

"Aristoteles berkata bahwa sebuah benda jatuh ke bumi karena ia mencari tempat asalnya," bisik Saraswati di wajah Hartono, suaranya lebih dingin daripada gas yang menyelimuti mereka. "Tempat asalmu bukan di atas sana bersama kebebasan, Menteri. Tempat asalmu adalah di dalam kotak besi ini."

Dengan satu sentakan kuat, Saraswati melempar tubuh Hartono yang merintih kesakitan ke arah tengah ruangan, menjauhkannya dari pintu keluar.

00:00:15

"Dorong!" teriak Saraswati kembali pada anak-anak.

Pintu baja itu bergeser semakin lebar, hingga menciptakan celah selebar setengah meter. Udara segar yang dingin dan lembap dari lorong gudang utama menyerbu masuk, bertabrakan dengan gas karbon monoksida.

Anak-anak yatim piatu itu berhamburan keluar menembus celah, menghirup udara kebebasan dengan isak tangis dan napas yang rakus.

Saraswati memastikan anak terakhir telah keluar. Hitung mundur di layar terminal utama kini menunjuk pada angka:

00:00:05

Paru-paru Saraswati akhirnya mencapai batas kehancurannya. Ia kehilangan keseimbangan, tubuhnya oleng ke depan, nyaris terjatuh. Namun, beberapa anak yang telah berada di luar segera mengulurkan tangan mereka, menarik lengan kiri sang detektif perempuan, dan menyeretnya melewati celah baja itu.

Mereka jatuh bertumpuk di lantai lorong gudang yang aman, tepat saat hitung mundur di layar utama di dalam menyentuh angka nol.

Layar terminal itu berubah menjadi merah sepenuhnya, menampilkan tulisan: PURGE COMPLETE. NO EXIT.

Saraswati terbaring telentang di lantai beton lorong yang basah, menatap langit-langit gudang yang gelap. Ia menarik udara segar ke dalam paru-parunya. Rasanya sakit, sangat menyakitkan, tetapi itu adalah rasa sakit dari kehidupan.

Di dalam ruangan tertutup di balik pintu baja yang kini menjadi makam raksasa, Menteri Hartono dan para tentara bayarannya yang terluka merintih putus asa. Gas beracun itu mengambil alih sepenuhnya, mengubah panggung komodifikasi manusia tersebut menjadi terminal ketiadaan yang sesungguhnya.

Sistem yang dibangun oleh sang tiran telah menjadi liang lahatnya sendiri.

Anak-anak yatim piatu itu mengelilingi Saraswati, memandanginya dengan tatapan campur aduk antara rasa syukur, ketakutan, dan kekaguman. Mereka bukan lagi komoditas tanpa nama. Mereka adalah jiwa-jiwa yang hidup.

Salah satu gadis kecil, gadis yang terjatuh tadi, perlahan mengulurkan tangannya dan menyentuh pipi Saraswati yang penuh memar. Sebuah sentuhan hangat yang mengusir kedinginan Das Unheimliche dan trauma masa lalunya.

Saraswati memejamkan mata, membiarkan sebulir air mata lolos. Ia telah kembali ke dalam "lemari", tetapi kali ini, ia tidak kehilangan siapa-siapa. Ia berhasil merusak siklus kompulsi pengulangannya.

Di luar gudang, deru mesin helikopter kepolisian dan sirene dari pasukan Sektor 7 yang menyadari terjadinya pelanggaran keamanan mulai mendekat. Pertempuran fisik malam ini telah berakhir, tetapi perang eksistensialis belum selesai.

Di suatu tempat di luar sana, dalam bayang-bayang metropolis yang sedang mencerna siaran bukti konspirasi yang ia unggah, Sang Pembebas masih berdiri bebas. Kala—sang manifestasi Id dan kekacauan—pasti sedang mengamati hasil karyanya.

Saraswati membuka matanya kembali. Kejernihan di dalam matanya tidak tertandingi oleh apa pun di dunia ini. Ia telah melalui Barzakh, melampaui trauma Freudian, menolak alienasi Marxis, dan mengafirmasi kebebasannya sebagai Subjek yang purna.

Ia bukan lagi alat hukum, dan bukan sekutu bagi kekacauan. Ia adalah anomali di dalam sistem.

"Ayo," ucap Saraswati dengan suara pelan namun kokoh, memaksakan dirinya untuk bangkit duduk, menatap anak-anak di sekelilingnya. "Kita harus segera pergi sebelum mereka datang. Malam ini, kita tulis sejarah kita sendiri."

Kota metropolis itu mengira mereka sedang dilanda kiamat, tetapi bagi Dr. Saraswati, kiamat itu hanyalah permulaan dari sebuah fajar yang baru. Percakapan panjang ini akan terus berlanjut, hingga tidak ada lagi sangkar yang tersisa di muka bumi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!