Mereka bilang, dulu kami sama
Dewa dan Dewi kedudukannya setara, menciptakan dunia dengan napas yang sama. Laki-laki dan perempuan berjalan berdampingan, bahu boleh sama tinggi
Lalu datanglah Hari Keretakan
Tak ada yang tahu pasti apa yang memicunya
Yang jelas, perang saudara para penguasa alam itu berlangsung lama tanpa henti
Yang tersisa hanya tiga Dewi. Dan sebagai tanda kemenangan abadi, mereka melakukan sesuatu pada realita
Sejak saat itu, setiap anak laki-laki yang lahir akan tumbuh lebih pendek dari saudara perempuannya. Bahu mereka tak akan selebar leluhur mereka
Suara mereka tak akan menggema seperti para Dewa dulu. Mereka hidup dalam dunia yang didominasi perempuan, bukan hanya dalam kekuasaan, tapi juga dalam postur, dalam kekuatan fisik, dalam segala hal yang kasatmata
Aku Sany, tidak terlalu peduli dengan legenda itu. Yang penting adalah bagaimana caranya menghilangkan Bisikan ini, setelah itu pergi mencari kerja
Bagaimana kisah Sany selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sizzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tugas pertama part 6
Setelah beberapa menit mempelajari peta dengan cermat, akhirnya perempuan itu menemukan apa yang dicari.
"Di sini," kata perempuan itu dengan yakin, jarinya menunjuk tepat ke sebuah lokasi di peta.
"Apa kau yakin itu markas musuh?" tanya Sany yang masih ingin memastikan.
"Aku yakin," jawab perempuan itu dengan keyakinan penuh, matanya tak goyah.
Melihat ketegasan di wajah dan suaranya, Sany pun yakin dengan jawabannya.
"Baiklah, aku akan pergi ke sana," ucap Sany sambil bersiap untuk berangkat.
"Tunggu," kata perempuan itu secara tiba-tiba.
Sany langsung berhenti dan menoleh ke arahnya. Untungnya, ia belum menggunakan kemampuannya.
"Ada apa?" tanya Sany dengan penuh perhatian.
"Bolehkah aku ikut?" pinta perempuan itu dengan suara penuh harap.
Sany merasa ragu. Ia masih mengingat bagaimana perempuan itu terluka parah dalam pertempuran sebelumnya.
Namun, melihat tekad yang kuat di mata dan raut wajahnya, Sany pun mulai mempertimbangkan permintaannya.
"Apa kau bisa menjaga diri sendiri? Terakhir kali kau kesulitan melawan mereka," tanya Sany yang ingin memastikannya.
"Bisa, selama lawanku tidak kebal terhadap serangan fisik," jawab perempuan itu dengan penuh keyakinan.
"Baiklah, kau boleh ikut," ucap Sany yang akhirnya mengizinkannya.
Ini akan menjadi kesempatan bagi perempuan itu untuk menyaksikan langsung kekuatan Sany.
Namun, sebelum pergi Sany memberinya pelindung yang membuatnya tidak bisa dideteksi radar, tanpa sepengetahuan perempuan itu.
Mereka pun mulai terbang menuju lokasi yang telah ditunjukkan. Letaknya tidak terlalu jauh dari tempat persembunyian mereka.
Karena situasi perang masih berkecamuk, mereka terbang rendah untuk menghindari area pertempuran dan berusaha untuk tidak menarik perhatian.
Mereka menerobos di antara reruntuhan bangunan yang berbahaya, manuver yang cukup riskan untuk dilakukan sambil terbang.
Tiba-tiba, beberapa robot kecil melihat pergerakan mereka. Tembakan laser mulai menyambar-nyambar.
Perempuan itu segera menciptakan perisai energi dan senapan laser melalui teknologinya.
Sementara itu, Sany tetap terbang dengan tenang, seolah tak terganggu oleh serangan tersebut.
Pertempuran pun pecah.
Perempuan itu sibuk menembaki robot-robot kecil sambil menghindari bangunan di sekitarnya.
Namun, beberapa robot lain berhasil menyelinap dan mengincar Sany. Perempuan itu berteriak memperingatkannya, tapi yang terjadi selanjutnya justru membuatnya terpana.
Serangan laser robot-robot itu hanya mengenai dinding dan puing-puing di sekitar Sany, tidak ada satu pun yang menyentuhnya.
Perempuan itu semakin penasaran, dalam ingatannya, robot-robot ini dikenal dengan akurasi tembakan yang hampir sempurna.
Setelah berhasil mengalahkan robot-robot kecil yang mengganggu, akhirnya mereka tiba di dekat markas musuh.
Perempuan itu segera menonaktifkan perisai dan senapan dengan teknologinya. Keduanya langsung bersembunyi di balik reruntuhan terdekat, mengawasi markas musuh dari kejauhan dengan hati-hati.
"Penjagaannya sangat ketat," gumam perempuan itu sambil mengamati markas musuh.
Sementara perempuan itu fokus mengawasi, Sany justru duduk di atas tanah logam sambil memikirkan rencana untuk memasuki markas tersebut.
