Ameera, sangat terpukul saat mengetahui suaminya Caleb selingkuh di depan matanya sendiri. senua pengorbanannya selama ini terasa sia-sia.
Ameera tidak bisa merima kenyataan itu dan memilih pergi meninggalkan rumah. meninggalkan Ibu mertua yang sakit. yang menganggapnya tidak lebih dari seorang pembantu.
Saatnya membangun harapan baru, mengejar impian yang selama ini dia hancurkan.
Berhasilkah Ameera meraih mimpi dan cintanya. Apakah Caleb berhasil menemukan istrinya yang minggat dari rumah.
Mohon dukungannya atas cerita ini. Dari awal hingga akhir. Bukan hanya sekedar mampir atau jadi pembaca hantu, tiba-tiba muncul dan tiba menghilang. Tinggalkan jejaknya sebagai tanda cinta buat Emak. Love you untuk kalian semua. Horas!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Masa lalu Zita
Zita tertidur pulas disisi lelaki paruh baya itu. Dengkuran halus mengiring setiap helaan napasnya. Sudah hampir lima tahun Zita menjadi istri simpanan seorang pejabat dari kota P.
Selama itu pula Zita menyimpan rahasia masa lalunya.
Setiap kali hendak bertemu keduanya chek in di hotel. Sebenarnya Zita lelah juga dengan semua itu. Harus menyembunyikan hubungannya dan statusnya tidak jelas karena kedudukannya sebagai istri siri. Bahkan kedua orang tuanya tidak mengetahui apa yang dia lakoni selama ini.
Itulah sebabnya dia mau menerima lamaran Caleb, karena dia juga mencintai lelaki itu dan berharap punya status jelas. Sekalipun pernikahannya dengan Caleb juga terpaksa dia sembunyikan dari suami sirinya itu.
Zita bersikeras agar pesta pernikahannya dilaksanakan sederhana dan tidak dipublikasikan.
Sekalipun sering timbul rasa was-wasnya karena telah bermain api tapi Zita tetap menikmati permainannya itu. Selagi dia bisa bersikap hati-hati dirinya pasti aman. Begitulah prinsip wanita tiga puluhan itu.
Zita menggeliat, saat merasakan lengan berat menimpa dadanya. Zita membuka matanya yang masih terasa berat. Menyingkirkan lengan pria itu pelan dari atas dadanya.
Seluruh badannya terasa remuk, karena ulah pria itu saat melayani has**tnya.
Zita meraih ponselnya yang terletak di atas nakas. Kedua matanya terbeliak saat melihat jam di ponselnya. Sudah lewat tengah malam. Caleb pasti akan marah besar karena dia tidak pulang ke rumah. Terlebih tadi dia meninggalkan Caleb begitu saja karena panggilan dari suami sirinya untuk bertemu.
Zita panik antara ingin bertemu dengan Rudy atau menghibur Caleb tapi akhirnya dia memutuskan pergi. Sekarang Zita bertambah panik lagi karena tidak pulang ke rumah.
Sejak menikah dengan Caleb, Zita selalu menolak menginap di hotel bersama Rudy, dengan alasan pekerjaan atau orang tuanya.
"Kamu kenapa sayang?" Rudy menegur Zita yang terjaga dari tidurnya.
"Aku harus pulang, Bang. Orang tuaku pasti cemas menungguku." kilah Zita.
"Ini sudah dini hari lo. Yuk tidur lagi." Rudy meraih tubuh Zita ke dalam pelukannya. Zita menolak dan bangkit dari tempat tidur. Bergegas ke kamar mandi membersihkan diri.
Rudy geleng kepala melihat ulah Zita, dan melanjutkan tidurnya lagi. Setelah pamit pada Rudy, Zita pulang ke rumah orang tuanya supaya punya alasan pada Caleb..
Pagi harinya saat bangun tidur, Caleb merasakan kepalanya pusing. Mendapati dirinya tidur di sofa dengan masih mengenakan pakaian kantor membuat Caleb kebingungan.
Dia mencoba mengingat apa yang terjadi pada dirinya semalam. Namun, karena rasa pusing dan mual yang tiba-tiba menyerang, membuat ingatannya tidak jelas.
Caleb masuk ke kamarnya menuju toilet karena rasa tidak enak di perutnya. Dengan tubuh lemas Caleb keluar dari toilet dan berharap Zita sudah menyiapkan sarapan untuknya. Buru-buru Caleb membersihkan dirinya, dan ingin segera sarapan. Perutnya terasa perih, efek minuman yang mengandung alkohol.
Alangkah kecewanya hati Caleb karena Zita tidak ada di dapur menyiapkan sarapan. Samar, Caleb ingat ucapan ibunya kalau istrinya juga tidak pulang semalam.
Caleb membuka kulkas, mengambil telor untuk menyiapkan sarapannya sendiri. Rasa lapar yang begitu melilit perutnya tidak seperti biasanya. Sepertinya maag nya kambuh. Caleb baru sadar kalau sejak siang kemarin dia tidak makan. Hanya minuman saja yang melintasi perutnya.
