Seina, adalah seorang gadis kampung yang hidupnya penuh dengan kesederhanaan, dia dari keluarga baik-baik, dia juga mendapatkan pendidikan yang baik dari keluarganya, namun dia harus kehilangan anggota keluarganya karena sebuah bencana.
Seina pun satu-satunya yang selamat dan dibawa ke tempat pengungsian oleh para relawan, gadis itu cukup terpuruk dengan nasibnya, namun dia tetap harus menjalani hidupnya.
Karena yang bernasib sama dengannya itu juga cukup banyak.
Hal itu membuatnya bangkit dan merangkul anak-anak yang bernasib sama dengannya.
Suatu hari dia bertemu dengan seorang wanita cantik jelita, dari atas kepala sampai bawah kakinya, terlihat bernilai mahal, bahkan kibasan rambutnya pun berbau dollar.
"Jadi kamu ya Seina?" tanya wanita itu dengan angkuh.
"Ya, ada apa Nyonya?" tanya balik Seina.
Wanita itu segera membuka koper besar, dan di sana terlihat sangat banyak tumpukkan uang.
"Aku sewa rahimmu!" Tegas wanita itu.
Yuk kepoin baca lanjutannya 👉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vie Alfredo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Mual lagi
Keesokan paginya Seina terbangun.
" Di mana aku ya?" Seina tampak linglung.
" Sudah bangun Seina, cepat mandi, sarapan sebentar lagi datang." ujar Matthew.
" Oh, iya." Seina yang masih belum genap nyawanya itu mencoba berdiri namun tidak seimbang.
" Hati-hati, duduk dulu jangan langsung berdiri." ujar Matthew yang dengan sigap menangkap Seina, sehingga mereka bertatap muka begitu dekat dan agak lama.
" Maaf Tuan, terimakasih." ujar Seina malu begitu tersadar Seina segera berdiri.
" Tidak masalah, aku akan melihat keadaan jalan dulu, aku sudah pesan makanan, kau bisa mandi dan sarapan lebih dulu." Ujar Matthew segera keluar.
Astaga, jantungku mau lepas, Seina ingat kau tidak boleh tidak tahu diri, tugasmu hanya melahirkan dan pergi.
Dalam hati Seina.
Setelah tempat itu berhasil di tangani dan dibuatkan jalan alternatif akhirnya Seina dan Matthew bisa segera kembali.
Di hotel bintang 5 di kota.
" Gladys, kemarin aku melihat suamimu berbelanja di toko baju biasa dulu kau datang dengan suamimu lo." ujar teman Gladys.
" Masak sih?, dia tidak suka berbelanja kalau tidak membutuhkan pakaian kusus." ujar Gladys yang segera memakai bajunya, lalu membayar pria brondong yang baru selesai memuaskannya.
" Ya, dia pergi dengan keponakannya yang sangat cantik." ujar teman Gladys si Miranda.
" Keponakan?" Gladys mencoba berpikir.
" Kemarin aku mengkonfirmasi pada pelayan toko, aku curiga suamimu bermain dengan gadis muda, rupanya itu keponakannya, katanya sedang membelikan baju untukmu, kau ini kan lagi hamil, berhentilah bermain-main Gladys." ujar Miranda sambil terkekeh.
" Itu pasti anak yang aku ceritakan itu, hanya kau yang tahu tentang masalah ini, jadi jangan banyak menasehati." ujar Gladys.
" Bisa-bisanya kau menyewa rahim." Miranda menepuk jidatnya.
" Aku menikah dengannya dulu memang dengan perasaan, tapi saat dia lebih mementingkan pekerjaannya rasanya sia-sia saja aku hamil, aku hanya butuh diperhatikan, aku juga tidak suka anak-anak sebenarnya, siapa yang tahu mertuaku langsung berubah begitu aku keguguran, dan membuatku gila, untung saja dengan keguguran itu aku bisa mengikat hati suamiku, aku tidak bisa kehilangan kehidupan yang nyaman, aku harus menguasai kediaman Howard dengan anak laki-laki ku nanti." tegas Gladys.
Gladys mengambil sebatang rokok langsung mematiknya dan menghirupnya.
" Apa kurangnya suamimu itu, kau sampai bermain dengan pria lain?" Misel tidak mengerti apa yang ada dikepala Gladys itu.
" Dia sangat kaku, dan terlalu lurus aku bosan dengan gaya seperti itu, tapi aku menyukai hidup sebagai istrinya." ujar Gladys.
" Tapi kau keterlaluan, sampai menggugurkan anakmu sendiri hanya untuk membuat Matthew lebih memperhatikanmu, sekarang dia sudah sangat perhatian padamu tapi kau malah tidak peduli, kau malah membawa masuk gadis muda untuk melahirkan anaknya, kau ini tidak takut apa?, gadis itu sangat cantik tahu, aku saja sampai terpesona melihatnya." ujar Miranda.
" Kau diam saja, yang penting aku juga tidak melupakanmu, kau juga bisa hidup enak karena aku istri Matthew." tegas Gladys.