Setelah beberapa saat, Sany berdiri dan kembali mengamati markas itu dengan seksama.
"Aku akan pergi mengelilingi markas ini. Kau tunggu di sini saja," ucap Sany sebelum akhirnya pergi meninggalkan persembunyian mereka.
Perempuan itu hanya mengangguk, memahami maksud Sany. Entah sejak kapan mereka bisa akrab seperti ini, padahal mereka baru saja bertemu.
Dengan menggunakan sihir perpindahan tempatnya, Sany berkeliling memeriksa sekeliling markas, lalu kembali ke persembunyian mereka.
"Aku menemukan celah, tapi kita harus pergi ke sisi sebelah markas," lapor Sany sambil memberitahu hasilnya.
Mereka segera menuju ke sisi markas yang dimaksud, dengan hati-hati menghindari patroli robot.
Sampai di sana, mereka menemukan tembok yang sangat tinggi, hanya beberapa robot kecil yang berjaga di atasnya.
"Bagaimana cara kita masuk? Kalau terbang, pasti ketahuan," bisik perempuan itu kepada Sany.
Sany tampak sedang memikirkan sesuatu dengan serius.
"Kalau temboknya kuhancurkan, pasti akan ketahuan. Mungkin harus menggunakan cara itu," gumam Sany sambil menyusun rencana.
Sany mulai bergerak mendekati tembok tinggi itu dengan langkah hati-hati, matanya terus memindai sekeliling untuk memastikan tidak ada yang mengawasi.
"Apa yang kau lakukan?" tanya perempuan itu dengan suara pelan yang penuh rasa ingin tahu.
Sany menoleh sejenak, memberikan isyarat dengan tangan agar dia diam dan mengikutinya.
Perempuan itu pun mengangguk pelan, lalu mulai mengikuti Sany dari belakang dengan sama hati-hatinya, terus waspada terhadap lingkungan sekitar.
Akhirnya Sany tiba di dekat tembok tinggi itu. Dengan gerakan tangannya yang halus, sebuah portal tiba-tiba muncul, yang langsung terhubung ke dalam markas musuh.
Sany menoleh ke arah perempuan itu.
"Ayo masuk," ajak Sany dengan suara rendah.
Keduanya segera melompat masuk melalui portal tersebut. Begitu portal menutup, mereka mulai menyusuri area dalam markas dengan hati-hati, tetap bersembunyi di balik struktur dan sudut-sudut ruangan.
"Kira-kira, di mana dokumen itu disembunyikan?" bisik Sany kepada perempuan itu.
Perempuan itu terlihat sedang mengingat sesuatu.
"Di kampung halamanku, mereka biasanya menyembunyikan dokumen penting di ruang bawah tanah," jawab perempuan itu dengan suara pelan.
"Tapi itu di kampung halamammu. Kalau di sini?" tanya Sany tetap dengan suara rendah.
"Tidak tahu, mungkin caranya sama," jawab perempuan itu langsung.
Sany pun mulai bertindak. Ia mulai melihat informasi yang ada di markas tersebut, mencari petunjuk tentang lokasi penyimpanan dokumen.
Melihat Sany yang terlihat asyik dengan sesuatu, perempuan itu penasaran.
"Kau sedang apa?" bisik perempuan itu dengan pelan kepada Sany.
"Ssst, aku sedang sibuk," balas Sany singkat tanpa mengalihkan perhatiannya.
Karena tidak memahami apa yang sedang dilakukan Sany, perempuan itu memilih untuk mengawasi sekeliling sambil berjaga-jaga, memastikan tidak ada yang mendekati mereka.
Setelah Sany selesai melihat informasi, Sany memberi isyarat pada perempuan itu.
"Ayo ikuti aku," bisik Sany dengan suara rendah.
"Mau ke mana?" tanya perempuan itu masih bingung.
"Ikuti saja, nanti kujelaskan," jawab Sany singkat tanpa mau berpanjang lebar.
Perempuan itu pun mengikuti Sany dari belakang, sambil tetap waspada dan menjaga area belakang mereka.
Karena sedang dalam situasi perang, jumlah robot yang berjaga di dalam markas ternyata jauh lebih sedikit dibandingkan dengan yang berjaga di luar.
Setelah melewati beberapa ruangan kosong, mereka akhirnya tiba di depan sebuah lift.
"Inikan lift menuju ruang bawah tanah?" tanya perempuan itu yang mengenali desain lift tersebut.
"Iya, arsip-arsip penting mereka tersembunyi di ruang bawah tanah," konfirmasi Sany secara detail.
Perempuan itu akhirnya memahami alasan di balik semua tindakan Sany. Kini jelas baginya mengapa Sany begitu yakin dengan langkah-langkah yang diambil.
Mereka berdua segera memasuki lift dan turun ke ruang bawah tanah. Begitu pintu lift terbuka, perempuan itu terkejut melihat betapa luasnya area di bawah tanah ini.
Namun, kekagetannya hanya berlangsung sesaat. Ia segera curiga dengan suasana yang terlalu sepi dan mulai waspada, matanya menyisir setiap sudut ruangan untuk mencari kemungkinan adanya jebakan.
Bersambung...