NovelToon NovelToon
Ksatria Untuk Alisa

Ksatria Untuk Alisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Cinta pada Pandangan Pertama / Persahabatan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: kaka_21

Lampu jalan di depan rumah dinas Cakra berkedip, menyisakan bayangan panjang dan dingin di teras. Alisa berdiri di ambang pintu, menatap punggung Sancaka Naratama. Sanca mengenakan kaus gelap, dan bahunya tampak tegang. Mereka baru saja berdebat hebat tentang penugasan luar pulau mendadak yang diterima Cakra.

“Ayah pergi lagi, Sanca. Apa kau pikir aku tidak mengerti apa arti seragam itu?” Suara Alisa tercekat, ia berusaha keras menahan isaknya.

Sanca berbalik, tatapan matanya yang biasanya hangat kini terasa lelah. “Aku mengerti, Lis. Seragam itu artinya pengabdian. Ada risiko, ada jarak. Tapi ada kehormatan juga, yang dulu diajarkan Ayahmu padaku.”

“Kehormatan?” Alisa melangkah maju, napasnya memburu. “Honorku adalah ditinggalkan! Ibuku hilang. Satria memilih pergi demi nama keluarga. Dan sekarang, Ayah juga pergi lagi ke tempat berbahaya. Aku lelah mencintai orang yang selalu siap menghilang!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Pindah

Masa SMA dimulai dengan aroma kertas baru dan seragam abu-abu yang terasa lebih berat dari sekadar kain. Bagi Alisa, sekolah bukan hanya tempat belajar, tapi panggung pembuktian. Ia masuk ke kelas bahasa dengan kepala tegak, membawa janji pada ayahnya untuk menjadi yang terbaik. Di sekolah yang mayoritas siswanya adalah anak-anak sipil, Alisa tampak menonjol bukan karena ia paling vokal, melainkan karena kedisiplinan yang sudah mendarah daging. Ia selalu tiba sepuluh menit sebelum bel, bukunya tertata rapi, dan tatapannya memiliki ketegasan yang sering kali membuat teman sebangkunya segan. Namun, di balik topeng ketenangan itu, jemarinya selalu gatal ingin menyentuh papan ketik. Laptop yang dikembalikan Cakra kini menjadi senjata utamanya. Ia bergabung dengan ekstrakurikuler jurnalistik dan majalah sekolah, sebuah langkah awal untuk mengubah hobi tersembunyi menjadi ambisi yang nyata.

Setiap pulang sekolah, Alisa tidak lagi hanya merenung di rumah dinas. Ia menghabiskan waktu di ruang redaksi majalah sekolah yang pengap namun penuh energi kreatif. Di sana, ia mulai menulis kolom fiksi pendek. Cerita-ceritanya unik; ia tidak menulis tentang cinta monyet remaja yang menyeye, melainkan tentang pengabdian, penantian di dermaga, dan rahasia di balik seragam loreng. Tulisannya memiliki rasa yang jujur karena diambil dari potongan-potongan hidupnya sendiri. Saat edisi pertama majalah sekolah terbit dengan namanya tercantum sebagai penulis utama cerita pendek berjudul "Lonceng di Gerbang Markas", Alisa merasakan getaran yang luar biasa. Ia melihat teman-temannya membaca karyanya di koridor sekolah. Ada yang terharu, ada yang bertanya-tanya siapa sosok ayah dalam cerita itu. Alisa hanya tersenyum tipis, merasa bahwa suaranya akhirnya memiliki pendengar.

Hubungan dengan Cakra di rumah berangsur-angsur membaik, meski tetap dibalut atmosfer kaku khas keluarga militer. Cakra tidak lagi menginterupsi kegiatan menulis Alisa, bahkan sesekali ia bertanya tentang perkembangan majalah sekolahnya. Suatu sore, Alisa memberanikan diri meletakkan majalah sekolah itu di atas meja makan, tepat di depan kursi Ayahnya. Cakra membacanya dalam diam sambil menyantap makan malam. Alisa memperhatikannya dari balik buku pelajaran, jantungnya berdebar menunggu reaksi. Setelah selesai membaca, Cakra menutup majalah itu dan menatap Alisa. "Gaya bahasamu sudah lebih baik. Lebih berisi, tidak terlalu banyak mengeluh seperti draf yang dulu Ayah sita. Tapi ingat, jangan sampai nilai bahasamu turun hanya karena sibuk mengejar popularitas di sekolah," ujar Cakra. Meski terdengar seperti peringatan, Alisa tahu itu adalah pujian tertinggi yang bisa diberikan Ayahnya. Cakra mengakui bakatnya secara profesional.

Sejak saat itu, Alisa mulai berani bermimpi lebih besar. Ia mulai mengirimkan cerpen-cerpennya ke majalah remaja nasional. Ia belajar tentang royalti, tentang bagaimana menyusun naskah yang baik, dan bagaimana menghadapi penolakan dari penerbit. Setiap kali ada surat penolakan datang ke rumah dinas, Cakra hanya akan berkomentar singkat, "Evaluasi strategimu, perbaiki tulisanmu, kirim lagi. Prajurit tidak berhenti hanya karena satu peluru meleset." Kata-kata itu, meski terdengar keras, justru menjadi bahan bakar bagi Alisa. Ia menyadari bahwa mentalitas ksatria yang ditanamkan Ayahnya sangat berguna di dunia kepenulisan yang kompetitif. Alisa bukan lagi gadis kecil yang menangis di pojok gudang; ia adalah seorang calon penulis profesional yang sedang membangun fondasi karirnya.

