NovelToon NovelToon
SOUL POWER MANIFESTASI

SOUL POWER MANIFESTASI

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: vheindie

Di dunia kultivasi yang mengandalkan kekuatan jiwa bawaan sebagai penguat teknik beladiri, Vincent sering diremehkan karena hanya memiliki soul tumbuhan, hal itu membuatnya dipandang sebelah mata dan sering dianiaya oleh sesama murid sekte tempatnya tinggal.

Dan potensi kekuatannya mulai terlihat setelah dilatih oleh ratu Lily, seorang ras elf yang tidak sengaja ia temui ketika dalam keadaan terluka parah. Beliau adalah seorang kultivator domain celestial yang terlempar ke domain fana setelah dikeroyok oleh empat kaisar penguasa dunia tersebut.

Ratu Lily yang nota benenya memiliki soul yang sama dengan Vincent dan sudah ahli dalam penguasaannya, tertarik untuk mengajari Vincent mengembangkan potensi soul tumbuhan tipe langka yaitu soul pohon adam yang merupakan rajanya tumbuhan.

Akankah dengan kekuatan Jiwa kayu yang dilatih dibawah bimbingan ratu Lily ia dapat berdiri di puncak dunia kultivasi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vheindie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Membuat Prajurit Kayu

Tiga warna menebar di ruangan sempit tempat dimana Vincent tengah melakukan kultivasi. Energi berwarna biru terlihat mundur saat energi berwarna merah ditarik oleh aura miliknya yang berwarna hijau. Ia pun berusaha mengaitkan aura hijaunya ke energi merah. Saat ketiga warna mulai dalam proses penggabungan, kedua warna meraung ketika mulai dilahap oleh energi hijau.

Keringat bercucuran saat Vincent memfokuskan konsentrasi pada proses penggabungan tiga energi. Ledakan kecil pun terjadi namun berhasil ia redam, lalu detik berikut ruangan tampak kembali sunyi seakan tidak terjadi apa-apa.

"Ternyata inti spiritual tingkat dua dan tiga cukup kuat untuk memupuk soul milikku, hingga membuat kultivasiku setengah langkah lagi menuju ketingkat Saint dan semoga saja di goa lumut nanti akan ada banyak batu jiwa berkualitas." Vincent tersenyum puas merasakan jiwanya bertambah kuat, meski kultivasi belum naik tingkat. Saat ini jiwanya setara dengan kultivator tingkat saint tahap pertama.

"Proses penguatan diri sendiri telah selasai dan sekarang aku akan mulai membuat koleksi prajurit kayu lagi. Hehe... Beruntung sekali hari ini aku mendapatkan banyak jiwa kultivator, meski rata-rata hanya dibawah tingkat Body Strength tahap lima. Tapi untuk saat ini lebih dari cukup, apalagi ada banyak bahan yang bisa kugunakan dari bagian tubuh binatang spiritual untuk kugabungkan dalam proses pembuatan prajurit kayu."

Vincent kembali fokus dan tenggelam dalam proses penggabungan energi. Mungkin mustahil bagi sebagian orang untuk menyerap batu spiritual dalam proses kultivasi, bahkan para kultivator atas pun tidak memahami teknik tersebut. Namun berkat jiwa kayu yang ia miliki dan ajaran ratu Lily yang mengetahui metode kultivasi kaisar kuno, sehingga membuat Vincent bisa melakukan hal yang tidak orang lain di dunia ini pahami.

Andai para kultivator mengetahui bahwa Vincent bisa melakukan pemanfaat batu spiritual selain memperkuat senjata, mungkin akan banyak orang yang menawarkannya menjadi tetua terhormat disebuah sekte atau mengangkatnya menjadi seorang Duke di sebuah kerajaan.

Saat suara kicauan burung terdengar dari luar, ia pun membuka mata dan berhenti dalam semedinya. Ada enam prajurit kayu yang ia buat dengan kemampuan bertarung lebih kuat dari sebelumnya yakni setingkat kultivator spirit tahap kedua.

Hal itu ia peroleh setelah terus melakukan proses penggabungan bahan yang ia dapat dan hasil semua sangat memuaskan, meski banyak jiwa kultivator serta bagian tubuh binatang spiritual yang ia kumpulkan telah terpakaian semua.

"Hmm... Tidak terasa sudah pagi," gumamnya. Dari helaan nafasnya asap tipis keluar dari mulut dan hidungnya. Vincent menetralkan diri sejenak sebelum berdiri dari tempat duduknya dan beranjak keluar.

"Selamat pagi kawan! Sepertinya tidurmu sangat nyeyak sekali. Ayo kita sarapan lebih dulu sebelum melanjutkan aktivitas," sapa Adrian yang tengah memasak di dekat pohon buatan Vincent. Ia tidak tau kalau Vincent tidak tidur sama sekali.

"Oh... Berani juga kau memasak di tengah hutan yang banyak binatang buas seperti ini."

"Hehe... Aku merasa tidak takut karena pohon yang kau ciptakan membuat para binatang spiritual menjauh. Seolah ada jimat pelindung yang menempel padanya dan aku pikir kalau aku tidak terlalu jauh dari sini akan tetap aman dari ganguan mereka."

