rapuhnya sebuah jalan bersih yang dipilih, membawanya ke arah yang berlawanan. Setiap langkahnya seperti berjalan di atas kerikil yang berduri tajam—menyakitkan berbahaya, dan tak mudah untuk kembali pada jalan yang bersih, Di tengah kekacauan, hanya satu yang tetap suci: hati dan janji. Namun janji yang dipilih untuk di ucapkan kini tersayat oleh darah dan pengkhianatan karna arus sebuah jalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardin Ardianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepintas Melihat Neraka
Pagi Kamis terasa seperti jeda yang rapuh sebelum badai baru. Matahari sudah tinggi, sinar kuning menusuk celah gorden tipis ruang tamu. Shadiq terbangun dari tidurnya di lantai, badan pegal, kepala pening. Ia menepuk jidatnya keras. “Kenapa…???”
Ia menoleh ke jendela. Langit cerah. Rumah sunyi. Tidak ada suara Arva di dapur, tidak ada Irva berlari.
“Benar… Arva di rumah orang tuanya.”
Ia mengusap wajah dengan tangan kasar, napas panjang. “Kalau Arva di rumah, pasti bangunkan aku sebelum jam lima…”
Ia telat. Janji dengan Farhank adalah Jumat pukul 5 sudah di pelabuhan. Sekarang sudah lewat pukul 7 pagi.
Shadiq buru-buru ambil ponsel jadul dari lantai. Layar penuh notifikasi missed call: Baron 12 kali, Farhank 8 kali. Pesan singkat dari Baron:
“Lo mati kalau telat besok.”
Shadiq bangkit, sempat ke meja makan. Piring kosong. Tidak ada nasi goreng, tidak ada telur ceplok. Arva tak lagi memasak untuknya. Ia lupa. Dada sesak sejenak.
Ia bergegas ke halaman depan. Motor butut masih di tempatnya. Mesin nyala pelan, knalpot berasap hitam. Ia gas ke pelabuhan, angin pagi menusuk mata.
Di Tanjung Priok, kontainer biru “Bandung” kosong. Tidak ada Farhank. Tidak ada Baron. Hanya buruh-buruh lain yang sibuk angkat karung.
Shadiq menuju tempat dulu ia antar galon—kontainer kecil bekas kantor. Ia masuk pelan. Seorang OB sedang mengepel lantai, sapu di tangan.
“Maaf Pak Bos, anu Farhank kemana ya?”
OB angkat kepala, wajah biasa saja. “Oh, Manager Farhank tadi pagi pas datang langsung didatengin temennya. Mereka langsung pergi lagi.”
Shadiq terkejut. “Temennya siapa Pak Bos? Kok saya nggak diajak ya?”
OB angkat bahu. “Nama temennya kalo nggak salah Baron. Terus ada orang-orang lain, tapi saya nggak kenal. Emang Mas ada perlu apa?”
Shadiq dekati, suara rendah. “Kira-kira perginya kemana? Apa Bapak denger sesuatu?”
OB geleng. “Saya nggak tahu pergi kemana. Bukan urusan saya. Lagian kalo saya tahu, saya nggak mungkin bilang ke orang nggak dikenal Manager Farhank kemana.”
Shadiq angguk pelan. “Oalah, makasih Pak Bos.”
Ia keluar, menelusuri lorong-lorong curah pelabuhan. Bau garam dan oli menusuk hidung. Kontainer bertumpuk, buruh teriak-teriak, tapi tidak ada tanda Farhank atau kontainer biru.
Shadiq buka ponsel, hubungi Farhank. Diam—tidak terangkat. Hubungi lagi—diangkat.
Suara Farhank kasar dan marah seperti badai.
“####, kemana saja ####! Cepet, sekarang juga pergi ke mansion deket gedung Duri Putih. Alamat pasti gue sherlok.”
Shadiq angguk sambil berkata, “Oke, segera ke sana.” Ia buka pesan. Lokasi dikirim: vila jingga di pinggir Jakarta Pusat, dekat pemukiman kumuh.
Ia gas motor ke sana. Jalan tol macet pagi, tapi ia potong jalur kecil, angin panas membakar kulit.
