Pangeran Gautier de Valois.
Ia mengenakan seragam Duke-nya, seragam berwarna biru tua dengan hiasan perak yang berkilauan. Postur tubuhnya tegak sempurna, memancarkan aura bahaya dan otoritas yang membuat ruangan terasa kecil. Matanya—abu-abu sekeras baja—menatap Amélie tanpa ekspresi, seolah-olah sedang menilai kuda pacu yang tak berguna.
"Pernikahan. Kau, Amélie LeBlanc, akan menikah dengan Pangeran Gautier de Valois dalam waktu satu bulan."
"Apa? Ini gila! Saya tidak akan—"
"Ini bukan permintaan, Countess,"
"Ini adalah dekrit dari Tahta. Aku butuh pewaris dan Raja membutuhkan stabilitas politik yang diberikan oleh aliansi dengan Countess yang memiliki koneksi luas. Keluargamu, melalui Éloi, menawarkan penyelesaian utang kuno ini. Pernikahan, dengan segera. Aku tidak tertarik padamu, atau pada intrik keluargamu. Anggap ini transaksi dan aku tidak menerima penolakan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iseeyou911, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 (Kesepian yang Berdampingan)
Dengan Seraphine di bawah perlindungan mereka, dinamika di Sayap Mansion Valois menjadi lebih kompleks. Amélie harus menjaga penampilan di depan umum, menenangkan para pelayan yang kebingungan dan meyakinkan Seraphine bahwa dia aman.
Amélie memastikan Seraphine ditempatkan di sayap yang jauh, tetapi tetap mewah. Dia mengunjungi Seraphine setiap hari, bukan karena simpati, tetapi untuk memantau situasi dan memperdalam penyamarannya.
"Mengapa Anda melakukan ini?" Seraphine bertanya pada Amélie suatu sore, saat mereka minum teh bersama. "Anda adalah istrinya. Anda seharusnya membenci saya. Anda harus mengirim saya keluar dari sini."
"Saya hanya melakukan tugas saya sebagai Duchess Valois," jawab Amélie, menyipitkan mata. "Pangeran Gautier adalah suami saya. Kelemahan dan urusannya adalah masalah saya. Saya harus memastikan masalah itu tidak menghancurkan nama baik yang saya usahakan untuk saya pulihkan."
"Tetapi Anda tidak mencintainya," kata Seraphine.
"Tidak," jawab Amélie jujur. "Saya tidak mencintainya. Dan dia juga tidak mencintai saya. Cinta bukanlah bagian dari kontrak ini. Kami berdua hanya berusaha untuk bebas. Anda akan mendapatkan Gautier dan saya akan mendapatkan kebebasan saya yang sempurna dari Valois. Itu kesepakatan kami."
Keterbukaan Amélie mengejutkan Seraphine dan itu membangun ikatan yang rapuh—ikatan yang didasarkan pada pemahaman bersama bahwa mereka berdua adalah korban dari ambisi politik Gautier.
Di malam hari, dengan Seraphine di kastil.
Gautier dan Amélie kembali ke sayap Duke setelah jamuan makan malam yang panjang.
"Kau membahayakan reputasimu dengan melindunginya," kata Gautier, nadanya lebih lelah daripada marah.
"Saya tahu cara bermain, Pangeran," balas Amélie, berjalan ke jendela yang menghadap ke kebun. "Saya melindunginya dari Isabelle. Dan saya melindunginya dari gosip yang akan merusak posisi Anda. Anda harus mengakui, kehadiran Duchess yang melindungi tamu pribadi Pangeran jauh lebih meyakinkan daripada upaya penyembunyian yang canggung."
"Kau benar," akui Gautier. "Tapi mengapa? Kau berkorban untukku, Amélie. Apa yang kau inginkan dariku?"
"Saya ingin janji yang Anda buat di kontrak rahasia itu dipatuhi sepenuhnya, Pangeran. Hidup terpisah dan kebebasan mutlak setelah pewaris lahir. Dan saat itu tiba, saya ingin Anda membantu saya membongkar kejahatan Éloi—kejahatan yang merusak nama LeBlanc dan yang mungkin mengancam posisi Anda di masa depan."
Gautier menatapnya lama. "Kau licik, Amélie. Tapi aku tidak akan membantu. Urusan Éloi adalah urusanmu. Aku hanya ingin bebas dan pergi bersama Seraphine."
"Baiklah," kata Amélie, tersenyum dingin. "Kalau begitu, saya harus menemukan bantuan di tempat lain. Dan jangan khawatir, Pangeran. Saya tahu cara mendapatkan apa yang saya inginkan."
...*****...
Amélie kemudian menjalankan rencana keduanya. Saat perayaan ulang tahun Raja Tua, Amélie dan Gautier harus berjalan di antara kerumunan bangsawan. Ini adalah kesempatan Amélie untuk bertemu Kapten Henri de Montaigne.
Amélie mengenakan gaun sutra ungu tua. Ia menemukan Henri de Montaigne di aula resepsi, seorang pria tinggi, berambut cokelat gelap, dengan ekspresi serius di matanya. Henri adalah Kapten Pasukan Khusus, tampak gagah dalam seragamnya.
Amélie dan Gautier mendekat.
"Kapten Montaigne," sapa Gautier formal. "Ini Duchess Amélie, istriku."
Henri membungkuk, matanya menatap Amélie dengan cermat, seolah sedang menilai sesuatu.
"Duchess Valois," sapa Henri, suaranya dalam dan terhormat.
Saat mereka bersalaman, Amélie meremas tangan Henri sebentar dan dengan gerakan cepat yang dilatih, ia menyelipkan cincin burung merpati perak ke telapak tangan Henri.
Henri tidak menunjukkan reaksi apa pun. Sentuhannya dingin dan profesional, tetapi ia menutup tangannya erat-erat, menyembunyikan cincin itu.
"Semoga Anda menemukan kebahagiaan di Versailles, Duchess," kata Henri, matanya kini menatap Amélie dengan intensitas yang baru.
"Terima kasih, Kapten," jawab Amélie. "Saya yakin, saya akan segera menemukan kedamaian yang saya cari di sini."
Gautier, yang sibuk dengan perbincangan politik, tidak memperhatikan pertukaran cepat itu.
Amélie dan Gautier bergerak menjauh. Misi telah selesai. Kontak telah dibuat. Amélie kini memiliki mata dan tangan yang tersembunyi di jantung kekuatan Gautier.
Di malam hari, kembali ke sayap Duke yang sunyi, Gautier kembali ke ruang kerjanya. Amélie tidur sendirian di ranjang besar itu, tetapi ia tidak kesepian. Ia dikelilingi oleh rahasia dan rencana.
Gautier mendapatkan Seraphine, kekasihnya, di bawah perlindungan Valois. Tapi Amélie mendapatkan Henri de Montaigne, sekutunya yang tersembunyi.
Kehidupan ganda mereka telah mencapai keseimbangan yang berbahaya dan Amélie, sang Duchess yang baru, kini siap untuk menggerakkan bidak catur pertamanya.
...*****...