"Kau menyadarinya ya? Hebat juga."

"Aku memang memasang segel pelindung di dalamnya, tapi hanya bisa menangkal binatang spiritual tingkat tiga." Adrian malah merasa lebih tenang mendengar penjelasannya.

Vincent menghampiri Adrian yang langsung menyuguhkan makanan padanya. Mereka pun dengan lahap menghabiskan sarapan pagi tanpa diselingi obrolan.

"Sekarang kita akan kemana?" Tanya Adrian.

"Kau masih mau ikut denganku?"

"Apa kau tidak takut akan keselamatan nyawamu? Sebab aku tidak bisa menjamin keselamatanmu. Apalagi jika kita memasuki goa lumut."

"...."

Adrian terdiam sejenak. Ia tidak menyangka Vincent berniat menaklukan goa lumut seorang diri.

"Bukankah jika kembali sendiri pun akan sangat berbahaya bagi diriku?" Ucapnya kemudian.

"Jadi?" Vincent memastikan tekadnya.

"Aku akan terus maju. Lagipula kalau diriku pergi dari sini akan tetap percuma, sebab tetap saja tak kan bisa membuka segel yang terpasang di gerbang."

"Hmm... Kalau kau sudah bersikeras," ujar Vincent mengajak pergi.

Sementara itu kelompok prajurit yang dipimpin oleh kesatria Sergei bersama kelima sekte kabut saat ini tengah berunding tentang langkah mereka selanjutnya. Apalagi setelah selesai makan malam, mereka mendengar lolongan mengerikan dari arah hutan dan disusul ledakan besar di tempat yang sama.

"Semalam saya sudah mengirim pesan pada kepala Karesidenan dan mungkin akan dapat balasan sebelum siang hari ini. Semoga saja beliau langsung mengerti dan meminta bantuan ke wilayah karesidenan Valen. Sebab alasan terbaik karena wilayah Valen salah satu kota terdekat dengan karesidenan Zolford, di sana juga ada senior Gidou dan Zara. Keduanya adalah kesatria bintang enam dan kemungkinan besar mereka akan tiba esok hari."

"Huh... Lama sekali ya? Ribet juga proses laporan pihak kerajaan-" timpal Ah Jun.

"Bagaimana dengan anda tuan Jun?" potong kesatria Fred yang kurang suka dengan tanggapan pihak sekte kabut tersebut.

"Tenang saja tuan Fred. Saya juga sudah melaporkan kejadian ini pada tetua sekte kabut dan sudah diterima oleh para tetua. Kemungkinan besar saat ini bala bantuan dari pihak kami sedang dalam perjalanan dan akan tiba sebelum malam hari." ujar Ah Jun melirik dengan tatapan mengolok pada kesatria Fred.

"Cih... Itu juga masih sebuah kemungkinan kan?" Cibir kesatria Frederick.

"Oh begitu ya? Mau bertaruh?" Ah Jun mendengus dan langsung berdiri menatap tajam ke arah junior kesatria Sergei tersebut.

"Sudahlah tuan Jun tenangkan diri anda. Lebih baik kita menunggu bala bantuan sambil mengatur ulang strategi dalam menaklukan goa bukit lumut. Dan kau Frederick! Jagalah sikapmu itu." Kesatria Sergei berusaha melerai ketegangan diantara keduanya. Apalagi ia merasakan niat membunuh dari tatapan Ah Jun tersebut.

"Haha... Saya bercanda kok tuan Sergei. Lagipula tidak mungkin saya terprovokasi oleh orang yang bukan tandingan saya," ujar Ah Jun yang menarik kembali aura yang ia pusatkan di area kepalan tangannya.

"Sepertinya diskusi ini sudah cukup. Jadi, kami akan keluar duluan. Ayo semuanya! Kita pergi mencari bahan makanan. Perutku mulai keroncongan setelah berbincang dengan tuan kesatria," lanjutnya kembali menyinggung kesatria Fred.

"Ah... Dan satu lagi! Setelah bala bantuan kami datang lebih awal dari bala bantuan pasukan kerajaan. Kami memutuskan akan langsung pergi menuju goa lumut, terserah tuan Frederick mau ikut bersama kami atau menunggu bantuan dari pihak anda." Ah Jun melangkah keluar pintu dengan senyum menyebalkan.

Kesatria Frederick tampak merah padam menahan amarah, namun selain bukan tandingan Ah Jun. Ia pun tak berani membantah perintah kesatria Sergei selaku komandan sekaligus seniornya itu.

"Tenangkan dirimu Fred. Jangan melakukan hal sia-sia. Kau bukanlah tandingannya dan lagi, sudah kuingatkan kita harus menjaga keharmonisan dengan ketiga sekte pelindung," ujar kesatria Sergei.

"Maafkan saya senior-"

"Sudahlah... Tidak usaha dipikirkan, aku pun mulai muak dengan tingkah mereka. Jadi, setelah senior Gidou dan senior Zara tiba. Kita akan bergerak sendiri tanpa mempedulikan mereka," sela kesatria Sergei beranjak dari tempat duduknya

1
angin kelana
pengunaan istilahnya kek kurang masuk ke dunia kultivasi pakai istilah inggris.
vheindie19: Terimakasih kak untuk masukannya🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!