Vila jingga muncul—raksasa di tengah kampung, atap genting merah, pagar tinggi besi tempa. Masih bagus, tapi terasa asing di sekitar rumah-rumah reyot.
Shadiq buka gerbang. Security cegat.
“Atas nama siapa?”
“Aku Shadiq. Dimana Baron? Farhank??”
Security angkat telepon. “Saya konfirmasi dulu. Apa Pak Farhank punya tamu nama Shadiq?”
Beberapa saat kemudian, security keluar lagi. “Oke Mas Shadiq, silahkan masuk. Motornya parkir di sebelah sini aja.”
Shadiq parkir motor, masuk halaman. Di dalam mansion, ruang tamu besar seperti bioskop—televisi 2 meter nyala, suara berita kencang. Sofa membentuk setengah lingkaran penuh pria-pria berwajah kesal. Baron berdiri di tengah, teriak-teriak.
Baron lihat Shadiq, mata membelalak. “######, ulahmu bung!! Mau kemana?! Duduk! Ceritakan kemana kau sejak kemarin! Dimana kau sembunyikan kontainer kami!!!”
Shadiq angkat tangan. Dua pria giring dia duduk di sofa.
Farhank mendekat, wajah dipenuhi emosi tak terbendung. Pistol emas gradasi silver keluar dari jas. Laras diarahkan ke udara depan Shadiq.
“Pertama 1 peti. Kedua 1 kontainer!! Cukup! Kembalikan!!”
Shadiq tatap Farhank dingin. “Apa aku terlihat seperti pencuri? Masihkah kau menuduhku?”
Farhank dorong laras ke dada Shadiq. “Lalu kemana kau pagi tadi? Katakan kemana?? Dan kenapa kontainer hilang?!”
Shadiq suara tenang, tapi tegas. “Aku nggak tahu menahu soal kontainer. Yang pasti bukan aku yang ambil. Aku telat karena kau. Kau bikin istriku marah padaku karena terlambat pulang.”
Farhank ketawa sinis. “Apa hubungannya? Jangan memutar fakta! Tak usah buat pernyataan dusta!”
Shadiq tatap mata Farhank. “Istriku pergi dari rumah karena aku telat pulang kemarin. Tak ada yang bangunkan aku. Itu gara-gara dirimu.”
Farhank mata menyipit. “Bukan urusanku.”
Shadiq lanjut. “Kita nggak punya waktu seharian. Ayo cari. Container mu besar, menyembunyikan kontainer itu tak semudah mengurung kucing. Cari sebelum terlambat.”
Farhank diam sebentar. Pistol masih teracung.
“Kemana?? Kalau aku punya petunjuk mungkin sampai besok aku nggak punya niat membunuh mu.”
Shadiq angkat bahu. “Mari ku lihat pengiriman. Stop mengkambinghitamkan diriku. Aku bahkan nggak tahu menahu apapun.”
Farhank tatap lama. Pistol turun pelan.
Shadiq lebih lega. Dengan hilangnya 1 kontainer senjata, 1 peti yang ia sembunyikan kemungkinan tetap aman. Farhank sekarang fokus ke kontainer besar itu—bukan peti kecil di bawah kasur.
Baron di belakang masih pegang pistol emas, tapi nggak teracung lagi.
“Lo beruntung hari ini, tukang galon. Tapi kalau besok kontainer nggak ketemu… lo mati duluan.”
Shadiq angguk pelan.
*Kontainer hilang \= peti gue aman. Tapi Arva pergi. Dan Farhank masih pegang kendali.*
Ruangan sunyi.
Di luar vila, angin siang berhembus panas.
Di kampung Cianjur, Arva dan Irva aman—tapi jauh.
Di bawah kasur kontrakan, peti diam menunggu.
Shadiq tatap Farhank.
“Jadi… kita cari kontainer sekarang?”
Farhank angguk dingin.
“Kita mulai dari pelabuhan. Lo ikut. Nggak ada alasan lagi.”
Shadiq berdiri.
*Ini baru mulai. Dan sekarang, aku sendirian.*