" Ya aku mengakui itu, tapi aku sangat menyayangkan itu, sebagai teman sejak kecil, aku mencoba mengingatkanmu lagi, ini salah Gladys." Ujar Miranda khawatir.
" Ih cerewetnya kau ini, belikan makan aku, ini uangnya kau juga belilah, kembaliannya kau ambil saja." Gladys memberikan uang dua juta pada Miranda.
Dia sekali makan saja 2 juta, sayang sekali dia ini agak agak, tapi bagaimana pun dia teman ku.
Dalam hati Miranda.
Gladys terus menikmati hisapan pada batang terakhir.
" Aku juga tidak akan diam jika kau mencoba mengambil Matthew ku, sejauh ini aku tidak mempermasalahkannya, karena kau pasti butuh pakaian." Gumam Gladys.
Gladys tahu jika Seina tidak akan berani macam-macam, tapi yang dia khawatirkan adalah mertuanya.
" Apa aku bunuh saja orang tua cerewet itu." gumam Gladys berpikir keras.
Di kediaman Howard
" Syukurlah kalian aman, sebenarnya juga tidak usah buru-buru pulangkan?, ayo Seina segera masuk kamar." ujar Olive menggandeng menantunya untuk masuk ke kamarnya istirahat.
" Cepat istirahat mumpung Martin masih keluar, jika dia ada kau pasti tidak akan istirahat dengan tenang." ujar Olive.
" Terimakasih Nyonya." jawab Seina segera istirahat, karena memang rasanya sangat capek sekali.
Olive segera menghampiri Matthew yang bersiap kembali ke kota.
" Apa tidak sebaiknya kau tetap di sisi Seina, pekerjaan juga aman kan?" ujar Olive.
" Tapi Gladys pasti menungguku Ibu, aku harus segera ke kota." ujar Matthew tampak bersemangat.
" Ya sudah terserah kau!" Olive tidak mau tahu urusan mengenai menantunya, yang penting Seina sudah kembali.
Namun tiba-tiba Seina berlari keluar dan mencari toilet luar di ruang tamu, Seina pun muntah-muntah tak karuan.
Olive dan Matthew langsung menghampiri Seina, Seina muntah sambil menangis karena rasanya sangat tidak nyaman dan menyiksa.
Olive mendorong Matthew untuk mengurus Seina yang tampak menderita.
" Seina, apa itu sangat tidak nyaman?" ujar Matthew sambil menepuk - nepuk punggung Seina dengan lembut.
" Hiks hiks hiks, rasanya tidak nyaman Tuan, hiks hiks." ujar Seina menangis.
" Sepertinya suasana di rumah ini kurang nyaman untukmu, padahal tadi baik-baik saja, sampai di rumah kau langsung mual." ujar Matthew, Matthew memeluk Seina dan mencoba menenangkan anak itu.
" Rasanya perutku seperti ditekan, dan semua harus dikeluarkan." keluh Seina.
" Cina kenapa kau menangis?" Martin yang baru datang.
" Sudah kau tidak usah ikut campur, kau bau keringat sana." ujar Olive.
" Aku panggil dokter ya kak." ujar Martin.
" Ya, tolong Martin." ujar Matthew.
" Sebaiknya kau mendampingi Seina dulu, sampai dia sedikit membaik, atau kita pindah ke kota." ujar Olive.
Selama di kota Seina sangat baik dan ceria, apa itu memang sungguh berpengaruh?
Dalam hati Matthew.
" Nanti aku tanya Gladys dulu ya Bu, bagaimana kalau Gladys tidak nyaman." ujar Matthew.
" Kenapa dia harus tidak nyaman?, orang yang hamil Seina." Olive sangat kesal pada putranya itu.
" Dia kan istri Matthew." ujar Matthew.
" Kalian ribut saja, ayo sini Cina, kau duduk di taman dulu denganku, mungkin akan membuatmu sedikit nyaman." Martin langsung menarik Seina dan mengajaknya ke taman.
Martin mendudukkan Seina di bangku lalu memberikan dia mangga muda dan sambelnya.
" Tadi waktu aku lari - lari lihat ada ibu hamil beli mangga muda, apa ya namanya rujak, katanya agar tidak mual, kau mau coba?" ujar Martin memberikannya pada Seina.
" Wah, terimakasih Martin." ujar Seina segera memakan mangga muda itu.
" Hahahahah, asam ya?, lihat mukamu hahaha." Martin tertawa begitu melihat wajah Seina yang merem melek karena keasaman, makan mangga muda.
" Tapi ini lumayan Martin terimakasih." ujar Seina senang.
" Cuma mangga Cina, kau tidak usah berterima kasih berulang kali, ayo pindah saja ke negaraku." ujar Martin.
" Ya?, aku nurut saja dengan Tuan Matthew dan Nyonya Gladys." jawab Seina.
" Ya udah terserah kau saja, tapi kalau kau butuh bantuanku kau jangan sungkan dan katakan saja." ujar Martin.
" Aku akan ingat dengan baik, terimakasih Martin." ujar Seina.
Tak lama dokter pun datang, untuk memeriksa keadaan Seina dari segi fisik dan psikologisnya.
semangat seina, semoga author cepat membuat bahagia 🤣