"Istrimu tidak pulang semalaman, Cal." ucap Bu Rina yang muncul di dapur. Caleb melirik ibunya sekilas lalu fokus kembali ke kompor. Malas meladeni ucapan ibunya karena ujung-ujungnya nanti ribut.
"Ibu mau sarapan?" sahut Caleb mematikan api kompor.
"Telor dadar lagi? Huh, bosan." dengus Bu Rina mengejek putranya. Karena hampir tiap hari Caleb sarapan dengan telor dadar. Zita tidak pandai memasak seperti Ameera
"Ibu ada kabar untukmu."
"Soal apa?" sahut Caleb acuh lalu menyuapkan beberapa sendok nasi ke mulutnya.
"Ameera!"
"Ada apa lagi dengan Ameera, Bu?" tangan Caleb terhenti menyuap nasi karena penasaran ucapan ibunya. Namun, dia sengaja bersikap acuh.
"Semalam Ibu melihatnya di televisi. Ternyata Ameera sekarang sudah sukses jadi seorang perancang busana." ucap Bu Rina dengan wajah berbinar.
"Terus, Ibu mau apa." ungkap Caleb dengan sinis. Ucapannya penuh penekanan karena sepertinya ibunya menyimpan rencana.
"Kenapa kamu tidak mendatangi Ameera. Kamu bisa mencari alamatnya dengan mudah. Ameera 'kan belum tau kalau dia sudah kamu ceraikan. Kamu bisa paksa dia kembali ke rumah ini." ucap Bu Rina datar dan menganggap rencananya itu sangat cerdas.
"Ibu sudah gila, apa! Masih saja Ibu mengatur hidupku. Aku bukan boneka Ibu yang bisa dimainkan sesuka hati Ibu. Ibu kapan sadarnya kalau selama ini selalu buat susah hidup, Caleb!" sentak Caleb meluapkan emosinya.
Bu Rina kaget melihat reaksi Caleb yang di luar dugaannya. Apa yang salah dengan rencananya itu. Soal Zita 'kan bisa diceraikan saja karena Zita itu bukan istri yang berbakti sama suami.
"Apa yang salah dengan ucapan Ibu, Cal?"
"Ibu masih bertanya? Semudah itu Ibu berbicara. Kemarin menyuruh aku menceraikan Ameera. Lalu menikahi Zita karena dia lebih baik menurut Ibu. Trus sekarang Ibu menyuruh aku membawa Ameera kembali ke rumah ini. Maksudnya Ibu, apa! Apa menurut Ibu Ameera sebodoh itu mau kembali ke rumah ini!" hardik Caleb lantang.
"Dari mana saja kamu semalaman tidak pulang!" seru Caleb lantang saat melihat kemunculan Zita yang tiba-tiba. Bu Rina kaget karena tidak mendengar kehadiran menantunya.
"Aku menginap di rumah, Ibu." sahut Zita takut-takut melihat kemarahan suaminya.
"Pulang saja kamu sekalian ke rumah Ibumu." Teriak Caleb lalu masuk ke kamar. Suara pintu bergema karena dihempaskan. Zita dan Bu Rina terlonjak kaget.
"Ngomong apa Ibu sama suamiku." ucap Zita tajam, curiga kalau mertuanya tengah menghasutnya. Karena dia sempat tadi mendengar nama Ameera disebut. Pasti ibu mertuanya sedang mengadu ke suaminya.
"Ck, malah curiga sama Ibu. Kamu sendiri habis dari mana. Nginap bersama laki-laki lain ya. Istri macam apa kelakuannya lupa pulang ke rumah."
"Ibu jangan asal tuduh ya. Aku nginap di rumah ibu saya," ucap Zita menegaskan. Kaget juga dengan tuduhan ibu mertuanya yang menurutnya asal bicara.
"Huh, ingat ya. Sepandai apapun kamu menyimpan bangkai pasti akan tercium juga. Sudah puluhan kali Ibu menelepon orangtua kamu, kamu tidak ada datang kesana. Kamu itu pembohong, Zita!" kecam Bu Rina meninggalkan Zita di ruang dapur.
Wajah Zita memerah padam mendengar ucapan ibu mertuanya. Gentar juga hatinya mendengar ancaman itu. Apakah ibu mertuanya tengah mencium perbuatannya atau semua ucapannya itu hanya gertak sambal karena tidak menyukainya.
...Dia harus bertindak lebih hati-hati sekarang. Jangan sampai Caleb ikutan curiga padanya. Bisa hancur hidupnya kalau sampai suaminya tau rahasia tentang hidupnya....
"Drrrttt ...." ponsel Zita bergetar. Ada panggilan dari aplikasi hijau berlambang telepon. Ternyata Rudy memanggil. Setelah memastikan semua aman, Zita menerima panggilan itu. Tanpa Zita sadari sepasang kaki melangkah mendekatinya dan mendengar pembicaraan itu.
"Siapa itu Rudy?" sebuah suara tiba-tiba terdengar dibelakang Zita. ***