Momen puncak di kelas satu SMA terjadi ketika cerpennya memenangkan perlombaan tingkat provinsi. Alisa diundang untuk menerima penghargaan di balai kota. Ia berdiri di atas panggung, menerima piala dan sertifikat, dengan Cakra berdiri di barisan belakang penonton. Ayahnya mengenakan seragam Pakaian Dinas Upacara, tampak gagah dan berwibawa. Saat mata mereka bertemu, Cakra memberikan hormat militer singkat ke arah panggung—sebuah pengakuan tulus dari seorang Mayor kepada putrinya. Bagi Alisa, penghargaan itu bukan tentang uang atau piala, tapi tentang pembuktian bahwa jalan yang ia pilih tidak salah. Ia berhasil menyatukan dunia kata-katanya dengan dunia disiplin Ayahnya. Ia sadar bahwa ia telah menemukan identitasnya sendiri: ia adalah ksatria di atas kertas, dan setiap kalimat yang ia ketik adalah langkah kakinya menuju masa depan yang ia impikan.

Kesuksesan kecil itu membuat Alisa semakin produktif. Ia mulai merencanakan untuk menulis novel pertamanya yang benar-benar serius. Namun, di tengah gairah menulis yang meluap-luap, sebuah kabar mendadak datang ke rumah dinas mereka. Cakra mendapatkan surat perintah penugasan baru yang tidak bisa ditawar. Bukan lagi ke perbatasan yang hanya memakan waktu berminggu-minggu, melainkan perpindahan unit ke sebuah daerah terpencil yang jauh dari peradaban kota. Alisa tertegun saat mendengar penjelasan Ayahnya di ruang tamu. Pindah berarti meninggalkan sekolahnya yang sekarang, meninggalkan tim redaksinya, dan menjauh dari akses literasi yang baru saja ia nikmati. Dunia yang baru saja ia bangun dengan susah payah terasa seperti akan runtuh kembali oleh satu surat perintah berwarna kuning itu.

"Ini tugas negara, Alisa. Kita harus pindah ke sana bulan depan. Ayah sudah mengurus kepindahan sekolahmu. Di sana mungkin tidak ada majalah sekolah yang mentereng, tapi kamu bisa tetap menulis, kan?" kata Cakra dengan nada yang berusaha menenangkan namun tetap tegas. Alisa menatap laptopnya yang terbuka di meja, lalu menatap wajah Ayahnya. Ia merasa sesak. Pindah ke daerah terpencil berarti ia harus memulai semuanya dari nol lagi. Jauh dari teman-teman, jauh dari toko buku, dan jauh dari impiannya yang sedang mekar. Namun, melihat sorot mata Ayahnya yang penuh beban tanggung jawab, Alisa hanya bisa menghela napas panjang dan mengangguk pelan. Ia tahu, di balik kemajuan hubungan mereka, tugas negara akan selalu menjadi prioritas yang memisahkan mereka dari kenyamanan.

Malam itu, Alisa mengepak beberapa bukunya dengan hati yang berat. Ia menyadari bahwa kehidupan anak tentara adalah tentang koper yang selalu siap dan hati yang harus selalu siap untuk berpamitan. Ia membawa buku birunya, laptopnya, dan semua impiannya ke dalam kardus. Ia tidak tahu apa yang menantinya di daerah terpencil itu, tapi ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan membiarkan kreativitasnya mati hanya karena lokasi geografis. Perjalanan menuju tempat baru itu akan menjadi babak baru yang tidak pernah ia duga sebelumnya—sebuah tempat di mana ia akan bertemu dengan sosok yang akan mengubah pandangannya tentang cinta dan pengabdian selamanya. Alisa menutup koper terakhirnya dengan satu pemikiran: jika ia bisa bertahan dari kesepian setelah kematian Ibunya, ia pasti bisa bertahan di mana pun Ayahnya membawanya pergi.

1
panjul man09
disetiap kesulitan ada kemudahan ,disetiap kesedihan akan ada kebahagiaan , setelah hujan muncullah pelangi , author 👍👍👍👍👍
panjul man09
ujian hati dimulai
panjul man09
ceritanya sangat menyentuh hati ,kalimat yg digunakan jauh lebih berbobot daripada cerita novel yg lain ,authornya sangat pandai memainkan perasaan
panjul man09
👍😍👍😍👍😍
panjul man09
👍👍👍👍👍
panjul man09
cuman 2 pemerannya ? tdk ada pemeran ketiga ?
panjul man09
/Cry//Cry//Cry//Cry//Cry/
panjul man09
/Cry//Cry//Cry//Cry/
panjul man09
mereka memelukan sosok ibu
panjul man09
sebaiknya cakra menikah lagi
david 123
terharu Thor...ttp semangat ya ..cerita ini bisa sbg movitasi bagi anak yg berjuang mencari jadi dirix melalui bakat dan minat.
david 123
aduh baca sambil berderai air mata..alurx..keren..sangat menyentuh...hati...luar biasa Thor ..ceritamu ini...ttp semangat dg ide -ide cermelangx....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!